
"Tuan, ternyata Nyonya Helena masih hidup. Beliau berada di kampung jauh dari kota" ujar Ari kepada Sulaiman Kamal yang sedang melihat foto dari handphone Rain yang di bawa Ari.
"Kata Rain, wajah Nyonya Helena rusak karena air keras yang di siram oleh rekan kerjanya." jelasnya lagi.
"Apa hubungan Rain dengan Bibi Helena?" Tanya Sulaiman.
"Rain adalah cucunya. Anak dari Evan dan Ratih"
"Anak Evan dan Ratih?"
"Iya. Ternyata diam-diam Evan dan Ratih sudah menikah dan bersembunyi dari kita. Bahkan Rain pun tidak tau siapa keluarganya. Dia hanya tau Ayah dan Ibunya. Dan dia baru tau tentang Nenek dan keluarga Ayahnya.."
"Lalu dimana Rain sekarang?"
"Di tempat saya"
"Apakah aman dia di sana?"
"Iya Tuan. Ada Rama yang menjaganya".
"Pastikan dia tetap berada di sana. Aku akan menemuinya"
"Baik Tuan".
"Aku ikut Mas!" seru Fatma yang tiba-tiba masuk ke ruangan suaminya.
****
"Eros, cepat temukan gadis itu. Jangan biarkan dia kembali ke tangan Mereka!"
"Baik Tuan".
Percakapan kedua orang itu, terdengar oleh Dirga yang tidak sengaja lewat di depan ruangan Papanya saat ia hendak masuk. Dirga segera bersembunyi dari depan pintu ke ruang sebelah, tidak lama kemudian Eros keluar dari ruangan dan pergi dengan langkah yang cepat.
Dirga mengeluarkan handphone dari sakunya, langsung menghubungi Abangnya, untuk mengabarkan apa yang barusan ia dengar. Dirga menyimpan kembali handphone ke sakunya, setelah Evan Sanjaya memutuskan sambungan telepon. ia hendak pergi menyusul Abangnya.
"Kau memberi tahu Abangmu, Dirga?" pertanyaan itu membuat Dirga seketika diam membeku.
***
Evan berjongkok di depan Rain, lalu menatap Rain dan Rald bergantian.
"Arainy Xaviera Emeralda. Itu nama asli kamu Rain. Kamu adalah anak dari tuan Sulaiman Kamal dan nyonya Fatma". Ujar Evan.
Membuat Rain dan Rald semakin kaget, lalu mereka saling pandang.
"Jadi Rain itu Ara?" Tanya Rald yang sangat tidak menyangka, kalau perempuan yang ia sukai adalah kembarannya sendiri.
Evan Mengangguk.
Sedangkan Rain terdiam dalam pikirannya. Ia masih syok dengan penjelasan Evan.
Kalau begitu, selama ini Rain sedang mencari diri sendiri untuk mengetahui semua hal dari kejadian yang terjadi. Padahal dia sama sekali tidak tahu apapun permasalahan di balik semua ini.
"Iya, Rain adalah kembaran kamu Rald. Aku dan Ratih terpaksa memisahkan Rain dari kalian. Karena hanya itu saja yang bisa menyelamatkan Rain dari pembunuhan yang mereka rencanakan"
"Pembunuhan?!" Ucap Rald kaget.
"Mereka itu siapa?" Tanya Rain penasaran. Baru saja Evan mau menjawab, handphonenya berdering, ada panggilan telepon.
"Halo. Iya Ga kenapa?"
"...."
"Lo bisa nahan mereka gak?"
"...."
"Oke-oke, gue ke sana sekarang"
Evan menyimpan kembali handphone ke saku jaketnya, ada kekhawatiran yang terlihat diwajahnya.
"Aku tidak bisa katakan sekarang. Rald, cepat bawa Rain pulang!" Ujar Evan. Lalu bergegas pergi.
Rain langsung bangun hendak mengejar Evan, namun Rald menahannya.
"Ayah! Ayaaah!!" Panggil Rain, namun Evan menghiraukan.
"Rain, dia bukan Ayah kamu!" Tegas Rald menyadarkan Rain.
"Kamu udah denger kan apa yang di katakan dia. Kamu itu kembaran aku Rain. Kamu anak Ayah dan Bunda. Ayo kita pulang. Bunda pasti seneng banget kalau tau kamu itu Ara.." ujar Rald memegang bahu Rain sambil menatapnya, untuk meyakinkan Rain. Rain diam, ia masih tidak percaya dengan kenyataan itu.
"Ayo kita pulang".
Rald meraih dan menggenggam tangan Rain, mengajaknya untuk pergi dari pemakaman itu. Namun saat Rald melangkah Rain menahan tangannya. Rald menoleh.
"Ada apa Rain?" Tanya Rald menatap mata Rain yang berkaca-kaca.
"Apa Bunda mau menerima aku?" Tanyanya ragu. Rald tersenyum.
"Pasti. Bunda pasti menerima kamu Rain. Apalagi selama ini Bunda sama Ayah gak berhenti buat cari kamu. Ayah dan Bunda pasti seneng banget kamu kembali pulang setelah sekian lama. Apalagi Adel yang selama ini selalu tanyain kamu" ujar Rald mencoba lebih meyakinkan Rain.
"Udah, kamu jangan ragu ya. Ayo kita pulang ke rumah..." Lanjut Rald lalu memeluk dan mengelus rambut Rain untuk menenangkannya. Rain mengangguk.
Lalu mereka keluar dari pemakaman menuju parkiran untuk mengambil motor.
Saat Rald memberikan helm, Rain menolak, karena ia mendengar suara dering handphonenya. Rain lebih dahulu menerima telepon. Ia mengeluarkan handphone di saku celananya.
"Nata nelepon" ujar Rain menunjukkan layar handphone ke Rald.
"Halo Nat?"
"Rain" jawab orang lain yang suaranya adalah perempuan. Rain langsung mengenali suara itu. Kak Indira, Kakaknya Nata.
"Iya kak, ada apa?"
"Rain.. Nata Rain..." Ujar Indira yang malah terdengar menangis memanggil namanya dan Nata. Membuat Rain panik.
"Nata kenapa Kak?!"
"Nata meninggal Rain. Huhuhu...."
Mendengar jawaban Kak Indira, Rain merasa waktu seolah berhenti, badannya langsung lemas. Ia terjatuh di aspal dengan handphone dalam genggamannya, mata yang sudah kering kembali basah dengan air mata yang keluar dan kembali membanjiri pipinya menangisi kabar duka yang baru dia terima.
Rald yang melihatnya langsung turun dari motor dan menahan bahu Rain.
"Ada apa Rain?" Tanya Rald dengan panik.
"Rald.. Nata Rald...."
"Nata kenapa?" Tanya Rald, tapi Rain tidak menjawabnya. Mulutnya begitu kelu untuk menjawab pertanyaan Rald.
Rald mengambil handphone yang masih di genggam Rain.
"Rain, cepet ke rumah ya, liat Nata untuk terakhir kalinya, sebelum Nata di kubur" ujar orang dalam sambungan telepon, lalu sambungan telepon terputus. Rald ikut kaget dengan apa yang baru di dengarnya.
"Nata!" ucap Rald dengan keras. Rain masih terdiam, dengan suara tangisnya yang begitu menyesakkan hati.
Rald menoleh kearah Rain. Ia langsung membantu Rain untuk bangun.
"Ayo Rain bangun. Kita langsung ke rumah Nata" ujar Rald. Rain menuruti.
Mereka melupakan tujuan utama pulang ke rumah untuk memberi tahu kepada keluarga kalau Rain adalah Ara yang selama ini mereka cari. Karena kabar kematian Nata lebih penting sekarang. Untuk pulang ke rumah, bisa nanti setelah dari rumah Nata.
Sampai di rumah Nata, sudah banyak orang yang datang untuk melayat, juga terpasang beberapa bendera kuning yang bertuliskan nama Adinata Bin Suryopranoto.
Banyak kenangan bersama Nata teringat kembali di benak Rain, membuat air mata Rain semakin mengalir deras di pipinya. Badan Rain masih lemas, sampai Rald harus memapahnya masuk ke dalam rumah Nata.
"Rain" panggil Indira yang menyadari kehadiran Rain, ia langsung menghampiri Rain dan memeluknya, tangisan mereka langsung pecah. Pasalnya Indira sangat tau bagaimana kedekatan Rain dengan adiknya itu. Bahkan Indira sudah menganggap Rain sebagai adiknya sendiri.
"Rain maafin Nata ya kalau selama ini Nata banyak salah sama kamu.." ujar Indira dalam pelukannya.
Rain melepaskan pelukannya. Lalu melangkah pelan menuju Nata yang berbaring di ruang tengah dengan kain yang menutupi seluruh tubuhnya, sampai ke kepalanya. Nata di kelilingi oleh orang-orang yang sedang mengaji. Juga ada yang menangis. Rain duduk bersimpuh di samping Nata.
"Nata..." Panggil Rain dengan lirih, ia masih tidak percaya bahwa Nata yang sedang berbaring tidak bernyawa di depannya. Seorang perempuan di sampingnya menoleh.
"Rain.."
Rain menoleh.
"Tante" panggil Rain kepada Ibunya Nata. Mereka langsung berpelukan, dan menangis.
"Maafin Nata ya Rain". Ujar Tante Rahmi.
"Tanteee.."
Indira menghampiri keduanya, lalu ia mengelus punggung Rain yang masih dalam pelukan Ibunya.
"Selama ini Nata sudah berusaha untuk kuat menghadapi penyakitnya. Tapi Allah lebih sayang sama Nata, Rain.." ujar Indira. Membuat Rain heran. Ia melepaskan pelukan Tante Rahmi.
"Sakit? Nata sakit?" Tanya Rain. Tante Rahmi dan Indira mengangguk.
"Iya Rain, sudah empat tahun Nata sakit kanker. Padahal besok Nata mau di bawa berobat ke Singapura. Tapi Nata sudah meninggal duluan.." jelas Indira.
"Nata gak pernah cerita.."
"Dia sengaja gak mau cerita sama kamu Rain. Katanya gak mau membuat kamu lebih sedih lagi. Nata juga menitipkan sesuatu untuk kamu. Sebentar, Kakak Ambil dulu" ujar Indira lalu pergi.
"Ya Allah, Nata.." lirih Rain.
"Tante, boleh Rain liat mukanya Nata untuk terakhir kalinya?" Pinta Rain. Tante Rahmi mengangguk, lalu ia bergeser mempersilahkan Rain untuk membuka kain yang menutupi wajah Nata. Sedangkan Rald berada di belakang Rain sambil berdiri.
Rain terdiam agak lama sambil menatap wajah Nata yang sudah sangat pucat.
"Nata.." panggil Rain dengan lirih. Kembali hadir kenangan bersama Nata dalam benak Rain. Dan yang terakhir kalinya saat pertemuan terakhir mereka. Pertemuan yang benar-benar terakhir. Dan tidak ada pertemuan lagi nantinya.
Indira kembali dengan membawa sebuah kotak berwarna silver, lalu ia berikan kepada Rain.
Setelah Rain menerimanya, ia di minta untuk pindah tempat, karena jasad Nata akan di mandikan. Rald mengajak Rain untuk duduk di salah satu bangku yang tersedia di halaman rumah Nata. Rald duduk di samping Rain.
Saat kita itu terbuka, ada kertas yang berisi tulisan yang letaknya di tengah kertas.
Dari Nata untuk Rain
Rain mengambil kertas itu, ada jepitan rambut berwarna biru dan pita berwarna merah putih di atas sebuah buku bercover warna coklat.
Rain sangat mengenali jepitan rambut dan pita itu. Karena keduanya adalah milik Rain yang pernah ia titipkan ke Nata saat lomba tujuh belasan tahun lalu. Nata masih menyimpannya. Sedangkan Rain malah sudah lupa pernah menitipkan ke Nata.
Rain menggeser pita dan jepitan rambut, ia mengambil buku coklat dari kotak. Lalu membukanya.
Halaman pertama ada foto Rain berdua dengan Nata waktu acara pentas seni di sekolah, saat itu mereka menampilkan drama. Rain dan Nata kebagian peran sebagai Ayah dan Ibu dari pemeran utama.
Rain tersenyum melihat foto itu, namun air matanya terus mengalir. Rald yang melihat itu, membiarkan Rain untuk mengenang masa lalu bersama Nata.
Lalu Rain membuka halaman perhalaman yang berisi foto-foto dan kalimat yang berisi cerita.
Rain tidak menyangka Nata membuat buku kenangan mereka berdua sedemikian rapi dan ada cerita singkat yang mengingatkan Rain akan cerita di balik foto-foto itu. padahal Rain pun hampir melupakannya.
Rain menikmati selembar demi selembar kertas yang di dalamnya berisi foto dan kenangan. Hingga ia berhenti di lembar yang berisi foto punggung Rain yang sedang berjalan.
"Rain, hidup menjadi kebanggaan itu hal yang sulit. Harus menyembunyikan banyak hal. Seperti takut mengecewakan, harus pura-pura baik-baik saja, dan berbohong seolah-olah gak pernah bosan belajar. Aku juga muak sama semua itu! Tapi aku gak akan berhenti berambisi untuk hal itu. Andai kamu tau, waktu aku terbatas Rain, hanya dengan itu aku bisa memberikan kenangan yang baik untuk keluarga, sahabat dan kamu, Rain. Dan aku bisa pergi dengan meninggalkan kesan baik, juga bisa menjadi kebanggaan kalian. Rain, aku gak mau sendirian untuk mendapatkan piala kebanggaan itu, aku ingin kamu juga bisa merasakan kebahagiaan itu Rain"
-Dari Nata untuk Rain-
Rain menyeka air matanya, ia ingat apa yang terjadi di balik foto ini. kejadian saat Nata memintanya untuk ikut olimpiade matematika, namun Rain menolaknya.
Rain membuka lembar selanjutnya. Tidak ada foto, hanya tulisan.
"Rain, maafin atas kebodohan aku yang percaya dengan fitnah yang mereka lakukan ke kamu. Saat ini aku dan Rald lagi mencoba untuk mencari bukti kalau kamu gak bersalah, justru Galang dan teman-temannya yang salah.
Rain, tetap kuat ya, aku dan Rald akan selalu berada di pihak kamu. Kita akan lakukan apapun supaya kamu bisa balik lagi ke sekolah dan mengharumkan nama kamu."
Di akhir halaman, Nata menulis sebuah kalimat yang membuat bahu Rain berguncang karena menahan suara tangisnya. Ia benar-benar tersentuh dengan apa yang di lakukan Nata untuknya.
"Andai aku bisa menciptakan kebahagiaan, tentu aku akan berikan kebahagiaan itu untuk kamu, Rain"
-Dari Nata untuk Rain-
•
•
•