Playing With Fire

Playing With Fire
Part 12



Budayakan vote dan tinggalkan komentar setelah membaca.


Meskipun baru pertamakali Elica bertemu dengan teman-teman Leo, namun mereka semua sudah akrab dengan kedatangan Elica. Hal yang Elica syukuri juga, semua pikiran negatif nya pada teman Leo tidak lah benar. Termasuk Disa, dia adalah wanita yang menyambut Elica dengan antusias. Wanita dengan rambut pendek itu selalu menemani Elica dengan obrolan dan celoteh nya yang tidak bisa diam.


"Kau tidak minum Elica?" Tanya Disa.


"Tidak. Aku akan menyetir untuk pulang nanti"


"Ah begitu, ku kira kau kesini dengan Leo tadi. Tapi tidak asyik jika kau belum minum, cobalah sedikit saja" Ujar Disa kemudian menyodorkan segelas kecil Vodka pada Elica.


"Dia tidak mau Disa, jangan memaksa nya" Leo yang mulai geram karena Disa menyuruh Elica minum, akhirnya merebut gelas tersebut dari tangan Disa.


Disa pun sontak langsung kaget akan sikap Alex.


"Oke.. oke... Aku minta maaf. Aku tidak akan memaksa Elica Lagi"


"Jaga perilaku mu hari ini Disa, Leo seperti nya sangat posesif dengan wanita nya malam ini" ujar Misha yang menyindir Leo. Disa pun mengangguk mengiyakan ucapan Misha dibarengi tertawa meledek.


"Kau ajak saja Elica ke atas, Leo. Sepertinya dia sedikit tidak nyaman disini" Brando pun akhirnya membuka suara untuk menengahi percakapan keduanya.


"Brando benar." Ucap Alan.


"Baiklah. Kalian nikmati saja pesta nya. Dan Elica ayo ikut aku ke atas" Leo pun menggandeng tangan Elica. Sedangkan Elica menurut saja.


Leo membawa Elica ke ruangan nya. Lebih tepatnya ruangan dia beristirahat saat di sini. Layak nya seperti kamar pada umumnya, namun di ruangan itu terlihat lebih luas. Karena ada sofa, mini bar dan juga ranjang dalam satu ruangan.


Mereka berdua pun masuk ke ruangan itu, Elica melihat-lihat setiap sudut ruangan yang di cat hitam itu dengan perlahan.


"Tempat apa ini?" Tanya Elica


"Ini tempat aku istirahat saat aku tidak pulang ke rumah. Kau mau minum apa? Mau ku buatkan latte?" Jawab Leo kemudian dia berjalan ke mini bar disana.


"Boleh. Kau bisa membuat nya?"


"Kau meragukan ku, nona?" Mereka berdua pun tertawa bersama.


Leo mulai membuatkan latte untuk Elica, dan Elica pun duduk di depan Leo sambil menatap nya membuat latte ala Barista.


"Jika ini kamarku mungkin aku tidak akan keluar kamar hingga satu bulan" ucap Elica.


"Benarkah?" Elica pun mengangguk tersenyum.


"Kau bisa tidur disini kalau begitu, jika kau"


"Apa boleh?"


"Tentu. Tempat ini terbuka untuk mu kapan pun"


"Bagaimana jika malam ini aku tidur disini" ujar Elica yang berhasil membuat Leo menghentikan aktivitas nya dan menatap nya.


"Kenapa? Tidak boleh?" Tanya Elica.


"Ini sudah jadi. Minumlah dulu" Leo pun mengalihkan pembicaraan dengan memberikan latte yang dibuat pada Elica.


Elica pun meminum pemberian Leo dengan tersenyum.


"Ini enak. Terima kasih."


"Sama-sama"


"Apa Alex pernah masuk ke sini?"


"Maksud mu?"


"Kau pernah bilang jika dia pelanggan VIP mu. Apa dia menggunakan tempat ini dengan wanita?"


"Tidak Elica. Ini ruangan pribadi ku. Lagi pula jika ada yang ingin bermain tempat ini tidak menyediakan kamar satu pun."


"Kenapa?"


"Aku tidak mau tempat ku menjadi tempat mereka melampiaskan ***** mereka. Jadi mereka lebih memilih ke hotel untuk menuntaskan nya. Lagi pula aku membangun Club ini hanya untuk bersenang-senang."


Elica pun terdiam tidak lagi memberi jawaban atau pun pertanyaan pada Leo.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Leo. Elica menjawab nya dengan anggukan kepala.


"Tidur lah disini jika kau mau. Tapi aku harap kau memberi tahu dulu pada ibu mu jika kau tidak akan pulang malam ini" ucap Leo.


"Kau juga akan tidur disini?"


"Tidak. Aku akan pulang ke apartemen ku. Tapi kau tenang saja Club ku itu ada penjaga. Kau hanya perlu mengunci pintu ruangan ini saja dan semua nya dijamin aman. Ruangan ini juga kedap suara, jadi kau tidak akan mendengar keramaian di bawah"


"Baiklah"


Leo memandangi wajah Elica yang tampak murung, dia tau persis apa yang sedang dirasakan Elica saat ini. Hingga Leo pun sedikit tidak tega jika dia harus meninggalkan Elica disini.


"Kau sudah makan?" Tanya Leo.


"Sudah"


"Jika kau tidak keberatan, kau ikut saja dengan ku pulang ke apartemen ku"


"Kenapa begitu?"


"Aku sedikit tidak yakin meninggalkan mu disini. Maksudku.. jika disana kau lebih aman"


Elica terlihat berpikir untuk meminang akankah dia harus ikut atau tidak.


"Baiklah aku ikut kau saja" jawab Elica


"Oke, kita pulang sekarang"


"Tapi pesta mu belum selesai"


"Tidak apa-apa. Pesta nya mungkin akan selesai besok pagi. Kau tenang saja. Mobil mu lebih baik ditinggalkan disini. Kita pulang dengan mobil ku"


"Iya"


Elica dan Leo pun keluar dari ruangan tersebut dan bergegas pulang ke apartemen Leo.


Didalam Mobil, mereka berdua hanya diam tak berbicara apapun. Leo fokus menyetir sedangkan Elica tenggelam dalam pikiran nya sendiri.


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di apartemen Leo. Mereka langsung masuk kedalam. Apartemen Leo cukup mewah, untuk ukuran Leo yang hanya tinggal sendirian sangat lah besar. Namun sayangnya disana hanya ada satu kamar. Dan akhirnya Leo lah yang mengalah untuk tidur di sofa ruang tengah sedang Elica tidur di kamar nya.


Tadi nya Elica sempat menolak agar Leo saja yang tidak di kamar nya, namun Leo beralasan jika dia juga mempunyai pekerjaan yang harus di selesaikan.


**************************


Keesokan pagi nya, Elica bangun dari tidur nya di apartemen Leo. Dia melihat jam dan ternyata masih pukul 6 pagi. Akhirnya dia pun memutuskan untuk mandi dan meminjam pakaian Leo di Walk in Closet milik Leo.


Dia memilih kaos lengan panjang yang kebesaran dan celana training.


Setelah selesai mandi, Elica memutuskan untuk membuat sarapan untuk dirinya dan Leo yang kini masih tertidur di sofa.


Akhirnya Elica memutuskan untuk membuat Roti isi dengan bahan tersebut.


Leo yang terbangun dari tidurnya sangat terkejut mendengar suara dari dapur nya. Dia pun langsung menuju ke sumber suara dan langsung mendapati Elica yang sedang memasak.


"Elica, apa yang kau lakukan?" Tanya Leo dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Oh kau sudah bangun. Maaf Leo aku meminjam baju mu dan dapur mu dulu. Aku sedang membuat sarapan untuk kita berdua"


"Kau buat apa?"


"Aku buat Roti isi. Kau mandi lah dulu sebentar lagi ini akan matang"


"Baiklah"


Leo pun menuruti ucapan Elica. Dia mandi sepagi ini, padahal setiap hari dia mandi diatas jam 7 pagi. Hingga le kantor saja dia selalu terlambat. Tapi tidak ada yang berani memarahi nya, karena dia lah pemilik perusahaan.


Dan khusus untuk hari ini dia rela mandi pagi karena ada Elica di apartemen nya. Sangat memalukan jika dia berbicara dengan Elica dengan keadaan badan yang masih bau.


Elica sudah selesai memasak, dia menyiapkan sarapan di meja makan. Dan tak lama Leo pun datang dengan keadaan yang sudah lebih segar.


"Wow seperti nya enak" ujar Leo kemudian duduk di meja makan.


"Makanlah aku harap rasa nya tidak buruk"


Leo pun langsung memakan Roti buatan Elica. Sedangkan Elica masih memperhatikan ekspresi wajah Leo. Berharap dia tidak memuntahkan nya.


"Ini enak" ucap Leo dengan roti yang masih ada di mulut nya


"Benarkah? Jika tidak enak tidak usah dimakan"


"Tidak Elica. Ini enak, sungguh" jawab Leo yang langsung membuat Elica tersenyum.


"Terima kasih Leo"


"Hari ini kau ingin keluar, apa ingin disini saja Elica?"


"Bolehkah jika aku disini untuk beberapa hari."


"Tentu saja boleh, kau mau selamanya tinggal dengan ku juga tidak apa-apa"


"Kau berlebihan Leo, aku hanya tidak ingin pulang saja melihat ibu ku. Dan aku juga tidak bisa bertemu dengan ayah kandung ku dengan keadaan ku yang begini" ucap Elica.


Tiba-tiba suasana di meja makan menjadi hening.


"Jika kau bosan di apartemen ku, kau bisa ikut denganku ke kantor hari ini Elica"


"Tidak perlu Leo, besok mungkin aku akan mulai berangkat kekampus lagi"


"Baiklah jika itu mau mu. Jika kau butuh aku, kau bisa menelepon ku saja. Aku akan selalu ada untukmu"


"Terimakasih Leo"


Setelah sarapan Leo pun langsung bergegas pergi meninggalkan Elica di apartemen nya menuju ke kantor. Sedangkan Elica membereskan sisa aktivitas memasaknya tadi yang cukup berantakan. Dia baru ingat jika semalam dia belum memberi tahu ibu nya jika dia tidak pulang.


Dia pun langsung mengambil ponsel nya di dalam tas, dan ternyata ponsel nya itu di nonaktifkan dari kemarin. Elica mengaktifkan kembali ponsel nya. Dan betapa terkejutnya dia saat ponsel nya menyala ada banyak sekali panggilan masuk tak terjawab dan pesan masuk dari Alex.


Dia pun mulai membuka satu persatu pesan dari Alex itu.


(Kau dimana? Apa sudah pulang?)


(Balas pesan ku)


(Angkat panggilan telepon ku, Elica)


(Sialan, kau dimana? Pengawal ku bilang kau belum pulang)


(Jika kau belum membalas pesan ku, akan ku pastikan kau akan mendapatkan hukuman nanti)


(Angkat telepon ku, ******)


(Jangan kau pikir saat aku dan ibu mu tidak dirumah kau bisa seenaknya begini. Kau harus ingat sekarang akulah yang menjadi ayah mu)


Itu lah beberapa pesan dari Alex yang dikirim ke ponsel Elica. Masih banyak sekali yang belum Elica lanjutan membaca. Baginya semua itu saja sudah cukup membuat pagi nya berantakan.


Tiba-tiba ponsel nya pun kemudian berdering. Dan benar saja, itu dari Alex lagi. Akhir Elica pun mengangkat panggilan tersebut.


"Halo"


"Kau dimana sekarang? Pulang atau aku akan menyuruh pengawal menyeret pulang sekarang juga"


"Ho... Santai lah ayah baru ku. Pengantin baru tidak boleh marah-marah terus. Apa kau tidak lelah, bukankah semalam kau juga baru saja menguras tenaga layak nya pengantin baru di malam pertama?"


"Aku sedang tidak bercanda, Elica. Katakan dimana kau sekarang?"


"Aku tidak mau pulang. Aku ada di suatu tempat yang bahkan kau tidak akan tau"


"Dasar ******, apa kau baru saja tidur dengan lelaki lain di luar sana? Hah?"


"Anggap saja begitu. Bagaimana yah, ****** mu ini sangat kesal dengan penipu seperti mu. Lagi pula di luar sana banyak yang mau tidur dengan ku"


"Jaga ucapan mu Elica, kau itu milik ku. Jika kau berani bermain dibelakang ku maka aku akan.."


"Akan apa? Membunuh ku? Lakukan saja Alex. Aku juga sudah muak dengan hidup ku sendiri. Dan jangan lagi mengancam ku, aku sudah tidak takut apapun lagi dengan mu. Sudahlah aku matikan. Bye"


Ujar Elica memotong ucapan Alex. Kemudian dengan sepihak dia memutuskan panggilan tersebut.


Entah mengapa hati Elica sangat sakit. Dia kira ibu nya lah yang akan menanyakan keberadaan nya saat ini. Tapi justru lelaki itu yang melakukan nya, dan Jangan lupa dengan segala cacian nya yang dia berikan pada Elica. Tanpa terasa air mata Elica turun. Apakah takdir mempermainkan nya begitu menyakitkan. Hingga tempat untuk nya pulang saja rasanya neraka baginya.


*************************


Di tempat lain, pasangan pengantin baru yakni Alex dan Hilda tengah berjemur di pinggiran kolam renang yang ada di Resort milik Alex.


Hilda terlihat memilih untuk memejamkan mata nya sambil menikmati sinar matahari yang menghangatkan paginya.


Sedangkan Alex dia berjemur sambil Memainkan ponselnya.


"Tiba-tiba aku teringat pada Elica, Alex. Aku kasihan meninggalkan nya sendiri di rumah" ujar Hilda tiba-tiba membuka suaranya. Alex pun menoleh ke arah Istrinya itu.


"Kau tenang saja, dia dirumah bersama pelayan. Aku yakin dia tidak akan kekurangan apapun sekarang"


"Aku berharap juga begitu. Ke depan nya aku ingin hubungan Elica dengan mu lebih dekat, mengingat dulu dia tidak terlalu setuju dengan hubungan kita. Tapi aku tidak percaya ternyata dia malah merestui kita untuk menikah. Aku bersyukur sekali"


Alex tidak langsung menjawab ucapan Hilda. Dan Hilda pun tidak tau jika semalam Elica tidak pulang ke rumah, karena Alex tidak memberitahu kan nya pada Hilda. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu. Mengingat jika dulu Elica telah melemparkan diri nya pada Alex, sebagai gantinya Alex harus membatalkan pernikahan itu. Gadis malang, tentu saja Alex tidak langsung menepati janjinya. Elica terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.


Namun, walau bagaimanapun juga Alex tidak akan melepaskan Elica begitu saja. Bagi Alex, semua yang ada pada diri Elica adalah milik nya. Mengingat dialah orang pertama yang mendapatkan kesucian Elica.


Bahkan Alex akan melakukan apapun kepada laki-laki yang mencoba merebut Elica dari nya. Egois memang, mengingat dia telah menikah dengan Hilda yang tak lain adalah ibu kandung Elica. Tapi Alex tidak perduli semua itu. Milik nya akan dia lindungi sampai kapan pun.


TBC.