
"Apa kamu sudah menemukan Rain?". Tanya pria paruh baya, bernama Sulaiman Kamal Nasution. Yang lebih akrab di panggil tuan Kamal oleh anak buahnya. Ia meminta hasil dari tugas yang di berikannya kepada Ari, anak buahnya.
"Saya hanya menemukan ini, di tebing dekat alun-alun. Dan kehilangan jejaknya..". Ujar Ari memberikan gelang karet milik Rain yang diberikan Adel, sewaktu menjenguknya di rumah sakit.
Sebelum masuk kamar rawat Rain, Adel sempat memamerkan gelang buatannya untuk di berikan kepada Rain. Ari meminjam gelang itu untuk melihat, lalu memuji gelang hasil buatan Adel. Di situlah Ari mengambil kesempatan untuk menyimpan alat pendeteksi keberadaan seseorang yang memang sudah ia siapkan sebelumnya.
"Kamu menemukan ini di tebing?" Ujar Kamal Mengambil gelang itu dan memperhatikan dengan seksama.
"Iya tuan, sepertinya dia sudah tau tentang alat ini, dia sengaja membuang ini di sana..." Ujar Ari menghentikan ucapannya, melihat Kamal yang terlihat memikirkan sesuatu, sambil memperhatikan gelang itu.
"Kenapa Tuan? Apakah ada hal yang mengganggu pikiran anda?" Tanya Ari dengan hati-hati.
Kamal mengangguk. Matanya masih memperhatikan gelang itu.
"Gelang ini di temukan di tebing. Apa kamu melihat sesuatu yang janggal di sana?" Tanya Kamal. Ari mengerutkan keningnya.
"Sesuatu yang janggal? Hmm, Tidak, saya hanya menemukan gelang itu"
Kamal terdiam agak lama. Ari memperhatikan tuannya itu. Tak berani mengucapkan sepatah katapun.
"Ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.." Lanjut Kamal bergumam.
Ari mengerutkan keningnya, tak paham. Kamal menggenggam gelang itu, lalu menoleh ke arah Ari.
"Tetap cari gadis itu, dan cari lebih dalam informasi mengenai gadis itu. Karena informasi yang kita dapatkan tentang gadis itu, masih sangat meragukan.." Ujar Kamal, lalu beranjak dari duduknya. Ari ikut beranjak dari duduknya, menghadap Kamal yang membelakanginya.
"Meragukan bagaimana? Sudah jelas dia adalah anak Evan Sanjaya, cucu dari Baskara ketua brontes. Mereka pasti saling bekerja sama untuk kembali mencari masalah dengan kita..." Kata-kata Ari terhenti saat Kamal berbalik, dan memberikan kode dengan tangannya agar Ari diam.
"Ya, yang kita ketahui seperti itu. Tapi kita belum tau lebih dalam mengenai gadis itu. Saya merasakan kejanggalan tentang gadis itu, dari cerita Rald dan beberapa hal yang terjadi..."
"Kejanggalan seperti apa?"
Kamal menjelaskan kejanggalan-kejanggalan yang dipikirkannya tentang Rain. Ari mendengarkan dengan seksama. Sambil manggut-manggut, karena apa yang di katakan Kamal, ada benarnya. Dan hal-hal itu bisa jadi ada kaitannya, juga cerita yang di ceritakan Rald, padanya.
"Tolong cari Gadis itu, dan cari lebih banyak informasi tentangnya. Karena kita belum bisa menyimpulkan siapa dia sebenarnya, sebelum ada keterangan yang lebih valid.." Kamal menghentikan ucapannya. Lalu tersenyum
"Bisa jadi dia adalah keberuntungan untuk kita..". Lanjutnya.
****
Setelah makan malam, Rain membantu Neneknya mencuci piring dan membersihkan tempat makan. Sedangkan Dirga pergi ke luar, dan duduk di hamparan rumput, sambil memandang lampu-lampu kota yang terlihat dari tempatnya.
"Nek, aku ke luar dulu ya" ujar Rain, setelah menyimpan piring terakhir yang di cucinya di rak piring, lalu membuka celemek dan mengaitkan di kapstok. Neneknya sedang minum di bangku.
"Iya Rain. Tapi jangan terlalu larut ya, udaranya semakin dingin..." Ujar Nenek, Rain mengangguk.
"Bilang juga ke Om mu itu jangan begadang di luar.." lanjutnya lagi.
"Baik Nek..". Ujar Rain.
Lalu ia keluar rumah, menghampiri Dirga.
"Malam Om..." Sapa Rain, lalu duduk di samping Dirga yang sedang duduk berselonjor, kedua tangannya di belakang, menyangga badannya. Dirga menoleh lalu berdecak.
"Ogah gue di panggil Om!" Komentarnya.
"Lagian ogah juga gue manggil Lo Om. Iiihh..." Elak Rain.
"Terus, kenapa tadi manggil gue Om?"
"Ya kan Lo Om gue. Isshh gak nyangka gue punya Om berandalan kayak Lo!"
"Dih, gue juga gak nyangka punya keponakan cengeng kayak Lo!" Ujar Dirga membalikkan.
"Gue gak cengeng! Keadaan yang membuat gue nangis..." ujar Rain berdalih.
"Ck.. Di mata gue, Lo tetap cewek cengeng yang hampir mati konyol karena menyerah sama keadaan.." ujar Dirga, Sambil melirik Rain. Rain melototinya.
"Itu karena gue tau persis apa arti dari air mata gue. Karena hidup gue amat sangat menyedihkan. Gue yakin, kalo lo jadi gue, Lo akan melakukan hal yang sama!" Ketus Rain kesal. Lalu mengalihkan pandangannya dari Dirga.
Ia memandang lampu-lampu kota yang menghiasi malam, seperti bintang yang bertaburan menghiasi langit.
"Enggak jadi Lo aja, gue pernah melakukan hal yang sama, berkali-kali malah. Tapi selalu gagal.." ujar Dirga pelan. Tapi masih bisa terdengar di telinga Rain. Rain langsung menoleh kearah Dirga.
Dirga memandang pemandangan di depannya dengan sayu.
Untuk pertama kalinya, Rain melihat Dirga dengan tatapan yang sayu seperti itu. Tidak seperti biasanya. Tatapan yang tajam dan arogan.
"Waktu kelulusan SD, gue berhasil menjadi murid terbaik di sekolah. Tapi saat itu Papa gak hadir di acara. Cuma Bang Jaya yang hadir di acara itu. Sampai di rumah, gue langsung cari Papa sampai akhirnya ketemu Papa di taman belakang rumah, dia lagi sama teman-temannya. Gue teriak manggil Papa, dan pamer ke semua orang di sana, karena gue menjadi murid terbaik di sekolah..."
"Semua orang di sana muji gue, kecuali Papa. Dia bilang"
"apa yang harus di banggakan? Itu bukan suatu kebanggaan!"
"Setelah bilang begitu, Papa pergi. Ck, padahal gue udah mati-matian belajar buat nyenengin dia..."
"Dua minggu setelah kejadian itu, gue di palak dan bully sama preman jalanan. Gue pulang ke rumah dalam keadaan babak belur. Saat Papa liat gue, dia bukannya kasihan sama kondisi gue, tapi malah nambahin pukulan dan tendangan di badan gue....".
Lagi-lagi, Dirga menarik nafas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya. Rain menyimak cerita Dirga dengan mata berlinang. Ia membayangkan sakit yang di rasakan oleh Dirga saat itu.
"Bagi gue pukulan dan tendangan Papa tidak lebih menyakitkan di banding perkataan dia setelah mukulin gue. Saat itu pandangan gue udah kabur. Tapi pendengaran gue masih tajam.
"Anak gak guna! Gak ada yang bisa di banggakan dari tikus kecil ini! Lebih baik dia mati, dari pada bikin malu, karena gak bisa ngelawan berandalan itu!"
Dirga meringis, lalu berpindah posisi, ia melipat kedua kakinya, sedangkan dua tangannya memeluk kakinya. Rain masih terus menyimak. Ia begitu iba dengan Dirga. Rain masih beruntung, setidaknya meskipun Rain mengalami luka fisik akibat serangan penjahat itu, dia tidak luka batin, di rendahkan oleh orang tersayangnya.
"Setelah itu, gue di kurung seminggu, gara-gara gak bisa ngelawan preman-preman itu. Selama masa kurungan, gue udah mencoba bunuh diri berkali-kali. Tapi selalu gagal, karena keburu di tolong sama anak buah Papa. Setelah masa pengurungan selesai, gue di didik lebih keras lagi sama Papa. Empat bulan Gue di latih ilmu bela diri dan cara menggunakan berbagai senjata tajam sama pelatih yang bener-bener kejam.." Dirga tersenyum meringis.
"Kalo gue salah atau gak bisa, Gue di pukul, di jemur, atau di rendem, ah, segala macam cara dia lakuin ke gue..."
"Saat itu, gue beneran kayak di ambang kematian. Gue sempat di rawat sebulan di rumah sakit. Sampe dokternya marah-marah ke anak buah papa yang bawa gue ke rumah sakit. Beberapa hari pulang dari rumah sakit, gue kira udah selesai latihannya, tapi ternyata, gue terus di latih lagi. Sampai akhirnya gue udah bisa semua yang di ajarin. Di situlah gue berubah menjadi cowok berandalan, arogan, gue bikin geng, dan balas dendam ke semua orang yang pernah ngebully gue..."
Dirga menghentikan ceritanya, ada air mata yang keluar dari sudut matanya, dan carian bening yang keluar dari hidungnya, segera ia hapus dengan lengan bajunya.
Rain memandangi wajah Dirga dari samping.
Ternyata ada kisah yang sangat pilu dan menyakitkan di balik semua sikap buruk Dirga, yang selama ini, Rain lihat. Rain merasa iba dan kasihan kepadanya.
"Dirga, Lo hebat, Lo mampu melewati hal-hal menyakitkan itu. Meskipun Lo terpaksa melakukan hal yang sebenarnya gak mau Lo lakukan, tapi Lo tetap melakukannya. Gue salut, sama Lo...". Ujar Rain, meraih tangan Dirga, lalu menggenggamnya, matanya masih memandang wajah Dirga. Dirga menoleh kearah Rain. Tatapan mata mereka bertemu.
"Rain..." Panggil Dirga.
"Iya?". Jawab Rain. Dirga malah terdiam, lalu mengalihkan pandangannya dari Rain, dan melepaskan genggaman tangan Rain.
"Kenapa Ga?" Tanya Rain, sambil terus melihat ke arah Dirga, menunggu kata-kata yang hendak di katakan Dirga. Dirga menggeleng.
"Enggak..."
Rain kembali memandang pemandangan di depannya.
"Gak apa-apa, kalau emang sulit buat ngomong lagi. Gak usah di lanjutin. Saat mengingatnya, pasti terasa sangat menyakitkan..." Ujar Rain.
Hening.
Mereka diam dalam pikiran masing-masing.
"Thanks Rain, Lo orang pertama yang denger cerita masa lalu gue.." ujar Dirga, membuat Rain menoleh ke arahnya lagi, dengan mengerutkan keningnya.
"Serius. Lo orang pertama dan satu-satunya yang gue ceritain tentang masa lalu gue. Bahkan gue gak pernah cerita sama Bang Jaya, Ayah Lo. Meskipun dia orang paling dekat sama gue, bahkan Ibu juga enggak tau...". Lanjut Dirga, menoleh ke arah Rain. Rain memberikan senyuman, yang malah membuat Dirga salah tingkah, dan memalingkan wajahnya.
"Udah gak usah senyum. Jangan kegeeran. Ini cuma kebetulan...." Ujar Dirga gengsi. Rain semakin tersenyum.
"Thanks Ga, karena lo mau cerita ke gue. Gue gak nyangka bisa sedekat ini sama lo, apalagi baru tau, ternyata status kita sebagai Om dan keponakan. Hmm... memang gak ada yang kebetulan dalam sebuah takdir, ini memang sudah di rencanakan oleh sang pembuat Takdir..." Ujar Rain memandang langit.
Mendengar itu, Dirga tersenyum, lalu memandang langit.
"Iya, semua ini sudah ada yang merencanakan. Meskipun dalam menjalaninya tidaklah mudah..." Ujar Dirga.
Mereka berdua bersama memandang langit dengan tersenyum.
"Udah semakin malam" ujar Rain, ia beranjak dari tempatnya.
"Gue masuk dulu ya... Hmmm, Oya, Nenek titip pesan tadi, katanya Lo jangan begadang di luar" lanjut Rain lagi menyampaikan pesan Neneknya. Dirga mengangguk. Baru beberapa langkah, Dirga memanggilnya. Membuat Rain berbalik badan ke arahnya.
Saat Rain berbalik, Dirga sudah berdiri di hadapannya, Namun ia masih terdiam menatap Rain. Rain menatap balik ke Dirga, menunggu apa yang akan di katakannya.
"Rain, apapun yang terjadi, meskipun itu sangat menyakitkan, tetaplah hidup. Jangan menyerah. Kalau kamu bertahan, kamu adalah pemenangnya...." Ujar Dirga dengan lembut. Rain mengangguk pelan. Ia tersentuh dengan kata-kata Dirga, berbarengan saat itu juga, suasana menjadi canggung. Karena sikap Dirga yang berbeda dan ia menggunakan kata ganti 'kamu' untuk menyebut Rain.
"Yaudah, gu-gue duluan..." Ujar Rain, menunjuk ke belakang, lalu pergi.
Dirga menatap kepergian Rain yang berjalan menuju rumah dengan senyuman.
"Rain, keponakan gue.. Ck.. ck.. Hmm, Ya, gak ada yang kebetulan, ini semua sudah takdir...". Ujarnya sambil menggelengkan kepalanya pelan.
****
✨Rainy Senja✨