
"Apa-apaan ini..?"
"Hidup macam apa ini...?"
"Kenapa setiap yang terjadi begitu sangat menyakitkan!".
"Aku tak pernah berbuat jahat kepada siapapun! Tapi kenapa setiap orang baru yang hadir dalam hidupku selalu jahat padaku?"
Rain berjongkok, tangan kanannya memukul-mukul dada kirinya, air matanya terus mengalir di pipi.
"Kenapa hidup ku seperti ini? Kenaaappaaa?!!"
Rain menatap langit dengan mata basahnya yang terus mengeluarkan air mata.
"Aku menjalani hidup dengan sungguh-sungguh.. Aku tak pernah berharap terlalu tinggi, aku hanya ingin tenang dan bahagia ya Allah... Tapi kenapa hidupku malah seperti ini? Aku berusaha kuat dan bersabar setelah kepergian ibu.. tapi kenapa hidup ini semakin kejam dan menyakitkan.. kenapaaa.. aaaa.... Aaaahhaaaaa.."
"Setiap hari terasa menyiksa bagiku... Aku lelaaah... Aku sangat lelaaah, Ya Allah... Matikan saja aku, cabut nyawaku! Huuuhuuuuhuuuu..."
Rain menangis kejar, ia terus memukul dadanya, karena hatinya begitu perih, sesak yang ia rasakan.
Beberapa menit kemudian, Rain terdiam dari tangisannya. Ia menundukkan kepalanya, menatap rerumputan di bawahnya.
"Aku hanya beban bagi semua orang..."
"Beban bagi Ibu.. beban bagi Ayah, sampai mereka tega meninggalkan aku...."
"Aku menjadi beban bagi keluarga Tante Fatma.. aku merepotkannya, aku merepotkan Rald, aku merepotkan Bang Ari. Aku merepotkan semua orang..."
"Aku benci diriku.. aku sangat menyedihkan, memalukan dan menjadi beban bagi banyak orang.."
"Kalau aku menghilang, semua orang akan baik-baik saja, semua akan terselesaikan... Dan aku menjadi orang yang terlupakan.."
"Aku tak ingin hidup seperti ini.. Tak ada cara lain. Aku akan mengakhirinya...".
Rain beranjak dari tempatnya, ia menatap langit. Kemudian melihat sekelilingnya. Tak ada siapapun di sana. Lalu ia melihat ke depan. Hanya beberapa langkah di depannya, ada jurang.
Rain memejamkan mata, mengirup udara, lalu menghembuskannya kembali.
Rain melangkah maju, dengan mata masih terpejam, ia merentangkan tangannya.
"Maafkan semua kesalahanku. Maafkan aku yang banyak merepotkan orang di dunia ini...". Ujar Rain dengan pilu, kakinya terus melangkah ke depan.
"Mungkin akan lebih baik kalau aku pergi..."
Jarak antara dirinya dengan jurang tinggal beberapa jengkal.
"Selamat tinggal. Selamat tinggal dunia yang kejam..."
Rain berhenti sebentar, menarik nafas dalam-dalam, matanya masih terpejam. Kemudian ia membuka kaki kanannya lebar, sudah tak ada pijakan lagi di depannya. Rain menjatuhkan dirinya.
***
Rald baru sampai rumah jam delapan malam, bersama Ayahnya.
Melihat Bunda sedang duduk di sofa ruang tamu, Rald dan Ayahnya menghampiri dan menyapanya.
"Assalamualaikum Bunda" ujar keduanya. Fatma menoleh, ia beranjak dari duduknya.
"Waalaikumsalam". Jawabnya mencium sang suami, Rald memperhatikan Bundanya.
"Bunda kenapa, Bun?" Tanya Rald, melihat mata Bundanya sembab.
Fatma memeluk suaminya, lalu menangis. Sulaiman memeluknya sambil mengelus punggung istrinya.
"Rain pergi, Ayah..." Ujar Fatma mengadu.
"Rain pergi?! Kemana Bun?!" Tanya Rald kaget.
"Bunda gak tau Rald. Rain pergi setelah bertengkar sama Eliza.."
"Bertengkar sama Eliza?!" Tanya Rald lagi, seolah tak percaya apa yang di katakan Bundanya.
Apakah Rain dan Eliza sudah saling mengenal sebelumnya? Apakah mereka bermusuhan?
Fatma menceritakan kejadian tadi, saat Eliza menceritakan tentang cewek barbar di sekolahnya, lalu Rain marah dan menampar Eliza. Kemudian Eliza menceritakan lebih lengkap setelah kepergian Rain.
"Bunda gak percaya, Rain bisa melakukan hal itu..". Ujar Fatma, di akhir ceritanya.
"Rain melakukan itu karena salah Galang juga. Bunda jangan percaya apa yang di ceritakan Eliza. Bunda tau sendiri kan, omongan Eliza gak bisa di percaya sepenuhnya..."
"Iya Rald. Tapi Bunda liat tingkah Rain seperti menyembunyikan sesuatu, dia tiba-tiba pergi begitu aja, tanpa pamit. Itu yang membuat Bunda su'udzan sama dia.."
"Bun, Rain gak salah, dia..."
"Rald!" Panggil Sulaiman menghentikan ucapan anaknya. Dan menyuruhnya untuk diam. Rald menutup mulutnya.
Sulaiman mengajak Fatma untuk duduk, dan menggenggam tangan istrinya.
"Bun, Rain perginya dari kapan?". Tanya Sulaiman dengan lembut.
"Dari sore, Yah.."
"Dari sore Bun? Ya Allah! Rain dalam bahaya!" Ujar Rald dengan khawatir.
"Bunda kenapa gak cegah dia? Bunda tau kan, kalau nyawa Rain lagi terancam?" Lanjut Rald, semakin khawatir. Lalu ia pergi.
Fatma terdiam mendengar ucapan Rald, ia memikirkan sesuatu yang buruk, yang akan terjadi kepada Rain.
"Rald kamu mau kemana?!". Teriak Sulaiman. Rald menoleh sebentar.
"Mau cari Rain sampai ketemu!". Jawabnya.
"Jangan Rald!" Teriak Sulaiman. Namun Rald mengacuhkannya. Sulaiman mengejar Rald keluar.
Ia berhasil menarik tangan Rald, lalu menahan bahunya.
"Jangan gegabah, Rald. Kamu tau kan, siapa dia sebenarnya? Bisa jadi ini jebakan yang mereka buat. Jangan sampai kamu masuk perangkapnya. Biarkan saja dia pergi.." bisik Sulaiman, memperingati Rald. Rald terdiam.
"Tapi Yah..."
"Rald, biarkan dia pergi. Kita tunggu apa yang akan terjadi nanti. Ayo masuk, jangan buat Bundamu khawatir..".
Dengan langkah pelan, Rald mengikuti Ayahnya , masuk kembali ke rumah.
"Bunda?"
"BUNDAAA!!!" Teriak dua lelaki itu, melihat wanita yang di cintainya terkapar di lantai. Fatma pingsan.
***
✨Rainy Senja✨