
"Bang Ari, mana Bang?" Tanya Rald, saat Rama membukakan pintu untuknya. Tak sempat Rama mencegah Rald untuk masuk, Ia langsung nyelonong masuk ke rumah, dan duduk di sofa.
Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sesekali ia melirik ke pintu kamar, yang di dalamnya ada Rain. Semoga Rald tidak mengetahui Rain ada di sini. Dan semoga Rain tidak keluar kamar. Karena pintu kamar tidak di kunci, Ari melarangnya, agar Rain tidak merasa dirinya sedang dalam kurungan mereka.
"Bang hey?! Dimana Bang Ari?" Tanya Rald lagi, membuat kaget Rama.
"A-anu, itu Pak Ari lagi keluar" jawab Rama.
"Oh"
"Rald!" Panggil seseorang membuat Rald kaget. Ia langsung menoleh ke sumber suara. Rama langsung menepuk keningnya. Kenapa juga Rain bisa keluar saat seperti ini?
"Rain?" Gumam Rald, ia langsung menghampiri Rain.
"Kamu ngapain di sini?" Tanya Rald.
"Aku di bawa bang Rama kesini" jawab Rain, menunjuk Rama. Rald menoleh kearah Rama, mengerutkan keningnya. Meminta penjelasan.
"Gue di suruh Pa Ari. Itu urusan mereka, gue gak ikut campur" jawab Rama. Lalu ia pergi ke dapur.
Rald menghadap Rain lagi.
"Apa yang terjadi, Rain?" Tanya Rald.
"Kita duduk ya, Rald" ujar Rain. Lalu mereka berdua duduk di sofa dan saling berhadapan.
"Rald, sorry ya soal kemarin. jujur, aku kesel banget sama kamu waktu marahin Dirga"
"Ya, gak apa-apa. Dirga itu sebenarnya siapa kamu? gak mungkin Abang kamu kan?"
Rain menggeleng.
"Bukan, dia om aku, adik tiri Ayah"
"Adik tiri Ayah kamu?"
"Iya. aku juga baru tau kalau dia adiknya Ayah. dia juga yang bawa aku ke rumah Nenek, dan aku tinggal di sana selama ini.."
"Oh, syukurlah"
"Oya Rald, kamu tau tentang Brontes?" Tanya Rain. Karena dari tadi, nama itu yang selalu terpikirkannya. Ari menyebut nama itu, tapi tidak menjelaskan maksudnya.
"Kamu, tau dari mana nama itu?"
"Bang Ari"
"Gimana ceritanya?" Tanya Rald penasaran.
Rain menceritakan tentang dirinya yang di interogasi oleh Ari, dan juga pertanyaan-pertanyaan yang di berikannya. Rald mendengarkan dengan seksama. Terlintas beberapa kesimpulan dan titik terang dari kebingungan selama ini tentang Rain dan keluarganya yang Rald pikirkan.
"Menurut kamu gimana Rald?" Tanya Rain, di akhir ceritanya.
"Hmmm, kita harus cari tau lebih banyak tentang keluarga kamu, terutama orang tua kamu, bisa jadi mereka ada sangkut pautnya sama Brontes itu"
"Tapi, gimana caranya?"
Rald tersenyum lebar. Lalu memberitahu dengan berbisik, beberapa cara yang bisa mereka lakukan untuk mencari tau informasi-informasi tentang Rain dan keluarganya. Rain mengangguk. Menyetujui ide Rald.
***
"Bang, gue cabut!" Seru Rald kepada Rama yang sedang bermain game di handphonenya. Rama hanya mengangguk. Rald langsung pergi sambil diam-diam melirik ke arah pintu kamar, tempat Rain berada.
Rald memberi kode kepada Rain yang berdiri di pintu yang hanya terbuka sedikit.
Lalu mereka melenggang pergi.
Rald membawa Rain ke markasnya di sana sudah ada Dion, Alan, Panji, Aji, Haikal dan Boni yang di ajak Rald untuk kumpul.
"Lo Rain kan?" Tanya Haikal langsung menunjuk Rain yang datang bersama Rald. Rain mengangguk.
"Wah syukurlah. Akhirnya lo bisa di temuin juga, Lo tau gak, selama ini Rald khawatir banget sama Lo. Dia udah kayak orang gila waktu Lo pergi."
Tuk!
Rald melempar bantal ke Haikal, menghentikan omongannya yang pasti akan melantur kemana-mana. Anggota gengnya tertawa melihat kekesalan Rald kepada Haikal. Tentu mereka tau apa yang di khawatir kan Rald, saat itu.
Rald menyuruh Rain duduk di sampingnya. Lalu Rald mulai membicarakan tentang Rain dan rencana yang akan di lakukannya, dengan bantuan anggota gengnya.
Setelah Meraka bagi tugas untuk melancarkan rencana Rald, Rain meminta Rald untuk di temani ke makam Ibunya. Ia sudah sangat rindu dengan Ibunya.
"Oke, aku anter. Tapi jangan lama-lama ya. Waktu kita gak banyak" ucap Rald. Rain mengangguk, setuju.
Sampai di dekat pemakaman, Rald memarkirkan motor di parkiran dekat pemakaman yang ada tempat parkirnya. Tak lupa mereka membeli bunga yang di jual di sekitar pemakaman. Lalu mereka masuk ke dalam pemakaman. Namun tiba-tiba Rain menghentikan langkahnya. Plastik berisi bunga terlepas dari tangan Rain jatuh ke tanah, dan hampir saja Rald menabraknya.
"Kenapa Rain?" Tanya Rald menoleh ke arah Rain.
"Ayah.." ucap Rain dengan suara bergetar.
Rald mengalihkan pandangannya ke arah padangan Rain. Ada seorang pria yang sedang berjongkok di salah satu makam. Pria itu menoleh kearahnya, lalu ia beranjak dari tempatnya, berdiri mematung.
"Evan Sanjaya?" gumam Rald, menyebut nama pria itu
Rain berjalan ke Ayahnya. Rald mengikutinya.
Rain berhenti di hadapan Ayahnya, ia menatap wajah Ayahnya dengan berlinang air mata.
"Ayah, kemana Ayah selama ini?" tanya Rain dengan suara bergetar.
Evan diam, tidak menanggapi, ia malah menatap wajah Rain dengan mata berkaca-kaca.
Rain maju selangkah, lalu memukul dada kiri Ayahnya dengan satu pukulan. Evan diam bergeming. Dengan tetap menatap wajah Rain.
"Aku di fitnah dan di skors dari sekolah!"
Rain memukul kedua kalinya.
Evan masih bergeming. Sedangkan Rald hanya diam melihat apa yang di lakukan Rain. Ia tau saat ini Rain sedang melampiaskan kemarahanya kepada Ayahnya.
"Aku nyaris mati di tangan pembunuh!".
Rain memukul ketiga kalinya. Air mata sudah membanjiri pipinya.
"Aku juga nyaris mati karena kehidupan yang kejam ini!"
Kali ini Rain menarik kerah jaket bomber yang di kenakan Ayahnya.
"Ayah kemana selama ini? AYAH KEMANA?!!!" jerit Rain di tengah tangisannya. Evan masih bergeming. Ia biarkan Rain melampiaskan marah kepadanya.
Rain melepaskan tangan dari kerah jaket Ayahnya, lalu memeluknya.
"Ayah, aku rindu Ayah.. aku butuh Ayah. Tolong jangan pergi..." Ucap Rain dalam pelukan. Namun Evan melepaskan pelukannya. Ia memegang bahu Rain dan menatapnya.
"Aku tidak pantas kamu rindukan Rain. Dan aku bukan orang yang saat ini kamu butuhkan.." Ujar Evam membuat Rain terdiam kaku, dengan menatap wajah Ayahnya.
"Karena aku bukan Ayahmu" lanjut Evan lalu melepaskan tangan dari bahu Rain.
Mata Rain dan Rald membulat kaget. Bagai tersambar petir di siang bolong. Mendengarnya. Pengakuan macam apa itu?! Setelah sekian lama pergi dengan mengabaikan sang anak yang nyaris mati, dan dia mengatakan bahwa dia bukan Ayahnya Rain?!
"Maksud Ayah apa? Kenapa Ayah ngomong gitu sama aku? Apa Ayah masih marah karena kematian Ibu? Ayah, harus berapa kali aku jelasin kalau bukan aku yang bunuh Ibu. Tapi pembunuh itu, dia juga yang hampir bunuh aku Ayah!" Ujar Rain sambil menangis. Ia begitu kecewa dengan pengakuan Ayahnya.
"Ayah itu Ayah aku, akan tetap menjadi Ayahku selamanya"
"AKU BUKAN AYAHMU! AKU YANG MEMISAHKAN KAMU DARI KELUARGA KAMU RAIN!" Tegas Evan.
Semakin membuat Rain dan Rald kaget dengan pengakuannya. Rain hampir terjatuh karena lemas mendengar pengakuan Evan, beruntung Rald langsung menahan badannya, dan membantunya untuk duduk, di pinggir makam, dan memeluk bahunya.
"Perempuan yang selama ini kamu anggap Ibu, dia bukan Ibumu. Kami adalah orang yang memisahkan kamu dengan keluarga kamu Rain. Jadi jangan pernah anggap aku dan dia sebagai orang tua kamu"
"Lalu siapa orang tua aku? Kenapa kalian tega memisahkan aku dengan keluarga aku...." Ujar Rain dengan berat ia menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Evan dengan lekat. Terdengar sekali kekecewaan yang Rain rasakan dari kalimat yang di ucapkannya.
•
•
•
•