RAIN

RAIN
1



Di sebuah ruang kelas yang cukup luas, dengan dinding berwarna putih, dan bangku-bangku yang berjajar rapi itu, terlihat seorang anak laki-laki duduk di bangku paling depan, tepat berada di depan meja guru. Nama anak laki-laki itu Alvaro Dewantara, dia anak yang tampan dengan perpaduan wajah orang Asia dan Eropa.


Ruang kelas masih sepi belum banyak anak-anak yang datang kesana, hanya beberapa anak saja yang sudah datang yang rata-rata memang anak-anak yang rajin.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 06:37 baru kelas tersebut mulai ramai oleh penghuninya. Padahal, delapan menit lagi bel masuk akan segera berbunyi. Seorang gadis cantik berambut panjang yang tergerai indah hingga pinggang, dengan jepit rambut yang terpasang manis di rambut hitam lurusnya, berlari dan berhenti di depan pintu kelas. Dia menghela nafas lega setelah sampai disana dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat berlarian tadi.


"Aro kamu bawa minum gak? Aku haus habis lari-lari dari depan sekolah sampe kelas, aku kira udah telat tadi." tanyanya kepada anak laki-laki yang duduk di bangku paling depan.


"Gak bawa. Kenapa? Bangun telat lagi? Dasar kebiasaan."


Gadis itu hanya cengar cengir mendengar perkataan Aro, dia memang sering bangun telat karena maraton nonton drama korea kesukaanya. Namanya Naraya Safira, dia gadis cantik dan lembut, walau kadang sedikit keras kepala dan manja, tapi dia sahabat yang baik.


Nara pergi ke bangkunya yang berada di deretan bangku nomor dua. Iya, bangkunya berada di belakang bangku Aro. Mereka berdua bersahabat sejak SMP, lebih tepatnya bertiga bukan berdua, masih ada satu lagi, yang sepertinya akan terlambat datang.


"Aro, Rein belum datang? Atau dia sedang keluar kelas?" bisiknya karena guru sudah datang tepat saat Nara baru mendudukkan dirinya di kursi.


"Kamu lihat sendiri, dia belum datang" kata Aro juga berbisik pelan.


Suara ketukan memecah keheningan di kelas tersebut. Guru mata pelajaran bahasa inggris yang sedang mengajar menghentikan sementara kegiatannya dan melangkahkan kaki untuk membukakan pintu kelas. Siapa yang datang? Siapa lagi kalau bukan Rein, hanya dia yang sekarang belum datang di kelas itu.


Saat pintu itu dibuka, gadis cantik dengan rambut hitam panjang, dan lurus yang dikuncir kuda, tengah berdiri di depan pintu dengan memasang senyum canggung. Dia terlihat begitu malu karena datang terlambat hari ini.


Guru itu bertanya mengapa ia terlambat datang sebelum mempersilahkanya masuk. Rein menjawab, tadi ban motornya bocor dan tukang tambal ban cukup jauh dari sana, sehingga dia harus mendorong motornya mencari tempat tambal ban. Setelah itu ia buru-buru memesan ojek online untuk mengantarkanya ke sekolah, tapi tetap saja dia terlambat datang.


Setelah dipersilahkan masuk kelas, buru-buru Rein duduk di bangkunya. Wajahnya terlihat kelelahan dengan peluh yang masih mengucur di dahi dan leher jenjangnya. Aro mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan menyerahkan sapu tangan itu kepada Rein. Rein menerimanya dan mengucapkan "Terima kasih" kemudian mulai menyeka keringat di wajah dan lehernya menggunakan sapu tangan milik Aro.


Aro mengangguk sebagai jawaban, dan kembali mengarahkan perhatian penuhnya untuk pelajaran yang sedang berlangsung. Dia memang anak yang rajin dan pintar di sekolahnya, juga begitu tampan. Banyak gadis yang menyukainya, tapi tak pernah bisa merebut hati Aro. Dia terlalu sibuk untuk belajar, bahkan tidak pernah merasakan pacaran sebelumnya. Walaupun begitu, Aro tetap bersikap baik kepada setiap gadis yang menyukainya, dia tidak ingin melukai hati gadis-gadis tersebut.


Terima kasih udah mampir ke novel ini..


Jangan lupa favorit, like, dan komen. Dukungan kalian akan sangat membantu.


Terimakasih..