
Fatma tidak bisa melanjutkan tidurnya, ia masih merasa gelisah atas mimpi yang di alaminya.
Tiba-tiba ia teringat, Rald akan pergi mencari Rain. sebelum ia pingsan.
Fatma segera beranjak dari kasurnya, menuju kamar Rald.
Saat membuka pintu kamar Rald, lampunya masih menyala, namun Rald sudah tidur di kasur. Fatma menghampiri Rald di kasurnya, ia memandangi wajah putranya, yang sedang tidur. Lalu mengelus rambut Rald.
"Rald, tanpa Bunda sadari, kamu tumbuh begitu cepat. Menjadi lelaki yang sehat, kuat, juga pintar..."
Tangan Fatma turun ke wajah Rald, ia mengelus pipinya.
"Wajah kamu tampan, Semoga ketampanan wajah kamu, berbanding dengan baiknya akhlak kamu, Rald..."
"Arkana Xavier Emerald... Maafkan Bunda, nak. Bunda terlalu mengabaikan kamu selama ini, Bunda terlalu tenggelam dalam kesedihan, karena kematian Ara..." Fatma menghentikan ucapannya. Ia menyeka air matanya. Lalu tangannya menggenggam tangan Rald.
"Kamu terkekang dengan sikap posesif Bunda. Juga segala larangan dan peraturan yang Bunda buat untuk kamu..."
"Rald.. tolong maafkan Bunda.. pahamilah nak, Bunda berbuat seperti itu, karena Bunda gak mau mengalami dua kali, hal yang paling menyedihkan dalam kehidupan Bunda. Bunda trauma atas kepergian Ara. Bunda takut hal itu terjadi sama kamu..."
"Sekarang Rain pergi, entah kemana. Bunda merasa bersalah, karena tidak mencoba untuk menahan dan mendengarkan penjelasannya. Perginya Rain, membuat Bunda seperti merasakan kembali rasanya di tinggal Ara. Karena Rain sudah seperti obat rindu Bunda ke Ara.. Bunda sangat takut terjadi sesuatu kepada Rain..".
Fatma terdiam, menahan suara tangisannya, beberapa menit. Lalu memandangi wajah Rald, lagi.
"Rald, Bunda selalu berdoa, agar Allah selalu melindungi kamu, dimana pun kamu berada. Bunda tidak sanggup kehilangan kamu.."
Fatma semakin menangis, ia tak kuat berlama-lama, di dekat Rald. Takut membangunkannya.
Fatma beranjak dari tempatnya, mencium kening Rald. Dan pergi.
Mendengar pintu tertutup, Rald membuka matanya, lalu duduk. Ia menatap pintu.
"Bunda, aku akan mencari Rain, dan membawanya ke sini, apapun resikonya..."
***
Rain terbangun kaget, karena mimpinya.
Ia bermimpi sedang berada di hutan, dan tersesat di dalamnya. Rain berjalan di tengah hutan itu sambil teriak meminta tolong, namun tak ada seorang pun di sana, kecuali dirinya.
Rain terus berjalan menyusuri hutan, sampai akhirnya ia melihat ada tiga ekor kelinci, kucing dan rusa di sana. Rain tersenyum lebar. Meskipun tak ada manusia, setidaknya Rain tidak merasakan kesepian dan ketakutannya berkurang melihat tiga jenis hewan yang ia sukai.
Rain menghampiri kelinci yang sedang memakan rumput, lalu mengelus badannya.
"Lucu" ujar Rain.
Saat asyik mengelus badan kelinci, tiba-tiba ia mendengar auman harimau di belakangnya, yang suaranya semakin mendekat.
Merinding ketakutan, Rain menoleh kebelakang.
Benar saja, ada seekor harimau yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam, hendak memangsanya.
Rain berdiri, melangkah mundur dengan pelan, untuk menghindari harimau itu.
Harimau itu malah melangkah maju sambi terus menatapnya dengan tatapan yang nyalang.
"PERGI RAIIIIN!!!" teriak seseorang yang muncul dari balik pohon. Ia berdiri membelakanginya, menjadi tameng untuk Rain dari harimau itu. Orang itu memegang tombak dan mengayunkan ke arah harimau itu.
"Cepat pergi, Rain" ujarnya sambil menoleh ke arah Rain. Mata Rain terbelalak kaget melihat orang yang menjadi tameng.
"Rald..." Gumamnya.
"Rain, cepat pergi!!" Ujar Rald dengan tegas.
Harimau itu semakin mengaum, seolah merasa bahagia karena ada dua manga di depannya, lidahnya menjilati gigi-giginya, siap untuk menerkam.
"Auuuuummmmm!!!" Harimau itu loncat ke arah Rald. Beruntung Rald bisa melawan dengan tombaknya. Rain melihat pertarungan antara Rald dengan harimau itu, dengan rasa khawatir, dan takut.
Rain melihat sekelilingnya, mencari sesuatu yang bisa membantu Rald.
Tak sengaja, Rain melihat ada sebilah pedang tanpa sarung yang berada di rerumputan. Ia segera mengambil pedang, membantu Rald untuk menyerang harimau itu.
Satu sabetan pedang Rain mengenai harimau itu, tiba-tiba pedang itu terlepas darinya, karena marah, harimau itu loncat ke arahnya, dan menerkam dirinya.
Setelah itu ia terbangun, dan sangat bersyukur, karena itu hanya mimpi.
Rain masih terengah-engah, mimpi' itu terasa nyata, ia menghela nafas.
"Masih pagi, udah teriak-teriak aja, Lo. Kesambet?" Ujar Dirga mengagetkan Rain. Ia berdiri sambil bersandar di kusen pintu, dengan tangan melipat di dadanya, memperhatikan Rain. Dirga sudah di sana, saat Rain baru saja membuka matanya, saat itu kebetulan dia akan membangunkan Rain. Di suruh Ibunya. Dan mendengar Rain teriak.
Rain kaget, lalu menutup wajahnya, karena malu.
"Cepet keluar, dari tadi ditunggu ibu, buat sholat subuh"
"Iya"
"Cepetan!" Ujar Dirga memaksa, membuat Rain kesal. Ia melempar bantal ke arah Dirga.
"IYA!"
***
"Rain, Nenek harap, kamu mau ya, tinggal di sini. Menemani Nenek,.." Ujar Nenek menggenggam tangan Rain, yang sedari tadi duduk di sampingnya, di bangku taman, sambil memandangi berbagai macam bunga yang tumbuh di taman, samping rumah.
Rain menoleh. Ia tersenyum, melihat Neneknya tersenyum kepadanya.
Meskipun Rain tidak tau bagaimana wajah asli Neneknya, dan sekarang sebagian wajahnya rusak, tidak sempurna lagi, tetapi senyuman Neneknya itu tetap cantik di mata Rain.
Rain menggenggam tangan Neneknya juga.
"Iya Nek, aku akan tinggal di sini. Menemani Nenek. Aku akan berusaha untuk menjadi cucu yang baik, untuk Nenek..."
Nenek memeluk Rain. Lalu mencium keningnya. Dan melepas kembali pelukannya.
"Sudah lama Nenek merindukan kamu, Rain..."
"Aku juga gak nyangka Nek, ternyata aku masih punya Nenek, soalnya Ayah dan Ibu gak pernah cerita, kalau aku masih punya Nenek..." Ujar Rain, dengan sedih.
Nenek Tersenyum getir. Ia memandang bunga-bunga yang di tanamnya. Sedangkan Rain memperhatikan sebagian wajah Neneknya yang masih sempurna, kulit wajah Nenek putih dan bersih. Rain yakin, sebelum wajahnya rusak, wajah Nenek pasti cantik, begitu juga dengan tatapan matanya yang sayu.
"Sepertinya, Ayahmu masih marah pada Nenek.." ujarnya, dengan sedih.
"Kenapa Ayah marah sama Nenek?" Tanya Rain. Nenek tersenyum getir.
"Nenek membuatnya kecewa, dan membuatnya marah. Hmmm.. waktu itu tak sengaja kami bertemu di salah satu restoran. Nenek memarahinya karena menikah dengan Ibumu, karena Nenek tidak setuju dan saat itu, ternyata kamu sudah berusia lima tahun..."
"Jadi Nenek gak tau, Ayah menikah dengan Ibu, dan punya aku?" Tanya Rain memotong cerita Neneknya.
"Iya, Nenek tidak tau. Karena hampir sepuluh tahun kami tidak pernah bertemu. Setelah Nenek meninggalkannya...". Nenek menghentikan ceritanya lagi. Butiran air mata mengalir di pipinya. Nenek segera menghapusnya. Lalu menghela nafas.
"Ini semua kesalahan Nenek, Rain. Nenek yang menyebabkan kemarahan Ayahmu. Ya, Nenek maklumi, karena memang kesalahan Nenek, padanya sangat besar..."
"Nenek...". Panggil Rain, sambil memandangi wajah Neneknya.
"Rain, maafkan Nenek, Ya. Karena Nenek pernah membenci kamu dan Ibumu.. Padahal kamu dan Ibumu lah, yang membuat anak Nenek, menjadi seorang laki-laki yang tegar dan penyayang. Juga dirinya menjadi lebih baik, dari pada sebelumnya..." Nenek memandangi wajah Rain, dengan berlinang air mata. Rain mulai menangis.
"Nenek sangat berterima kasih sekali kepada Ibumu. Semoga dia berada di tempat yang terbaik, di sisi Allah..."
Rain menangis, dan mengucapkan aamin dengan pelan.
"Rain, Nenek janji akan menjaga dan menyayangi kamu sepenuh hati Nenek..." Rain langsung memeluk Neneknya
"Rain juga akan menjaga Nenek dan menyayangi Nenek, sepenuh hati, Nenek harus sehat selalu ya, Nek.." ujar Rain. Menangis dalam pelukan Neneknya
Beberapa saat kemudian, mereka mengobrol. Nenek banyak cerita tentang berbagai hal. Dari masa kecil Ayahnya, hingga kerusakan sebagian wajahnya, akibat siraman air keras dari teman kerjanya, karena terjadi pertengkaran hebat antara Nenek dan teman kerjanya. Di sebabkan kesalah pahaman.
Nenek jadi lebih mendekatkan diri kepada Allah, dan memperbaiki diri juga hidupnya, yang sebelumnya sangat jauh dari kata baik.
"Seru banget ngobrolnya" ujar Dirga baru saja datang.
"Iya, memang seru, sini duduk.." ujar Nenek lalu menggeser duduk, agar Dirga duduk di sampingnya.
Dirga duduk, dan sekarang posisi Nenek berada di tengah antara anak dan cucunya.
"Dirga, Rain, kalian seumuran ya?" Tanya Nenek menoleh bergantian ke Dirga dan Rain.
"Iya, tapi tua-an dia Nek" ujar Rain menunjuk Dirga.
"Lebih tua Lo, Rain" elak Dirga
"Ih, enggak, lebih tua Lo. Gue bulan mei, Lo bulan april" Rain tak mau kalah.
"Elah, paling beda beberapa hari aja jarak di dua bulan itu"
"Ya, tetep aja, Lo yang lebih tua..".
"Eh, eh. Kok malah berantem sih.." ujar Nenek melerai perdebatan mereka.
"Kalian tuh saudara loh. Harus akur. Terutama kamu Rain. Gak sopan panggil Dirga dengan kata Lo, dia kan Om kamu..." Ujar Nenek, sambil tersenyum melihat Rain.
"Dengerin tuh!" Ujar Dirga dengan ketus. Rain cemberut.
"Eeh, Dirga juga harus baik ke keponakan. Jangan kasar" tegur Ibu tirinya. Dirga nyengir. Rain menjulurkan lidahnya ke Dirga.
"Meskipun kalian seumuran, tapi dari silsilah keluarga, Rain harus memanggil Dirga Om..." Ujar Nenek.
"Enggak ada panggilan lain, apa Bu? Selain om, pakde atau paman. Berasa tua banget aku" Sela Dirga.
"Emang tua!" Ledek Rain dalam hati, sambil melirik Dirga.
"Ya, terus, kamu mau di panggil apa sama Rain?" Tanya Nenek minta pendapat kepada Dirga.
"Ya seperti biasa aja.."
"Ya gak sopan lah. Harus ada panggilan penghormatan Rain terhadap kamu, sebagai Om nya..."
"Yaudah, Abang aja" ujar Dirga.
"Ih, Abang?" Komentar Rain, sambil meliriknya.
"Ck.. kenapa Anggap aja gue Abang Lo daripada Om..."
"Okee, Not bad laah.. mulai sekarang, Panggilan Rain ke Dirga, Abang. Dan kalau kalian berbicara, jangan ada kata Lo gue, harus aku kamu. Karena gak enak di dengarnya kalian bicara pakai Lo gue itu, di telinga saya" ujar Nenek. Rain dan Dirga tak bisa membantahnya
"Iya Bu.."
"Iya Nek..."
"Oya, satu lagi, untuk Rain. Mulai sekarang, panggil Nenek, Ibu saja ya. Biar sama seperti Abang mu memanggil Ibu.."
"Eh? I-ibu?". Ujar Rain, ragu.
"Iya, Ibu. Kenapa?".
"Eh, Aaa.. enggak. Gak apa-apa Nek. Eh, Ibu.."
Dirga menyembunyikan tawa melihat ekspresi wajah Rain.
Ibu memeluk Dirga dan Rain yang ada di sampingnya.
"Alhamdulillah yaa Allah. Bahagianya aku, Engkau kumpulkan dengan anak dan cucuku.." ujar Ibu sambi menatap langit. Senyuman mengembang di wajah ketiga manusia itu.
"Oya, Dirga kapan pulang ke rumah?" Tanya Ibu.
"Nanti sore Bu" jawab Dirga, Ibu menoleh.
"Sore? Gak besok aja?"
"Enggak Bu. Aku ada keperluan juga di sana".
"Oh, gitu. Yasudah, Ibu siapkan makanan dulu ya". Ini melepaskan rangkulan tangan dari Dirga dan Rain, lalu beranjak dan melangkah menuju rumah. Dirga dan Rain ikut beranjak dan mengikuti Ibunya.
***
Rain mengetuk pintu kamar Dirga. Ketukan keempat, Dirga baru membukakan pintu.
"Kenapa?" Tanya Dirga melihat Rain, yang mengetuk pintu. Dirga terlihat sudah rapi, memakai baju putih, jaket denim dan celana, rambut yang masih basah, dan segar, bergaya low fade (Rambut yang ditipiskan hanya di bagian samping bawah. Jaraknya pun pendek, hanya sebatas telinga), terlihat menambah ketampanannya.
Rain menatap penampilan Dirga. Baru kali ini, ia melihat dengan seksama dan menyadari bahwa Dirga tampan dan cool.
Dirga menjentikkan jarinya di depan mata Rain. Rain terhentak kaget, ia langsung mengalihkan pandangannya.
"Kenapa? Terpesona sama kegantengan gue?" Ujar Dirga dengan pede.
"Enggak! Ih, apaan sih. Geer banget!" Elak Rain.
"Ya terus, kenapa tadi merhatiin gue kayak gitu. Sampe gak denger gue kan, gue ngomong apa?" Ujar Dirga melipat tangannya, dan menaikkan satu alisnya.
"Emang Lo ngomong apa?!"
Tuk!
Dirga menyentil kening Rain. Rain mengaduh, sambil mengusap keningnya. Terasa sakit.
"Gak sopan manggilnya. Baru juga beberapa jam yang lalu di kasih tau Ibu!" Ujar Dirga.
"Iya!" Ketus Rain.
"Titip ini!" Lanjutnya, memberikan selembar kertas yang di bentuk amplop.
"Apa tuu?" Tanya Dirga belum menerima kertas yang di berikan Rain.
"Surat buat Nata!"
"Surat buat Nata? Hahahaha! Jaman sekarang Lo masih surat-suratan sama dia? Sumpah katrok banget Lo!" Ledek Dirga. Rain menatapnya dengan kesal.
"Terserah apa kata Lo! Nih titip buat Nata. Awas aja kalo gak sampe ke dia!" Ujar Rain dengan galak. Dirga menerima surat itu.
"Kenapa sih, pake surat segala. Emang Lo gak ada hp?" Tanya Dirga membolak-balikkan amplop itu.
"Hp gue rusak. Gak bisa di pake" ujar Rain pelan.
"Oh... Eh, tapi gue gak yakin, besok Nata ada di sekolah apa enggak"
"Hah? Kenapa?"
"Semenjak Lo di drop out, gue gak pernah liat dia lagi. Bangkunya selalu kosong. Si Rio yang jabat jadi ketua kelas sekarang"
"Lho? Emangnya Nata kemana?"
"Mana gue tau!" Ujar Dirga acuh. Lalu pergi saat mendengar Ibu memanggilnya.
Rain terdiam kembali, memikirkan Nata. Terakhir kalinya ia bersama dengan Nata, saat Nata memarahinya di taman belakang sekolah, waktu Rain kena masalah gara-gara Galang. Setelah itu, Rain tidak pernah bertemu dengan Nata, dan tidak ada komunikasi lagi antara mereka sama sekali.
Rain pun menyayangkan, handphonenya tiba-tiba rusak, tidak bisa menyala. Setidaknya kalau handphonenya masih bisa digunakan, ia bisa menghubungi Nata, sahabatnya. Ada yang ingin Rain bicarakan dengan Nata.
****
✨Rainy Senja✨