
"Dara, kau ketakutan? Kupikir kau tidak takut apapun."
"Aku ketakutan? Aku hanya gelisah karena kakiku kesemutan. Aku tidak kuat kalau terus jongkok seperti ini. Tolong aku." Ucap Dara dengan mimik muka seperti kucing yang meminta tolong.
'Aku pasti gila karena berpikir kalau dia imut.' Batin Sean menatap wajah Dara.
"Kalau begitu pindah dari sana. Aku akan meluruskan kakiku dan kau duduk di pangkuanku."
Setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sean, Dara seketika diam. Dia tidak berekspektasi Sean akan membantunya dengan cara seperti itu.
"Kenapa kau diam saja?"
"Kau benar benar akan memangkuku diatas pahamu itu?"
"Aku tidak akan melakukannya jika tidak terdesak."
"Kakiku masih bisa menahannya, lupakan saja. Terimakasih tawarannya."
'Apa dia orang yang mesum? Bisa bisanya dia bilang ingin memangkuku dengan mudahnya. Tapi sayangnya aku tidak melihat jika dia orang yang bernafsu besar, dari matanya dia jelas ingin membantuku. Tapi aku tidak akan menerima bantuannya, aku akan bertunangan sebentar lagi.' Batin Dara.
'Apa yang dia pikirkan, dia terus menatapi wajahku dengan curiga. Apa jangan jangan dia berpikir kalau akau pria nakal karena mencoba membantunya?' Batin Sean.
"Bisa berhenti menatapku begitu? Aku tidak seperti yang kau pikirkan." Ucap Sean melihat Dara menelusuri wajahnya dari tadi dengan matanya.
"Memangnya apa yang kupikirkan?"
"Tidak peduli apapun itu, aku jadi tidak berniat menawarimu kebaikan ku lagi."
"Aku juga tidak perlu bantuanmu tuh. Blee😛."
15 Menit kemudian
'Sial! Kaliku yang kesemutan jadi mati rasa. Aku tidak bisa merasakan kakiku karena terus berjongkok di dalam lemari $ialan ini.'
"Sean, apa masih lama? Coba kau dengar lagi suara para senior itu. Apa mereka sudah menghilang?"
"Aku sudah tidak mendengar suara mereka. Tapi aku terus mendengar suara langkah kaki manusia disekitar sini. Aku tidak tau apakah itu para senior atau bukan."
"Sial, kakiku mau patah. Aku tidak bisa terus disini. Aku mau keluar!"
tab tab tab
Disaat bersamaan Sean mendengar suara langkah kaki menuju ke arah gudang. Hal itu membuat Sean menghalangi Dara keluar dari almari dan membungkam mulut Dara dengan tangannya.
"Mmmmhh!" Teriak Dara ketika tangan Sean menutup sempurna mulutnya.
CEKLEK
'Suara kunci? Sial itu bukan senior, itu adalah petugas keamanan sekolah. Pasti karena ini sudah malam jadi mereka mengunci pintu gudang.' Batin Sean, dia segera keluar dari almari itu dan berlari ke arah pintu gudang.
BRAK BRAK BRAK
Sean menggedor pintu gudang yang baru saja dikunci dari depan oleh petugas keamanan. Pintu itu tidak mau terbuka, seberapa banyakpun tenaga yang dikeluarkan sean, pintu itu tidak bergerak.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" ucap Dara, dia terlihat kebingungan menatap wajah Sean yang membuat raut wajah resah.
"Sial,kita terkunci disini."
"APA! Sejak kapan? Kau gila, bagaimana kita keluar?"
"Tenang saja, kau lupa sedang bersama siapa?"
"Sombong sekali, memang apa yang bisa kau lakukan? Jangan bilang kau mau mengeluarkan kekuatan apimu lagi."
"Bantu aku mendobraknya"
"Apa?"
SATU DUA TIGA!
BRAK!
SATU DUA TIGA
BRAK!
Mereka berdua mendobrak pintu bersama, tapi tidak ada hasilnya. Pintu itu sangat kuat meski terbuat dari kayu.
"Wahh.... Aku tidak tahan lagi. Sean keluarkan apimu!"
"Kau gila, setelah melihat kekacauan di halaman belakang kau mau melihat gudang ini terbakar juga?"
"Tidak apa, aku ada disisimu, begitu kekuatanmu tidak terkontrol aku akan memadamkannnya? Kau lupa terjebak dengan siapa? Queen of the water is Dara. Its me!"
"Kau dan aku sama sama tidak bisa mengontrol kekuatan, jadi kita tidak bisa saling mengandalkan. Lebih baik kita terjebak disini!"
"HYA! KAU GILLA!