
Seratus tiga puluh menit perjalanan, akhirnya Dirga menghentikan motornya di depan sebuah rumah minimalis, bermodel klasik, Yang berada di dalam kampung, jauh dari keramaian kota.
Di sekitar rumah itu, terhampar luas rerumputan hijau, dan sebuah taman di sana. Juga ada beberapa rumah yang jaraknya agak berjauhan dari satu rumah ke rumah lainnya.
Rain turun dari motor, membuka helm, lalu memperhatikan rumah itu.
"Dirga, rumah siapa ini?" Tanyanya.
Dirga turun dari motornya, melepas helm, dan mengambil helm di tangan Rain, lalu menyimpan di atas motor.
"Ayo" ajaknya, sambil meraih tangan Rain.
Rain menolaknya.
"Gak mau!"
"CK! Rain, Lo udah di tunggu di dalam. Ayo!" Dirga memaksa Rain, ia menarik tangannya.
Tok tok tok
"Assalamualaikum.." ujar Dirga memberi salam, sambil mengetuk pintu. Tangan satu lagi masih menggenggam tangan Rain.
Dua kali salam, pintu itu baru terbuka.
"Waalaikumsalam" jawab perempuan paruh baya yang berpakaian serba hitam, muncul dari balik pintu.
Rain terkejut saat melihat wajah perempuan itu, bagian kiri wajahnya ada bekas luka bakar, dan kelopak matanya mengecil. Matanya menatap Rain dingin. Namun kemudian bibirnya menyunggingkan senyuman saat melihat Dirga yang berada di samping Rain.
"Dirga, kau datang..." ujarnya dengan hangat. Lalu memeluknya. Dirga melepas tangan Rain dari genggamannya.
"Iya Bu. Dirga datang..." Seru Dirga, memeluk Ibu itu.
"Apa kabar, Nak?". Tanyanya lagi, sambil melepas pelukannya, menatap wajah Dirga, dan mengelus rambutnya.
"Baik Bu. Ibu baik-baik saja kan, di sini?". Jawabnya sangat hangat, terhadap Ibu itu.
Sampai Rain tidak menyangka, Dirga, cowok berandalan, yang dingin dan playboy, bisa sehangat itu kepada perempuan di hadapannya.
"Siapa perempuan cantik yang kau bawa ini, Dirga?" Tanyannya kepada Dirga, sambil melihat Rain, dengan tatapan hangat, tidak seperti sebelumnya.
"Bu, baiknya kita masuk dulu deh..." Ujar Dirga menunjuk ke dalam.
"Oh, iya. Ayo masuk.." ajak perempuan itu. Ia membuka pintu lebar.
"Ayo Rain" ajak Dirga.
"Dia siapa, Ga?" Tanya Rain berbisik. Namun Dirga mengabaikannya. Ia terus berjalan, dan duduk di kursi kayu. Rain duduk di sebelahnya. Ibu itu menutup pintu dan duduk di bangku satu lagi, di samping Dirga.
"Mau minum?" Tawar perempuan itu. Dirga menggeleng.
"Enggak usah Bu. Dirga bisa ambil sendiri..." Ujar Dirga. Ibu itu malah tersenyum.
"Ibu gak tanya kamu, Ibu tanya perempuan di samping kamu. Dia terlihat kecapekan, ya nak?" Tanyanya, memperhatikan Rain. Rain mengangguk canggung, sambil berusaha untuk tersenyum.
"Ibu ambil minum dulu ya..." Ujar Ibu itu, lalu pergi ke belakang.
"Ga, dia siapa?" Tanya Rain. Dirga menoleh.
"Ibu tiri gue.."
"Ibu tiri Lo?"
"Hmm.."
"Kenapa Lo bawa gue kesini?!"
"Karena lo akan tinggal di sini.."
"Ga! Lo pikir, Lo siapa, bisa nentuin tempat tinggal buat gue?!"
"Emangnya Lo mau balik lagi ke rumah si Rald?!". Ujar Dirga dengan ketus.
"Enggak! Gue mau pulang ke rumah gue!".
"Banyak pengintai? Kok bisa?!"
"Ya bisa lah. Lo kan buruan mereka..."
"Hah?! Buruan mereka?". Mata Rain membulat kaget, mendengar pernyataan Dirga tentang rumahnya, badannya merinding.
Dirga melirik Rain, menyunggingkan senyuman.
"Gak, bercanda. Udah sih, Lo nurut aja sama gue...".
Rain memukul bahu Dirga. Kesal.
"Kalian berpacaran?" Tanya perempuan yang dipanggil Ibu, oleh Dirga itu, datang membawa nampan.
"Enggak!" Jawab Rain dan Dirga kompak. Ibu itu tersenyum lebar, ia menyimpan nampan di meja. Di atas nampan itu ada dua gelas air minum dan sepiring gethuk.
"Siapa namanya, nak?" Tanyanya lembut.
"Aku, Rain. Bu..." Jawab Rain.
"Oh, ya Rain. Ayo diminum airnya. Ini juga ada gethuk. Kemarin habis panen singkong di kebun. Jadilah di buat gethuk.." ujar Ibu itu.
"Wah, kesukaan Bang Jaya ini, Bu..." Seru Dirga, langsung menyomot potongan gethuk di piring. Ibu itu tersenyum lebar.
"Iya. Ibu buat gethuk juga, karena ingat Jaya yang suka banget sama gethuk, dan kebetulan ada bahannya..."
Rain terdiam, ia teringat Ayahnya, yang juga menyukai makanan khas Jawa itu.
"Rain, cobain deh gethuknya. Enak tau.." ujar Dirga memberikan piring berisi gethuk ke Rain. Rain mengambil satu potong gethuk, dan memakannya.
"Enak, kan?" Tanya Dirga.
Rain mengangguk. Sambil merasakan rasa gurih dan manis gethuk di mulutnya. Ibu itu tersenyum melihat anggukan kepala Rain, yang setuju dengan perkataan Dirga, bahwa gethuk buatannya enak.
"Bu, Dirga mau tepati janji Dirga ke Ibu..." Ujar Dirga, setelah ia menghabiskan dua potong gethuk, dan meminum air.
Sedangkan Rain, masih menikmati kelezatan gethuk, karena lapar juga.
"Janji apa, Dirga?" Tanya Ibu itu.
"Janji Dirga untuk membawa cucu Ibu kesini. Dan hari ini, janjinya sudah Dirga tunaikan. Ini Rain, Cucu Ibu...". ujar Dirga menunjuk Rain.
"Uhukk!" Rain terbatuk mendengar perkataan Dirga.
Dirga langsung memberikan minum kepada Rain. Rain meminumnya.
Sedangkan perempuan paruh baya itu langsung menghampiri Rain. Lalu duduk di sampingnya. Rain menoleh. Dirga mengambil kembali gelas yang diberikannya kepada Rain.9
"Inikah, cucu ku?" Tanyanya. Ia memandangi wajah Rain dengan mata berkaca-kaca. Tangannya terulur untuk menyentuh wajah Rain. Terdiam, menatap Ibu itu.
"Iya Bu. Rain cucu Ibu, anaknya Bang Jaya..." ujar Dirga memperjelas. Ibu itu langsung memeluk Rain dengan erat.
Rain, speechless. Seolah tak percaya apa yang di katakan Dirga dan pelukan dari perempuan paruh baya yang kini menangis sambil memeluknya, terasa mimpi.
Dirga menepuk bahu Rain yang membelakanginya.
"Rain, Ibu ini adalah Nenek Lo, dia Ibu dari Evan Sanjaya, Ayah lo. Selama ini, dia sangat menunggu kedatangan Lo, dia kangen banget sama Lo..." Ujar Dirga mengenalkan lebih jelas lagi.
Mendengar penjelasan Dirga, tangis Rain pecah, ia langsung memeluk tubuh Neneknya.
Rain tak menyangka bahwa dia masih memiliki Nenek. Karena selama ini, Ayahnya tak pernah bercerita, mengenalkan tentang Neneknya, begitu juga Ibunya.
"Nenek.." ujarnya pelan, memanggil.
Perempuan yang di panggil Nenek oleh Rain itu, melepaskan pelukannya, ia memandangi wajah Rain dengan mata basahnya.
"Iya Nak. Ini Nenek, Nenek kamu..." Ujarnya, lalu memeluk Rain lagi.
Suara tangis pun pecah. Rain menangis karena ia amat bahagia masih memiliki Nenek, dari Ayahnya. Sedangkan perempuan itu menangis bahagia, bertemu dengan cucunya, yang selama ini ia rindukan. Cucu yang terakhir kalinya ia temui saat berusia enam tahun.
Dirga tersenyum haru melihat keduanya berpelukan, sampai tak terasa olehnya, air matanya menetes. Namun segera ia hapus. Tak ingin kedua perempuan itu melihatnya menangis.