RAIN

RAIN
Pencarian Rain dan Rald



"Pak, Rald membawa Rain pergi" ujar Rama mengabari Ari.


"Bagaimana bisa?"


"Tadi Rald datang, lalu diam-diam dia membawa Rain".


"Cepat cari!"


"Baik Pak!"


Ari memutuskan sambungan telepon. Ia kembali menghadap Sulaiman.


"Tuan, Rald membawa Rain pergi" ucap Ari dengan grogi. Sulaiman yang saat itu sedang membaca buku langsung menatap ke arah Ari. Dengan rahang mengeras ia melempar buku di tangannya.


"Cari mereka!" Tegas Sulaiman.


"Baik tuan".


Sambil berjalan menuju parkiran, Ari mencoba menelepon Rald, namun tidak di angkat.


Ari segera bergegas untuk mencari Rald dan Rain. Akan bahaya kalau Rain kembali tertangkap oleh Brontes atau Evan.


Saat Ari hendak melajukan motornya, ia teringat Dion, biasanya Rald ada di rumahnya. Ari langsung menghubungi Dion.


"Dion"


"Iya Bang"


"Rald ada di rumah Lo gak?"


"Enggak Bang. Tapi tadi kita kumpul di markas, Rald dateng sama Rain".


"Kalian masih di markas?"


"Masih, tapi Rald sama Rain udah pergi. Katanya mau ke makam ibunya Rain"


"Ke makam Ibunya? Di mana pemakamannya?"


"Gue gak tau Bang".


"Oh, oke. Dion, gue minta tolong sama Lo dan temen-temen Lo, cariin Rald sama Rain. Kalo udah ketemu kabarin gue ya".


"Oh, oke bang. Siap" ujar Dion. Ari langsung memutuskan sambungan telepon, lalu pergi mengendarai motor.


Ari terpaksa harus menghentikan motornya saat lampu merah menyala di perempatan jalan.


"Ari!" Panggil seseorang, Ari langsung menoleh ke sumber suara yang berada tepat di sampingnya. Mata Ari membulat.


"Evan!" ucap Ari melihat Evan berada di dalam mobil di sampingnya.


Klakson berbunyi, dan lampu merah berganti lampu kuning lalu hijau.


"Minggir Ri" seru Evan.


Ari paham apa yang di maksud Evan.


Setelah melewati lampu merah, Ari menghentikan laju motornya ke jalanan yang agak sepi. Evan pun menghentikan mobilnya dan keluar.


"Mau apa Lo?!" Tanya Ari saat mereka berhadapan.


"Gue udah balikin Ara, dan gue suruh Rald bawa pulang dia". Ujar Evan to the poin. Karena ia tau Ari orangnya tidak suka basa-basi.


Tak di sangka, Ari langsung menarik kerah jaket Evan. Namun Evan tetap santai menghadapi Ari.


"Jadi selama ini Ara sama Lo?!"


"Iya. Rain adalah Ara, gue sama Ratih yang jaga dia selama ini, tapi Ratih udah meninggal tiga tahun lalu"


Plak!


Ari meninju pipi Evan, bersamaan dengan itu, Ari melepaskan cengkraman tangannya dari kerah jaket Evan. Membuat Evan tersungkur di aspal. Namun Evan kembali bangun dan berhadapan dengan Ari. Ari benar-benar murka kepada Evan.


"Lo ganti identitas Ara jadi Rain? Kenapa Lo gak balikin dia dari dulu! Lo tau gimana menderitanya Rain selama ini? Gimana menderitanya Tante Fatma kehilangan anaknya selama ini?!"


"Gue tau, tapi waktu itu Ratih selalu ngelarang gue buat balikin Ara. Tapi tenang sekarang Ara udah sama Rald. Dia balik ke rumahnya, keluarganya".


"Eh go**Lok sekarang Rald bawa dia pergi. Gak tau kemana!"


"Dia udah pulang! Tadi gue udah suruh dia pulang!".


"Dia gak ada di rumahnya, barusan gue dari sana!"


"Gawat!" Ucap Evan membuat Ari khawatir.


"Apa maksud Lo?"


"Nyawa mereka dalam bahaya! Eros lagi nyari mereka!" Ujar Evan, ia segera berlari masuk mobil, lalu melajukan mobilnya.


Ari pun segera segera menghubungi Rama untuk menambah anggota untuk mencari Rain dan Rald, lalu ia naik motor dan melaju dengan kencang melewati mobil Evan.


"Dirga! Halo Dirga!" Panggil Evan saat telepon terhubung ke Dirga.


"Cepat pulang kalau kau ingin berbicara dengan Dirga" ucap seorang laki-laki dengan suara serak. Evan mengenali suara itu.


Tuuuut!


Sambungan terputus.


"Pa!". Teriak Evan. Ia segera melajukan mobilnya dengan cepat, menuju rumahnya.


***


Setelah mengiringi Nata ke pemakaman, Rain dan Rald kembali ke rumah Nata, untuk pamitan pulang.


Setelah pamit, mereka ke tempat parkir motor.


"Rald, dari tadi ada yang telepon di hp kamu, tapi gak aku angkat" ujar Rain memberikan handphone Rald yang ia pegang. Tadi juga saat Kak Indira menelepon pakai nomor Nata, itu dari handphone Rald, karena sudah kenal dengan suara Rain, Kak Indira langsung memanggil Rain.


Rald menerimanya handphonenya. Dilihatnya banyak telepon dari Bunda, Ayah, Bang Ari, Dion dan yang lainnya. Lalu ia membuka chat dari Bundanya.


Bunda Cantik : RALD KAMU DIMANA? CEPET PULANG BAWA RAIN!!


"Siapa yang telepon Rald?" Tanya Rain. Memperhatikan wajah Rald.


"Bunda Rain. Ayo kita pulang. Bunda udah nunggu kita" ajak Rald. Lalu mereka naik motor menuju rumahnya.


Saat di perjalanan, Rain merasa ada yang aneh, karena ada satu mobil dan dua motor yang mengikuti mereka saat mereka keluar dari gerbang perumahan, rumahnya Nata.


Rain menoleh untuk memastikan apakah mereka dan Rald benar-benar diikuti atau hanya mobil yang kebetulan menuju arah yang sama.


"RALD GAWAT KITA DIIKUTIN PEMBUNUH ITU!" Teriak Rain.


"PELUK AKU RAIIIN!!" Teriak Rald, langsung melajukan motor dengan cepat. Ia meng-gas dengan kecepatan penuh. Dua motor di belakang tak mau kalah. Mereka juga melajukan motor dengan kencang, membuat posisi mereka sejajar.


Rald semakin mempercepat laju motornya, namun ia kalah cepat, ada satu motor yang melewatinya, kemudian ia berhenti di tengah jalan untuk menghadang Rald.


Rald menghentikan motornya, ia melihat kebelakang, motor dan mobil di bekang pun sudah mengepung mereka.


"Rald, gimana ini?" Ujar Rain ketakutan. Ia masih memeluk badan Rald dari belakang.


"Kamu tenang ya Rain. Kita akan baik-baik saja" ujar Rald lalu ia melepaskan pelukan Rain dan turun dari motor, dengan menggenggam tangan Rain. Rain ikut turun. Ia memeluk erat kotak silver pemberian Nata dalam dekapannya.


Seorang laki-laki keluar dari mobil dan menghampiri mereka.


"Senang bertemu dengan mu lagi, Rain. Oh Rald juga" ucap Eros menyapa mereka berdua. Eros tersenyum dingin kepada Rain yang ketakutan melihatnya. Rald berpindah posisi, ia memasang badan untuk Rain dalam menghadapi Eros. Rald menatap Mata Eros dengan tajam.


"Wah! Menarik sekali. Si pecundang ini sedang melindungi kembarannya!" Ujar Eros lalu tertawa meledek Rald, dengan menepuk pipi Rald.


"Bawa mereka! Kita dapat mangsa sekaligus dua!" Perintah Eros kepada anak buahnya. Kedua anak buahnya itu langsung menarik tangan Rald dan Rain.


"LEPAS!" Teriak Rain.


Sedangkan Rald berhasil terlepas dari tarikan tangan anak buah Eros, lalu memberikan perlawanan kepada orang itu, dengan menendang kakinya. Kemudian ada satu orang yang muncul di hadapannya. Lalu mereka berduel, satu lawan dua.


Sedangkan Rain, sudah di paksa Eros untuk ke mobil. Rain terus memberontak, namun Eros dengan kuatnya menarik tangan Rain, sampai kotak dari Nata terlepas dari tangannya. lalu Eros memasukkan Rain kedalam mobil dan membanting pintu mobil, lalu menguncinya. Dari dalam Rain berteriak meminta tolong sambil memukul kaca mobil.


Lawan Rald bertambah satu, ia jadi melawan tiga orang sekaligus. Pukulan demi pukulan mendarat di pundak, perut, wajah, dan kakinya. Sampai akhirnya Rald kehabisan tenaga. ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Rald jatuh tersungkur di aspal, tendangan itu masih mendarat di tubuh Rald. pandangan Rald lama kelamaan menjadi buram, lalu pingsan.


"RAAAALLLLDDD!!" Teriak Rain dari dalam mobil.


Dua anak buah Eros menggotong Rald dan memasukkan Rald ke dalam mobil yang sama dengan Rain. Lalu masing-masing kembali menaiki motornya dan ada juga yang membawa motor Rald.


Rain langsung meraih Rald dan menempatkan kepala Rald dalam pangkuannya.


"Rald bangun Rald.." panggil Rain sambil menyeka darah dan keringat yang bercampur di wajah Rald dengan tangannya. Rain begitu khawatir dengan Rald.


"Tetap diam kalau kamu dan kembaran mu ingin selamat Rain!" Bentak Eros. Rain langsung melipat bibirnya. Ia tak berani bersuara lagi. Hanya air mata yang keluar membasahi pipinya, melihat kondisi Rald yang mengenaskan. Rain pun ketakutan.


Siapapun, tolong Rain dan Rald


***


"Sampai kapan kau akan terus menghianati Papa, Jaya?!" Tanya Baskara dengan marah kepada anaknya, yang ia harapkan bisa menjadi penerus dirinya untuk memimpin Brontes.


"Sampai Papa tidak memusuhi keluarga tuan Sulaiman Kamal" jawab Evan Sanjaya, anak sulungnya dengan tegas. Saat itu Dirga duduk di sampingnya hanya diam dengan menundukkan kepala. Wajahnya babak belur akibat di pukuli Papanya, sebelum Jaya datang.


"Mustahil ku lakukan, Jaya.."


"Kenapa? Hanya karena harta Papa memusuhinya? Rendah sekali kedengkian Papa kepada tuan Sulaiman"


Plak!


Baskara meninju pipi Jaya.


"Ini bukan masalah harta saja Jaya! Banyak kejahatan yang telah mereka lakukan kepada kita!".


"Kejahatan apa Pa? Bukannya selama ini Papa yang memancing mereka untuk melakukan hal itu? Saat Papa kalah dari mereka, lalu Papa dendam dengan mereka? Sangat tidak lucu Pa!"


"Jaya Kau!"


"Pa, bersikaplah dewasa, pikirkan kebodohan yang Papa lakukan selama ini, yang akhirnya Papa sendiri yang rugi. Kepergian Mama, bukannya itu karena ulah Papa? Kematian Mamanya Dirga, itu ulahnya Papa juga kan? Dan semua yang berhasil tuan Sulaiman dapatkan, itu karena tindakan kebodohan yang Papa lakukan. Please, introspeksi diri Pa!" Ujar Jaya dengan tegas, dan malah menambah kemarahan Baskara.


"Bodoh kau bilang? Kau tidak tau apa yang sudah aku lakukan, dan korbankan untuk kalian! Dasar anak tidak tau di untung!"


Plak!


Lagi-lagi Baskara meninju wajah Jaya, namun Jaya sama sekali tidak melawan atau melindungi dirinya sendiri.


"Kau tidak pantas menjadi penerusku di Brontes. Juga anak sialan ini!" Ketus Baskara menunjuk Dirga. Mendengar hal itu, Dirga langsung mengepalkan tangannya.


"Gara-gara kau, anak sialan ini juga ikut berontak dan menghianati aku.. cuih!" Baskara meludahi Dirga. Kepalan tangan Dirga semakin kencang, badannya merasa panas karena marah. Ia beranjak dari tempatnya.


"Kalau begitu, aku tidak mau menjadi anakmu lagi, Pa!" Ujar Dirga dengan suara bergetar menahan amarah. Baskara dan Jaya langsung menatapnya.


"Aku tidak mau memiliki Papa seorang pendendam yang kejam seperti Papa!" Teriak Dirga melampiaskan kemarahannya.


"Dirga kau!" Bentak Baskara, saat ia hendak menghampiri Dirga, Jaya terlebih dahulu menahannya.


"Dirga, cepat keluar dari sini!" Ujar Jaya Dirga melihat Kaya melototinya, agar menuruti perintah. Segera menuruti, ia berlari keluar dan kabur membawa motornya.


Entah apa yang akan terjadi pada Jaya, Abangnya. Namun pastinya, Bang Jaya lebih bisa menghadapi Papa, di bandingkan dirinya.


Di perjalanan, Dirga tidak bisa menahan air matanya, ia sangat kecewa dengan Papanya. Sudah lama ia menahan amarah dan benci kepada Papa, dan baru kali ini ia bisa mengatakan kekesalan kepada Papanya. Dirga berniat akan pulang ke rumah Ibu.


Sambil menyetir, tak sengaja netra Dirga melihat kotak berwarna silver yang berada di pinggir jalan. Entah dorongan dari mana, ia penasaran dan ingin sekali mengambil kotak itu. Dirga memutar balikkan laju motornya untuk mengambil kotak itu.


Dirga menghentikan laju motornya tepat di samping Kotak itu. Lalu ia ambil kotak itu, dan membukanya.


"Dari Nata untuk Rain.." ucap Dirga membaca kalimat yang tertulis di kertas yang berada di dalam kotak itu. Dirga mengerutkan keningnya. Ia teringat kabar di group kelas yang mengabarkan kalau Nata meninggal dunia. Ia segera membuka handphone dan mengeceknya kembali.


Benar saja, kabar meninggalnya Nata sudah tersebar ke group kelas dan sekolah, juga banyak teman yang memasang status di sosial media, berduka atas meninggalnya Nata.


Dirga membuka salah satu foto yang di kirimkan Tania di group kelas.


Mata Dirga membulat, karena di dalam foto itu ada Rain dan Rald yang sedang duduk di bangku depan rumah Nata sambil memangku kotak berwarna silver.


Dirga mengalihkan pandangannya ke kotak yang di pegangnya.


"Ini punya Rain dari Nata?" Tanyanya pada diri sendiri. Dirga penasaran apa lagi yang ada didalamnya. Ia mengambil kertas yang menutupi, terlihat ada jepitan rambut dan pita merah putih, juga ada buku berwarna coklat. Dirga langsung membukanya.


Ia perhatikan lembar demi lembar kertas yang berisi foto Rain juga Nata, ada juga tulisan Nata di samping foto.


"Gila si Nata, niat bener bikin beginian.." gumam Dirga sambil berdecak. Lalu ia tersadar, ada yang mengganjal dengan penemuan kotak silver itu.


"Kalau ini dari Nata untuk Rain, gak mungkin Rain ngebuang kan?"


Mata Dirga membulat. Ia teringat perintah yang diberikan Papanya kepada Eros.


"Jangan-jangan Rain udah ketangkep si Eros?!" Ujar Dirga sambil memikirkan.


Ia mengembalikan buku kedalam kotak dan menutupnya. Lalu ia masukkan kotak itu kedalam jaket yang di kenakan. Kemudian Dirga menancap gas, melajukan motornya menuju markasnya. Ia akan meminta bantuan kepada anggota gengnya untuk mencari Rain.


***