RAIN

RAIN
Misi yang Gagal



"Rain, kertas ini, aku pegang yaa..." Ujar Rald. Tak di sangkanya, Rain langsung merebut kertas itu.


"Maaf Rald, aku gak bisa kasih kertas ini ke kamu!". Ujar Rain, lalu kembali ke kasurnya. Rald terdiam menatap Rain, yang memasukan kembali kertas ke diary nya.


"Rain, feeling kamu belum tentu benar.." ucap Rald, masih menatap Rain. Rain menoleh kearah Rald.


"Tapi aku yakin, Rald.."


"Keyakinan kamu belum tentu benar juga. Lagi pula Ara sudah meninggal, Rain.."


"Aku akan buktikan ke kamu Rald. Kalau feeling dan keyakinan aku benar!"


"Rain, please. Mungkin ini cuma manipulasi..." Rald menghentikan ucapannya, hampir saja mengucapkan kalimat yang dilarang Ari, untuk mengatakannya ke Rain.


"Manipulasi apa Rald?"


"Eng... Enggak"


"Manipulasi apa? Kamu pikir Ayah aku melakukan manipulasi gitu? Kamu gak kenal ayah aku, Rald! Jaga ya, omongan kamu! Meskipun sekarang Ayah ninggalin aku, aku gak suka kalau ada orang yang menjelek-jelekkan Ayahku!" Ujar Rain dengan ketus.


Rald kembali terdiam. Ingin sekali mengatakan yang sebenarnya kepada Rain, tentang Ayah Rain yang di ketahui Rald dari Ari.


"Rald, aku mau istirahat.." ujar Rain pelan, mengalihkan pandangannya.


Rald paham maksud Rain, ia meminta Rald untuk keluar dari kamarnya. Tanpa berkata-kata, Rald keluar kamar.


***


"Bang, Lo dimana?"


"Kontrakan, kenapa?"


"Gue ke sana!"


Tuuuutt


Rald memutuskan sambungan telepon dengan Ari. Ia segera pergi menuju rumah kontrakan Ari.


Sampai di kontrakan Ari, ia langsung masuk setelah mengucapkan salam, lalu duduk di samping Ari yang sedang memainkan handphonenya.


"Bang, gue gak abis pikir sama si Rain!" Gerutu Rald.


"Kenape?" Tanyanya acuh.


"Masa dia bilang Ara masih hidup!"


"Eh, apa?!" Tanya Ari menoleh kearah Rald, kaget.


"Ck! Buang hpnya!!" Omel Rald, Ari nyengir, ia langsung menyimpan handphone nya di meja.


"Kenapa, ayo coba ngomong, gue dengerin nih..". Ari mendekatkan telinganya ke wajah Rald.


Rald menjauhkan kepala Ari dari hadapannya.


"Rain bilang, Ara masih hidup!"


"Tau dari mana dia?"


"Dari feeling dan keyakinan dia gara-gara tiga kertas silver tulisannya nama lengkap Ara"


"Arainy... Xaviera... Emeralda?!" Sela Ari, mengingat nama Ara.


"Iya Bang"


"Kok bisa?"


"Soalnya dia dapetin kertas itu dari orang tuanya. Gak tau aja dia, orang tuanya sebenarnya siapa".


"Yaelah, Lo baperan banget sih!"


"Oya Bang, nama Ibunya Ratih. Gue yakin deh, itu Ratih yang selama ini Lo cari". ujar Rald, mengacuhkan ledekan Ari. Dan mengalihkan pembicaraan, ke hal yang ia ingat, dari Rain.


"Nama Ratih banyak cuy!"


"CK! Ratih Chandra Kirana! orang itu kan, yang Lo cari?!"


Ari terdiam mendengar nama lengkap Ibunya Rain. Sesuatu terpikirkan oleh nya.


"Tapi Ibunya udah meninggal, kan?!"


"Iya, ibunya udah meninggal"


"Lo tau gak, meninggalnya kenapa?".


Rald menceritakan tragedi yang menyebabkan Ibunya Rain meninggal, sesuai dengan apa yang di ceritakan Rain tadi siang. Ari manggut-manggut, mendengarkan, diam-diam Ari merekam pembicaraan dan cerita Rald.


"Ooh, jadi gitu ceritanya..." Ujar Ari, di akhir cerita Rald.


"Serius Lo?". Tanya Ari. Rald melirik sinis ke Ari.


"Lo kira gue bercanda?!" Ketusnya.


"Bisa jadi!". Ledek Ari.


"Gak lucu!". Lagi-lagi Rald berkata dengan ketus.


"Yaudah, iya serius"


"Gue mau secepatnya Lo tangkep si Eros. Gue yakin dia tau apa yang terjadi selama ini.."


"Eeh, Lo kira nangkep mafia kelas kakap, segampang nangkep tikus got! Susah tau, sesusah nyatain cinta Lo ke Rain!" Ledek Ari, ia segera beranjak dari duduknya menghindari pukulan Rald, lalu ke dapur mengambil minum.


"Kupreeeet Lo, Bang!!" Teriak Rald.


Tak lama Ari muncul dari dapur membawa dua gelas berisi air minum.


"Nih minum dulu, biar hati Lo adem" ujar Ari memberikan gelas di tangan kanannya kepada Rald. Rald menerima gelas langsung menyeruput airnya hingga tandas.


"Gilee aus Lo, bos!!".


Rald mengacuhkannya.


Ari kembali duduk di samping Rald.


"Bang, Rain bilang, dia mau cari Ara sampe ketemu"


"Pppffftt!!" Ari memuncratkan air yang ada di mulutnya.


"Iiiiss...!!!". desis Rald, melihat respon Ari, seperti itu.


"Cari Ara?"


"Iya. Dia ngotot bang, kalo Ara masih hidup. Dia bilang akan buktiin ke gue, kalo Ara masih hidup. Gue gak habis pikir sama dia, cuma bermodalkan feeling sama keyakinannya, dia mau cari Ara yang jelas-jelas udah meninggal!"


"Kalo gitu, kita cari Ayahnya!"


"Hah?"


"Eh, si budek! Satu-satunya cara supaya tau maksud nama Ara di kertas itu, kita cari Ayahnya. Terus kita tanya langsung tentang itu!"


"Gue setuju bang. Yuk kita cari Ayahnya". Seru Rald dengan senang, ia langsung beranjak dari duduknya. Ari menatap Rald sambil memicingkan matanya.


"Sumpah deh, Lo kayak Tante Fatma, gak sabaran!"


"Gue anaknya!"


"Iya sih"


"Cepetan ah, kita gak punya waktu"


"Sabar Broooo!".


Rald sudah keluar rumah duluan, Ari menyusul.


Baru saja naik motor, handphone Ari berdering, ada panggilan masuk.


"Bentar Rald" Ari turun kembali dan menjauh dari Rald.


Setelah menerima telepon, Ari menghampiri Rald.


"Bro, gue gak bisa sekarang. Ada tugas dadakan nih..". Ujar Ari sambil menunjuk handphonenya.


Rald berdecak kesal.


"Nanti lagi ya Rald, cari Ayahnya Rain. Kan bisa di lain waktu. Lo paham lah tugas gue.."


"Hmm...". Jawab Rald hanya berdeham, kesal.


Kebiasaan Ari, selalu membatalkan rencana secara


dadakan, karena tugasnya.


"Udah gak usah ngambek ih...". Ledek Ari, jahil menoel dagu Rald. Rald menepis tangan Ari.


"Gue cabut!". Ujar Rald dengan ketus. Menggas motor, lalu melaju dengan kencang.


"Hati-hati!!!" teriak Ari, melambaikan tangannya.


***


✨Rainy Senja✨