
"Duuuh Ga, kenapa sih Lo gak ngehindar pas Rald nonjok Lo? Katanya udah belajar bela diri!" Omel Rain, yang saat itu sedang membantu Dirga mengobati sudut bibirnya yang memar dan membersihkan darah dari hidungnya. Akibat pukulan Rald.
"Ya kan Lo liat sendiri. Rald tiba-tiba nonjok gue. Mana bisa gue ngehindar serangan tiba-tiba gitu!. Aaaaa!" Dirga mengerit, karena Rain menekan sudut bibirnya.
"Ngeles terus!" Ketus Rain. Lalu menyimpan kembali peralatan p3k ke kotaknya.
Saat ini, Rain dan Dirga berada di rooftop kafe milik Dirga.
Dirga mengajak Rain ke kafenya untuk istirahat malam ini. Karena tidak mungkin, malam-malam Dirga mengantarkan pulang ke rumah Ibunya. Pun, Dirga sudah izin kepada Ibu, akan membawa pulang Rain besok.
Dirga menyuruh Rain tidur di kamarnya, yang berada di dalam ruangan VIP kafe itu. Kamar itu hanya milik Dirga, dan hanya Dirga yang menempatinya, ketika bosan di rumah.
"Cepet tidur. Besok pagi kita jalan ke rumah Ibu" ujar Dirga, kepada Rain, yang menikmati suasana dan udara malam di lantai tiga kafe itu. Rain menoleh, lalu beranjak dari duduknya. Ia langsung pergi ke kamar yang sudah di tunjukan Dirga, sebelum ke rooftop.
Ia masuk ke kamar itu. Dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Ia masih terbayang kejadian Rald marah tadi. Rald pasti kecewa sekali dengan Rain. Tapi Rain tidak bisa berbuat apa-apa selain itu. Ia ingin menghindar dulu dari Rald. Sebelum ia benar-benar bertemu dengan Ara.
Awalnya Rain ingin meminta bantuan Nata untuk mencari Ara. Namun Nata sudah bilang duluan kalau dia akan pergi ke Singapura lusa. Jadi Rain mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan Nata.
Rain membuka handphone dan melihat foto-foto dirinya dengan Nata, waktu di taman tadi.
Ia memperhatikan wajah Nata yang terlihat berbeda, lalu menzoom foto itu wajah Nata.
Mata Rain membulat, melihat wajah Nata begitu pucat, tatapannya begitu sayu. Ada sesuatu yang aneh juga di kepalanya. Rain memperhatikan dengan seksama. Rambut Nata, seperti... Rambut palsu?!
Tok tok tok
Pintu kamar di ketuk. Rain langsung membukakan pintu.
Seorang laki-laki berseragam barista membawa nampan berisi roti dan minuman.
"Tuan Dirga menyuruh saya memberikan ini untuk Rain" ujar barista itu. Rain mengangguk dan menerima nampan itu. Namun laki-laki itu menahan bagian nampan yang di pegang ya. Rain menatap wajah barista itu dengan bingung.
"Lima menit lagi, Temui saya di belakang kafe". Ujarnya pelan, lalu melepaskan nampan dari tangannya.
"Untuk apa?". Tanya Rain heran.
"Nanti kamu akan tau. Hanya lima menit. Waktu kita tidak banyak! Dan berhati-hatilah.." Ujarnya pelan dan tegas. Lalu pergi. Siapa dia? Kenapa dia mengajaknya ke belakang kafe?
Rain segera menyimpan nampan itu di nakas. Lalu mengambil tas dan handphonenya. Kemudian keluar kamar, menuju tempat yang di perintahkan. Rain tidak tau apa yang akan di lakukan laki-laki itu, Rain mengikuti perintahnya, karena penasaran.
Rain melangkah pelan.
"Bagaimana pun, aku tidak akan kembali...".
Kakinya terhenti ketika suara yang sangat ia kenali, yang bersumber dari balkon kafe.
Rain mendekati tempat itu dengan pelan dan berhati-hati.
Benar saja, Rain mengenali suara itu. Di sana ada Ayahnya, Dirga dan seorang laki-laki yang tidak terlihat wajahnya oleh Rain. Namun dari perawakannya, sepertinya laki-laki yang duduk di samping ayahnya, adalah seorang pria yang sudah berusia. Dirga terlihat tegang pada saat itu Lalu pandangannya mengarah ke Evan. Yang sedang terdiam, terlihat menahan amarahnya.
Entah apa yang mereka bicarakan. Kemudian pria tua itu meninggalkan mereka berdua, dan seorang datang laki-laki menghampirinya, kemudian mereka pergi bersama. Badan Rain menegang melihat laki-laki. Matanya terbelalak. Namun tiba-tiba, mulut Rain ada
yang membungkam dari belakang.
"Kamu sudah melihatnya, kan? Sekarang saatnya kita pergi". Bisik orang yang membungkam mulut Rain tiga menit kemudian, Rain pingsan, karena pengaruh bius yang ada di kain yang membungkam mulut Rain.
***
"Dia sangat berbeda dari sebelumnya. Dengan penampilannya seperti ini, seolah dia mau mengenalkan dirinya yang sebenarnya" ucap laki-laki itu, memperhatikan Rain yang terbaring di kasur. Lalu pergi.
***
Rain membuka matanya perlahan, kepalanya terasa sangat pusing. Saat matanya terbuka sempurna, Rain melihat sekitar. Ia berada di kamar, yang sama sekali tidak Rain kenali, milik siapa kamar ini. Rain langsung bangun teringat kejadian sebelum dirinya ada di kamar ini. Ia segera beranjak dari kasur menuju pintu.
Namun pintunya terkunci. Rain begitu panik sekaligus takut. Ia takut, Eros lah, laki-laki yang ada bersama pria tua itu, yang menguncinya di kamar ini. Rain mengigit kukunya sambil jalan mondar mandir.
Mencari cara untuk keluar dari kamar ini. Pintu di kunci, sedangkan jendelanya terpasang pagar, yang tidak mungkin bisa Rain lepas.
Kemudian Rain mencari sesuatu yang bisa membantunya untuk keluar. Apa saja itu. Setidaknya ada benda tajam di sekitar sini, kalau pun mereka akan berlaku jahat, Rain bisa melawan. Tapi entah Rain tidak tau apa yang akan terjadi.
Hampir satu jam, Rain mencari cara untuk keluar dari kamar itu. Tapi belum ketemu. Hingga akhirnya Rain melihat gagang pintu menurun, ada yang akan membukanya. Rain mengambil bantal untuk jaga-jaga, ia berdiri di dekat jendela..
Klik
Pintu terbuka, hampir saja ia melempar bantal di tangannya, namun segera di urungkan, saat melihat siapa yang masuk.
"Bang Ari?!" ucap Rain, melihat Ari yang datang membawa nampan berisi makanan dan minuman.
"Pagi Rain" sapa Ari, sambil tersenyum ke arahnya. Rain terdiam heran. Kenapa dirinya bisa ada di sini? Dan Ari?
"Bang Ari, kenapa aku bisa ada disini?" Tanya Rain heran. Ari tersenyum.
"Makanlah Rain. Kita bicarakan nanti" jawab Ari. Menunjuk nampan, agar Rain mau makan.
Rain menurutinya, karena Rain juga lapar.
Selesai Rain makan, Ari mengajaknya keluar kamar. Menuju ruangan yang berada di samping. Rain mengikuti Ari, dan menurutinya ketika Ari menyuruhnya untuk duduk di hadapannya yang hanya terhalang meja. Rain memperhatikan ruangan ini seperti ruangan kerja.
Sebenarnya Rain begitu grogi, karena sedari tadi, Ari memasang wajah yang begitu serius. Ia membuka dokumen. Dan mencatat. Kemudian menatap Rain. Rain diam terkejut. Ada apa ini? Lalu Rain menundukkan kepalanya.
"Rain" panggil Ari. Rain mengangkat kepalanya sedikit.
"Iya.."
"Siapa kamu sebenarnya?!" Tanya Ari dengan pelan, namun tegas seperti sedang menginterogasinya. Rain mengangkat kepalanya dengan normal. Matanya menatap Ari, heran dengan pertanyaannya.
"Ma-maksud Bang Ari, apa?" Rain balik bertanya.
"Rain, jangan bertele-tele! Kamu tau apa maksud saya!" kali ini nada bicara Ari mulai tinggi.
Ari menyodorkan tiga kertas berwarna silver di meja ke arah Rain. Rain mengambil kertas itu. Kertas miliknya yang ia dapatkan dari Ayah dan ibunya.
"Apa maksud tiga kertas dengan tulisan nama Arainy Xaviera Emeralda?" Tanya Ari. Rain menggeleng.
"Aku enggak tau Bang"
"Rain. Kamu akan tau konsekuensinya kalau kamu terus menyembunyikan itu semua!" Ujar Ari geram.
Rain menatap Ari dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bang. Aku gak menyembunyikan apapun! Aku gak tau apa maksud nama ini. Hanya Ayah dan Ibu yang tau. Aku juga bingung Bang. Saat ini aku mencoba untuk mencari Ara. Aku yakin Ara tau sesuatu tentang apa yang terjadi sama aku dan apa yang terjadi sama keluarga ku!"
"Rain! Cukupkan Akting mu itu. Sudah muak saya dengan semua akting yang kamu lakukan di hadapan aku, dihadapan keluarga Rald, di hadapan teman-temanmu!! berakting Seolah-olah yang terusir! Seolah-olah tersakiti di bully, korban pembunuhan! Hentikan Rain! Karena di sini, bukan lagi tempat mu berakting! Tunjukan siapa dirimu yang sebenarnya!!" Bentak Ari sambil menggebrak meja. Badan Rain terhentak kaget. Air matanya mengalir deras mendengar perkataan Ari, yang menyudutkan dan menuduh dirinya. Dan kenapa bang Ari tiba-tiba bersikap kasar dan mengintrogasi Rain layaknya seorang penjahat?
"Aku gak pernah berakting bang! Semua yang terjadi itu gak pernah aku rencanakan! Aku juga gak pernah meminta itu Semua terjadi! Andai aku di kasih pilihan sebelum hadir di dunia, aku gak akan meminta Allah untuk lahir di dunia yang kejam ini!!!!" Ujar Rain dengan emosi, air matanya terus mengalir. Deru nafasnya terdengar berat, terasa sesak di dada. Ari menatap Rain dengan tatapan yang sulit di artikan oleh Rain, karena matanya terhalang oleh air yang menggenang di pelupuk matanya.
"Siapa Evan Sanjaya?" Tanya Ari mulai tenang, ia membuka lembaran kertas baru, pulpen hitam masih di pegangnya. Rain menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Lalu menjawab.
"Ayahku"
"Ibu kamu?"
"Ratih"
Ari mengangkat satu alisnya.
"Ratih Chandra Kirana" ujar Rain melihat ekspresi Ari. Ari terdiam. Lalu menyodorkan selembar foto.
"Inikah orangnya?" Tanya Ari. Rain mengambil selembar foto itu. Ia menelan salivanya, melihat foto sang Ibu. Sudah lama Rain tidak melihat wajahnya dari foto. Rasanya Rain rindu sekali dengan Ibu.
Rain mengangguk.
"Iya"
"Sungguh?!" Tanya Ari untuk memastikan.
"Bang, bagaimana aku bisa berbohong, kalau orang yang di foto itu adalah ibuku?" Tanya Rain dengan kesal. Ari seolah tak percaya dan menganggapnya berbohong.
"Siapa saja keluarga dari Ibu kamu?" Ari melanjutkan pertanyaannya.
Rain menggeleng.
"Aku tidak tau. Ibu tidak pernah memberitahu aku. Bahkan aku baru tau kemarin, kalau aku masih punya Nenek dan Om dari Ayah" ujar Rain pelan. Matanya mulai berair lagi.
"Nenek dari Ayah?".
Rain mengangguk..
"Iya. Ayah masih punya Ibu, yang tinggal sendirian di kampung, juga punya adik, yang ternyata dia adalah teman sekolah ku sendiri. Dirga..." Rain tersenyum kecut.
Ari memperhatikannya.
"Selain itu, apa yang kamu tau?". Tanya Ari masih mencari-cari informasi tentang Rain. Yang dirasa cukup menarik. Dan tidak seperti apa yang di pikirkan Ari sebelumnya.
"Aku tidak tau. Ayah dan Ibu tidak pernah menceritakan apapun tentang keluarganya. Ibu selalu bilang, semua orang adalah keluargaku. Dan Ibu berbohong tentang itu..." Air mata Rain mulai mengalir lagi.
"Aku pikir, aku adalah orang yang paling kesepian di dunia ini. Ibu meninggalkan aku selamanya, Ayah pergi entah kemana, tak ada keluarga untuk tempat kembali.. Bang, tidak ada kan, orang yang mau hidup seperti itu? Bahkan Abang gak mau kan, hidup tanpa keluarga?" Aku pun begitu Bang. Aku nyaris bunuh diri, karena merasa hidup ini terlalu kejam bagiku, aku selalu kehilangan orang yang aku sayangi...." Rain menangis sesenggukan, sampai rasanya untuk bernafas saja, Rain merasa berat di dadanya. Ia meluapkan emosi dan perasaan yang terpendam selama ini. Rain menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isakan tangisnya semakin kencang.
****