RAIN

RAIN
6



"Ma... aku berangkat dulu, assalamualaikum." Aro bangkit dari kursi makanya dan berpamitan untuk berangkat ke sekolah.


"Wa'alaikumsalam hati-hati...."


Setelah mencium tangan mamanya, Aro bergegas melangkahkan kaki menuju garasi di samping rumah mengambil motor. Dilajukan motor itu olehnya, menyusuri jalanan yang sudah mulai banyak kendaraan berlalu lalang.


Aro menghentikan laju motornya saat telah tiba di parkiran gedung sekolahnya. Kakinya kembali melangkah memasuki gedung sekolah yang lengang.


Setibanya di kelas, sudah ada beberapa anak yang lebih dulu datang darinya, mereka anak-anak yang bertugas piket hari ini.


Aro mendudukan dirinya, mengeluarkan sebuah novel lantas membacanya. Membaca satu demi satu kata hingga dia tenggelam dan ikut masuk kedalam cerita tersebut. Dia tak menyadari waktu yang terus berjalan, satu persatu siswa sekolah itu mulai berdatangan.


Seorang gadis dengan bed lokasi yang menunjukkan dia masih tahun pertama di sekolah tersebut, berjalan menghampiri meja Aro. Gadis itu berambut panjang dikepang dua, dengan kacamata bulat bertengger di hidungnya, wajahnya manis.


"K-kak...ini ada surat buat kakak...." ucapnya terbata-bata.


Aro mendongak menatap gadis berkepang tersebut. Gadis itu salah tingkah kala ditatap Aro, dia semakin gugup. Surat yang di pegangnya sedikit bergetar, berkali-kali dia membenarkan letak kacamatanya, jantungnya berdegup dengan kencang.


Aro sedikit bingung saat menerima surat dari gadis berkepang, dan mulai bertanya. "Dari siapa?" tanyanya.


Gadis itu tidak menjawab, dan langsung berlari meninggalkan Aro di tengah kebingunganya. Aro melihat surat ditanganya yang terlipat rapi, kemudian memasukkan surat itu kedalam tas, dia berniat untuk membacanya di rumah.


Tiga puluh detik kemudian Rein datang, dia menyapa Aro dan duduk di bangkunya. "Pagi...." sapanya.


"Pagi juga.... " balas Aro.


"Belum semuanya sih, ada beberapa yang aku gak ngerti." jawab Rein jujur, dia tidak terlalu menguasai pelajaran fisika dengan rumus-rumus yang membuat kepalanya terasa pusing.


"Ini, punyaku udah selesai semua, salin aja." tanganya menyerahkan buku itu kepada Rein.


Rein menerima dan mengucapkan. "Terima kasih."dan mulai menyalin isinya.


Aro mengangguk sebagai jawaban, kembali ia meneruskan kegiatan membaca novelnya yang tadi sempat terhenti.


"Pagi semua...." itu suara Nara, dia terlihat ceria pagi ini.


"Pagi.... " balas Aro dan Rein bersamaan.


"Fisikamu belum selesai?" tanya Nara menghampiri meja Rein.


Rein menjawab tanpa menolehkan pandanganya, dia terlihat serius menyalin tugas Aro. "Belum, ada beberapa yang aku gak ngerti." terangnya.


Nara mengangguk - anggukkan kepalanya, kemudian menghampiri segerombolan gadis yang tengah asyik bercerita satu sama lain. Mereka semua sedang bercerita tentang K-Drama yang kemarin malam mereka tonton.


Jam menunjukkan pukul 06:45, bel masuk bergema diseluruh penjuru gedung sekolah. Menandakan jam pertama akan segera dimulai, anak-anak yang berada di luar kelas bergegas masuk sebelum guru mereka tiba di kelas. Kelas yang tadinya riuh menjadi hening seketika, saat guru datang. Jam pertama kali ini adalah pak Abdul, guru matematika yang terkenal killer dengan rambut sedikit botak dan perut buncit, tubuh gempal, kumis seperti ulat bulu serta kacamata tebal.


Suara beratnya mengisi seluruh ruang kelas. "Baik, buka buku paket halaman 98 dan kerjakan soal-soal tersebut saya tunggu empat puluh menit, semua harus mengerjakan. Mengerti?! " terangnya.


"Mengerti pak.... " Jawab semua siswa dikelas itu serempak. Kelas hening kembali, semua siswa mengerjakan tugas yang diberikan tanpa suara.