RAIN

RAIN
Mimpi Fatma



"Bunda tolong.. Bundaaaa!!" Teriakan itu membuat mata Fatma terbuka lebar.


Ia sangat kaget, ketika melihat sekelilingnya hanya ada rumput ilalang, pepohonan besar, dan tebing-tebing yang curam.


"BUNDAAAAA!!!" Teriakan itu kembali terdengar. Fatma berputar badan, mencari sumber suara di sekelilingnya.


"KAMU SIAPA?! Dimanaaa??!" Teriak Fatma, pandangannya mengintari sekelilingnya.


"Bunda aku di siniii.. toloooong..."


Fatma melihat sebuah tangan mungil yang muncul dari tebing yang ada di depannya.


"ARA?!" Pekiknya melihat tangan mungil yang sangat ia kenal.


"Bundaaaaa..."


Fatma berlari menuju tebing itu, dan melihat Ara, yang masih kecil, berusia lima tahun sedang berusaha bertahan di tepi tebing, dengan dua tangan bertahan di batu.


"Ara.." gumam Fatma heran melihat anaknya berada di sana.


Bukankah Ara sudah meninggal?


"Bundaaa tolong akuu...." Teriak Ara lagi. Tersadar dengan kondisi Ara, Fatma segera berjongkok dan mengulurkan tangannya.


"Ara! Ambil tangan Bunda, Ara. Ayooo..." Seru Fatma. Ia merendahkan badannya untuk meraih tangan Ara yang jaraknya tinggal sejengkal.


Hap!


Fatma berhasil meraih tangan Ara. Namun tiba-tiba tangan yang tadinya mungil menjadi besar, hampir menyamainya tangannya.


Ia tersentak kaget melihat orang yang sedang di tolongnya berubah, bukan lagi Ara, melainkan Rain.


Karena kaget, tangannya terlepas dari genggaman tangan Rain.


Rain terjatuh dari tebing itu.


"BUNDAAAAA!!!"


"TIDAAAAAKKK!!!" Jerit Fatma, membangunkan suaminya yang sedang tidur di sampingnya.


Sulaiman langsung meraih badan Fatma dan memeluk, untuk menenangkannya.


Sulaiman sudah tidak heran lagi dengan istrinya yang selalu menjerit ketika tidur. Pasti ia mengalami mimpi buruk lagi.


Sejak Ara meninggal, Fatma sering sekali mimpi buruk. Entah itu mimpi Ara saat di culik. Saat Ara di bunuh, atau hal buruk lainnya yang menimpa Ara, di dalam mimpinya.


"Yah, aku mimpiin Ara, Yaah..." Ujar Fatma sambil menangis. Sulaiman mengelus punggung Fatma.


"Iya Bun. Sabar ya sayang. Kita doakan Ara ya. Lagi pula sekarang Ara sudah tenang. Dia sudah menjadi bidadari di sana..." Ujar Sulaiman menenangkan.


"Iya Yah. Tapi di mimpi aku tadi, ada Rain juga. Aku khawatir sama Rain...". Ujar Fatma, mulai menangis.


"Ada Rain?"


"Iya. Aku mimpi Ara hampir jatuh di tebing, saat aku nolong Ara, tiba-tiba Ara berubah jadi Rain. Karena aku kaget, aku melepaskan tangan Rain. Rain jatuh di tebing itu. Firasat aku buruk. Aku takut Yah.. aku takut terjadi sesuatu sama Rain..." Ujar Fatma menceritakan mimpinya dengan panik. Sulaiman memeluk istrinya dengan erat, mengelus punggung dan mencium rambutnya.


"Tenang Bun, insyaallah Rain gak kenapa-kenapa.."


"Yah, aku khawatir.."


"Bunda, Rain akan baik-baik saja..."


"Enggak Yah, aku gak bisa tenang kalau belum liat Rain. Yah, aku mohon, tolong cari Rain. Ayahnya mengamanahkan Rain ke kita, kita harus jaga dia, Yah. Aku takut... Aku takut nasib Rain sama dengan Ara..."


"Sssssttt.. Jangan bilang seperti itu Bun..."


"Tapi Yah, kemungkinan bisa terjadi. Apalagi sekarang Rain dalam ancaman penjahat itu. Rain dalam bahaya. Aku takut mereka bunuh Rain, seperti mereka bunuh anak kita".


"Bundaa..."


"Yah, aku tau bagaimana rasanya kehilangan anak. Tolong Yah, jangan sampai hal itu terjadi lagi sama Rain. Dimimpi aku tadi, Rain manggil aku Bunda, Yah. Dia minta tolong sama aku.."


"Bunda, itu hanya Mimpi.."


"Ayah, aku sayang sama Rain. Aku udah anggap Rain seperti anak aku sendiri, dia obat rindu aku ke Ara.. tolong cari Rain, Ayah. Aku mohon..". Ujar Fatma, menggenggam tangan Sulaiman dan menatapnya dengan sendu.


Sulaiman menghela nafasnya. Lalu mengangguk.


"Baiklah, Ayah akan minta tolong ke Ari untuk cari Rain..".


"Terima kasih sayang, terima kasih.."


"Aamiin...."


***


Rain menghentikan langkahnya, menarik nafas dalam-dalam, matanya masih terpejam. Kemudian ia membuka kaki kanannya lebar, sudah tak ada pijakan lagi di depannya. Rain menjatuhkan dirinya.


"RAIIINN!!"


Hap!


Tangan Rain berhasil ditangkap oleh Dirga, sebelum Rain benar-benar jatuh ke jurang itu.


Dirga menggenggam tangan Rain dengan erat.


Mata Rain terbuka saat merasa tangannya ada yang menahan. Ia kaget, ketika melihat Dirga, adalah orang yang menahan tangannya.


"Lepasin gue!! LEPASIIIIN GUEEEE!!!" Teriak Rain, ia memberontak, menggerakkan tangannya agar terlepas dari tangan Dirga.


"Enggak! Gue gak akan biarin Lo mati konyol!" Bentak Dirga.


Dirga semakin erat menggenggam tangan Rain, dengan kedua tangannya, lalu menariknya dengan kencang.


Karena kekuatan Rain tak sebanding dengan kekuatan Dirga, akhirnya Dirga berhasil menarik Rain dari tepi jurang. Ia langsung memeluknya erat.


Saat lampu merah menyala, tak sengaja Dirga melihat Rain berada di bus, bangku paling belakang, menghadap kaca sambil menangis.


Bus itu berhenti tepat di samping motor Dirga yang juga sedang berhenti, menunggu lampu merah.


Saat lampu merah berganti lampu hijau, Dirga mengakuti bus itu. Sampai akhirnya Rain turun di dekat alun-alun. Dirga memarkirkan motornya di pinggir jalan, lalu mengikutinya.


Ia bersembunyi di belakang pohon yang tak jauh dari tempat Rain berdiri, saat ia sedang bermonolog, mengeluhkan hidupnya.


Dirga sudah berancang-ancang untuk menahan Rain, saat Rain terus melangkah maju menuju jurang, dan terus bermonolog menyalahkan dirinya sendiri.


"Lepasin! Lepasin gueee!!" Jerit Rain di tengah tangisannya, ia memukul-mukul badan Dirga, agar melepaskannya.


"Tenang Rain. Tenaaang..." Bisik Dirga di telinga Rain. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepasin gue Dirga!! Lepasin! Biarin gue mati! Gue gak ada gunanya hidup di dunia ini!!" Jerit Rain, terus menangis.


"Lepasin Dirga! Lepasiiiiiin..!!!".


Kali ini Rain mendorong badan Dirga dengan kuat, sampai akhirnya ia bisa melepaskan pelukan Dirga darinya.


Rain langsung berdiri dan menjauh dari Dirga. Dirga ikut berdiri.


"Gue gak pantes hidup! Gue mau pergi! Gue mau hilang, dan terlupakan sama semua orang! Karena gue cuma beban!! GUE CUMA BEBAN BUAT SEMUA ORANG!!!". Teriak Rain.


"Enggak Rain. Lo bukan beban. Tapi Lo anugerah terindah dari Tuhan buat kita semua..." ujar Dirga dengan tulus.


Rain menghentikan langkahnya, berbalik, lalu menunjuk Dirga dengan jari telunjuknya, mata Rain menatap wajah Dirga.


"Dengan kata-kata itu, lo mau ngejek gue? Hah? Lo udah tau gimana hancurnya hidup gue, dan lo bilang, gue anugerah terindah dari Tuhan buat kalian semua? Enggak Dirga! Enggak!!"


"IYA! Lo adalah anugerah dari Tuhan buat kita semua. Terutama buat orang tua Lo, Rain. Ibu Lo, Selama hidupnya, Lo terus menerus membuat Ibu Lo bahagia dan bangga dengan prestasi yang Lo raih, bahkan di hari-hari terakhirnya, Lo masih membuat dia bangga sama Lo..." ujar Dirga, perlahan dia melangkah maju, mendekati Rain.


"Lo anugerah buat Ayah Lo juga, Rain. Dia menjadi pribadi yang lebih baik. Menjadi seorang yang lebih penyayang, dan punya tujuan hidup yang lebih terarah. Dia berhenti ngerokok, judi, dan mabuk-mabukan, setelah adanya Lo dalam kehidupan dia...".


Rain terdiam mendengar apa yang di katakan Dirga.


Rain pernah mendengar hal itu dari Ibu, saat ada teman Ayahnya datang malam-malam untuk mengajaknya main. Tapi Ibu marah, dan mengusir mereka. Mengatakan kepada mereka, kalau Ayah sudah berhenti merokok, berjudi, dan mabuk-mabukan lagi.


"Rain. Jangan menghakimi diri sendiri dengan kematian. Lo gak berhak melakukannya..." Ujar Dirga. Saat ini, jarak antara Dirga dan Rain semakin dekat, namun Rain seperti tidak menyadarinya, ia terus diam dalam tangisan, memikirkan kata-kata Dirga.


"Rain, Lo masih punya banyak waktu dan kesempatan buat memperbaiki hidup. Dan Lo minta maaf sama mereka, kalo Lo ngerasa cuma beban bagi mereka.. Setidaknya saat Lo mati, lo tenang, dan bahagia. Bukan malah mati dalam keadaan sedih, konyol dan marah pada diri sendiri.."


Hap!


Dirga berhasil menangkap tangan Rain, lalu membawanya menjauh dari jurang itu.


"Lepasin gue, Dirga! Lepaaaass..."


"Gue gak akan lepasin Lo, Rain. Sebelum Lo bertemu sama seseorang yang udah lama nunggu Lo..."


***


✨Rainy Senja✨