RAIN

RAIN
2



Dua mata pelajaran pagi ini telah selesai, saat ini anak-anak tengah menikmati waktu istirahatnya, termasuk ketiga orang sahabat tersebut. Mereka kini berada di tengah kantin yang ramai. Rein yang tidak terlalu suka dengan keramaian merasa tidak nyaman berada di kantin itu, dia mengambil sebungkus roti dan sebotol air mineral yang biasa ia beli setiap jam istirahat. Dia segera membayarnya kemudian berpamitan kepada Aro dan Nara untuk pergi ke kelas.


"Aku ke kelas duluan." pamitnya sebelum lenganya dicekal oleh Aro. "Kenapa kamu gak pernah mau makan di kantin? Kapan kamu mau berubah dan terbiasa dengan keramaian."


"Aku gak nyaman kalau harus berada di tempat yang ramai terlalu lama Aro." Rein menepis tangan Aro lembut. Tetapi, Aro malah mengencangkan cekalan tanganya dan menarik Rein untuk duduk di salah satu bangku disana. Mereka duduk bersebelahan, sedangkan Nara, dia memilih duduk di depan meja Aro. Nara meletakkan makanan Aro di meja di hadapan Aro, karena tadi Nara yang membawakanya saat Aro tengah memaksa Rein untuk makan di kantin.


Nara adalah gadis yang supel dan mudah bergaul, dia juga seorang gadis yang selalu memperhatikan penampilan, karena baginya penampilan itu nomor satu. Sedangkan Rein adalah gadis pendiam, tidak suka keramaian dan cuek dengan penampilan, dia lebih mengutamakan kenyamanan ketika berpakaian. Rein juga menguasai sedikit beladiri yang diajarkan ayahnya, ayahnya ingin Rein dapat menjaga dirinya sendiri karena dia tidak bisa selalu bersama Rein.


Ketiga sahabat itu kini tengah asik menikmati makananya, walaupun sebenarnya Rein sedikit terganggu dengan suasana kantin yang ramai dan bising. Akhirnya mereka bertiga menyelesaikan makanya, dan Rein segera mengajak kedua sahabatnya untuk kembali ke kelas mereka.


***


Sore ini, Rein pulang bersama Aro karena motornya masih berada di tempat tambal ban. Nara sudah pulang duluan dijemput sopirnya. Aro tidak langsung mengantar Rein ke bengkel untuk mengambil motornya, melainkan membawanya untuk pergi ke taman kota yang ramai. Dia ingin Rein terbiasa dengan keramaian, ingin sahabatnya tidak menjaga jarak dengan keramaian.


"Kita mau kemana? Bengkel dan rumah kita arahnya kesana, sedangkan kamu membawa motormu kesini." sambil tanganya menunjuk jalan yang arahnya berlawanan dengan mereka.


Aro tidak menjawab pertanyaan tersebut, ia tiba-tiba malah menambah kecepatan laju motor sport putih miliknya. Reflek, Rein memeluk tubuh Aro dari belakang dan berteriak. Setelah sadar dengan apa yang dilakukanya, Rein langsung melepas pelukanya, dia memukul pelan punggung laki-laki itu dan menggerutu sepanjang jalan.


Aro tersenyum dibalik helmnya, dia sangat senang dapat menggoda sahabatnya itu, membuatnya ngedumel tidak jelas. Motor itu berhenti di lampu merah ditengah keramaian kota, jalanan terlihat ramai dengan mobil-mobil dan motor-motor, juga pejalan kaki yang berada di trotoar pinggir jalan.


Suara gerutuan Rein sudah tidak terdengar lagi, artinya dia sudah lelah menggerutu sepanjang jalan tadi. Dia sepertinya masih marah atas tindakan Aro yang seenaknya. Bagaimana kalau tadi dia jatuh? Atau jantungnya loncat dari tempatnya? Bukankah tindakan Aro tadi cukup berbahaya? Rein menghela nafas jengah, dia lelah dan ingin segera pulang. Dia tidak tau kemana Aro akan membawanya, sudahlah, dia hanya bisa diam dan mengikuti tanpa bisa menolak keinginan laki-laki keras kepala itu.


Akhirnya, motor yang ditumpangi kedua sahabat itu sampai juga ke tempat tujuan mereka. Bukan mereka, lebih tepatnya tujuan Aro, yang diambilnya secara sepihak.


Rein turun dari motor Aro dan menatap sekeliling mereka, banyak sekali orang berlalu lalang di tempat tersebut. Ada anak-anak, remaja, orang dewasa bahkan orang tua. Taman kota memang selalu ramai, apalagi di jam pulang sekolah seperti sore ini.