RAIN

RAIN
Silent Boom VS The Black Wolf



Entah kemana tujuan Eros dan anak buahnya tuju untuk membawa Rain dan Rald, sedangkan mobil masih melaju, dan berhenti hanya karena lampu merah.


Rain terus mencoba membangunkan Rald dari pingsannya dengan tepukan lembut di pipi Rald. Rain sangat khawatir dengan kondisi kembaran yang baru ia ketahui itu, ia tidak mau Rald sampai kenapa-kenapa. Rain ingin Rald tetap sehat dan hidup agar bisa berkumpul dengan keluarganya.


"Rald... Bangun Rald..." Ujar Rain di telinga Rald. Namun belum ada tanda-tanda Rald untuk bangun.


"Tuan, kita dapat mangsa sekaligus dua!" ujar Eros membuat Rain kaget dan merinding.


Rain sempat menoleh sebentar kearah depan, kearah Eros yang sedang menelepon. Yang Rain duga adalah majikannya.


Melihat benda persegi panjang tipis yang sedang menempel di telinga kanan Eros, membuat mata Rain berbinar, seolah ada harapan agar ada seseorang yang bisa menolong Rain dan Rald dalam penculikan mereka.


"Baik Tuan, sebentar lagi kami akan sampai di sana. Siap!"


Rain meraba bagian saku celana Rald untuk mencari handphone milik Rald yang sudah di kembalikan Rain tadi saat di rumah Nata tadi dengan pelan, agar tidak membuat Eros maupun anak buahnya curiga.


Dapat!


Rain dengan perlahan mengeluarkan handphone dari saku kiri Rald.


Rain menundukkan kepalanya, sedangkan tangan kanannya yang menggenggam handphone Rald ia turunkan kebawah agar tidak terlihat oleh Eros dan anak buahnya. Rain langsung men-silent handphone agar tidak bersuara atau bergetar.


"Rald bangun Rald..." Rain terus membangunkan Rald, agar mereka tidak curiga kalau saat ini Rain sedang mengirimkan lokasi maps mereka ke group chat Silent Boom, dan mengirimkan pesan.


"Kita butuh bantuan kalian, please"


Dugh!


"Yaaah..." Cicit Rain, karena handphone Rald terlepas dari genggaman tangannya disebabkan mobil me-rem mendadak.


"G*b**k kucing segala lo tabrak!" Maki Eros kepada anak buahnya yang menyetir mobil.


"Maaf bos, kucingnya tiba-tiba.."


"Cepet jalan!"


"Tapi Bos kucingnya.."


"Cepet g*bl*k! Kita gak punya waktu banyak!" Maki Eros lagi, mobil kembali melaju, mengabaikan kucing yang baru saja tertabrak mobilnya.


Eros benar-benar manusia tidak punya perasaan! jangan kan hewan, ia bahkan tidak segan untuk membunuh manusia, contohnya Ratih. perempuan yang selama ini Rain anggap Ibu.


Rain bahkan berpikir kalau Eros itu bukanlah manusia, tapi Iblis yang menjelma sebagai manusia!


Rain mengulurkan tangan, berusaha untuk mengambil handphone yang berada di bawah kakinya, namun ia agak kesulitan karena ada kepala Rald dipangkuannya.


Tiba-tiba ada panggilan telepon dari Dion tertera di layar handphone Rald, yang masih belum bisa Rain ambil. Lalu layar handphone itu kembali mati.


Rain mencoba untuk mengambil handphone itu dengan kakinya, ia harus melepaskan sepatu terlebih dahulu.


"Ya Allah, bantu aku..." Ujar Rain dalam hati.


"Rald bangun..." Ucap Rain lagi, sengaja agar Eros dan anak buahnya tidak curiga dengan apa yang sedang ia lakukan, dan berpikir Rain masih terus membangunkan Rald.


Sepatu sudah terlepas dari kaki kanannya, lalu Rain mencoba mencapit handphone Rald dengan jari kakinya. Namun sayang, handphone itu terlepas kembali saat kepala Rald bergerak.


"Rald.." panggil Rain.


Rald mengerjapkan mata, melihat wajah Rain diatasnya yang jaraknya sangat dekat di pandangan mata Rald.


Mata Rain berbinar senang, melihat Rald akhirnya terbangun juga. Rain langsung memberi kode agar Rald diam, karena situasi yang saat ini mereka alami.


Rald diam mengikuti perintah Rain. Ia kembali merasakan sakit di sekujur tubuh dan wajahnya. Rald teringat, ia habis di keroyok oleh Eros dan anak buahnya.


"Rald, tolong ambil hp kamu di bawah" bisik Rain tepat di telinga Rald dan memberi arahan dengan mata ke arah handphonenya. Rald mengikuti pandangan mata Rain. Lalu perlahan ia mengulurkan tangan untuk mengambil handphonenya.


Baru saja Rald menyentuh handphone, mobil kembali me-rem mendadak. Membuat handphone itu kembali terlepas dari tangan Rald.


"Keluarkan mereka!"


***


"Gue butuh bantuan Lo semua buat cari Rain.." ujar Dirga saat anggota gengnya sudah berkumpul di markas.


"Ga, Lo gila ya ngumpulin kita cuma buat cari cewek gak jelas itu?!" Ujar Galang memotong pembicaraan Dirga.


Dirga tersulut emosi mendengar kalimat yang di ucapkan Galang. Ia langsung bangun dari tempatnya dan mencengkeram kerah jaket Galang anggota yang lain terkejut melihat Dirga seperti itu. Namun mereka tidak ada yang berani untuk membela Galang, atau menghentikan Dirga.


"Gak jelas? Lo bilang Rain cewek gak jelas? Asal Lo tau, Rain itu anak Bang Jaya! Dia keponakan gue!" Tegas Dirga. Galang malah tertawa. Sedangkan anggota geng yang lain mengerutkan keningnya, tak percaya dengan pengakuan Dirga.


Mereka tidak percaya dengan pengakuannya, karena selama ini Dirga sama sekali tidak pernah memberi tau, bahkan sikapnya kepada Rain seperti seorang musuh yang memiliki dendam. Dan saat ini Dirga mengakui Rain sebagai keponakannya dan meminta bantuan mereka untuk mencari Rain? Bagaimana mereka harus mencerna hal yang begitu mengejutkan?!


Galang malah tertawa, lalu melepaskan tangan Dirga dari kerahnya, lalu berdiri dengan angkuh.


"Lo di tipu sama Abang Lo sendiri Ga. Rain bukan anak Bang Jaya, tapi dia anak pungut...."


Plaak!


Dirga menonjok pipi Galang dengan keras. Ia begitu marah kepada Galang karena menyebut Rain sebagai anak pungut.


Padahal Dirga sendiri masih belum tau kebenaran tentang Rain, yang sebenarnya adalah kembaran Rald. Bang Jaya belum memberitahunya.


Galang pernah di sidang oleh Guru BP karena ulah Rain yang asal menuduhnya mencuri uang kas, padahal dompet berisi uang kas itu jatuh di dekat kursinya. Saat itu Galang yang menemukan dompet itu sedang melihat isinya, tak berniat mengambil, namun Rain yang saat itu masuk kelas ikut mencari dompet melihat dompet itu berada di tangan Galang, alhasil ia mengira Galang lah yang mencuri dompet itu. Dan kebetulan ada seseorang yang tau akan kebencian Galang kepada Rain, dan Galang di tawari bantuan untuk membalas dendam kepada Rain. Galang tentunya tidak menyia-nyiakan bantuan itu.


"Lo jangan asal ngomong ya Lang, gue gak terima Lo ngehina keluarga gue, terutama Rain!" Bentak Dirga.


Galang tertawa sinis sambil menyeka darah yang keluar di sela bibirnya. Sedangkan anggota lain masih terdiam melihat kemarahan Dirga kepada Galang.


"Gue mau cari Rain, kalo kalian mau bantu ayo. Kalo gak, jangan harap gue bakal nginjekkin kaki dan jadi ketua para pecundang kayak kalian!" Tegas Dirga mengancam.


Lalu ia pergi meninggalkan markas. Ada lima anggota yang langsung menyusul Dirga. Kemudian yang lainnya menyusul setelah saling pandang tanpa suara. Mereka tidak mau di cap pecundang, akhirnya mereka langsung menyusul Dirga dan kelima temannya yang sudah menyusul terlebih dahulu.


Tiba-tiba The black wolf di hadang oleh sekelompok geng motor yang berada di persimpangan jalan, yang jumlahnya lebih banyak dari pada jumlah anggota the black wolf saat ini.


Dirga terpaksa menghentikan laju motornya, begitu juga para anggotanya yang berjumlah delapan orang.


Jarak mereka hanya lima meter saja.


"Siapa kalian?!" Tanya Dirga dengan tegas, dan berani.


Salah satu orang dari geng motor yang menghadang turun dari motornya lalu menghampiri Dirga.


"Apa kabar, bro?" Tanya laki-laki itu dengan santainya setelah melepas helmnya.


"Dion?!" Ucap Dirga menatap wajah Dion dengan kaget. Karena sudah sekian lama Dirga tidak pernah bertemu dengan Dion.


Dahulu Dion adalah sahabatnya Dirga, dan juga salah satu orang yang pertama masuk geng the black wolf, namun karena kesalahpahaman Dirga terhadap Dion, dan kekecewaan Dion terhadap Dirga, akhirnya Dion keluar dari The Black Wolf setelah dua bulan berada didalamnya.


Sebulan kemudian Dion bertemu dengan Rald di rumah Angga pendiri geng Silent Boom, yang juga sepupunya. Dari sanalah Dion dan Rald menjadi sahabat dan mereka menjalankan amanat dari Angga untuk tetap melanjutkan Silent Boom saat Angga harus pergi ke Rusia untuk belajar disana.


Awalnya Dion yang di pilih oleh Angga untuk menjadi ketua Silent Boom, tapi dia menolak. Dion malah menyerahkan jabatan ketua kepada Rald. Karena Dion rasa, Rald yang lebih pantas untuk menjadi ketua Silent Boom. Selain itu, Dion lebih suka main di belakang layar, dari pada harus muncul kedepan, namun kiprahnya luar biasa terhadap gengnya. Dan ketika Rald tidak bisa, maka Dion yang akan menggantikan Rald.


Seperti sekarang ini, Rald tidak ada kabar sama sekali dan tadi Bang Ari minta ia dan anggotanya mencari Rald dan Rain yang tiba-tiba menghilang. Maka Dion akan muncul untuk memimpin Silent Boom.


"Ikutin gue, ada yang mau gue omongin sama Lo!". Ujar Dion dengan tegas, ia kembali memakai helm dan berbalik menuju motornya.


Dirga terdiam sebentar melihat perubahan dari sikap Dion yang terlihat sangat berbeda 180 derajat juga dari penampilannya. Dulu Dirga sering menghina Dion yang selalu berpenampilan acak-acakan dan juga agak culun. Namun sekarang ini Dirga mengakui kalau penampilan Dion sekarang lebih kece dan cool daripada dirinya yang sekarang.


"Ga, dia siapa? Mau ngapain?" Tanya Dewa yang tidak mengenali Dion karena ia anggota yang baru masuk the black wolf setahun yang lalu, setelah tiga tahun The Black Wolf berdiri, membuyarkan lamunan Dirga.


"Dion. Kita ikuti dia" ujar Dirga menyalakan mesin motornya. lalu ia dan gengnya mengikuti Dion dan gengnya yang sudah terlebih dahulu melaju.


Sampai di sebuah lapangan, Dion dan gengnya sudah terlebih dahulu parkir, lalu di susul Dirga dan gengnya. Kemudian Dirga dan Dion berhadapan di tengah antara dua geng. Masing-masing anggota geng saling menatap waspada dengan apa yang akan terjadi.


"Mau ngomong apa Lo?!" Tanya Dirga dengan tegas dan angkuh.


"Ck. Lo gak ada bedanya ya dari dulu. Selalu bersikap angkuh. Tapi gue gak akan peduli sama keangkuhan Lo itu, Dirgantara!" ujar Dion tak kalah tegas.


"Lo juga sama kayak dulu, banyak omong!" Balas Dirga, tak mau kalah.


"Oke, to the poin aja. Lo umpetin kemana Rald sana Rain?!" Tanya Dion sambil menatap mata Dirga dengan tajam. Dirga yang mendengar pertanyaan Dion malah kaget, ia mengerutkan keningnya.


"Jadi Rald sama Rain?" Dirga malah balik bertanya.


Jadi saat ini Rain bersama Rald? Pikir Dirga.


"Lo gak usah pura-pura bego Ga. Gak ngaruh sama gue!"


"Gue serius nanya! Justru sekarang gue lagi cari Rain! Soalnya gue ketemu barang punya Rain di jalanan, gue khawatir dia di culik sama si Eros!". Tegas Dirga menyampaikan kekhawatirannya.


"Eros?" Ucap Dion. Dirga mengangguk.


"Iya. Lo masih inget Om Eros kan? Waktu di rumah, gue gak sengaja denger Papa nyuruh si Eros buat culik Rain."


"Jangan-jangan Rald sama Rain udah di culik mereka?" Ujar Dion menebak.


"Dion ini liat!" Seru Panji menghampiri Dion dan memperlihatkan layar handphonenya.


"Rald ngasih share loc. Dia butuh bantuan kita!" Seru Panji, membuat Dirga penasaran ia ikut melihat layar handphone Panji.


Dion langsung mengambil handphone di saku jaketnya, lalu menghubungi Rald. panggilan berdering, namun tidak diangkat.


"Jalan mekar asri..." Ucap Dirga melihat maps yang menunjukkan lokasi yang di kirim Rald di group Silent Boom dari handphone Panji.


"Gue tau tempatnya!" Seru Dirga yang tidak asing lagi dengan nama tempat dan tujuan mereka, yaitu markas Brontes.


Dion menatap wajah Dirga yang terlihat senang karena ada harapan untuk menemukan Rain. Namun di sisi lain, penglihatan Dion tertuju pada seseorang dari anggota The Black Wolf yang sibuk memainkan handphone, sambil sesekali melirik kearah mereka.


Begitu pula Panji, ia sadar dengan keanehan salah satu anggota The Black Wolf. Laki-laki itu adalah yang selama ini Silent Boom incar. Panji sudah tau tugasnya.


Panji yang memiliki kemampuan kelincahan diatas rata-rata orang normal, langsung berlari kearah orang itu, dan menyambar handphone yang ada di genggamannya dengan menampilkan smirk di bibirnya, kemudian kembali ke tempatnya semula, dan memberikan handphone itu ke Dion.