
"Berdasarkan rekaman cctv lampu merah dekat alun-alun, Rain di bawa oleh seorang laki-laki yang membawa motor ninja berwarna hitam ke arah selatan" ujar Ari, memperlihatkan rekaman cctv yang dia dapatkan dari rekannya yang bertugas di daerah sana.
Ari dan Sulaiman Kamal memperhatikan rekaman cctv saat Rain turun dari bus, tak lama kemudian ada seorang laki-laki mengendarai motor ninja berparkir di sana. Dan mengikuti Rain. Wajah laki-laki itu tidak terlihat, karena ia memakai masker. Namun perawakannya seperti anak muda.
"Di percepat Ri" perintah Kamal. Ari menuruti. Ia segera mempercepat durasi rekaman, ke beberapa menit selanjutnya.
Terlihat, Laki-laki itu muncul di cctv, menggenggam tangan Rain, membawanya ke motor dan menyuruhnya untuk naik, di situ Rain terlihat marah. Namun akhirnya naik juga. Kemudian motor itu melaju dengan cepat. Video di pause oleh Kamal.
"Siapa laki-laki itu?" Tanya Kamal sambil menatap layar laptop.
"Sebastian Dirgantara..." Jawab Ari dengan tegas. Kamal melirik.
"Sebastian Dirgantara?"
"Iya, anak kedua Baskara, dan adik dari Evan Sanjaya. Dia juga ketua geng Black Wolf, yang kemarin salah satu anggotanya menyerang Rain".
"Sepertinya dia masih sangat muda?"
"Iya, dia seumuran Rald. Bahkan mereka satu kelas.."
"Oh, jadi dia yang di maksud Rald..."
"Rama, anak buah saya yang kerja di kafenya. Memberi informasi, sejak Rald datang ke kafenya, Dirga tidak pernah datang ke kafe lagi. Dan baru kemarin malam, Evan datang ke kafe, namun kemudian pergi lagi, karena tidak ada Dirga disana.". Ari terdiam, sesuatu terpikirkan olehnya.
"Tuan, saya sangat yakin, ini semua sudah mereka rencanakan. Mereka menjadikan Rain, sebagai alat untuk memancing kita. Ketika rencana mereka memperalat Rain untuk tinggal di rumah anda gagal, mereka langsung pergi. Menghilangkan jejak. Saya rasa mereka akan membuat rencana lain untuk membuat masalah dengan kita." ujar Ari.
"Ari, sebenarnya saya tidak ingin bermasalah lagi dengan mereka. Tapi kalau seperti ini. kita adakan pertemuan malam ini, dan suruh anak buahmu pantau mereka, selidiki kemana si Dirga itu membawa Rain pergi." ujar Kamal dengan tegas.
"Baik tuan.. Hmm, Tuan.." ucap Ari. Ia menundukkan kepalanya ragu untuk mengatakan sesuatu yang ingin di katakannya.
"Ada apa?"
"Maaf Tuan, mungkin saya akan lancang jika menanyakan hal ini..." Ari menghentikan ucapannya.
"Katakanlah.." ujar Kamal memperhatikan Ari. Dari gerak-geriknya, Pasti ada hal yang serius yang ingin ia katakan.
"Apakah tuan yakin, mayat anak perempuan yang sudah di mutilasi, yang tuan lihat waktu itu, adalah Ara?" Ujarnya mengangkat kepalanya sebentar untuk melihat ekspresi wajah bosnya itu.
Kamal mengernyitkan keningnya.
"Iya, saya yakin, itu Ara. Kenapa? Apa kamu menemukan sesuatu?" Tanya Kamal. Ari mengangguk.
Ia memberikan map berwarna coklat ke meja Kamal. Dan berdiri di sampingnya.
Kamal langsung membuka map dan mengeluarkan isinya. Beberapa lembar kertas.
"Di dalamnya terdapat informasi tentang anak perempuan yang kecelakaan di waktu yang bersamaan dengan kejadian penculikan Ara. Dan tempatnya pun tidak jauh dari sana. Anak itu tanpa identitas. Lalu di bawa ke rumah sakit. Kemarin saya mendatangi rumah sakit itu untuk mencari data korban yang kecelakaan pada waktu itu. Kebetulan petugas di sana, adalah orang yang sama, yang pada saat itu mencatat data anak yang kecelakaan tanpa identitas itu. Tapi anak itu sudah meninggal saat sampai rumah sakit, lalu beberapa jam kemudian ada seorang laki-laki yang meminta anak itu, dia mengaku sebagai walinya untuk membawanya pulang. Saat petugas menanyakan data diri, dan memastikan kalau laki-laki itu adalah walinya, petugas itu langsung tidak sadarkan diri. Dan jasad anak itu di bawanya pergi..." Ari menunjukkan kertas yang berisi informasi tentang anak perempuan yang jasadnya hilang.
"Saya meminta keterangan ciri fisik laki-laki itu, tapi, petugas itu sudah lupa wajahnya. Karena kejadian itu sudah lama sekali, namun katanya beberapa jam kemudian ada suami istri yang meminta anak itu, mereka mengaku orang tua dari anak tersebut.." lanjut Ari.
"Lalu?" Tanya Kamal. Karena melihat Ari yang sepertinya masih memikirkan sesuatu. Namun belum ia utarakan.
Ia teringat cerita Rald, yang menceritakan tentang Rain, yang dia sangat yakin kalau Ara masih hidup. Hingga akhirnya, Ari mencari sendiri data dan informasi kejadian yang terjadi dua belas tahun silam. Dan ternyata dia mendapatkan hal yang membingungkan itu.
Satu sisi, ia menyimpulkan kalau Ara masih hidup. Berdasarkan data dan informasi. Bisa jadi Jasad yang di tunjukkan Ratih kepada bos-nya itu, adalah jasad anak kecil itu, bukan Ara, sedangkan Ara di bawa pergi oleh orang suruhan Brontes, Ratih keliru dengan hal itu. Dan ada sesuatu yang mengganjal tentang kepergian Ratih yang di culik, dua hari setelah itu.
Tapi satu sisi, Kamal mengatakan dia melihat jasad anak itu adalah Ara.
Ahh! tapi semua ini masih terasa ambigu!
Pertanyaan yang ia berikan kepada bosnya, hanya untuk menyakinkannya saja. Jika benar jasad itu adalah jasad Ara, maka Ari tidak akan membahasnya lagi.
Tak disangka, Kamal menggeleng kepala.
"Saya tidak melihatnya. Jasad itu sudah dibungkus kain kafan. Dan saya tidak tega untuk melihatnya saat itu. Apalagi Ratih mengatakan kondisinya sangat mengenaskan. Dan saat itu juga, langsung di kubur..."
"Jadi anda tidak melihatnya?"
"Tidak.."
"Baiklah akan saya tunjukkan sesuatu.". Ujar Ari.
"Ini tuan, Anda bisa melihat ada sesuatu difoto ini"
Ari menunjuk kertas yang tertempel foto di sana. Ada foto seorang perempuan paruh baya sedang menggandeng seorang anak perempuan yang berdiri tak jauh di belakang seorang laki-laki yang sedang foto Selfie di sebuah taman. Kebetulan perempuan itu sedang menghadap kearah lain, sedangkan anak perempuan itu, sedang menghadap ke arah laki-laki yang sedang selfie.
"Bukankah anak ini mirip Ara?" Tanya Ari, menunjuk anak perempuan itu. Kamal memperhatikan anak kecil itu dengan seksama. Rambut anak itu lurus dan pendek, matanya bulat, dan pipinya tembem, mirip Ara. Yang selalu membuatnya gemas.
"Iya, anak ini mirip dengan Ara. Tapi siapa perempuan itu?"
"Saya tidak tau. Saya belum bisa menemukan perempuan itu, hanya dengan foto ini. Tapi ada hal mengganjal tentang Ratih"
"Maksudmu?"
"Sebenarnya, Sehari sebelum Ratih di culik, Ratih berbicara kepada saya, kalau dia ragu tentang kematian Ara. Tidak lama setelah itu, dia menerima telepon yang membuatnya terlihat senang. Lalu bersorak 'aku menemukannya! Doakan, semoga rencana ku berhasil!' lalu dia langsung memeluk saya. Saya tidak tau, apakah orang yang di temukan Ratih adalah Ara, atau orang lain, dan entah apa yang di rencanakan. Kemudian dia pergi. Besoknya di kabarkan dia menghilang, dan ternyata di culik Evan. Seperti yang anda ketahui.. . Dan sampai sekarang kita tidak tahu dimana keberadaannya.." ujar Ari menceritakan.
"Sepertinya, saat itu Ratih di jebak mereka. Dan mereka menjadikan Ara sebagai alat pancing untuk menarik Ratih keperangkapnya..." Ujar Kamal menyimpulkan dengan serius.
Mendengar itu, Ari memikirkan sesuatu.
"Ri, cari tau, siapa sebenarnya Rain. Dan kalau anak itu berhasil di temukan, jaga dia, jangan sampai pergi dan terluka. Saya akan kerahkan pasukan juga untuk menangkap Evan dan membuat rencana. Dan untuk sementara, Rald tidak boleh mengetahui hal ini". Ujar Kamal dengan serius.
Mata Ari membulat mendengar perintah Bosnya itu. yang barusan di pikirannya, apakah itu juga pemikiran Kamal, bos-nya?
Ari mengangguk menuruti perintah Kamal. Ia langsung berpamitan. Untuk menjalankan tugasnya.
***
✨Rainy Senja✨