RAIN

RAIN
Makan Malam



"Yah, apa Rain sudah di temukan?" Tanya Rald.


Sulaiman menggeleng, menjawab pertanyaan anaknya, juga kegigihannya untuk mengetahui informasi tentang Rain. Sampai mendatangi kantornya setelah jam sekolah. Kebetulan ada Ari juga di sana.


Ari memberikan gelang karet berwarna warni kepada Rald. Rald langsung mengenali gelang itu.


"Inikan punya Rain yang di kasih Adel.." Ujarnya memperhatikan gelang itu. Ari mengangguk.


"Iya, itu punya Rain. Gelang itu udah gue pasang alat pelacak keberadaan Rain. Dan gue nemuin itu di tebing dekat alun-alun..." Jelas Ari. Mata Rald membulat. Ia kaget dengan apa yang dikatakan Ari barusan.


"Di tebing? Ngapain dia di sana?" Tanya Rald, menebak. Ari menggeleng.


"Gak tau. Hm, setidaknya kalau dia memang bunuh diri di sana, pasti ada bekasnya, dan ada laporan dari orang setempat. Gue dan tim udah nelusuri sekitarnya, tapi gak ada apa-apa. Kecuali gelang itu.." jelas Ari lagi.


"Gue rasa, Rain udah tau tentang gelang itu kalau ada pelacaknya. Makanya dia sengaja buang gelang itu di tebing, buat menghilangkan jejaknya. Dia membohongi kita, seolah-olah dia udah mati di sana. Padahal dia kembali ke sarangnya..." Lanjut Ari. Rald menoleh kearah Ari.


"Maksud Lo, Rain kembali ke tempat mafia itu? Apa dia benar-benar bagian dari Brontes?" Tanya Rald.


"Maybe. Tapi udah jelas kan, dia anaknya Evan cucu Baskara, ketua Brontes."


"Tapi Bang, gue gak percaya Rain termasuk anggota mereka. Ya meskipun Rain anggota keluarga mereka! Tapi selama ini dia menderita" Elak Rald.


"Rald... Itu baru dugaan Ari, karena dia menemukan buktinya seperti itu. Tapi kita masih terus mencari Rain, dan informasi tentangnya. Karena informasi tentang anak itu masih sangat rancu. Ya contohnya dari yang kamu ceritakan dan yang Ari temukan beberapa informasi tentang dia..." Jelas Sulaiman.


"Kita masih mencari informasi tentang dia, Rald. Kita gak bisa gegabah untuk menyimpulkan siapa dia sebenarnya. Apalagi menyimpulkan dengan... perasaan.." lanjut Ari, menyindir Rald. Karena ia tau Rald menyukai Rain. Makanya Rald selalu membela Rain. Dia sudah di butakan dengan rasa sukanya kepada Rain.


Rald terdiam. Pikirannya berkecamuk, begitu juga perasaannya. Apakah ia akan terus menyukai Rain, sementara Rain bagian dari Brontes, yang sudah membunuh kembarannya.


Tapi pikiran Rald berkata lain, selama ini, yang ia lihat dan ia ketahui, Rain selalu menderita hidup dengan kejadian-kejadian yang menimpanya. Apakah itu semua memang settingan mereka?


***


Dirga memeluk badan Ibu tirinya dari belakang, saat itu Ibu sedang menyiram tanaman. Sampai akhirnya Dirga di semprot air dari selang yang sedang dipegang ibunya.


"Bu, ini Dirga Bu!" Seru Dirga menyebutkan namanya agar Ibunya tidak mengarahkan selang air ke arahnya.


"Ya ampur Dirga! Bikin kaget aja!" Omel Ibu, langsung mematikan keran.


"Hehe. Maaf Bu. Aku mau surprise.. ternyata dapet surprise dari Ibu. Hehehe." Ujar Dirga sambil nyengir.


"Lagian ngagetin! Coba kalau datang itu salam, cium tangan. Kan gak akan kesemprot air!" Omel Ibu lagi.


"Hehehe maaf Bu...". Ujar Dirga menangkupkan kedua tangannya.


"Yaudah mandi sana, ganti baju. Ibu masih mau nyiram, belum semua kesiram niih.." ujar Ibu menggerutu. Lagi-lagi Dirga nyengir. Sebelum pergi, Dirga mengecup pipi kanan Ibunya. Membuat ibu kaget, dan menyemprotkan air kearahnya. Dirga langsung kabur.


Dirga masuk rumah dari pintu belakang. Langkahnya terhenti di ambang pintu, melihat seorang perempuan berambut pendek, bergaya potongan rambut bob asimetris sedang memotong sayuran di dapur.


Dirga terus memperhatikan perempuan itu. Sampai akhirnya, bibirnya tersenyum lebar mengenal perempuan itu, saat mendengar suaranya bernyanyi.


"Iih Dirga! Ngagetin aja!" Ujar Rain kesal. Dirga tertawa.


"Eeeh, gila, serem amat piso nya itu" ujar Dirga menunjuk pisau yang di pegang Rain. Rain melototinya.


"Nyebelin!" Ketus Rain, kembali memotong wortel yang tadi sedang di potongnya.


Dirga menghampirinya dan menyomot potongan wortel yang baru saja di potong Rain, dan langsung dimasukkan ke mulutnya.


"Iih jorok!" Ketus Rain lagi, melihat apa yang di lakukan Dirga.


"Enggak sih! Udah di cuci ini kan?" Elaknya. Rain mendengus kesal.


Dirga menyomot lagi, dan memberikan wortelnya ke depan mulut Rain.


"Nih, cobain" ujar Dirga, Rain meliriknya tajam, bentuk penolakan. Melihat itu, Dirga menarik kembali tangannya dan memakan wortel itu. Dan pergi.


***


Makan malam sudah siap. Menu makan malam kali ini, Rain yang memasaknya. Sayur bayam pakai jagung dan wortel, serta tongkol balado dan telur dadar yang menjadi lauknya. Ibu sampai memuji masakannya, karena saat di coba. Masakannya enak. Rain tersenyum bangga mendapati pujian itu.


Makan malam kali ini terasa lebih nikmat dan berbeda bagi Rain. Bukan hanya karena masakannya sendiri, tapi kehangatan suasana yang membuat Rain terharu. Ia jadi teringat momen makan malam bersama Ayah dan Ibunya waktu itu.


Tak terasa, Rain menitikan air mata.


Ibu yang melihatnya langsung terdiam memperhatikan cucunya, begitu pula Dirga. Ia heran, melihat Rain menangis.


"Rain, kamu kenapa?" Tanya Ibu dengan lembut, sambil mengelus bahu Rain. Rain tersadar, ia segera menyeka air matanya.


"Eh, gak kenapa-kenapa Bu.."


"Apa kamu teringat sesuatu?" Tanya Ibu. Rain mengangguk.


"Iya Bu. Aku teringat makan malam bersama Ayah dan Ibu, waktu itu..." Ujar Rain.


Ibu tersenyum.


"Kenangan indah bersama orang tua memang tidak bisa di lupakan. Ayo, makanlah Rain. Karena kitalah yang sekarang ada disini, keluarga kamu.. ayo makan yang banyak. Ibu yakin, Ibu dan Ayahmu akan senang melihat anaknya makan banyak.." ujar Ibu, memberikan potongan telur dadar ke piring Rain.


Sedangkan Dirga terdiam, menyembunyikan kesedihannya. Ia sama sekali tidak pernah merasakan kehangatan makan malam bersama orang tuanya. Karena Mamanya sudah meninggal saat melahirkannya, sedangkan Papanya sama sekali tidak bisa di ajak untuk makan bersama. Hanya momen makan malam bersama Bang Jaya, yang berkesan baginya. Saat merayakan pertemuan mereka kembali setelah tiga tahun tidak bertemu.


"Setidaknya, lo masih lebih beruntung bisa merasakan kebahagiaan itu bersama orang tua Lo, Rain.." ujar Dirga, dalam hatinya.


***


✨Rainy Senja✨