
Elica POV.
Entah sampai berapa lama aku akan bertahan. Disakiti oleh orang yang sama dalam waktu yang berulang-ulang. Sakit, adalah hal paling akrab dengan ku akhir-akhir ini, seperti luka yang basah dan selalu di beri garam saat aku bersuara.
Kau, bukankah dulu pernah mengatakan mencintai ku. Ucapan mu bagaikan angin yang berhembus ke telinga ku, terdengar meyakinkan tetapi cepat berlalu
Jika memang takdir tidak mengizinkan ku bahagia, lalu mengapa aku selalu berikan rasa sakit oleh dia. Aku lelah, bagaikan pasir putih yang diterpa ombak laut, aku ingin menghilang. Terkadang aku berpikir, Kenapa Tuhan memberikan ku seorang malaikat kecil, yang kini berada di perutku.
Aku bahkan tidak bisa menjaga diri ku, tetapi kenapa Tuhan menitipkan nya pada ku. Aku sungguh tidak mampu, maafkan aku.
"Kepala ku pusing sekali" aku membuka mata ku seraya memegangi kepala ku, dan tersadar jika semalam aku tertidur di samping ranjang dengan posisi terduduk.
Aku ingat jika aku menangis sangat lama dan akhirnya tertidur. Dengan cepat kejadian semalam datang lagi ke benak ku. Tanpa sadar aku memegangi lagi pipi ku yang di tampar oleh pria Brengsek itu.
Aku membenci nya, sangat membencinya.
Elica End.
****
Author POV.
Setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian berlalu begitu saja. Alex masih mengunci Elica terhitung sudah tiga hari lama nya. Kamar Elica hanya boleh di masuki oleh pelayan yang akan mengantarkan makanan saja, itulah perintah dari Alex. Meskipun Irene juga selalu menentang perlakuan Alex tersebut, namun tidak banyak yang bisa wanita itu lakukan.
Dan terkadang, secara diam-diam Irene akan membukakan pintu kamar Elica untuk melihat keadaan nya, saat Alex sedang pergi.
Seperti sore ini, Irene sedang memotong kan buah yang diletakkan di piring untuk Elica. Kebetulan juga Alex sedang keluar sejak pagi dan sampai saat ini belum pulang.
Irene melangkahkan kakinya menuju kamar Elica, dia membuka pintu kamar tersebut dengan kunci yang dipegang nya. Setelah masuk Irene mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan namun tidak menemukan Elica.
Terdengar suara samar-samar dari luar balkon kamar, wanita itu pun mendekati kearah sumber suara. Dan dia mendapati Elica serang menelpon seseorang dengan posisi bersandar sambil menangis.
"Elica" panggil Irene yang membuat Elica menoleh kearah nya. Ternyata Elica tidak menyadari kedatangan Irene, dia pun segera mengelap air matanya.
"Tante Irene" sahut Elica yang melihat kedatangan Irene dengan membawakan sesuatu di piring.
"Baiklah aku akan menunggu nya. Dan aku akan mengabari mu secepatnya" ucap Elica pada si penelpon kemudian memutuskan panggilan tersebut.
Elica pun menghampiri Irene yang terlihat mencemaskan nya.
"Tante membawa apa?" Tanya Elica yang berusaha baik-baik saja.
"Tante Membawa buah untuk mu. Tante mencari ternyata kau ada disini. Kau bertelepon dengan siapa Elica?"
"Bukan siapa-siapa Tante" jawab Elica berusaha menutupi
"Tapi kau menangis? Apa ada sesuatu yang terjadi lagi?" Cemas Irene.
"Tidak ada tante. Semuanya baik-baik saja, aku hanya menelpon teman ku untuk menanyakan keadaan ayah ku"
"Oh benarkah? Lalu bagaimana keadaan nya sekarang?"
"Ayah sudah membaik, dan semalam ayah ku sudah sadar "
"Ah syukurlah Elica. Tante senang mendengar nya" ujar Irene seraya mengelus dada nya, dan Elica juga tersenyum melihat nya.
Meskipun Elica sedikit bersalah karena kebenarannya dia sedang berbohong pada Irene. Keduanya pun duduk di kursi yang berada di dalam kamar Elica seraya berbincang. Irene memang tidak menyinggung lagi kejadian yang terjadi tempo hari, karena dia juga tidak mau Elica terus mengingat hal itu.
Wanita itu hanya bisa menemani Elica mengobrol seraya membahas hal lain untuk mengalihkan masalah itu. Karena bagaimanapun juga Irene tidak mau Elica terus tertekan di rumah ini.
"Tante ada kabar menggembirakan" ujar Irene.
"Oh ya? Apa itu?" Tanya Elica sambil menyuapkan sepotong apel ke mulutnya.
"Minggu depan Tante akan ulang tahun" kata Irene dengan gembira, Elica yang mendengar nya pun juga ikut terbawa suasana senang.
"Tapi aku tidak bisa memberikan Tante hadiah. Untuk keluar kamar saja aku tidak bisa" ucap Elica dengan nada sedih.
"No Elica.Tante tidak membutuhkan hadiah dari mu. Tante hanya berharap kau bisa melahirkan dengan selamat beserta bayi mu, karena bagaimanapun juga anak mu ini juga cucu Tante." Ucap Irene seraya mengelus perut Elica.
Elica pun tersenyum di buat nya, dia senang meskipun selama dirumah besar dia sering mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Alex, tetapi dia bersyukur ada Irene yang selalu menemani dan menyayangi nya. Bagi Elica, Irene sudah seperti pengganti ibu nya yang telah tiada.
Elica pun mememegang tangan Irene yang sedang mengelus perut nya.
"Terimakasih Tante atas semuanya. Aku berharap Tante Irene selalu sehat dan bahagia. Dan terimakasih juga karena sudah menyayangi anak ku"
"Sama-sama" jawab Irene tersenyum mendengar ucapan Elica.
****
Mobil Alex terlihat berhenti di sebuah Restoran bintang Lima. Dia memasuki tempat itu dengan langkah cepat nya, ditambah malam ini sedang turun hujan.
Alex menghampiri sebuah meja yang terdapat seseorang yang menunggu disana. Dia duduk dihadapan pria itu dengan wajah dingin nya.
"Mana barang nya?" Ucap Alex dan pria tersebut memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat.
Alex membuka amplop tersebut dengan cepat, dia membuka lembaran kertas yang ada di dalam nya. Dan membacanya dengan ekspresi wajah serius nya.
"Jelaskan pada ku semua nya" perintah Alex lagi.
"Hasil Autopsi Hilda menunjukkan jika dia mengalami Overdosis karena meminum sebuah obat tidur dalam jumlah yang banyak. Padahal orang kita hanya menyuntikkan zat penenang sesuai yang anda perintahkan. Dan CCTV menunjukkan, 4 jam sebelum kematian Hilda ada seorang perawat yang masuk ke ruangan tersebut dan memberikan makan pada Hilda pada dini hari. Padahal di jam tersebut pasien sudah tidak menerima makan karena waktu jam tidur." Jelas pria misterius itu dengan gamblang.
"Siapa orang di balik ini?"
"Menurut bukti yang saya peroleh, pelaku nya adalah Tuan Andrew."
Alex sangat terkejut mengetahui kabar tersebut.
"Seperti yang anda tau Tuan, Andrew sejak lama menginginkan anda dan putri nya bisa menikah. Saat mendengar anda menikahi seorang wanita yang tidak lain adalah Hilda, Tuan Andrew juga sejak lama mengincar Hilda untuk di lenyapkan. Dan waktu itu, dia belum mengetahui jika anda juga sudah bercerai. Dia orang yang sangat licik, saya harap Tuan bisa berhati-hati kedepan nya" Sambung Pria itu.
"Menarik. Ternyata dia salah sasaran, dan lebih menarik nya lagi dia membiarkan anak kesayangan nya masuk ke perangkap ku. Harus ku apa kan dia yah. Kau punya ide?" Ujar Alex terdengar mengerikan.
"Saya yakin Tuan sudah memiliki rencana yang lebih besar. Dan ini dokumen yang Tuan inginkan, saham yang menyatakan jika setengah kekayaan Tuan Andrew beralih tangan pada anda"
Alex pun tertawa mendengar nya, dia mengambil sebuah dokumen yang akan membuat hidup seseorang berubah menjadi penuh penderitaan.
***
Sore tadi ponsel Elica kehabisan Baterai, akhirnya Irene menyarankan agar ponselnya di bawa ke kamarnya untuk di isi daya. Namun sudah malam tetapi Irene belum mengembalikan ponsel miliknya, pikir Elica mungkin Irene ketiduran. Dan Elica pun memutuskan untuk keluar dari kamar nya dengan kunci yang diberikan oleh Irene, untuk mengambil kembali ponsel nya yang kini berada di kamar Irene.
Saat menaiki tangga, Elica berpapasan dengan Bianca yang seperti nya baru saja dari kamar Alex. Keduanya pun berhenti dan saling bertatapan mata.
"Mau apa kau naik kesini? Bukankah Alex tidak mengizinkan mu keluar kamar?" Kata Bianca pada Elica yang terdengar tidak suka.
"Bukan urusan mu" Elica pun berusaha tidak menghiraukan Bianca.
"Jangan bersikap seolah kau nyonya rumah disini Elica. Perlu kau tau, aku akan menikah dengan Alex. Jadi apapun yang kau lakukan di rumah ini juga harus meminta izin dari ku, apalagi saat kau akan ke kamar Alex"
"Oh ya? Kau pikir kau juga siapa disini? Yang aku tau kau hanya perempuan tidak tau malu yang terus mengemis untuk tetap tinggal di sini." jawab Elica
"Apa kau bilang. Berani sekali ****** seperti mu berbicara hal itu pada ku" tanpa di sangka, Bianca yang marah justru menjabat rambut Elica dan membuat Elica juga spontan membalas menarik rambut wanita itu.
Namun saat pijakan kaki Elica di tangga tidak stabil karena dirinya sedang hamil, membuat nya tidak bisa mengimbangi perlakuan Bianca pada nya. Dan malang nya saat Elica mundur dia tidak sadar jika dia tidak menapak lagi pada sebuah tangga yang akhirnya membuat dirinya melepaskan pegangannya pada rambut Bianca dan terjatuh berguling hingga melewati beberapa tangga.
Bianca sangat terkejut dan menutup mulutnya saat melihat Elica terjatuh karena dorongan dari nya. Dan tanpa di duga, Alex yang juga baru pulang melihat Elica yang terjatuh dan terkapar di bawah tangga. Pria itu juga tidak kalah terkejut dan langsung berlari kearah Elica.
"Elica" Teriak Alex mendapati Elica setengah sadar.
Alex langsung menyangga kepala Elica yang untung tidak berdarah, namun pria itu sangat kaget saat melihat darah yang keluar dari bagian bawah Elica.
"Sial. Kenapa kau berdarah Elica" ucap Alex khawatir
"B-bayi nya... Alex s-selamat kan bayi nya" kata Elica terbata-bata dalam kesadaran nya yang mulai menghilang.
"Tidak Elica Bangun. Buka matamu, jangan tertidur Elica. Bangun sayang" ujar Alex sesekali menepuk pipi Elica
"Astaga Elica" pekik Irene melihat kondisi Elica di bawah tangga, wanita itu keluar setelah mendengar teriakkan Alex tadi.
Dengan cepat Alex langsung membopong Tubuh Elica
"Alex, Elica kenapa?" Tanya Irene khawatir.
"Panggilkan paman Jo, Tante. Aku harus membawa nya ke rumah sakit dan jangan biarkan wanita itu pergi" ujar Alex yang mengarah pada Bianca yang masih mematung syok di tangga.
Irene pun yang mengerti maksud Alex membalas nya dengan anggukan dan segera memanggil paman Jo.
Kini Alex sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit dengan posisi memangku Elica yang sudah tidak sadarkan diri. Meskipun terkadang Elica mengeluarkan suara Erangan kesakitan, dan lagi pakaian Alex yang sudah bersimbah darah yang berasal dari Elica membuat pikiran pria itu kalut dan sangat khawatir.
"Paman Jo, kau bisa menyetir tidak hah. Lama sekali, Kenapa belum sampai juga." Seru Alex tidak sabaran dengan meluapkan emosi kepada pria tua itu yang kini sedang menyetir.
"Maaf Tuan, ini saya akan berusaha lebih cepat lagi"
"Bodoh"
Akhirnya tidak lama mereka pun sampai di rumah sakit. Elica langgsung dibawa ke ruangan gawat darurat oleh beberapa perawat.
"Maaf Tuan, anda tidak bisa masuk demi kelancaran penanganan pasien" ujar seorang perawat
"Tapi.."
"Tolong kerjasama nya Tuan"
"Baiklah. Tolong selamatkan mereka"
"Kami akan berusaha, Mohon tunggu di luar Tuan"
Alex pun hanya bisa pasrah karena dia tidak bisa menemani Elica di dalam. Pikiran nya kalang kabut dan panik mengingat kejadian tadi yang dia lihat. Dia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada Elica dan anak nya.
Alex hanya bisa mondar-mandir di depan ruangan tersebut tidak tenang meskipun sedari tadi ponselnya terus berdering. Dia tau pasti Irene berusaha menghubungi nya, namun sekedar mengangkat panggilan saja Alex tidak berminat.
Setelah 30 menit menunggu akhirnya pintu ruangan tersebut terbuka. Dan menampakkan seorang Dokter yang keluar.
"Dokter.. bagaimana kondisi sekarang?" Tanya Alex berdiri dari duduknya.
"Apakah anda keluarga dari pasien?"
"Yah. Saya suaminya"
"Baiklah, bisa ikut saya sebentar?"
"Tentu"
Alex pun mengikuti dokter tersebut masuk ke ruangan itu. Terlihat Elica berbaring dan mengerang kesakitan. Alex dan Dokter itu duduk berhadapan.
Pandangan Alex sesekali melihat kearah Elica yang sangat memprihatikan.
"Begini Tuan, pasien mengalami benturan yang cukup keras hingga akhirnya mengalami pendarahan. Dan darah yang dikeluarkan sangat banyak, jika tidak cepat dioperasi kami takut tidak bisa menyelamatkan nya"
Ujar sang Dokter.
"Ya sudah, lakukan saja operasi nya sesegera mungkin Dokter"
"Tapi Tuan, saya akan memberitahu kan jika satu dari keduanya tidak bisa di selamatkan."
"Kenapa bisa begitu? Selamatkan keduanya bagaimana pun caranya. Saya akan bayar berapa pun yang anda minta"
"Ini bukan tentang biaya Tuan. Tapi ini tentang Rasio keberhasilan. Jika kita selamatkan ibu nya, maka anak nya tidak selamat. Dan begitu pun sebaliknya. Jadi anda harus cepat mengambil keputusan, meyelamatkan ibu nya atau anak nya?"
"Pilihan macam apa ini" ujar Alex yang memang tidak bingung harus memilih apa. Di satu sisi dia sangat menginginkan bayi itu, tapi di sisi lain dia juga harus menyelamatkan Elica.
Sedangkan Elica yang setengah sadar mendengar semua pembicaraan itu. Dia mengeluarkan air mata nya, ingin sekali dia berbicara jika Dokter harus menyelamatkan anak nya. Namun rasa sakit menyelimuti tubuh Elica.
"Selamat kan bayi nya, kumohon selamatkan dia, jangan aku Alex" teriak Elica dalam hati. Dan beberapa saat kemudian kesadaran benar-benar menghilang.
Setelah beberapa menit berpikir, akhirnya Alex pun memutuskan. Dia menarik nafasnya kemudian menatap kearah Elica yang sudah memejamkan matanya tidak sadarkan diri, dan suara nya pun sudah tidak terdengar lagi.
"Ibunya. Tolong selamatkan ibunya, Dok" ucap Alex tegas pada Dokter itu.
TBC.