
"Rald, Bunda masih kepikiran sama Rain. Dia tinggal dimana ya, sekarang?" Ujar Fatma, sambil melipat baju di temani Rald, yang saat itu sedang mengerjakan tugas sekolah. Rald menoleh kearah Bundanya.
Tatapan Bunda begitu sayu. Ia tak tega melihatnya.
"Tenang Bunda, Ayah sama Bang Ari lagi berusaha mencari Rain. Aku juga akan cari Rain. Bun..". Ujar Rald.
"Bunda khawatir, Rain kenapa-napa. Pasti luka di kepalanya masih sakit..." Ujar Fatma lagi.
Rald terdiam. Dia bingung apa yang harus dikatakannya.
"Rald" panggil Fatma.
"Iya Bunda?"
"Kira-kira Rain punya teman dekat gak?"
"Teman dekat?"
"Iya. Barangkali dia sekarang ada di rumah temannya?". Ujar Fatma, dengan mata berbinar, seolah mendapat petunjuk tentang keberadaan Rain.
"Hmmm. Temannya Nesya, Lea, Nata. Nata...." ucap Rald, teringat kepada Nata.
"Nata?" Ucap Fatma, menyebut nama Nata, yang di ulang dua kali oleh Rald.
"Iya, Nata Bun! Bun, aku izin ke rumah Nata ya. Kayaknya Nata tau di mana Rain berada.." Seru Rald, ia langsung menutup buku, dan beranjak dari tempatnya.
"Iya. Kalau ada apa-apa, kasih tau Bunda, Ya.."
"Siap Bun!"
Rald menaiki motornya, dan melajukan motornya dengan cepat. Hingga akhirnya sampai di rumah Nata. Ia menekan bel yang tertempel di tembok samping gerbang. Tak lama muncul seorang wanita paruh baya, memakai mukena dari dalam rumah, dan membukakan gerbang.
"Assalamualaikum Tante.." ucap Rald.
"Waalaikum salam. Dengan siapa ya?" Tanya perempuan itu, yang tidak lain adalah Ibunya Nata.
"Saya Rald, teman Nata, Tante.." jawab Rald memperkenalkan diri.
"Oh, temannya Nata. Tapi Natanya lagi pergi". Ujarnya.
"Kalau boleh tau, Nata pergi kemana Tante?"
"Bilangnya sih ke taman kota.."
"Ke taman kota?"
"Iya. Katanya mau ketemuan sama Rain."
"Ketemuan sama Rain?!" Ujar Rald, kaget.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Eh, gak Tante, gak kenapa-napa..."
"Nah itu Nata, pas banget baru datang" ujar Ibunya Nata, menunjuk ke motor yang berhenti di belakang Rald.
Nata memberikan helm dan uang, lalu ojek itu pergi.
"Nata, ini ada teman kamu, ajak masuk ya. Mama mau lanjutin ngaji dulu" ujar Mama Nata, lalu masuk. Nata mengangguk.
"Rald, mau ngapain Lo ke sini?" Tanya Nata. Rald menatap Nata.
"Lo habis ketemuan sama Rain?" Bukannya menjawab, Rald malah bertanya. Nata mengangguk.
"Iya, tadi pagi, tiba-tiba dia chat gue dan ngajak ketemuan di taman.."
"Sekarang dimana dia?"
"Pas gue pulang, dia masih di kafe, seberang taman. Tapi katanya dia mau ke makam Ibunya. Sekarang kayaknya lagi perjalanan ke makam..." Jawab Nata.
Rald langsung memakai helmnya. Hendak pergi untuk menemui Rain. Tapi Nata menahan tangannya.
"Rald, gue pamit. Lusa mau pergi berobat ke Singapura" ujar Nata membuat mata Rald membulat.
"Doain ya, semoga gue bisa sembuh lagi...". Lanjut Nata. Rald langsung memeluk Nata.
"Gue akan selalu doain yang terbaik buat Lo, Nat. Lo harus kuat dan semangat ya"
"Iya Rald. Thanks ya. Oya, please, jangan bilang ke Rain soal ini. Soalnya tadi gue bilang, kesana mau belajar. Gue gak mau Rain tau..."
"Oke. Oke. Siiip. Yang penting, Lo mau berusaha untuk sembuh. Kuat-kuat Lo ya. Pulang ke Indonesia dengan selamat dan sehat" ujar Rald memahami dan memberikan semangat, sambil menepuk pundaknya.
"Iya Rald. Thanks ya.."
"Sorry Nat, gue gak bisa lama-lama. Gue harus ketemu sama Rain. Gue cabut dulu ya!" Ujar Rald. Nata tetap menahan tangan Rald.
"Nat?!"
"Tunggu Rald" ujar Nata, ia mengeluarkan handphone dari sakunya dan memperlihatkan fotonya dan Rain waktu di taman tadi. Rald menatap foto itu.
"Ini Rain yang sekarang. Gue yakin, Lo gak bakal ngenalin dia kalau nanti ketemu di jalan" ujar Nata.
"Ini.. Rain? Serius Lo, sekarang Rain begini?" Tanya Rald tidak percaya. Nata mengangguk.
"Iya, sekarang beginilah dia. Beda banget kan? Gue juga gak nyangka dia bisa berubah penampilan drastis begini. Nanti kalo di jalan, Lo ketemu cewek penampilannya mirip kayak gini, coba teliti dulu. Siapa tau itu Rain. Tapi dia sekarang lagi menuju makam Ibunya, jadi Lo bisa kesana nyari dia..."
"Oke. Thanks Nat. Gue akan langsung cari dia ke sana"
"Iya. Oya Rald, gue titip Rain ke elo ya. Meskipun Dirga adalah keluarganya, tapi gue gak yakin, Rain aman kalau sama dia..."
"Maksudnya?"
"Nanti lo juga tau. Lebih baik lo sekarang cari Rain, sebelum dia pergi lagi.." ujar Nata menepuk pundak Rald. Rald mengangguk. Lalu pergi dan melajukan motornya dengan kencang.
***
"Ga berhenti Ga.. DIRGAA BERHENTIIIII!!!" Teriak Rain sambil memukul punggung Dirga. Dirga langsung me-rem mendadak. Membuat kepala Rain terbentur helmnya.
"Apaan siih?!!" Omel Dirga. Rain langsung turun dari motor, sambil mengelus keningnya.
"Lo gila apa? Bawa motor ngebut gitu!" Rain lebih mengomel.
"Enggak ngebut ah!" Elak Dirga.
"Ah, elo emang udah gak waras!" Ujar Rain lalu berjalan.
"Lo mau kemana?!"
"Pergi!"
"Pulang Rain! Ibu nungguin Lo di rumah! Dia khawatir sama Lo!". Teriak Dirga, karena Rain terus melangkah.
Mendengar itu, Rain menghentikan langkahnya. Ia teringat Ibu. Ya, ibu pasti mengkhawatirkannya, karena Rain pergi tidak izin langsung dan belum pulang sampai sore ini.
Dirga melajukan motornya mendekati Rain.
"Gue mau ziarah dulu.."
"Oke gue anter. Ayo naik".
Rain terdiam.
"Kenapa masih diem aja. Ayo naik. Kesorean nanti!".
"Tapi Lo jangan ngebut!"
"Enggak!"
"Beneran ya enggak ngebut?!".
"Iya beneran, suerr! sumpah! Cepetan naik!" ujar Dirga kesal.
"Iya.." ujar Rain pelan. Tapi dia masih ragu untuk naik di motornya.
"Ayo cepetan Araaaa!" Ujar Dirga, memanggil Rain dengan nama Ara. Mata Rain membulat mendengar nama Ara di sebut Dirga.
"Elah, pake kaget segala lagi. Kalo gitu, gimana Lo bisa terbiasa di panggil Ara?" Ejek Dirga. Membuat Rain cemberut.
"Ya lagi, Lo tiba-tiba manggil nama itu!"
"Ya ellaaaah cepet napah! Pegel tau gak nahan motor kayak gini!"
"Iya"
"Cepetan!"
"Iya sabar!"
"RAIN!!" Teriak seseorang mengagetkan Rain dan Dirga. Sebuah motor berhenti di depan mereka. Laki-laki itu turun dari motornya melepas helm.
"Rald?" Gumam Rain, melihat Rald yang berjalan menghampirinya, lalu menarik tangan kiri Rain
"Rain, ayo ikut aku!" Ujar Rald.
Dirga langsung turun dari motornya, dan menahan tangan kanan Rain. Kini Rain, berada di antara dua laki-laki itu.
"Wei! Jangan main bawa pergi aja!" Tegur Dirga. Rald menatap Dirga dengan tajam.
"Lepasin dia!" Tegas Rald.
"Gak. Lo gak berhak bawa Rain pergi..." Elak Dirga. Ia menggenggam tangan Rain dengan erat. Sementara itu, Rain terdiam. Ia bingung harus bagaimana, menghadapi dua laki-laki yang memperebutkannya.
"Lo siapa emang, larang gue bawa Rain? Hah?! Lo cuma pembawa sial buat dia!" Ujar Rald membentak.
"Gue Abang nya!" Ujar Dirga dengan tegas.
Genggaman tangan Rald melepas tangan Rain. Ia menatap Rain meminta penjelasan. Yang di tatap malah menundukkan kepalanya. Rain benar-benar bingung menjelaskannya kepada Rald. Meskipun kenyataannya seperti itu. Rasanya mulutnya kelu.
"Oh, Abang? Abang macam apa Lo, yang selalu nyakitin adik sendiri? Yang ngebiarin adik di sakitin sama temen sendiri? Abang macam apa, yang ngebiarin anggotanya mau bunuh adik sendiri? Hah? Abang macam apa Lo?!" Ujar Rald menyanggah pengakuan Dirga dengan emosi. Mata Rain menatap Rald, keningnya berkerut, mencoba mencerna kata-kata Rald.
"Enggak! Semua itu di luar kendali gue!" Ujar Dirga, beralasan, ia juga melepas tangan Rain.
Rald berdecak.
"Sampah! Alasan sampah!!" Umpat Rald, lalu ia memukul wajah Dirga. Yang membuat Dirga Jatuh tersungkur kebelakang, karena pukulan itu tiba-tiba, darah segar mengalir dari hidungnya.
Rain menjerit kaget, ia langsung menarik baju Rald untuk menjauhi Dirga, karena melihat Rald melangkah menuju Dirga. Dan Ia membantu Dirga untuk bangun.
Rald menarik tangan Rain.
"Ayo Rain, kita pergi. Dia bukan orang yang baik. Kamu gak akan aman sama dia!"
"Lepasin! Jangan asal nuduh Rald! Dia gak seburuk apa yang kamu pikirkan!"
"Tapi Rain?!"
"Rald, please, jangan kayak gitu. Dirga itu Abang aku". ujar Rain. Rald menggelengkan kepalanya, ia tidak percaya.
"Tapi Abang mana yang membuat adiknya menderita gara-gara ulah dia dan anggota geng nya?! Kamu gak aman kalau sama dia, Rain! Ayo ikut aku pulang. Bunda khawatir banget sama kamu!"
"Enggak Rald! Ya, memang dia tidak Sebaik kamu dan keluarga kamu yang selalu berbuat baik sama orang. tapi dia adalah keluarga aku. Dia Abang aku! Dan aku gak suka ada yang menjelekkan keluarga aku!"
Ujar Rain dengan tegas. Ia mengenalkan Dirga sebagai Abangnya, karena ia masih merasa aneh mengenalkan Dirga sebagai Om nya kepada Rald. Begitu juga tadi Dirga mengenalkan dirinya kepada Rald, kalau dia abangnya Rain.
Rain melepaskan tangannya dari genggaman tangan Rald.
"Soal Bunda kamu, aku sangat berterima kasih atas perhatian dan kasih sayangnya sama aku selama ini. Aku gak akan bisa membalas kebaikannya dan kebaikan keluarga kamu. Terima kasih, Rald. Tapi maaf, aku gak bisa kembali ke rumah kamu. Aku udah punya tempat tinggal, bersama keluarga aku. Dan aku gak mau ngerepotin keluarga kamu lagi..."
"Rain.." Panggil Rald, terdengar berat.
"Rald. Tolong sampaikan ke Tante Fatma, aku sangat berterima kasih kepadanya. Insyaallah nanti aku akan berkunjung ke rumah kamu, untuk berterima kasih dan meminta maaf atas diri aku yang selalu merepotkan kalian.. Terimakasih untuk kamu juga, Rald. Yang selalu menolong aku. Dan maaf, kalau aku bikin kamu kecewa..". Ujar Rain. Ia mengabaikan Rald yang masih menatapnya, Rain membantu Dirga untuk bangun dan mengajaknya untuk pergi.
Rald menatap kepergian Rain dengan kecewa.
Lalu Rald naik motornya dan melajukan motornya dengan kencang. Kembali ke rumah. Perasaan yang hancur, karena perlakuan Rain.
Saat sampai rumah, Rald melihat ada Ari disana. Sedang bermain dengan Adel di taman samping rumah. Ia berjalan menuju sana, dan duduk di bangku.
Tatapan matanya kosong, tapi ia masih teringat pertemuan dia dengan Rain tadi.
"Kenapa bro?!" Tanya Ari, menepuk pundaknya Rald, lalu duduk di samping Rald, sedangkan Adel baru saja di panggil Mbak untuk mandi.
Rald melirik sebentar, lalu kembali menatap kedepan.
"Gue ketemu Rain di jalan." ucap Rald. Ari memperhatikan Rald.
"Terus, Lo gak bawa dia kesini?" Tanya Ari. Rald menggeleng.
"Enggak. Dia di bawa pergi sama di Dirga. Yang katanya dia Abangnya Rain...." Ujar Rald.
"Dirga abangnya Rain?" Ari bergumam, teringat sesuatu.
Rald mengangguk.
"Iya"
"Bukan, dia bukan Abangnya Rain" ujar Ari. Rald menoleh.
"Maksud Lo?"
"Dirga sama si Rain beda orang tua. Gue mereka bohong sama Lo. Buat ngehindari Lo" ujar Ari menepuk pundak Rald.
Rahang Rald mengeras, ia mengepalkan tangannya. Lalu beranjak dari duduknya. Tapi Ari langsung menahannya.
"Sabar Bro. Kita ikutin cara main mereka, mau kayak gimana. Gue udah ada rencana buat mereka" ujar Ari.
****
✨Rainy Senja✨