RAIN

RAIN
Emosi dan Kemarahan Rain



Rain keluar dari kamarnya, saat mendengar suara Fatma yang memanggil Mbok Min, meminta tolong.


Dengan cepat, Rain menuruni tangga, menghampiri Fatma yang sedang bawa barang belanjaan.


"Aku bantu Tante" ujar Rain mengulurkan tangannya.


"Ini Rain, hati-hati berat. Langsung bawa ke dapur aja ya". Fatma memberikan tas belanjaan berisi penuh.


Rain menerima tas itu, membawanya ke dapur.


"Ada lagi Tante?" Tanya Rain setelah barang itu ia simpan di meja.


"Ada, tapi lagi di bawa sama Mbok Min dan Mang Jaja.."


"Oh, iya.."


"Bu, ini taro di mana Bu?" Tanya Jaja yang membawa sekarung beras, dan satu tas belanjaan berisi penuh.


"Di bawah sini aja Mang. Mbok Min, itu belanjaannya langsung di tata di lemari ya. Rain, tolong dibantu Mbok Minnya yaa.". Ujar Fatma. Ketiga orang yang di perintah menuruti. Dan langsung mengerjakan pekerjaan masing-masing.


"Saya ganti baju dulu ya. Nanti saya ke sini lagi"


"Iya Bu"


"Iya Tante.."


Setelah Fatma pergi, Mang Jaja juga pergi, kembali ke tempatnya. Sedangkan Rain membantu Mbok Min menyimpan dan menata belanjaan di lemari khusus belanjaan dapur.


"Si Ibu tuh kalo belanja gak kira-kira Non. Langsung sebanyak ini..". Ujar Mbok Min, sambil menata barang, sedangkan Rain yang memberikan barang-barangnya.


"Oh ya, Mbok?"


"Iya. Biasanya seminggu sudah habis ini.."


"Seminggu?!"


"Iya, seminggu. Soalnya Ibu beli ini bukan buat di makan sama keluarganya aja. Tapi di bagi-bagi ke tetangga atau ke orang-orang membutuhkan. Biasanya kalo ke tetangga makanan yang udah jadi. Kalo ke orang yang membutuhkan berupa sembako gini..."


"Wah, Tante Fatma baik banget ya Mbok..".


"Iya Non. Ibu orangnya dermawan banget. Mbok akuin selama Mbok kerja di sini, gak ada yang namanya Ibu pelit, sekali pun. Bahkan kalo Mbok pulang kampung, di bekelin banyak banget Non. Masyaa Allah deh keluarga ini tuh baik banget Non. Bersyukur Mbok, Allah kasih majikan seperti Ibu, Non..." Ujar Mbok Min bercerita dengan antusias. Rain mendengarkannya ikut senang.


Rain pun sangat merasakan kebaikan dan kedermawanan Tante Fatma dan keluarganya.


"Oya, Mbok sudah berapa lama kerja di sini?"


"Mbok kerja di sini udah sebelas tahun non"


"Sebelas tahun? Sudah lama juga ya Mbok.." Ujar Rain.


"Iya Non.."


"Oya Mbok..." Rain menghentikan ucapannya, ia memikirkan sesuatu.


"Kenapa Non?"


"Hmmm, Mbok berarti tau tentang Ara?" Tanya Rain, hati-hati.


"Non Ara? Enggak tau banget non. Soalnya Mbok kerja di sini, setahun setelah Non Ara meninggal. Mbok di sini gantiin temen Mbok yang sebelumnya.."


"Oh, gitu ya Mbok.."


"Iya Non. Temen Mbok sebelumnya, dia sakit-sakitan, seminggu di kampung, dia meninggal. Akhirnya Mbok yang di minta Ibu buat kerja di sini.." ujar Mbok Min, bercerita.


"Berarti sebelumnya Mbok udah kenal Tante Fatma?"


"Sudah. Sebelum kerja di sini, Mbok sempet main dan nginap di rumah ini. Di ajak teman Mbok yang sudah meninggal itu. Dari situ kita mulai akrab.."


"Ayo lagi cerita apa nii?" Tanya Fatma yang tiba-tiba datang, dan terlihat lebih segar dan cantik dari sebelumnya. Rain dan Mbok Min nyengir.


"Hehehe, ini lho Bu, saya lagi cerita jaman dulu, waktu ketemu sama Ibu.." ujar Mbok Min, lalu beranjak dari tempatnya, karena kebetulan barang-barangnya sudah masuk ke dalam lemari semua. Rain ikut beranjak.


"Oh, nostalgia niih ceritanya..." ujar Fatma.


"Hehehe..."


"Ada yang bisa aku bantu lagi, Tante?" Tanya Rain, melihat Fatma mengeluarkan sayuran dari kulkas.


"Boleh Rain. Tolong wortel dan kentang nya cuci dan di kupas yaa". Ujar Fatma memberikan wortel dan kentang kepada Rain. Rain menerimanya dan mengerjakan perintah Fatma.


"Mbok Min, tolong ayam dan bumbu-bumbu nya di siapin ya. Saya saya mau masak sop ayam dan kentang balado.."


"Baik Bu..".


Mereka mengerjakan tugas masing-masing, sambil mengobrol dan bercerita.


Mbok Min bercerita tentang anak cucu nya, Fatma bercerita tentang masa remajanya. Sedangkan Rain hanya mendengarkan cerita mereka.


Sop ayam sudah matang. Fatma memindahkan ke wadah kaca, dan menyimpannya di meja. Rain sedang mengoseng-oseng kentang balado, sedangkan Mbok Min sedang membereskan alat-alat dan membersihkan dapur. Supaya dapur bersih, masakan selesai.


"Permisi..!!" Teriak seseorang dari luar.


"Kayaknya ada yang datang, tolong liat ya Mbok.." ujar Fatma. Mbok Min mengiyakan, lalu pergi menemui orang di luar.


Tak lama, Mbok Min datang bersama seorang gadis yang masih berseragam sekolah.


"Hai Tante!" Seru gadis itu menyapa dan menghampiri Fatma yang sedang menata meja. Rain melirik gadis itu, ia tak mengenalinya, kemudian Rain kembali mengoseng.


"Eh, hai Eliza" jawab Fatma melirik Eliza sebentar.


"Rald mana Tante? Katanya sakit ya?" Tanya Eliza.


"Udah sembuh, dia lagi pergi"


"Oh, syukurlah. Aku khawatir lho Tante, denger kabar kalau Rald sakit.." ujar Eliza.


Rain bergidik mendengar apa yang ucapkan Eliza, sekaligus bertanya-tanya, apakah Eliza pacarnya Rald?


Ya, kemungkinan.


"Itu sayur apa Tante?" Tanya Eliza menunjuk ke wadah yang berisi sayur.


"Sayur sop" jawab Fatma datar.


"Wah, aku suka banget sayur sop. Aku bolehkan makan di sini, Tante?" Pinta Eliza, yang langsung duduk di bangku.


"Oh, iya, boleh.."


Mbok Min menggelengkan kepalanya.


Melihat itu, Rain agak risih.


"Siapa sih cewek itu. Berani banget dia kayak gitu.." gumam Rain dalam hati.


"Baik Tante..". Jawab Rain. Ia mengambil piring di rak.


"Rain?" Ujar Eliza pelan, lalu ia menoleh ke arah Rain yang sedang menuangkan kentang ke piring dari wajan. Ia menghampiri Rain.


"Oh, jadi elo orangnya!" Seru Eliza menatap wajah Rain dari samping. Rain menoleh.


"Kamu siapa?" Tanyanya, karena tidak mengenali Eliza.


Tangan Rain masih sibuk menuangkan kentang ke piring. Eliza melipat kedua tangannya di dada.


"Tante, aku gak nyangka orang kriminal kayak dia, jadi pembantu di rumah ini.." sindir Eliza, memandang sinis ke Rain. Rain kaget mendengar kata-kata Eliza. Ia menghentikan pergerakan tangannya, menoleh ke arah Eliza.


Eliza mengacuhkannya, berjalan menuju Fatma yang sedang memotong buah di meja, lalu duduk di sampingnya.


"Jangan bicara sembarangan, Eliza!" Tegur Fatma.


"Aku gak bicara sembarangan. Tante, dia itu..."


"Eliza.." Tegur Fatma lagi. Tak ingin mendengar kelanjutan dari ucapan Eliza.


Fatma sangat tidak suka dengan sikap Eliza yang di nilainya sangat tidak sopan. Juga gadis centil yang selalu merayu anaknya, Rald. Sejak mereka satu sekolah di SMP, sampai akhirnya, Eliza ikut pindah sekolah di tempat Rald sekarang. Entah apa yang membuatnya tergila-gila pada anaknya itu. Padahal Rald sudah bersikap acuh dan dingin kepadanya. Sampai membuatnya menangis. Itulah yang diceritakan Rald kepada sang Bunda. Tapi tetap saja, Eliza masih mengejarnya.


Rain menyimpan piring yang sudah berisi kentang balado di meja.


"Tante, tau gak, di sekolah lagi viral-viralnya berita tentang cewek barbar penjual rokok yang maksa temennya buat bayar dua kali lipat, gak cuma itu Tante. Cewek barbar itu malah mukulin temennya, karena gak mau bayar rokok jualannya....". Ujar Eliza bercerita, menyindir Rain, sambil melirik sinis ke arahnya.


Rain terdiam, sambil mengigit bibir bawahnya, ia tau cewek siapa yang di maksud Eliza.


Tapi siapa Eliza ini? Kenapa dia bisa tau cerita itu?


Apa jangan-jangan dia komplotan Galang?


Rain memperhatikan Eliza. Ia sama sekali tidak mengenali Eliza, wajahnya cantik, berambut panjang bergelombang. dari penampilannya, Eliza terkesan feminim. Gayanya mirip Queen. Cewek centil di kelasnya, tapi julidnya nauzubillah.


Rain memilih untuk mencuci piring. Sedangkan Mbok Min menyapu lantai.


"Masa sih? Rald gak cerita, tuh sama Tante.." ujar Fatma, masih sibuk memotong buah.


"Iya kah? Ya ampun Tante, meskipun aku anak baru di sana, aku tau lho Tante apa aja yang terjadi di sekolah, dan yang lagi viral-viralnya. Wah, Tante harus tau niih. Supaya Rald gak main sama cewek barbar itu. Bahaya lho Tante. Bahkan dia yang bunuh ibu nya sendiri..".


Prang!!.


Tak sengaja Rain memecahkan piring yang sedang di cucinya, karena mendengar kalimat terakhir Eliza. Perhatian orang di dapur tertuju pada Rain.


"Kenapa Rain?" Tanya Fatma langsung menghampiri Rain, yang malah terdiam, dengan mata berkaca-kaca. Eliza mengikutinya. Mbok Min menghampiri untuk menyapu pecahan piring.


"Lo kenapa Rain, kaget?" Tanya Eliza dengan nada mengejek. Rain melirik ke arah Eliza, sambil melotot.


"Rain, kamu kenapa?" Tanya Fatma heran dengan sikap Rain.


"Tante, nih, dia nih cewek barbar yang aku ceritain tadi. Udah keliatan kan dari gelagatnya, kriminal.." ketus Eliza menunjuk Rain. Fatma terdiam, menatap Rain.


Rain menatap Eliza.


"Jangan asal ngomong. Lo gak tau apa yang sebenarnya terjadi..!" Ujar Rain dengan ketus.


"Hey, semua orang di sekolah tau, kalo Lo itu penjahat...."


Plaak!


"RAIN!!" Jerit Fatma, tidak menyangka Rain akan menampar Eliza.


"Aouuhh sakiit, Tante.." rengek Eliza pada Fatma, sambil memegangi pipi kirinya.


"Rain, kamu apa-apaan sih?!" Tanya Fatma.


Rain terdiam, menatap tangannya. ia kaget, tangannya refleks menampar Eliza.


"Tante, tuh liat, dia emang jahat Tante. Dia pembully,..."


"Itu semua gak bener Tante!". Ujar Rain menyela pembicaraan Eliza. Fatma masih memperhatikannya.


"Gak bener apanya? Lo emang penjahat Rain! Semua orang di sekolah tau. Bahkan Lo di keluarin dari sekolah gara-gara bully Galang, kan?! Lo juga kan, yang bunuh ibu lo sendiri..."


"JANGAN ASAL NUDUH!! LO GAK TAU APA YANG TERJADI SEBENARNYA!!"Teriak Rain.


Plaaak!


Kedua kalinya Rain menampar Eliza, meluapkan emosinya mendengar tuduhan Eliza. Orang baru, yang sok tau tentang masalahnya.


"RAIN CUKUP!" teriak Fatma, membuat Rain terhentak kaget.


Rain melihat Tante Fatma yang melotot ke arahnya, air matanya mulai turun di pipinya. Ada rasa sakit di hati Rain melihatnya.


Ia berlari pergi dari dapur menuju kamar Ara untuk mengambil Sling bag dan handphonenya, kemudian pergi dari rumah itu.


Menghiraukan Mang Jaja yang bertanya kepadanya, saat melewati gerbang. Ia terus berjalan dengan cepat, air matanya terus mengalir di pipinya.


Rain menaiki bus yang kebetulan sedang berhenti di halte. Ia duduk di bangku paling belakang, menghadap jendela.


Air matanya terus mengalir, ia membungkam mulutnya, untuk menyembunyikan suara tangisannya.


Rain sakit hati, karena perkataan Eliza, orang yang tak di kenalnya itu, tentang dirinya.


Juga merasa tidak enak hati dengan Tante Fatma.


Rain takut Tante Fatma, kecewa dan tidak bisa menerimanya lagi, karena cerita dari Eliza, dan perlakuannya ke Eliza tadi. Sampai membuat Tante Fatma marah.


Rain takut.


Rain sakit hati.


Rasanya begitu sesak di dada.


Ia terus menahan suara tangisannya selama di bus, sampai menggigit kain lengan bajunya.


Kejadian-kejadian menyakitkan teringat kembali.


karena tidak kuat menahan tangisannya, Rain


memilih turun dari bus.


Mencari tempat sepi yang berada di dekat alun-alun.


Rain berteriak sekencang-kencangnya, meluapkan emosi dan kemarahannya, di dataran tinggi yang ada di sana


***


✨Rainy Senja✨