RAIN

RAIN
3



Rein masih berdiri dan memperhatikan sekeliling. Dia memang suka taman kota yang indah dengan air mancur dan bunga - bunga mekar berwarna warni, tapi tidak dengan keramaian ini. Dia masih terpaku menatap sekitarnya saat suara berat yang sangat ia kenal itu mengganggu aktivitas yang dia lakukan. "Kenapa? Mau disini aja jagain motor? Yaudah, aku mau keliling cari cewek cantik dulu."


Mendengar itu Rein merasa sangat kesal, dia mencubit lengan Aro. Apa Aro pikir dia ini tukang parkir? Itu sangat melukai harga dirinya sebagai seorang perempuan.


Aro malah tertawa melihat kekesalan Rein, sudah dua kali dia berhasil menggoda gadis itu hari ini. Membuatnya kesal, dan itu sangat lucu.


"Udah ayo jangan marah terus, yang ada kamu malah keliatan lucu."


Mereka mulai berjalan meninggalkan parkiran. Kedua orang sahabat itu berkeliling taman kota yang semakin ramai. Semakin sore sepertinya semakin banyak pula orang yang datang ke tempat ini, membuat Rein tidak nyaman. Tanpa sadar, Rein menggenggam erat lengan Aro, wajahnya tampak begitu terganggu dengan keadaan disekitarnya.


Aro menyadari bahwa sahabatnya merasa tidak nyaman dengan keadaan taman kota yang begitu ramai sore itu. Dia mengajak Rein duduk di salah satu kursi taman yang terlihat kosong, mereka duduk bersama. Rein melepaskan genggaman tanganya dari Aro, dia menarik nafas pelan kemudian menghembuskanya.


"Aku pergi sebentar, jangan kemana-mana sebelum aku kesini."


Aro kemudian pergi meninggalkan Rein yang duduk sendirian di bangku taman kota. Rein kembali memperhatikan suasana di sekitarnya yang ramai dengan orang-orang. Jika Rein tau Aro akan membawanya kesini, dia akan lebih memilih untuk pulang dengan ojek online daripada Aro. Mungkin kalau tadi dia memilih naik ojek online, saat ini dia sudah berada di rumah. Tapi apa? Dia malah terdampar disini.


Tidak lama Aro kembali dengan es krim di kedua tanganya. Kemudian duduk, dan menyerahkan salah satu es krim kepada Rein. Rein menerima es krim itu lalu mengucapkan terima kasih dan mulai memakanya.


Mereka kembali menyusuri taman kota, lampu-lampu di taman mulai dinyalakan karena matahari sudah tenggelam. Taman kota semakin indah saat lampu-lampu berwarna warni itu menyala.


"Kenapa? Indah bukan? Kamu masih pengen disini? ." tanya Aro yang melihat Rein memperhatikan lampu-lampu itu.


"Iya indah, tapi aku pengen pulang udah capek."


Aro mengangguk mengerti. "Yaudah, kapan-kapan kita kesini lagi pas udah malem, biar kamu bisa lihat lampu-lampu itu."


Rein mengangguk, dia memang tidak suka keramaian, tapi mungkin dia akan terhibur melihat lampu warna warni yang indah di taman kota.


Mereka tiba di parkiran, dan segera menaiki motor sport milik Aro." Udah?" tanya Aro yang mendapat jawaban" iya." setelahnya Aro mulai melajukan motornya meninggalkan taman kota.


Motor itu membelah keramaian kota di malam hari. Langit dipenuhi gelapnya malam, dan diselimuti bintang-bintang yang berlomba-lomba memancarkan cahayanya. Bulan purnama terlihat indah diantara bintang - bintang yang bersinar terang. Angin malam membelai lembut tubuh mereka dan hawa dinginya menelusup sampai ke tulang.


Keduanya tiba di bengkel tempat Rein menambalkan ban motornya. Rein mencari pemilik bengkel dan membayarnya. Aro dan Rein kemudian melajukan motornya, kembali membelah jalanan kota yang ramai. Mereka berpisah di pertigaan jalan, rumah Rein belok kiri sedangkan Aro ke kanan.