RAIN

RAIN
Bertemu untuk Berpisah



"Ih, beneran deh Rain, aku pangling banget sama kamu. Gak nyangka kamu bisa berubah penampilan gini, padahal Belum sebulan lho kita gak ketemu. Ah, kamu bukan Rain kali! Atau kembarannya?" Ujar Nata, masih terus memandangi Rain dari samping.


Rain tertawa dan menepuk bahu Nata.


"Apaan sih! Enggak! Ini aku, Rain. Beneran Rain.."


"Siapa yang nyuruh kamu ngerubah model rambut kayak gitu, di warnain pula. Rald? Atau keluarganya?"


"Enggak Nat. Enggak keduanya. Lagi pula aku gak tinggal sama mereka. Aku udah pergi dari rumah Rald, karena suatu hal.." ujar Rain, terdengar sedih. Pandangannya ke danau. Ia pun sambil membayangkan kebaikan keluarga Rald kepadanya. Dan apa yang terjadi sampai akhirnya dirinya pergi dari rumah itu.


"Kenapa? Apa mereka nyakitin kamu?" Tebak Nata, dengan kesal.


Rain menggeleng.


"Enggak Nat. Mereka gak nyakitin aku, justru mereka baik banget sama aku. Terutama Bundanya Rald. Tapi aku merasa gak pantas tinggal sama mereka.. jadi aku pergi dari rumah itu..." Jelas Rain.


"Terus sekarang kamu tinggal dimana?".


Rain menoleh, sambil tersenyum.


"Di rumah Ibu. Nenek aku dari Ayah"


"Di rumah Nenek?!" Tanya Nata, seolah tidak percaya. Karena selama ini Rain tidak pernah cerita kalau dia punya Nenek.


"Iya Nat. Aku gak nyangka banget. Dan lebih gak nyangka lagi, hmm... yang ini pasti kamu gak percaya deh.."


"Apa?"


"Ayah punya adik laki-laki, namanya Sebastian Dirgantara!" Seru Rain. Nata mengernyitkan keningnya.


"Dirga?" Ucapnya. Rain mengangguk.


"Iya Nat! Sumpah deh, aku gak nyangka punya Om, cowok bad boy kayak dia!"


"Masa sih?" Tanya Nata tak percaya. Rain mengacungkan jari telunjuk dan tengah.


"Beneran Nat. Tuh kan kamu gak percaya. Hmm, aku juga percaya gak percaya. Tapi ya itu kenyataannya.."


Nata menyeringai.


"Jadi ceritanya gini Nat. Waktu itu dia nyamperin aku di suatu tempat dan bawa aku ke sebuah rumah. Di sana ada seorang ibu yang tinggal sendirian. Di situlah dia kasih tau, kalau Ibu itu adalah Nenek aku. Aku masih punya Nenek. dan sebenarnya Dirga sama Ayah, beda Ibu. Tapi Dirga deket banget sama Ibu. Katanya juga, dia emang udah janji mau Mempertemukan aku sama Ibu. Ya ampun, aku gak nyangka banget, bisa ketemu Nenek aku..". Ujar Rain dengan mengekpresikan diri.


"Kamu yakin itu adalah Nenek kamu?" Tanya Nata meragukan cerita Rain. Rain terdiam, menatap Nata.


"Maksud kamu apa Nat, ngomong begitu?! Kamu gak percaya sama cerita aku?" Tanya Rain, tidak suka dengan pertanyaan Nata.


"Ehm. Enggak, bukan gitu Rain. Tapi kan selama ini Ayah kamu gak pernah kasih tau tentang Nenek ke kamu, kan? Apa kamu langsung percaya gitu aja sama Dirga?"


"Nat, dengerin ya. Meskipun Ayah gak pernah cerita, tapi Ibu itu adalah, ibu dari Ayah. Yang artinya dia Nenek aku. Kalau Dirga emang anak tirinya, tapi Ibu sayang banget kok sama Dirga. Dan aku percaya kalau dia itu Nenek aku. Dan Dirga adalah Om aku, meskipun Om tiri.." ujar Rain menegaskan. Nata menganggukkan kepala, mengiyakan.


Meskipun dirinya masih ragu dengan pernyataan Rain. Tapi ia tidak ingin membuat Rain kesal di pertemuan pertamanya ini, setelah hampir sebulan tidak bertemu.


"Oh, oke. Aku turut bahagia ya, Rain. Akhirnya kamu keluarga dari Ayah kamu..". Ujar Nata, lalu memberikan senyuman terbaiknya. Rain ikut tersenyum. Dan mengangguk.


"Iya Nat. Tapi ini cerita beneran lho. Aku gak ngada-ngada..." Ujar Rain, tak ingin Nata meragukannya.


"Iya Rain.." jawab Nata, lalu mengacak rambut Rain. Rain langsung menepis tangan Nata dengan kasar.


Nata langsung menjauhkan tangannya dari rambut Rain. Lalu menutup tangan kanan dengan tangan kirinya. Ia merasakan sakit di tangan kanannya yang baru saja di tepis Rain. Namun ia mencoba untuk menahan rasa sakit itu, tak ingin Rain mengetahuinya.


"Ih Nata! Nanti rambut aku rusak!". Rain mengomel, lalu memperbaiki rambutnya, sambil mendumel.


"Hehehe. Maaf.." ujar Nata. Kini kedua tangannya, ia posisikan menempel di bagian perutnya, tangan kirinya memijit pelan untuk mengurangi rasa sakit di tangan kanan. Beruntung Nata memakai Hoodie, jadi tangannya tertutupi oleh kain. Karena dia yakin, saat ini, tangannya pasti merah, akibat tepisan tangan Rain. Karena tangannya sudah mulai sensitif terhadap benturan.


"Iya di maafin. Buat ngeyakinin kamu, nanti deh aku ajak kamu ke rumah Ibu..." Kata-kata Rain terhenti ketika matanya melihat wajah Nata yang pucat.


"Nat, muka kamu kenapa? Kok pucet sih? Kamu lagi sakit?" Tanya Rain. Nata menggelengkan kepalanya.


"Enggak kok Rain. Aku sehat!" Ujar Nata, meyakinkan Rain. Dengan senyuman manisnya.


"Kayaknya aku kecapean Rain. Akhir-akhir ini aku sibuk banget.." ujar Nata mengelak. Dia tidak mau Rain mengetahui kalau sebenarnya Nata sakit, dan semakin parah penyakitnya, bahkan sudah menjalar ke bagian tubuh lain.


"Oh. Iya sih. Kamu emang selalu sibuk. Malah sok-sokan menyibukkan diri.." sindir Rain. Nata hanya nyengir.


"Oya Nat. Kata Dirga kamu pindah sekolah, emang bener?" Tanya Rain , teringat Dirga yang mengatakan kalau Nata sudah pindah sekolah. Nata mengangguk pelan, dan menoleh.


"Iya Rain. Makanya ini, kebetulan banget kamu ngajak ketemuan. Soalnya aku mau sekalian pamit, sama kamu.." ujar Nata. Rain mengerutkan keningnya.


"Pamit? Emangnya mau pindah kemana?"


"Singapura"


"Singapura?! Kenapa jauh banget Nat?!" Ujar Rain kaget. Nata mengalihkan pandangannya ke arah danau, dan memandanginya.


"Itu pilihan aku, Rain..."


Rain mengubah posisi duduknya menghadap Nata, meskipun Nata masih duduk menghadap ke danau.


"Kenapa harus pindah ke sana? Nat, sekolah di Indonesia banyak yang bagus, bahkan sudah ada yang bertaraf internasional! Gak mesti pindah ke sana, Nat!" Ujar Rain kesal. Nata merubah posisi duduknya menghadap Rain.


"Rain. Kamu kan tau, aku sangat berambisi untuk menjadi yang terbaik..."


"Tapi Nat...".


"Rain, dengerin aku dulu. Ini semua udah aku dan keluargaku rencanakan dari jauh-jauh hari. Dan baru terealisasi sekarang. Aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, Rain". Ujar Nata.


Membuat Rain menangis. Ia menatap wajah Nata sebentar, lalu memalingkan wajahnya dari Nata.


Nata terdiam. Didalam hatinya ia berkata.


"Rain, andai kamu tau, perginya aku ke Singapura, bukan untuk belajar. Tapi untuk berobat. Aku mengidap kanker, Rain.


Aku dan keluargaku berusaha untuk mengobati penyakitku yang terasa semakin menyakitkan itu. Sebenernya aku tidak mau ke sana. Tapi aku ingin, berusaha untuk mengobati penyakit ini, dan bisa bertahan hidup lebih lama..".


Nata mengusap matanya yang mulai berlinang.


Rain beranjak dari duduknya.


"Rain?" Panggil Nata, ia ikut beranjak dari duduknya, dan memperhatikan Rain.


Mata Rain masih berlinang, hidungnya memerah, ia mengatupkan bibirnya, dan terdiam menatap danau.


Nata tau, Rain berusaha menahan tangisnya.


Sebenarnya Nata tidak tega melihat Rain seperti itu. Tapi mau tidak mau, Nata harus tega.


Lagi pula perginya Nata hanya sebentar. Dan dia akan kembali lagi ke Indonesia dengan sehat, dan bisa selalu menemani Rain, seperti sebelumnya.


"Rain..." Panggil Nata lagi. Rain menoleh kearah Nata, dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Kalau kamu sudah rencanakan dari jauh-jauh hari, pergilah Nat. Lagi pula aku sudah terbiasa dengan kehilangan, dan kesedihan. Ah! Rasanya aku sudah kebal dengan pedihnya di tinggalkan..."


"Rain..." Panggil Nata lagi.


Rain menoleh.


"Sebenarnya berat bagi aku di tinggal orang yang aku sayang, yang juga sahabat terbaikku. Tapi mau sebagaimana pun usaha aku untuk mencegah kamu, kamu tetap akan pergi, kan? Hmm, aku juga gak mau mengemis supaya kamu tetap di sini. Itu tidak akan berhasil. Pergilah Nat. Pergi, dan gapai semua impian dan ambisi kamu itu.."


"Rain, maaf. Aku gak ada pilihan lain..."


"Iya Nat. Iya. Aku paham. Kamu akan melakukan apapun untuk mencapai impian dan ambisi kamu. Semoga semua yang kamu inginkan tercapai, kamu jadi orang sukses, yang pinter, berpendidikan. Terus datang ke sini sudah bisa jadi menteri pendidikan sesuai dengan cita-cita kamu, dan yang penting, kamu sehat sela..lu.." kata-kata Rain terhenti. Karena saat itu, Nata langsung memeluknya.


"Terima kasih Rain. Terima kasih sudah ngertiin aku...". Ucar Nata. Rain melingkarkan tangannya di badan Nata, lalu menangis dalam pelukan Nata.


***


✨Rainy Senja✨