
Dua anak buah Eros menyeret Rain dan Rald keluar dari mobil, dan mengikat tangan Rain dan Rald kebelakang. Lalu salah satu dari mereka kembali masuk mobil ke tempat Rain dan Rald, dan keluar memberikan handphone Rald ke Eros.
"Kalian berdua gak akan bisa selamat setelah ini!" Ujar Eros lalu menyeringai. Ia membanting handphone Rald ke aspal. Sampai layar handphone itu hancur kemudian diinjak dan di tendangnya ke tengah jalan, bertambah hancur handphone Rald.
Melihat itu, Rain merinding, semakin ketakutan, Rain kembali menangis dengan menahan suara. Sedangkan Rald, ia menatap wajah laki-laki itu dengan penuh kemarahan. Ia sempat menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari cengkraman anak buahnya yang saat ini sedang mencengkeram bahunya.
"Masukin lagi mereka. Tutup mulutnya sekalian!" Perintah. Eros kepada anak buahnya, yang langsung di turuti.
***
"Om, si Rald ngirim share loc ke gengnya" ucap Dion membaca chat yang di kirim Galang ke kontak yang di beri nama OmRos, dan langsung ada jawaban darinya.
"Sial*n!"
Galang, laki-laki itu yang selama ini menjadi incaran Silent Boom. Rald meminta Panji untuk mengawasi Galang, setelah kejadian Galang memfitnah Rain, sampai Rain di skors dari sekolah.
Banyak hal yang mengejutkan yang Panji dapatkan mengenai Galang, yang langsung ia laporkan kepada Rald dan Dion. Salah satunya adalah Galang merupakan anak buah Eros. Namun mereka masih diam tidak memberi tau yang lainnya dan terus mengumpulkan informasi tentang Galang.
"Ada penghianat rupanya di geng Lo, Ga!" Sindir Dion, pura-pura tidak tau mengenai hal itu. padahal Dion dan Rald lebih tau, siapa Galang sebenarnya daripada Dirga sang ketua The Black Wolf.
Dirga yang sedari tadi memperhatikan Dion, mengalihkan pandangannya kearah Galang begitu juga tatapan semua anggota geng langsung mengarah ke Galang yang terciduk akan tindakannya.
Sedangkan Galang terdiam salah tingkah karena tatapan yang lainnya yang terlihat mengintimidasi Galang.
Dirga langsung menghampiri Galang, ia melayangkan tangan menonjok wajah Galang.
"Ga, gue bisa jelasin.." ujar Galang yang sudah mendapatkan tonjokan dari Dirga di pipi kirinya.
"Penjelasan apa Ban*s*t! Muak gue sama penghianat kayak Lo!"
Dirga kembali melayangkan tangannya untuk menonjok Galang, namun Galang langsung menahan tangan Dirga yang hampir mendarat di pipinya lagi, ia langsung melepaskan tangan Dirga dengan kasar.
"Lo gak bisa seenaknya lagi sama gue Ga! Gue juga udah muak sama Lo Ga! Selama ini Lo selalu bertindak semau Lo tanpa mikirin yang lain! Lo ngelakuin apapun sesuka Lo! Bahkan Lo malah ngebelain cewek yang gue benci Ga!" Ujar Galang dengan meluapkan amarahnya.
"Rain itu keponakan gue t*l*l. Udah semestinya gue belain dia dari cowok b*jing*n kayak Lo!".
Plak!
Kali ini Galang yang malah menonjok Dirga, sampai Dirga tersungkur karena kehilangan keseimbangan, Galang menarik kerah jaket Dirga.
"Wooii!" Seru anggota yang lain, bahkan Dewa dan Tio yang berniat melerai mereka, di tendang oleh Galang. Sedangkan geng Silent Boom hanya memperhatikan pertengkaran antara ketua dan anggota The Black Wolf .
"Gue tegasin sama Lo Ga! Cewek itu bukan keponakan Lo! Dia anak dari musuh Papa Lo, di kembaran si b*Ng*s*t Rald!" Tegas Galang, kembali menonjok Dirga, yang tak memberikan perlawanan atau perlindungan diri karena mendengar pernyataan dari Galang.
Dirga begitu syok mendengarnya. Hal itu juga membuat Dion, anggota Silent boom dan anggota the Black Wolf kaget.
Galang menyeringai melihat ekspresi kaget di wajah Dirga.
"Cih! Baru tau kan Lo!"
Saat Galang hendak menonjok Dirga lagi, Dion terlebih dahulu menahan tangan Galang dan memerintahkan Dewa, Tio dan Panji menahannya, dan menjauhkan Galang dari Dirga.
Dion mengulurkan tangannya kepada Dirga. Namun Dirga tidak menyambutnya. Ia masih terdiam dengan tatapan kosong ke aspal. Dirga masih tidak menyangka kalau Rain adalah kembarannya Rald. Kenapa Bang Jaya harus berbohong kepadanya dan tidak pernah memberitahu kebenarannya?
"Ga, sekarang bukan waktunya mikirin apa yang di omongin Galang tadi. Kalo Lo mau kebenarannya ayo kita cari Rald sama Rain yang sekarang lagi butuh bantuan kita. juga, supaya kita tau kebenarannya..." ujar Dion menyadarkan Dirga.
Dirga menengadahkan kepalanya kearah Dion. Dion mengangguk kepalanya, dan menggerakkan tangannya yang terulur agar Dirga mau menerima bantuannya.
Dirga meraih tangan Dion lalu ia berdiri.
"Kalian kalau masih tetap setia sama Dirga sebagai ketua geng, ikutin dia. kita cari Rain dan Rald bareng-bareng!" Ujar Dion kepada Geng The Black Wolf dengan tegas. Namun mereka malah diam dan saling melempar pandangan karena bingung.
"Untuk kali ini gue bebasin kalian mau bantu atau enggak. Terserah kalian" ujar Dirga berbicara kepada anggotanya.
"Gue ikut lo Ga!" Ujar Deni, lalu di sahuti dengan yang lainnya.
Sementara itu, Galang yang masih di pegang oleh Dewa dan Panji melirik ke arah Dirga dengan sinis.
"Lo gak akan bisa ngalahin Om Eros, apalagi Papa lo Ga! Karena Lo cuma cowok pengecut.. hhmmphh!!" mulut Galang langsung di tutup menggunakan kain oleh Panji setelah mengucapkan kalimat itu. Dan dia di bawa pergi oleh Panji dan Alan untuk diamankan sesuai perintah Dion.
Hinaan Galang sangat menjatuhkan rasa percaya diri Dirga. Dirga memang selalu di cap sebagai cowok pengecut oleh Papanya.
"Jangan dengerin dia Ga. Kita pasti bisa ngalahin mereka. Lo bukan pengecut Ga. dan sekarang kita bersatu. Ayo, kita gak ada waktu. Lo komandoin kita buat ke tempat itu!" Ujar Dion dengan semangat. Dirga mengangguk mendapatkan kembali rasa percaya dirinya.
Masing-masing kembali ke motornya, dan berkonvoi menuju tempat yang sudah di share oleh Rald.
***
"Tuan, kami mendapatkan share loc dari Dion tentang keberadaan Rald dan Rain" ujar Ari melapor kepada Sulaiman Kamal di telepon.
"Aku sudah tau keberadaan mereka, Ari.."
"Maksud Tuan?"
"Baskara mengirimkannya kepada ku tempat mereka menyekap Rald dan Rain..."
"Dimana letaknya Tuan, biar saya yang mendatangi".
"Tidak. Baskara tidak akan memberikan mereka kalau bukan saya yang datang ke sana"
"Baiklah, akan saya kirimkan bodyguard untuk...."
"Tidak Ari. Aku akan datang sendiri kesana"
"Tapi Tuan"
"Ari, kau lakukan saja rencana cadangan ini. Kalau aku tidak berhasil membawa Rald dan Rain dari sana".
Masih dalam sambungan telepon, Sulaiman mengirimkan pesan berisi tentang rencana cadangan yang telah di buatnya untuk membebaskan dua anak itu.
"Tidak Tuan, ini akan membahayakan anda.."
"Aku tidak peduli dengan keselamatan ku Ari. Yang terpenting adalah keselamatan anak ku. 2 anak kembarku" ujar Sulaiman dengan suara bergetar. Ari membulatkan mata. Jadi Tuan Sulaiman sudah tau kalau Rain adalah Ara, kembarannya Rald?
Ah, Baskara pasti sudah memberitahunya. Padahal Ari sengaja tidak memberi tahu terlebih dahulu kepada Tuan Sulaiman tentang Ara. Ari punya alasan untuk itu!
"Dua anak kembarku? M-mas apa Ara sudah di temukan? Apakah dia sedang bersama Rald sekarang?" Suara Fatma, istri Tuan Sulaiman terdengar di telepon. Ari semakin kaget. Namun sambungan telepon langsung mati. Ari menghela nafas dengan kasar.
Ia kembali membaca rencana cadangan yang sudah dikirimkan Sulaiman tadi. Lalu menghubungi anak buahnya untuk melaksanakan tugas darinya. yaitu Misi penyelamatan untuk Rald dan Rain.
•
•
•
•