
Rain mengajaknya ke kafe yang berada di seberang taman.
"Anggap aja ini perpisahan kita" ujar Rain. Saat mengajak Nata ke kafe.
Awalnya Rain mau pesan makanan, tapi melihat Nata yang hanya pesan minuman, Rain mengurungkan niatnya. Ia juga hanya membeli red Velvet milkshake.
"Nat, berapa lama kamu tinggal di sana?" Tanya Rain, lalu meminum red Velvet milkshakenya.
"Hmm, sebenarnya aku belum tau sampai kapannya.."
"Lho kok gak tau? Biasanya kalau sekolah udah di tentukan berapa tahunnya, kan?".
"I-iya. Tapi aku bukan sekolah formal di sana. Hmm, kayak kursus gitu Rain.." ujar Nata, berbohong.
Rain mengerutkan keningnya.
"Cuma kursus, tapi mau pindah ke sana? Emangnya kamu kursus apa sih di sana?". Rain terus memperhatikan Nata. Yang terlihat aneh.
"Hmm.. ada lah Rain. Aku mau lebih fokus di sana..."
"Apa di Indonesia tempat kursus tujuan kamu gak ada ya? Ya seenggaknya kamu masih tinggal di dalam negeri, meskipun beda pulau.." ujar Rain masih keberatan, dengan niat Nata yang akan pergi ke Singapura.
"Sebenernya ada. Tapi aku di rekomendasikan buat ke sana..."
"Apa seunggul itu tempatnya?" Tanya Rain. Nata mengangguk.
"Iya, Rain.. Hmm, Rain. Maaf banget, aku gak bisa lama-lama. Aku harus pulang. Ada yang mesti aku urus lagi di rumah.." ujar Nata setelah menghabiskan lemon tea nya.
Rain mengangguk pelan.
"Kamu pasti sibuk banget ya, Nat" ujar Rain, menatap Nata.
Nata mengangguk.
Sebenarnya alasan dia ingin segera pulang, karena sakit yang ia rasakan di tangan kanannya semakin parah. Tangannya juga sudah gemeteran. Kalau lama-lama bersama Rain, takutnya di tidak bisa menahan lahi sakit itu, dan Rain akan tau apa yang sedang di rasakannya.
Melihat Rain menangis karena hendak di tinggalkannya, itu sudah cukup bagi Nata. Dia tidak mau menambah kesedihan Rain atas dirinya, kalau Rain tau bahwa Nata mengidap kanker.
Juga ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan Rain, yang justru akan membuatnya bingung untuk menjawabnya. Dan takut keceplosan.
"Kamu mau langsung pulang, Rain?" Tanya Nata. Rain menggeleng.
"Enggak Nat. Aku mau ke makam Ibu dulu.."
"Oh, hmm. Maaf ya Rain. Aku gak bisa antar kamu"
"Iya, gak apa-apa. Nat.."
"Aku, pulang ya, Rain.."
"Hu'um"
Nata beranjak dari duduknya. Rain ikut beranjak juga. Lalu mereka keluar kafe bersama.
"Nat. Jangan lupa selalu kasih kabar ya.." ujar Rain saat mereka sudah ada di luar kafe, menunggu ojek online yang sudah di pesan Nata.
"Iya Rain, Insya Allah..."
"Nat.."
"Nanti, saat kamu kembali, apa kamu masih mau menganggap aku sahabat kamu?" Tanya Rain. Sambil menatap mata Nata dengan tatapan teduh. Nata tersenyum lebar.
"Sampai kapanpun, aku gak akan melupakan sahabat terbaik aku, si cewek cerewet, ambekan, keras kepala. Tapi cantik dan baik yang bernama Rain.." ujar Nata, dengan senyuman manisnya. Rain tersenyum lebar.
"Aku juga gak akan lupa kalau punya teman yang ambisius, jutek sama orang tapi baik sama aku, pinter, dan ganteng yang bernama Adinata Fatahillah Akbar.."
Rain meraih bahu Nata, lalu di peluknya dari samping.
"Jaga kesehatan ya Nat. Aku akan selalu menunggu kepulangan kamu. Dan kabarin juga ya, kalau mau pulang ke Indonesia. Aku akan menjadi orang pertama yang menyambut kamu..."
"Iya Rain. Kamu juga jaga kesehatan ya.. aku akan berjuang dengan keras di sana, dan akan pulang ke Indonesia dengan selamat, insyaallah.."
"Iya Nat..."
"Rain, aku pulang ya, ojeknya sudah sampai" ujar Nata melepaskan pelukan Rain, dan menunjuk motor yang berhenti di depan kafe, pengemudinya memakai seragam khas ojek online.
"Oh, iya Nat. Hati-hati ya. Jangan lupa kasih kabar.."
"Iya Rain. Assalamualaikum.." ujar Nata mengucapkan salam, Rain menjawabnya. Lalu Nata menghampiri ojek online. Menerima helm yang di berikan, memakainya lalu naik ke motor.
Nata melambaikan tangan. motor itu melaju. Rain melambaikan tangannya juga dan memandang motor yang membawa Nata semakin menjauh. Hatinya bebicara dengan sedih.
"Nata, aku tau kamu berbohong. Kamu gak bisa berbohong sama aku, Nat. Kenapa kamu berbohong? Apa yang kamu sembunyikan dari aku, Nata?". Lalu Rain menurunkan tangannya. Air mata tak bisa di tahan, Rain kembali menangis,
"Rain?" Panggilan seseorang mengagetkan Rain, ia segera menyeka air matanya, dan menoleh ke sumber suara.
"Ya ampun, gue kira, gue salah orang! Ternyata beneran elo, Rain!" Seru Queen. Kedua tangannya mendarat di bahu Rain, dan menggoyangkan badannya Rain untuk melihat penampilan Rain dari sisi kanan dan kiri.
Rain melepaskan bahunya dari tangan Queen, dan mundur selangkah. Dan Rain terdiam kaget, melihat ada Nesya, Wanda dan Tania juga.
"Ya ampun Rain, Lo? ah, gue gak nyangka, penampilan Lo begini sekarang. Eh Sya, Sya. Liat deh, bestie Lo. Yang selalu Lo bela, di sekolah. Ternyata aslinya begini! berarti benerkan apa yang Lo tau selama ini?!" Seru Queen menarik tangan Nesya untuk berdiri dis sampingnya, berhadapan dengan Rain. Nesya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ih, gue gak nyangka lho. Lo bisa berpenampilan kayak gitu!" ketus Wanda.
"Iya. Ih. So banget Lo. Pake di warnain segala rambutnya!" Tania menimpali.
"Sya, cewek berandalan kayak dia gak pantes Lo tangisin. Apalagi yang udah ngehianatin Lo. Sabar, Sya. Gue yakin, Lo bakal dapet temen yang lebih baik daripada dia..." Ujar Queen pura-pura bersimpati.
"Jaga omongan Lo, Queen!" Ketus Rain sambil melototi Queen.
Queen melepaskan rangkulannya dari Nesya. Dan menutup wajahnya.
"Omo! Takut gue sama tatapan Lo, Rain!" seru Queen, meledek Rain.
Rain mengepalkan tangannya.
Sedangkan Nesya masih memperhatikan Rain. Lalu ia maju satu langkah, mendekati Rain.
Plak!
Nesya menampar pipi kiri Rain. Membuat Queen, Wanda dan Tania kaget. Rain juga kaget Nesya tiba-tiba menamparnya.
"Aku kecewa sama kamu, Rain.." ujar Nesya, pelan penuh penekanan.
"Apa maksud kamu, Sya?" Tanya Rain. Tangannya mengelus pipi kirinya yang terasa sakit, dan matanya berlinang. Tidak menyangka Nesya akan menamparnya, di pertemuan pertama setelah dua minggu tidak bertemu.
Saat itu, Queen langsung ambil kesempatan, ia mengeluarkan handphone dari Sling bag nya, dan memvideokan Rain dan Nesya.
"Kamu penghianat, Rain Kamu udah tau kan, kalau aku suka sama Rald. Tapi kenapa kamu malah ngerebut dia dari aku? Sampai kamu tinggal di rumahnya..." Ujar Nesya, dengan marah. Rain menggeleng.
"Sya, aku gak rebut Rald dari kamu atau siapapun. Aku bisa jelasin kenapa aku sampai tinggal di rumah Rald.." Jelas Rain.
"Aku juga gak nyangka, berteman sama badgirl kayak kamu!"
"Sya!"
"Rain. Aku udah tau semua hal tentang keburukan kamu, yang selama ini kamu tutupin semua itu dari aku. Dan aku baru tersadar, selama ini aku di manfaatin sama kamu. Aku bodoh, karena tertipu dengan sikap baik kamu..."
"Sya, ini pasti ada salah paham. Please Sya, jangan begitu sama aku. Kita ngomong baik-baik, ya..." Pinta Rain, ia mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Nesya, namun Nesya langsung menepis tangannya.
"Aku muak sama kamu, Rain.."
"Sya.."
Braaak!!
"OH MY GOD!!" Queen berteriak karena baru saja handphonenya pecah di banting Dirga, yang datang tiba-tiba.
Perhatian Rain, Nesya, Wanda dan Tania tertuju pada Queen, lalu Rain melihat Dirga malah menyeringai kearahnya.. kemudian ia berjongkok di samping Queen yang sedang mengambil handphonenya yang sudah pecah dan meratapinya.
"Gak pantes Lo berbuat kayak gitu, Queen.." ujarnya berbisik.
"Dirga. Eloo.." tunjuk Queen ke Dirga dengan melotot.
Lalu berdiri. Dirga mengangkat alisnya, dan ikut berdiri. Wanda dan Tania mundur beberapa langkah.
"Kenapa? ini belum seberapa, lho Queen. Tapi lo akan mendapatkan hal yang lebih mengerikan dari pada ini, kalau Lo berani macem-macem sama Rain..." Ujar Dirga mengancam.
Bulu kuduk Queen berdiri. dan Mata Queen berkaca-kaca karena takut ancaman Dirga.
"Dirga, Lo ngapain sih?" Tanya Rain kesal. Ia menarik tangan Dirga untuk menjauh dari Queen.
"Rain, Lo jangan marah sama gue. Marah tuh sama nenek lampir. Dia sama temennya lagi videoin Lo. Dia mau bikin masalah sama Lo..." Ujar Dirga, kesal juga.
Rain melihat Queen. Queen memalingkan wajahnya.
"Udahlah Rain. Ayo cabut. Circle pertemanan mereka itu toxic. Gak bener. Liat aja tuh si Nesya, dia kemakan omongan Mak lampir, sampe berbuat jahat sama temen sendiri" ujar Dirga menyindir Nesya.
"Aku gak jahat sama dia! Dia yang jahat sama aku!" Elak Nesya. Dirga berdecak.
"CK. Siapa sih yang udah cuci otak Lo? Eh Sya, asal Lo tau. Nama Rain tercemar gara-gara ulah mereka menyebarkan hoax, padahal mereka gak tau apa-apa tentang Rain. Lo itu sahabat nya Sya, seharusnya Lo gak nelen mentah-mentah omongan mereka. Lo harusnya percaya sama Rain!" ujar Dirga menatap Nesya.
"Oh ya, Lo cemburu Rain tinggal di rumah Rald? Lo tau kenapa Rain bisa tinggal di sana, Hm? Waktu itu Rain nyaris mati. Dia di serang pembunuh di dekat danau. Rald nyelamatin dia. Untuk kesembuhan dan keselamatan Rain. Ayahnya titipin dia ke keluarga Rald yang udah nyelamatin dia, dan Ayahnya sekarang lagi cari pembunuh yang masih berkeliaran itu. Lo tau gak cerita itu, hah?!" Bentak Dirga.
Membuat keempat perempuan itu terhentak kaget. Beberapa orang sekitar ada yang memperhatikan mereka.
"Lo mau dapet perhatian dari Rald? Lo mau tinggal di rumah Rald? Silahkan. Tapi Lo harus ngerasain apa yang di rasain Rain. Nyaris mati di tangan pembunuh. Mau Lo?" Tanya Dirga menatap Nesya. Nesya terdiam.
"Mau Lo?!" Bentak Dirga.
"Ga, udah cukup! Ayo pulang" Ujar Rain menarik tangan Dirga.
"Oke. Yok pulang Ibu khawatir sama Lo. Pergi gak bilang-bilang!" ujar Dirga menyentil kening Rain.
Membuat Queen, Wanda, Tania dan Nesya heran.
"Rain adalah Milik gue. Kalo ada yang macem-macem sama dia. Gue akan membuat hidup orang itu gak tenang. Paham kalian?!" Ujar Dirga menunjuk mereka satu-persatu.
"Ayo Rain" kali ini Dirga menarik tangan Rain menuju motornya.
"Sya. Nanti aku jelasin lagi ya.." seru Rain sambil berjalan. Queen, Wanda dan Tania diam tercengang. Mendengar ucapan Dirga.
"Rain adalah milik gue..." empat kata itu terngiang di telinga mereka.
"Rain pacarnya Dirga?" Tanya Wanda sambil menepuk bahu Queen, pandangannya masih ke arah Rain dan Dirga yang sedang naik motor. Queen menggeleng. Mereka tercengang bersama. melihat motor Dirga melaju dengan cepat.
***
✨Rainy Senja✨