
Jam menunjukkan pukul 19:29 malam, Nara tengah sibuk berkutat dengan tugas sekolahnya. Sudah sejak dua puluh menit lalu dia berusaha keras menyelesaikan tugas tersebut, namun tidak satu soal pun yang ia mengerti. Soal-soal fisika yang dia kerjakan harus selesai malam ini juga, karena besok terakhir di kumpulkan. Nara mulai frustrasi melihat rumus-rumus yang tidak ia pahami itu. Padahal, Nara ingin segera menyelesaikan tugasnya dan kembali menonton K-Drama favoritnya.
Nara teringat, bukankah Aro sahabatnya adalah juara kelas? Bahkan mungkin dia murid terpintar seangkatanya. Nara segera mengemasi buku-bukunya ke dalam tas dan bergegas pergi kerumah Aro.
Nara begitu bersemangat karena ingin segera menonton K-Drama yang kemarin malam belum selesai ia tonton. Dia berlari menuruni anak tangga rumahnya, dan menyambar kunci motor di atas meja.
Nara melajukan motornya pelan menikmati jalanan yang masih ramai, lagipula jarak rumahnya dan Aro tidak terlalu jauh. Angin malam terasa begitu dingin menusuk tulang, Nara lupa membawa jaket. Sudahlah, dia rela kedinginan asalkan soal-soal itu segera selesai, supaya dia bisa secepatnya menonton K-Drama.
Nara tiba di sebuah rumah besar berlantai dua, bercat putih gading yang terlihat elegan, halaman rumah itu luas dengan beberapa pohon besar tumbuh disana. Bunga-bunga indah yang terawat dengan baik, dan rumput hijau di halaman terlihat segar.
Nara mengetuk pintu rumah itu, tidak lama seseorang membukanya dari dalam. Seorang wanita berusia empat puluh tahun dengan paras yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi. Tersenyum hangat kepadanya, Nara menyapa dan mencium tanganya.
"Tante Iren, Aro ada dirumah?"
"Ada, ayo masuk biar tante panggilin."
Nara duduk di sofa ruang tamu, tidak lama mamanya Aro kembali datang. "Aro masih mandi, kamu tunggu bentar."
Beberapa menit Nara menunggu, akhirnya Aro datang, dia terlihat segar dengan rambut yang masih basah. Aro mengenakan kaos putih polos dan celana kain selutut. "Ada apa? Tumben malem-malem kesini, pasti ada maunya." ucap Aro setibanya di dekat Nara.
Nara cengar cengir mendengar perkataan sahabatnya yang memang tepat sasaran. Dia merasa malu sendiri karena setiap datang selalu meminta bantuan mengerjakan tugas, sampai - sampai Aro hafal dengan itu.
"Yaudah, ayo ke kamarku aja aku ajarin. Kalau cuma nyalin tugas mulu kapan kamu pinternya." Aro mengacak poni Nara, membuat dia memanyunkan bibirnya. Nara memang anak yang manja, termasuk kepada kedua sahabatnya. Diantara mereka bertiga Nara adalah yang paling manja dan kekanakan.
" Gak usah dimanyunin mulutnya, entar kayak ****** loh." ejek Aro sambil tertawa.
"Enak aja, mana ada monyet secantik aku." balasanya tidak terima.
"Emang situ cantik?" ejek Aro kembali yang mendapat dengusan kesal dari Nara. Mereka berdua berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Aro. Kamarnya luas, ada rak buku dengan buku-buku berjajar rapi. Ranjang berukuran besar berada di tengah-tengah ruangan berwarna putih itu, meja belajar berada di samping jendela berukuran besar yang mengarah langsung ke halaman depan.
Mereka duduk bersebalahan, Nara mengeluarkan kembali buku-bukunya yang tadi ia bawa. Aro mulai menjelaskan semua yang Nara tidak mengerti, dia mengajari dengan sabar dan telaten. Mengulang kembali penjelasanya ketika Nara belum juga paham,bahkan hingga berkali-kali.
Nara memperhatikan Aro yang yang sedang menjelaskan. Dia baru sadar, ternyata sahabatnya satu ini tampan juga. Apa yang dia pikirkan? Kenapa malah memperhatikan Aro? Harusnya, dia fokus pada penjelasan yang dia berikan, bukan orangnya. Lagian, Aro itu cuma bule lokal yang super nyebelin.