
"Ayo Rald, masuk" ajak Rain setelah membuka pintu rumahnya.
"Rald, ayo.." ajak Rain lagi, melihat Rald yang malah celingukan di luar. Sedangkan Rain sudah berada di rumahnya.
"Oh, iya Rain.." jawab Rain, lalu masuk kedalam rumah Rain. Sambil melihat sekeliling, khawatir ada yang mengikuti.
"Duduk Rald. Aku ke kamar dulu ya" ujar Rain. Rald mengangguk lalu duduk di sofa, sambil memperhatikan isi rumah Rain. Yang terlihat rapi. Namun berdebu, karena tak di tinggali.
Rain membuka laci lemarinya. Mengambil buku diary, lalu membukanya. Rain mengambil tiga kertas yang terselip di sisi diary.
Rain memperhatikan tiga kertas dengan tulisan dan isi yang sama.
"Ara, aku tidak tau apa maksud dari tiga kertas ini. Kalau kamu belum meninggal, aku akan berusaha untuk menemukan kamu..." Gumam Rain.
Ia menyimpan kembali dua kertas itu kedalam diary, satunya ia genggam. Lalu menutup diary dan membawanya, kemudian Rain membuka lemari untuk mengambil Sling bag berwarna dusty dan amplop berisi uang.
Tak lama, Rain keluar dari kamarnya,
"Sudah Rain?"
"Sudah.". Jawab Rain, lalu duduk di samping Rald.
"Rald, aku mau kasih tau kamu sesuatu.."
"Kasih tau apa?"
Rain mengeluarkan kertas berwarna silver, dan memberikan kepada Rald. Rald menerimanya.
"Arainy Xaviera Emeralda?! Ini kan nama Ara.." ujar Rald, setelah membaca tulisan di kertas itu, ia menoleh ke arah Rain. Rain mengangguk.
Tak sengaja, netra Rald melihat bayangan yang lewat jendela, di belakang Rain. Matanya membulat, ia kaget dan khawatir.
"Kenapa Rald?". Tanya Rain heran melihat ekspresi wajah Rald, ia menoleh ke arah mata Rald memandang, kebelakang. Tak ada siapapun.
"Rain, kita harus segera pulang ke rumah"
"Ada siapa Rald?"
"Ada orang yang lewat di depan. Kita harus hati-hati, Rain. Ayo" Rald meraih tangan Rain, lalu beranjak.
"Oya Rain. Masalah ini, kita bahas nanti di rumah ya.." ujar Rald, memberikan kertas itu, kembali ke Rain. Rain menerimanya, lalu memasukkan kembali kertas itu ke dalam Sling bag nya.
"Pakai lagi kupluknya, Rain.." ujar Rald memperingati Rain agar memakai kupluk hoodie, untuk penyamaran. Rain menuruti Rald.
Rain dan Rald melepas sepatunya agar orang yang di luar tidak tau, kalau mereka akan keluar.
Pun, saat menutup pintu, mereka sangat hati-hati.
Rald memperhatikan sekeliling rumah Rain. Saat di rasa aman, ia menyuruh Rain untuk mengikutinya.
"Aman, Rain. Ayo kita harus pergi.." bisik Rald, setelah mereka keluar dari halaman rumah.
"Pakai sepatu dulu, Rald" ujar Rain, mengajak Rald untuk memakai sepatu, dan memberi kode untuk bersembunyi di belakang pohon kembang sepatu.
Rald mengikuti Rain.
Setelah mereka memakai sepatu, Rald
menggenggam tangan Rain.
"Ayo Rain. Kita harus cepat pergi dari sini" ajak Rald.
Mereka berdua berlari menuju jalan raya, dan naik angkot. Sedangkan mereka tidak menyadari, seseorang sedang memantaunya.
"Mereka akan kembali ke rumah, Tuan"
"Apa yang mereka lakukan di rumah itu?"
"Saya kurang tau, tapi Rain memberikan Rald selembar kertas berwarna silver, lalu mereka pergi setelah itu"
"Cari tau, apa isi dari selembar kertas itu"
"Baik Tuan"
***
Tepat jam sepuluh, Rain dan Rald sampai di rumah, beruntung, Bundanya Rald belum pulang, sedangkan Mang Jaja satpam, sedang tidak ada di posnya. Jadi Rain dan Rald bisa masuk ke dalam rumah dengan santai.
"Alhamdulillah, kita sampai rumah dengan selamat.." ujar Rald saat mereka sudah berada di lantai atas, di depan pintu kamar masing-masing. Rald berdiri sambil bersandar di tembok.
"Iya, Rald. Terima kasih ya, sudah bantu aku.."
"Iya Rain. Sama-sama. Lain kali kalau mau keluar bilang aku ya. Biar aku temenin kamu. Aku tadi khawatir banget, pas liat ada bayangan orang yang lewat di jendela rumah kamu. Untung aja, dia gak ngikutin kita..". Ujar Rald, sambil tersenyum membayangkan kejadian yang menegangkan tadi.
"Oya Rain, kertas yang tadi mana?". Pinta Rald, ia mendekati Rain.
Rain mengeluarkan kertas itu dari tasnya, memberikan ke Rald.
"Ini Rald".
Rald menerimanya, dan membaca ulang.
"Kamu dapet dari mana kertas ini?" Tanya Rald. Rain merapat bibirnya, memikirkan sesuatu.
"Rald..."
"Hmm?"
"Jangan di sini ya ngebahas nya".
"Oh, iya. Hmm, di kamar itu aja" ujar Rald, menunjuk kamar yang di tempati Rain. Rain mengangguk. Mereka berdua masuk kedalam kamar.
Rald duduk di bangku meja belajar, sedangkan Rain duduk di kasur.
"Sebenarnya ada lagi kertas yang sama,, Rald..." Ujar Rain, mengeluarkan buku diary, membuka, mengeluarkan dua kertas silver itu, dan memberikan kepada Rald.
"Dari mana semua ini, Rain?" Tanya Rald, memperhatikan tiga kertas berwarna dan berisi sama.
"Dari orang tua aku, Rald. Yang ini dari Ibu, kalau dua ini dari Ayah..." Ujar Rain menunjukkan perbedaan dari pemberian orang tua nya.
"Kok bisa, orang tua kamu tau nama Ara?" Tanya Rald, pura-pura tidak tau.
Padahal Rald sudah tau siapa Ayah Rain itu. Ia ingin tau lebih detail tentang Ayah Rain.
"Aku juga gak tau Rald, dari mana orang tua aku tau nama Ara. Mereka gak pernah kasih tau aku selama ini..." Rain terdiam.
"Aku tau nama ini, setelah ibu meninggal. Waktu itu aku pulang dari tempat rehabilitasi. Ayah menyimpan kertas ini di meja kamarnya, satu lagi aku temuin di belakang bingkai foto. Dan satu lagi, Ayah selipkan, di amplop berisi uang buat aku..."
"Tunggu, Kamu tau nama ini setelah ibu kamu meninggal?"
"Iya"
"Kalau boleh tau, Ibu kamu meninggalnya kenapa?". Tanya Rald, hati-hati. Yang sebenarnya dia pun sudah tau, ceritanya dari Nata.
Rain menghela nafasnya.
"Ibu aku meninggal di bunuh"
"Di bunuh?!"
"Iya Rald. Feeling aku pembunuh Ibu, adalah orang yang sama, dengan orang yang nyerang aku kemarin, Rald.."
"Eros pelakunya?"
Rain mengangguk. Lalu menceritakan kejadian saat Ibunya terbunuh. Cerita yang pernah Rald dengar dari Nata. Cerita yang sama. Berarti Rain tidak mengada-ada. Bisa jadi Rain benar-benar di jebak, karena manipulasi para mafia kejam itu.
"Rald, aku yakin penyebab kematian Ibu aku, ada sangkut pautnya sama Ara..."
"Kenapa bisa begitu? Ara sudah meninggal, Rain!" Elak Rald.
"Enggak, Rald. Tolong dengerin aku dulu. Aku yakin, Ara masih hidup. Karena yang aku yakini dari ketiga surat itu adalah tanda perintah Orang tua aku, supaya aku cari Ara...."
"Terus maksud kamu, selama ini keluarga aku ziarah menangisi kuburan Ara. Tapi bukan Ara yang ada di dalam kubur itu?" Tanya Rald yang terlihat emosi.
Rain diam.
"Hmm, aku rasa begitu Rald..."
"Itu gak masuk akal!" Sergah Rald.
"Bisa jadi Rald. Makanya aku pengen banget cari tahu tentang Ara, dan apa kaitannya sama orang tua aku...". Ujar Rain, Rald diam memikirkan sesuatu.
Hening
Mereka saling diam, tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
"Nama Ibu kamu, siapa?" Tanya Rald terpikirkan sesuatu.
"Ratih Chandra Kirana"
"Ratih?!"
***
✨Rainy Senja✨