RAIN

RAIN
Ulah Eliza



"Bundaaaa kok kak Rain gak ada di kamarnya siih?" Teriak Adel, sambil berlari menghampiri Bundanya yang sedang menyiapkan sarapan.


Di meja makan sudah ada Rald dan Ayahnya yang sedang menikmati sarapan nasi goreng ikan teri buatan Fatma.


"Kak Rain pergi.." jawab Fatma dengan pelan.


"Pergi kemana? Kok gitu sih, kan Kak Rain janji mau bantu Adel ngegambar hari ini!" Ujar Adel dengan kesal.


"Adel, sini sarapan dulu" ajak Sulaiman sang Ayah.


"Gak mau Yah..." Tolak Adel dengan cemberut.


"Adel, Makan!" Ujar Fatma dengan tegas. Adel langsung manut. Ia segera duduk di bangku samping Rald.


"Bang, anterin aku ketemu Kak Rain, dong.." bisik Adel. Rald hanya menoleh sebentar, lalu memalingkan wajahnya dari sang adik.


"Anterin kemana? Aku aja gak tau kemana Rain pergi.." ujar Rald, bergumam.


"Apa Bang?" Tanya Adel mendekatkan dirinya ke Rald. Ingin mendengar lebih jelas lagi perkataan yang di katakan Rald barusan.


"Cepet makan, nanti di marahi Bunda lho.." bisiknya. Mendengar itu, Adel mendengus kesal.


"Rald dan Adel, berangkat sekolahnya bareng Ayah, Ya" ujar Fatma, sambil menuangkan air ke gelas Adel.


Rald menoleh kearah Bundanya, hendak menolak. Namun ia urungkan, saat melihat raut wajah Bundanya yang masih terlihat sedih. Kejadian semalam, saat Bundanya datang ke kamarnya ketika Rald pura-pura tidur, teringat kembali. Ia mengangguk manut.


***


Selama perjalanan menuju sekolah, pandangan Rald ke jendela mobil, sambil melamun. Memikirkan cara untuk mencari Rain.


Meskipun Ayahnya sudah menjelaskan bahwa Rain sebenarnya orang yang berbahaya, dan mungkin kepergian Rain itu yang sekarang sedang di rencanakan oleh mereka untuk menjembaknya.


Tapi di hati yang paling dalam, ia meragukan apa yang di katakan Ayahnya tentang Rain. Dan akan berusaha untuk mencari Rain sampai ketemu. Setidaknya Rald akan membuktikan benar atau salahnya prasangka Ayahnya terhadap Rain.


"Rald, fokuslah belajar. Jangan memikirkan dia..." Ujar Sulaiman, ia seolah tau apa yang ada di pikiran anak sulungnya itu.


Rald menoleh.


"Tapi aku gak bisa membiarkan Bunda berlarut dalam kesedihan karena memikirkan Rain.." Ujar Rald dengan tegas.


Sulaiman menepuk pundaknya.


"Rald, kesedihan Bunda tidak akan lama, lagi pula Rain itu bukan siapa-siapa, bahkan dia bisa menjadi bumerang buat keluarga kita. Bantu Bunda melupakan dia, Rald...".


Rald melirik Ayahnya.


"Bagaimana aku bisa membuat Bunda melupakan Rain, kalau aku aja gak bisa melupakan dia, Yah?"


"Rald!"


"Yah, aku yakin, Rain tidak seperti yang Ayah pikirkan. Dia selama ini menjadi korban, Yah.."


"Rald cukup! Harus berapa kali Ayah kasih tau kamu, tentang dia?!" Bentak Sulaiman.


"Ini demi keselamatan kamu, Rald..." Lanjut Sulaiman. Rald terdiam. Mengalihkan pandangannya ke jendela.


"Tak beberapa lama, mobil berhenti di depan sekolah SMA Taruna Bangsa, Rald mencium tangan Ayahnya.


Sulaiman menahan tangan Rald.


"Jangan bertindak gegabah. Fokuslah belajar. Ayah dan Ari yang akan mencari Rain, sampai ketemu..." Ujar Sulaiman. Rald menatap wajah Ayahnya, tak percaya dengan apa yang baru di dengarnya. begitu cepatnya, ayahnya berubah pikiran.


"Serius Yah?" Tanya Rald, memastikan. Sulaiman mengangguk. Tak di sangka, Rald langsung memeluk Ayahnya.


"Terima kasih Ayah.. terima kasih.." ucapnya dengan tulus. Sulaiman menepuk pundaknya.


"Ya, tunggulah kabar baiknya. Belajarlah dengan serius.."


"Baik Ayah. Akan aku tunggu kabar baiknya. Aku pamit. Assalamualaikum!" Ujar Rald, melepas pelukannya, lalu keluar mobil, memasuki sekolahnya menuju kelas.


Saat Rald memasuki kelas dan duduk di bangkunya, Galang langsung menghampirinya, dan merangkul pundak Rald.


"Guys, ini dia pahlawan Rald, yang menyelamatkan queen of criminal. Bahkan queen of criminal itu, tinggal di rumahnya!!" teriak Galang, menarik perhatian orang-orang yang ada di kelas. Perhatian mereka langsung mengarah kepada Rald dan Galang.


Rald menarik tangan Galang yang ada di pundaknya, kedepan, lalu ia menekuk pergelangan tangan Galang, yang membuat Galang mengaduh kesakitan.


"Rald! Rald! Lepasin gue Rald!" Pinta Galang, sambil merasakan kesakitan. Rald melepaskan tangan Galang dengan kasar, bahkan sampai Galang tersungkur di lantai.


"Sekali lagi Lo nyebut Rain kayak gitu, gue jamin leher Lo patah di tangan gue!" Ancam Rald.


Ia menggeser badan Galang yang tersungkur di dekatnya dengan kaki. Galang langsung bangun dan kembali ke bangkunya. Begitu juga dengan Rald dan orang-orang yang ada di kelas. Suasana menjadi hening. Tak lama bel berbunyi tanda masuk.


***


"Rald, apa bener Rain tinggal di rumah kamu?" Tanya Nesya kepada Rald yang sedang membaca buku. Di di bangkunya saat jam istirahat.


Rald mengangkat kepalanya, menoleh sebentar ke arah Nesya.


"Iya". Jawab Rald, lalu matanya kembali melihat buku.


Nesya terdiam, menelan ludah. Jadi benar yang selama ini dibicarakan teman-temannya kalau Rain tinggal di rumah Rald. Padahal awalnya Nesya meragukan hal itu.


"Boleh aku main ke rumah kamu? Aku mau ketemu Rain.." lanjut Nesya. Rald berhenti membaca. Ia terdiam mendengar permintaan Nesya. Rald tidak mungkin mengatakan kalau Rain pergi dari rumahnya.


"Please Rald.." lanjut Nesya lagi.


"GAK!" Cetus Rald, lalu keluar kelas.


Kaki Nesya terasa lemas, ia menjatuhkan dirinya di bangku yang sebelumnya di tempati Rald. Ia merasa begitu kecewa dengan sikap Rald terhadapnya. Laki-laki yang dia sukai begitu acuh dan dingin.


Juga merasa kecewa kepada Rain, sahabatnya sendiri. Yang tau perasaannya terhadap Rald, tapi kenapa Rain yang mendapatkan perhatian dari Rald, sampai tinggal di rumah Rald?


"Rain, aku gak nyangka, kamu bisa curi perhatian Rald, dan menghianati aku. Aku benci kamu, Rain!" Ujar Nesya pelan. Air matanya berjatuhan di pipi.


***


Rald melihat Eliza sedang bersama temannya di kantin sambil mengobrol. Ia mengirim pesan kepada Eliza, untuk menemuinya di roof top gedung sekolah.


Rald langsung pergi ke sana, menunggu Eliza.


Tak lama Eliza datang sambil senyum-senyum.


"Ada apa Rald, tumben kamu ngajak aku ketemuan, biasanya aku yang ajak kamu, tapi kamu gak mau terus.." ujar Eliza dengan genit. Rald mengacuhkan sikap genit Eliza, ia malah memberikan tatapan tajam kepadanya.


"Maksud Lo apa bikin keributan di rumah gue?!" Tanyanya dengan ketus.


"Keributan apa?" Eliza balik bertanya pura-pura tidak tahu.


"Gak usah pura-pura gak tau. Gue tau keburukan Lo, Za! Mau Lo apa cari gara-gara sama Rain?!"


"Rald! Aku gak seburuk apa yang kamu pikirin! Kemarin aku datang, buat nyelamatin hidup kamu dan keluarga kamu Rald! Asal kamu tau, Rain itu pembunuh! Dia yang bunuh ibunya sendiri! Aku gak mau keluarga kamu jadi korban dia!"


"Jangan asal ngomong! Lo gak tau apa-apa tentang Rain!"


"Rald, meskipun aku gak terlalu kenal sama Rain. Tapi aku tau kejahatannya. Papa yang menangani permasalahannya waktu itu. Aku baca data dan informasi kejadian itu!". Jelas Eliza. Papa Eliza adalah orang yang mengintrogasi dan menangani kasus meninggalnya Ibu Rain waktu itu. Yang sekarang menjabat sebagai inspektur jenderal polisi.


"Gue gak percaya sama data yang Lo baca. Karena Rain udah cerita sama gue kejadian aslinya!"


"Rald, semua data itu valid! Udah di cek kevalidannya! Ya, memang Rain gak bunuh ibunya secara langsung. Tapi sebelum ibunya jatuh dari rooftop hotel, mereka berantem. Dan itu jadi alasan yang di simpulkan sama Papa waktu itu. Dan asal kamu tau, di hp ibunya ada tulisan permintaan maaf. Pun, waktu kejadian Rain mencoba bunuh diri di kamar mandi, dia nyayat tangannya. Udah jelas kan, mereka memang ada masalah. Untung aja, Tuhan masih baik, nyelamatin hidup dia.." ujar Eliza menceritakan kepada Rald, data kasus kematian ibunya Rain, yang pernah ia baca di ruangan kerja Papanya.


"Secara langsung, dia yang menyebabkan ibunya meninggal, Rald." lanjut Eliza, ia meraih tangan Rald, namun segera Rald tepis tangannya. Rald menatap wajah Eliza.


"Oh, jadi menurut Lo begitu?"


Eliza mengangguk. Rald menunjuk Eliza, dan menatapnya tajam.


"Gara-gara Lo, Rain pergi entah kemana. Dan Kalau Rain di temukan sudah meninggal, berarti Lo penyebab kematian dia!" Ketus Rald. Lalu pergi.


"Rald! Kok jadi gue yang di salahin? RAAAAALLLD!" Eliza berteriak di tempatnya, menatap kepergian Rald, yang meninggalkannya.


Prok prok prok!


"Oh, jadi Lo, yang nyebarin berita itu.." ujar Dirga, muncul dari balik tembok yang ada di sana, sambil bertepuk tangan, mengejek Eliza.


"Dirga? Lo sejak kapan disitu?" Tanya Eliza panik. Dirga mengalihkan pandangannya pemandangan sekolah, yang terlihat dari tempatnya, sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Sekitar sepuluh menit, sebelum Lo sama Rald datang. Kenapa? Kaget?" Ujar Dirga melirik sebentar. Eliza mengepalkan tangannya.


"Ya, terus kenapa kalau gue yang nyebarin berita itu?" Tanya Eliza, malah menantang, perkataan Dirga yang pertama. Dirga melepaskan lipatan tangannya, lalu melangkah mendekati Eliza.


Eliza mundur untuk menghindari Dirga. Namun Dirga terus maju.


Eliza terus mundur, melihat Dirga yang terus berjalan maju mendekati, sambil terus menatapnya.


"Lo mau ngapain? Jangan macem-macem Lo, Ga..." Tanya Eliza, takut. Wajahnya sudah pucat, melihat sikap dan raut wajah Dirga yang menyeramkan. Hingga akhirnya, Eliza merasakan punggungnya sudah menabrak tembok. Dirga tersenyum miring. Mendekatkan wajahnya ke telinga Eliza. Eliza menahan nafasnya.


"Cepet hilangin berita itu, bersihkan nama Rain di sekolah ini. Kalau gak, Lo akan mendapat masalah besar, yang gak pernah terpikirkan oleh Lo..." Ujar Dirga mengancam.


Eliza melirik Dirga, takut. Dirga memberikan tatapan yang leboh tajam, dengan seringai senyuman yang terlihat menakutkan. Eliza langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Dirga.


"Gu-gue gak bisa.."


"Harus bisa.."


"Ga! Berita itu udah tersebar kemana-mana. Ya gak mungkin gue bilang itu hoaks, nanti mereka malah ngebully gue.."


"Gue gak peduli. Lo yang berbuat, Lo harus tanggung jawab, dan lo harus terima konsekuensinya" ujar Dirga, berjalan menyamping. Eliza langsung menjauh.


"Kenapa sih Lo sama Rald sama aja? Emang apa sih kelebihan dia, sampe kalian belain dia. Dia itu cewek jahat, pembully. Gak pantes di bela...!"


"DIAM! Diam Lo. Lo anak baru di sini, gak tau apa yang terjadi sebenarnya! Dan lo gak pantes nyebut Rain kayak gitu. justru Lo yang lebih pantes di sebut penjahat, disini." Bentak Dirga, menyela perkataan Eliza.


"Gue mau Lo bersihin nama Rain di sekolah ini, dan jangan pernah ikut campur urusan orang..." Lanjut Dirga. Lalu melangkah mendekati Eliza lagi.


"Atau Lo gak akan bisa nikmatin hidup Lo lagi..." Bisik Dirga, membuat Eliza merinding.


Lalu Dirga pergi meninggalkan Eliza.


Eliza menjatuhkan dirinya teras roof top. Air matanya berjatuhan ia menangis, takut dan marah. Dengan ancaman Dirga.


Karena Eliza mengenal Dirga dari teman-temannya, sebagai orang yang berdarah dingin, tidak main-main dengan ancamannya.


Eliza frustasi akan hal itu. Dia takut Dirga akan benar-benar melakukan ancamannya, kalau Eliza tidak menuruti perintahnya. Tapi Eliza juga merasa keberatan kalau harus membersihkan nama Rain yang sudah tercemar di sekolah ini, akibat ulahnya.


****