
"Dion, Lo percaya gak sih, kalo ada orang baru di kehidupan Lo bilang, kalo orang yang udah lama meninggal itu masih hidup?" Tanya Rald kepada Dion yang duduk di sampingnya, sedang asik main game.
Pergi dari rumah Ari, sengaja Rald datang ke rumah Dion, ingin curhat.
Rald sering datang dan menginap di rumah Dion, sampai mengganggap rumah Dion ini, rumah keduanya.
Seringkali rumah Dion menjadi tempat berkumpul para anggota geng. Karena Dion adalah anak tunggal, sedangkan orang tua nya sibuk bekerja, dan sering keluar kota atau keluar negeri. Jadi teman-temannya bebas berada di rumah Dion.
Sekarang Rald sedang rebahan sambil main handphone, brselancar di media sosial.
"Tergantung, Rald".
"Tergantung apa?". Rald bangun dari rebahannya.
"Yang pertama, kira-kira orang yang baru Lo kenal itu bisa di percaya apa enggak?" Ujar Dion, menoleh sebentar ke arah Rald, lalu pandangannya fokus lagi ke layar handphonenya. Rald menggeleng.
"Yang kedua bisa jadi orang yang dikira udah meninggal itu memang ngerencanain sesuatu, sampe dia rela orang nganggep dia udah meninggal. Kan kalo orang ngiranya dia udah meninggal, aman dia mau ngelakuin apa aja.." lanjut Dion.
"Tapi orang itu meninggal waktu umur lima tahun, Dion...". Sergah Rald.
Dion menghentikan main gamenya. Ia simpan handphonenya di kasur, lalu menghadap Rald.
"Ya, bisa jadi orang itu beneran gak meninggal, tapi ada orang lain yang sengaja melakukan pembohongan publik. Menyebarkan hoax kalo orang itu udah meninggal, supaya dia bisa manfaatinnya.."
"Berarti ada orang ketiga yang melakukannya?"
"Yup, bisa jadi"
"Tapi gue masih gak yakin, Di..." Ujar Rald, lalu terdiam. Dion menepuk pundak Rald.
"Rald, Kita harus kasih banyak alasan yang logis dalam menyimpulkan suatu permasalahan. Karena sesuatu bisa terjadi gimanapun caranya. Pandang masalah itu dengan subjektif Rald..." Ujar Dion.
Rald terdiam. Memikirkan pendapat Dion yang ketiga.
"Ayah, gue harus bilang Ayah. Ayah pasti bisa bantu!!" Gumamn Rald.
"Rald, Lo mau minum apa?" Tawar Dion, yang baru saja beranjak dari kasur.
"Enggak. Gue mau cabut, thanks ya, Dion!" Ujar Rald, beranjak dari kasur, menepuk bahu Dion, lalu pergi.
***
Rald memarkirkan motornya di depan kantor Ayahnya. Ia berjalan cepat, sambil sesekali menyapa karyawan yang dikenal.
Rald menuju ruangan Ayahnya. Baru saja sekali ketuk, pintu itu sudah terbuka. Farid, asisten Ayahnya yang keluar.
"Lho, Rald. Kamu di sini?". Tanya Farid terlihat kaget, melihat Rald di depannya. Rald senyum.
"Iya Pak. Saya ada perlu sama Ayah. Ayah ada di dalam, kan?" Tanya Rald, langsung masuk, tanpa menunggu jawaban Farid. Farid keluar dan menutup pintu.
"Ayah... Lho, bang, Lo ada di sini?" Ujar Rald kaget, melihat Ari dan Ayahnya sedang duduk bersama di sofa.
Bukannya menjawab, Ari malah nyengir.
"Ayah lagi ada urusan sama Ari, Rald. Kamu ada apa kesini?" Tanya Sulaiman, Ayahnya Rald. Rald meng-oh-kan.
Mungkin ada masalah di kantornya yang harus melibatkan polisi seperti Ari. Rald menghampiri, dan duduk samping Ayahnya.
"Ada yang mau aku omongin sama Ayah, tentang Ara. Bang Ari juga, udah tau kok.." ujar Rald.
"Tentang Ara?"
"Iya Yah. Bang Ari udah cerita sama Ayah?" Tanya Rald, Ari tak menjawab.
Sulaiman dan Ari menyimak ceritanya Rald.
"Yah, Bisa jadi kematian Ara hanya kebohongan yang di buat oleh penculiknya. Dan sekarang Ara lagi di manfaatkan sama mereka, Ara dalam genggaman mereka, Ayah...." ujar Rald menyimpulkan.
"Rald, jangan sembarang menyimpulkan sesuatu kalau tidak ada buktinya. Bahkan kata-kata Rain tentang Ara, kita tidak bisa percaya dengan dia, tanpa bukti kuat yang menyatakan kalau Ara masih hidup..." Ujar Sulaiman berpendapat lain.
"Ya makanya, kita cari Evan Sanjaya itu, aku yakin dia pasti tau sesuatu tentang Ara. Istrinya Ratih, dia kan yang kasih info ke Ayah dan Bunda, kalau Ara sudah meninggal? Bisa jadi mereka berkomplot untuk merencanakan semua ini, dengan berbohong kalau Ara sudah meninggal, tapi ternyata Ara masih hidup. Bisa jadi, kan?." Ujar Rald, mengatakan apa yang ada di pikirannya. Ari dan Sulaiman diam.
"Ratih tidak mungkin sejahat itu..." Ujar Sulaiman pelan.
"Memangnya Ayah kenal baik dengan Ratih, sampai mengatakan itu tentang dia? Ratih mafia Ayah. Mana ada sih, mafia yang baik? Mereka semua sama, melakukan apa saja demi tercapai ambisinya! Ayah tau itu, kan? Bang Ari, Lo tau itu juga, kan?" Ujar Rald, meminta pembenaran.
Mendengar itu, Sulaiman menatap Rald sebentar, lalu mengalihkan pandangannya dari Rald.
"Bukannya kata kamu, Ratih sudah meninggal?"
"Iya, dia sudah meninggal. Di bunuh Eros!"
"Di bunuh Eros? Siapa yang mengatakannya?"
"Rain, Ayah. Dia liat saat Eros bunuh ibunya di roof top hotel."
"Kamu percaya sama ceritanya Rain?"
"Iya, aku percaya".
Sulaiman tersenyum lebar, lalu merangkul pundak anak sulungnya.
"Rald, kamu boleh menyukainya, tapi jangan sampai matamu tertutup olehnya, dengan mempercayai apa yang di katakannya. Saat kejadian itu, Rain tidak ada di TKP.". Ujar Sulaiman, Rald menoleh.
"Tapi Ayah, Rain jujur kok orangnya, dia liat sendiri kejadian itu. Dia memang gak di temuin di TKP, bisa jadi itu kerjaan bawahannya si Eros yang udah di rencanakan. Setelah Ibunya di bunuh, dengan cepat Rain di bawa ketempat lain, seolah-olah Rain gak ada di TKP saat kejadian. Itu yang di ceritain Rain, Ayah.".
"Rald, kamu terlalu mudah untuk di tipu oleh seorang gadis cantik..." Ledek Sulaiman, ia melepas rangkulannya, dan beranjak dari tempatnya. Ari menertawakan Rald pelan.
"Ayah, please percayalah..." Ujar Rald, ikut beranjak dari tempatnya menghampiri Ayahnya yang sedang mengambil berkas di lemari. Sedangkan Ari masih duduk di tempatnya, memperhatikan pembicaraan anak dan bapak.
"Rald, kamu tau, siapa Ayah Rain sebenarnya?". Tanya Sulaiman, matanya sibuk memeriksa berkas yang di pegangnya. Rald mengangguk.
"Evan Sanjaya, anggota dari kelompok mafia, Brontes..". Jawab Rald.
Sulaiman menyimpan berkas itu di meja, lalu menatap Rald.
"Ya, dia orangnya. Evan Sanjaya, anggota Brontes. Mereka menyerang Ayah, Bunda, dan menculik Ara, saat di perjalanan. Hingga akhirnya Ara meninggal. Ayah melihat langsung mayat Ara yang sudah di mutilasi oleh mereka...". Ujar Sulaiman. Rahangnya mengeras, menahan emosi, mengingat hal itu.
"Sekarang dia menitipkan anak perempuannya di rumah kita, Rald. Seolah dia ingin menukar anak itu dengan Ara yang sudah di bunuhnya. Ayah terima anak itu di rumah kita. Tapi kita harus tetap waspada, barangkali memang ini rencana Evan untuk kembali menyerang keluarga kita dengan menitipkan anaknya, untuk menjadi pengintai di rumah kita, dan menciptakan keributan yang nyeleneh, seperti mengatakan kalau Ara masih hidup, hanya karena kertas bertuliskan nama lengkap Ara..". Jelas Sulaiman. Rald terdiam, berfikir kembali apa yang di katakan Ayahnya.
"Rald, jangan sampai Bunda tau masalah ini. Cukup kita saja. Akhir-akhir ini Bunda sangat terlihat bahagia. Sepertinya Bunda sangat menyukai Rain. Biarkan saja Bunda mu menikmati kebahagiaan itu, sudah lama Ayah tidak melihat kebahagiaan itu dari Bunda. Tapi kita tetap waspada dengan Rain. Sesuatu bisa saja terjadi, nantinya..."
"Tapi Yah, yang selama ini aku lihat, Rain tidak seperti yang Ayah pikirkan. Dia terluka, Ayah. Dia menderita..." sergah Rald, teringat momen-momen dirinya bersama Rain yang sedang menderita dan terluka.
Sulaiman menepuk bahu Rald.
"Emerald, bukankah tadi kamu bilang, mereka akan melakukan apa saja, demi ambisinya tercapai? Rain anaknya Evan Sanjaya, berarti dia termasuk bagian dari mereka..."
"Kita tidak boleh percaya dengan orang yang sudah membuat keluarga kita menderita, apalagi sampai meregang nyawa..".
****
✨Rainy Senja✨