
Vote dulu atuh..
Siang hari Leo sengaja pulang ke apartemen nya untuk membawakan Elica makan siang. Dia telah sampai di depan pintu kemudian menekan kode apartemen nya. Leo pun masuk dan mencari keberadaan Elica, namun beberapa saat dia telah berkeliling menyusuri ruang apartemen nya, diapun belum menemukan keberadaan Elica.
Leo pun langsung merogoh saku nya dan mengambil ponsel milik. Dia menelpon Elica, namun ponsel nya juga tidak aktif. Dia pun makin bingung dan cemas akan keberadaan Elica sekarang. Leo kembali menelpon seseorang yang tak lain adalah penjaga yang ada di Club nya. Menanyakan apakah Elica telah mengambil mobilnya yang berada di Club nya atau tidak, namun dia mendapatkan jawaban jika mobil Elica masih terparkir disana.
Karena dia tidak mendapatkan keberadaan Elica akhirnya Leo memutuskan untuk kembali ke kantor nya, mengingat dia juga akan ada rapat penting dengan rekan bisnis nya.
*********************
Di tempat lain, Elica sedang berada di sebuah restoran dekat apartemen Leo. Dia keluar karena cacing di perut nya sudah berdemo minta untuk dirinya segera makan siang. Akhir Elica pun memutuskan pergi ke restoran lalu memesan sup dan iga pedas. Masakan kesukaannya yang dulu sering ibu nya buat setelah dirinya pulang dari sekolah.
Entah mengapa Elica menjadi rindu masa-masa itu. Tak berapa lama makanan pun datang dan disajikan di depan Elica. Tapi entah rasa aneh pada dirinya, ketika mencium aroma sup yang menguar justru membuat diri nya mual.
"Hoek... Hoek..." Elica menutup mulutnya seperti ada sesuatu yang ingin keluar.
"Nona, anda kenapa?" Ujar pelayan wanita yang baru saja menyiapkan pesanan Elica dan hendak pergi namun kembali lagi melihat Elica.
"Sup apa itu?" Tanya Elica sambil menutup hidung nya.
"Ini sup jamur pesanan anda, nona. Apa anda baik-baik saja?"
"Bau nya tercium aneh. Tolong singkirkan saja"
"Baiklah nona, apa anda ingin mengganti pesanan saja?"
"Tidak perlu aku makan iga nya saja. Sup nya untuk mu saja, nanti akan ku bayar" ujar Elica.
"Baiklah nona, terimakasih" ucap si pelayan wanita itu lalu pergi dengan membawa sup yang membuat Elica mual.
"Sial. Baunya kenapa buruk sekali. Sepertinya sup buatan Mommy lah yang paling enak." Gumam Elica, kemudian dia pun mulai memakan iga pedas yang tersisa dimeja.
Setelah Elica selesai memakan makanan nya, kemudian dia pun bergegas kembali ke apartemen Leo. Namun sejenak dirinya baru ingat, jika mobil nya masih di Club milik Leo. Akhirnya Elica memutuskan untuk pergi mengambil mobilnya terlebih dahulu, hingga dia tidak repot memesan taksi jika akan pergi kemanapun.
Setibanya Elica di Club Leo, dia langsung menuju ke tempat parkir. Dan benar saja, ada petugas keamanan yang berjaga disana. Petugas itu terlihat berjalan ke arah Elica.
"Permisi nona, apakah anda nona Elica?"
Tanya si petugas keamanan itu.
"Benar, ada apa yah?"
"Tidak apa-apa nona. Tadi tuan Leo menelpon saya dan menanyakan keberadaan anda nona?"
"Oh begitu kah. Baiklah terima kasih pak. Ponsel saya mati, jadi tidak tau jika Leo menelpon. Kalau begitu saya permisi dulu"
"Iya nona"
Elica pun melajukan mobil nya pulang ke kediaman Alex. Rencana nya dia akan mengambil beberapa pakaian nya untuk menginap saat dia di apartemen Leo.
Mengingat jika sekarang Elica juga masih menggunakan pakaian milik Leo yang tadi pagi di pinjam nya.
Elica sampai dan memasuki teras rumah, dia pun memarkirkan mobilnya dan buru-buru masuk menuju kamar nya.
Suasana rumah terlihat sepi, hanya ada pelayan dan penjaga saja yang sedang bekerja.
Didalam kamar Elica memasukkan beberapa baju nya ke dalam koper berukuran kecil. Dia merasa seperti anak remaja yang akan kabur dari orang tua nya. Lucu memang, hal yang tidak terpikirkan oleh nya dari dulu.
Elica pun selesai dan berjalan menuju pintu kamarnya dan berniat untuk keluar, namun saat dia akan membuka nya, ternyata pintu tersebut telah di kunci dari luar. Sial, ini pasti kerjaan pengawal Alex yang diperintahkan untuk mengurung dirinya. Elica pun mencoba menggedor pintu tersebut berkali-kali.
"Hei buka pintu nya... Sialan cepat buka." Teriak Elica berharap pengawal tersebut mendengar ucapan nya.
"Siapapun didepan tolong buka pintu, aku mau keluar.. buka pintu nya... Buka"
Karena cara nya tidak berhasil akhirnya Elica mengambil ponsel nya yang ada disaku celana training milik Leo untuk menelpon seseorang.
("Halo sayang" )ujar seseorang di sebrang sana saat panggilan tersebut terhubung.
"Apa yang kau lakukan, kenapa pengawal bodoh mu mengunci ku di dalam kamar" tanya Elica tak sabaran
("Oh jadi kau sudah pulang ke rumah? Ku kira kau masih betah hidup diluar Elica")
"Alex jangan bermain-main dengan ku. Cepat suruh pengawal mu membukakan pintu kamar ku sekarang"
("Sayangnya aku tidak ada keniatan untuk menyuruh mereka membuka pintu kamar mu")
"Bajingan kau Alex. Apa sebenarnya mau mu?"
("Tidak susah Elica, kau hanya perlu di rumah saja. Jangan keluar kemanapun Sampai aku pulang. Ku harap kau bisa bersabar hingga besok. Karena aku dan ibu mu akan pulang")
"Lalu apa hubungannya dengan kau mengurung ku, Brengsek?"
("Sudah aku bilang, kau akan mendapatkan hukuman dari perbuatan mu kemarin")
"Kau dasar pria sinting, tidak waras, kau gila Alex."
("Aku anggap itu sebagai pujian sayang. Sudah dulu oke, ibu mu sedang mencari ku. Jangan mencoba kabur, kau tunggu aku besok")
Elica pun mendengar jika Alex memutuskan panggilan nya. Pria itu benar-benar tidak normal, bisa-bisa nya dia melakukan semua ini tanpa rasa bersalah.
Dan bodoh nya Elica kenapa dia harus pulang ke rumah. Padahal dia bisa membeli baju baru daripada mengambil nya dirumah. Yang menyebabkan dia terkurung didalam kamar nya.
Kemudian Elica mendapatkan ide, tapi akankah ini berhasil. Dia akan mencoba meminta pertolongan pada Bryan atau Leo. Mungkin dia akan menelpon Bryan saja, di jam saat ini Leo pasti masih berada di kantor nya, dan Elica pun tidak mau merepotkan Leo lagi.
Akhirnya Elica menelpon Bryan, namun sayangnya ponsel Bryan sedang tidak aktif. Lalu siapa lagi yang harus dia mintai pertolongan. Haruskah ayah nya saja dia telpon. Tidak mungkin, dia tidak mau ayah nya cemas jika tau Ayah tiri nya kini mengurung dirinya.
Sekarang yang bisa dilakukan Elica hanya lah pasrah menuruti ucapan Alex.
Malam hari Elica baru terbangun dari tidurnya. Dia tertidur dari sore hari, dan terbangun karena suara ketukan pintu kamarnya yang berasal dari pelayan yang membawakan nya makan malam.
Pintunya pun terlihat terbuka, dan memperlihatkan pelayan yang menyajikan makanan di meja kamar nya. Dan ketika sudah selesai pelayan tersebut langsung keluar tak lupa mengunci kembali kamarnya.
Elica memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, karena dia merasa tubuhnya sangat lengket karena keringat dari tadi siang.
Setelah selesai, Elica langsung menyantap makanan yang sudah tersaji. Dia makan sambil memegang ponsel nya. Ternyata Leo menghubungi nya dari tadi siang, Elica pun langsung menelepon kembali nomor Leo.
"Halo"
("Halo, Elica kau dimana, aku sudah pulang ke apartemen tapi kau belum pulang?")
"Leo maaf aku tidak memberitahu mu, aku sekarang berada di rumah. Aku di kurung didalam kamar"
("Apa? Kenapa bisa begitu?")
"Entahlah, Alex yang melakukan nya. Karena dia tau semalam aku tidak pulang"
("Perlukah aku menjemputmu mu?")
"Tidak perlu Leo, di luar juga banyak penjaga. Kau tenang saja, besok Alex dan ibu ku pulang. Dia pasti melepaskan ku"
("Baiklah kalau begitu Elica. Jika kau butuh sesuatu kau beritahu aku saja")
"Iya Leo Terimakasih, maaf sudah membuat mu khawatir"
("Jangan sungkan padaku Elica")
panggilan itu pun terputus, Elica kembali menyantap makanan nya. Baru dua suapan dia memasukkan makanan tersebut, tiba-tiba perut nya kembali bergejolak. Seperti ada sesuatu yang akan keluar. Dia pun buru-buru ke kamar mandi untuk memuntahkan nya. Namun yang keluar hanya cairan bening.
Elica pun buru-buru keranjang nya untuk membaringkan tubuhnya. Dia mengusap wajahnya, dia heran kenapa dia sering mual akhir-akhir ini.
Mendadak dia terpikirkan oleh sesuatu. Jangan-jangan dia hamil. Tidak mungkin itu terjadi. Karena penasaran Elica pun membuka laci meja yang ada di dekat ranjang nya. Dapat dia lihat jika pembalut yang biasa gunakan masih utuh sama sekali. Dia pun tertegun.
"Sial. Aku harus memastikan nya besok" gumam Elica.
Dia pun kembali merebahkan tubuhnya ke kasur tersebut. Pikiran Elica melayang, ini sudah keluar dari rencana nya. Dia merasa sangat bodoh jika mengingat kenapa dia harus menyerahkan kesucian nya pada Alex. Dan yang lebih parah nya sekarang dia hamil.
Elica POV.
Bagaimana ini, aku sangat takut jika ternyata aku benar-benar hamil anak pria itu. Haruskah aku mengugurkan nya saja? Tapi dia tidak bersalah. Bagaimana reaksi Mommy jika tau aku hamil. Dan pria itu juga pasti akan menolak janin ini.
"Ah sial, sial. Aku lupa jika waktu itu aku belum meminum pil kontrasepsi. Yah, waktu itu ada kak Mia. Jadi aku lupa membeli nya"
Ucap ku mengingat kejadian pada waktu dia di apotik lalu bertemu dengan saudara ku yaitu mia.
Akhirnya nya aku memutuskan untuk tidur, lagipula tubuh ku sangat lemas saat ini.
Elica End.
Author POV.
Pagi hari Elica bangun, dia pun langsung bergegas kekamar mandi. Karena lagi-lagi dia merasa mual dan ingin memuntahkan sesuatu.
Setelah selesai Elica pun memilih untuk langsung mandi.
Dan beberapa menit setelah dia telah siap mandi, tiba-tiba pelayan mengetuk pintu kamar nya. Elica pun membuka nya, dia terkejut ternyata pintunya sudah tidak di kunci.
"Permisi nona, anda di tunggu tuan Alex dan nyonya Hilda untuk sarapan di bawah" ujar si pelayan wanita itu.
"Mereka sudah pulang? Kapan mereka sampai?"
"Tuan dan nyonya Pulang dini hari tadi nona"
"Baiklah, nanti aku akan turun"
"Baik nona, saya permisi dulu"
Elica pun mengangguk, dia kembali terpikirkan masalah pintu. Licik sekali Alex, menutupi segala keburukan nya di belakang ibu nya. Hingga ibu Elica tidak tau jika dia sudah terkurung kemarin seharian.
Elica pun langsung bergegas turun menuju meja makan, dan benar saja disana sudah ada Alex dan ibu nya.
"Mom" sapa Elica
"Sayang kau sudah bangun, ayo sarapan bersama" ujar Hilda, kemudian Elica pun ikut duduk.
"Kenapa pulang nya cepat sekali Mom? Ku kira kalian sekalian berbulan madu" tanya Elica.
"Mommy mu sangat cemas meninggalkan mu sendirian di rumah sayang" ucap Alex.
"Aku tidak tanya pada mu, dan jangan memanggilku "sayang" mengerti"
"Elica, jangan begitu. Kamu harus ingat jika sekarang Alex adalah ayah mu. Panggil dia ayah yah. Jangan memanggil nya dengan nama, itu tidak sopan" tutur Hilda menasehati Elica.
Elica memutar matanya, hari ini dia sedang malas berdebat.
"Alex mengundur bulan madu kita, karena dia ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Maka nya kita pulang hari ini" jelas Hilda.
Elica tidak menggubris nya dia hanya fokus pada sarapannya. Dia mengambil roti dan selai saja, karena dia takut jika dia makan nasi perut nya akan kembali mual dan membuat ibu nya serta Alex curiga.
"Hari ini aku ada kuliah pagi, aku akan berangkat sekarang" ujar Elica dilanjutkan meminum susu yang telah di sediakan.
"Kau berangkat dengan ayah saja Elica. Kebetulan ayah juga akan ke kantor untuk mengambil berkas" ajak Alex.
Mendengar ucapan Alex, yang menyebut dirinya "ayah" membuat Elica geli. Sangat tidak cocok untuk didengar.
"Tidak perlu aku bawa mobil sendiri saja"
"Elica tidak apa-apa, pergilah dengan ayah mu. Dan Mommy berharap agar hubungan kalian lebih dekat" ucap Hilda.
"Tapi Mom__"
"Baiklah, ayo kita berangkat" potong Alex.
Mau tidak mau akhirnya Elica yang mengalah. Dia berangkat dengan Alex satu mobil.
Mereka berdua pun memasuki mobil dan langsung melaju ke tempat tujuan.
Didalam mobil, Elica memilih untuk diam tidak bicara. Dia lebih memilih memperhatikan suasana di luar jalan.
Tiba-tiba tangan Alex menyentuh tangan, yang langsung membuat Elica menatap kearah Alex.
"Kau kenapa? Tumben diam saja. Biasa nya kau akan memaki ku?" Ucap Alex mengelus tangan Elica dengan tangan kanan nya. Sedangkan tangan kirinya dan mata nya fokus menyetir.
Elica dengan cepat menepis tangan Alex.
"Aku sedang tidak ingin berbicara dengan mu" jawab Elica.
"Kau masih marah karena aku mengurung mu? Atau kau marah karena pernikahan itu"
"Diam lah, fokus saja menyetir"
"Kau harus ingat. Kau belum menerima hukuman dari ku, sayang"
Kini Alex malah mengelus paha Elica.
"Ini bukan jalan ke arah kampus ku, kau mau membawa ku kemana sialan?" Tanya Elica saat menyadari jika Alex membawa nya kejalan yang salah.
"Tenang lah, aku akan membawa mu ke suatu tempat yang menyenangkan. Kau pasti akan suka"
"Berhenti disini, aku tidak mu ikut dengan mu"
"Kau terlambat Elica sayang"
"Berhenti atau aku akan melompat Alex"
Ancam Elica.
"Lakukan saja jika kau berani"
Elica pun mencoba membuka pintu mobil yang sedang melaju kencang itu, Namum sayangnya mobil nya sudah terkunci oleh Alex.
Elica tidak menyerah dia masih berusaha membuka pintu tersebut.
"Berhenti bertingkah Elica, atau aku akan menyerang mu saat ini juga di sini"
"Hentikan mobil nya Brengsek" bentak Elica.
Namun Alex tidak menghiraukan ucapan Elica, dia malah menaikan kecepatan mobil nya. Jujur Elica takut saat ini, jika dia terus memberontak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena posisi Alex sedang menyetir.
TBC.
Vote yah jangan lupa sama komentar nya juga..