
"Elica..." Ucap Alex
"Hm"
"Bisakah kedepan nya kita hidup bersama menjadi satu keluarga?"
Keduanya saling bertatapan cukup lama, karena Elica juga tertegun dengan ucapan Alex baru saja.
Elica lah yang memutuskan kontak mata dengan Alex, dia tersenyum seraya melihat kearah perut nya yang sudah besar itu.
Dia mengelus perut nya sendiri dengan lembut, layaknya dia tengah menyentuh calon buah hati nya secara langsung.
"Kau sering mengatakan hal itu Alex, dan kau pasti tau jawabannya." Ujar Elica dengan tenang.
"Tapi kau tidak memberi ku kesempatan apapun Elica." Sahut Alex
Elica menatap lagi Alex dengan tatapan hangat. "Bukankah kita bisa mengasuh anak ini bersama-sama, tanpa harus ada pernikahan. Apakah itu bukan suatu kesempatan bagi mu?" Tanya Elica yang mulai serius.
"Tidak cukup. Kau kira saat dia besar tidak akan menanyakan status keduanya orang tuanya. Bahkan jika dia sekolah kelak, dia pasti akan di gunjing oleh teman-temannya. Apa kau tidak berfikir demikian Elica?"
Mendengar apa yang dikatakan Alex, Elica justru tertawa renyah.
"Kau terlalu jauh berpikir Alex. Dia akan baik-baik saja kelak, aku jamin itu walaupun nyawaku taruhan nya" ucap Elica tegas.
Tiba-tiba ponsel milik Elica berbunyi, dia pun langsung mengangkat panggilan tersebut yang rupanya dari Bryan.
"Halo Bryan, ada apa?" Ucap Elica bertanya pada Bryan di seberang sana.
"......."
"Oh begitu, tidak apa-apa. Aku akan menyampaikan nya pada ayah ku nanti" kata Elica lagi.
"......."
"Tidak masalah. Semoga liburan mu menyenangkan, sampaikan salam ku pada ibu mu, Bryan"
"...."
"Baiklah, sampai jumpa lagi"
Alex tidak lepas menatap kearah Elica saat wanita itu menerima panggilan. Seakan Alex juga ingin mengetahui pembicaraan mereka.
Setelah panggilan tersebut selesai, Elica pun masih memainkan jari nya pada ponsel tersebut. Membuat Alex yang berada di samping nya cukup penasaran.
"Apa yang kau bicarakan dengan Bryan?" Ujar Alex membuat Elica mengalihkan tatapannya kepada pria itu.
"Dia memberitahu ku, jika besok akan berlibur ke Florida bersama keluarga nya. Jadi tidak bisa menemani ayahku selama dua Minggu" jawab Elica
"Tapi kau ingat kan jika besok kau akan kembali dengan ku ke rumah besar?"
"Iya aku ingat" ungkap Elica sedikit pelan. Karena sebenarnya dia tidak tega meninggalkan ayahnya, walaupun tadi Bryan mengatakan jika bibi Dorothy tetangga dekatnya yang akan menyiapkan keperluan ayahnya saat Elica pergi, sekaligus menggantikan Bryan selama pria itu liburan.
Setelah selesai dengan obrolan serius mereka, Alex pun pamit untuk pergi dengan alasan ada masalah di kantor nya yang harus di selesaikan.
Sepeninggalan Alex pergi, Elica hendak berbalik menuju ke kamar nya. Namun ternyata ayahnya sedang berdiri di sudut ruangan seraya menatap nya. Dan hal itu dipastikan jika Albert mendengar semua pembicaraan antara Alex dan Elica.
Tanpa sadar ternyata air mata Elica keluar saat ayah nya tersenyum kearah nya. Dan Elica membalas nya dengan gelengan kepala disertai air matanya yang turun ke pipi. Menjelaskan jika dia tidak bisa untuk menerima pria yang baru saja pergi.
Albert pun menghampiri kearah putri kesayangannya itu. Elica yang kini sedang menatap kebawah bermaksud menyembunyikan kesedihannya merasakan jika tangan lembut ayahnya meraih dagu nya. Hingga dia bertatapan lagi dengan sang ayah.
"Kenapa menangis sayang?" Tanya Albert
"Dad.."
"Ceritakan jika ada yang ingin kau katakan nak"
"Apakah keputusan yang aku ambil ini benar Dad? Aku takut menyesal nantinya. Aku takut apa yang dia katakan benar. Bagaimana jika suatu saat anak ini bertanya tentang orang tua nya. Tapi.. tapi aku tidak bisa menerima nya begitu saja. Terlalu menyakitkan"
Tangis Elica pecah saat dia mengeluarkan semua ketakutan yang akan dia hadapi kelak.
Albert menuntun Elica untuk duduk, karena dia tidak tega melihat putri itu terlihat sangat tertekan dalam kondisi nya yang tengah mengandung itu.
"Sudah sayang jangan menangis. Kau tidak perlu menangisi masa depan yang belum datang karena pemikiran mu. Hilangkan ketakutan mu itu, karena apa yang kau khawatirkan belum tentu semua nya terjadi. Coba lah untuk bersikap tenang, apalagi kau sedang hamil. Daddy tau kau pasti bisa melewati ini semua" kata Albert mencoba menasehati Elica dengan lembut.
"Tidak Dad, kau salah. Kenyataan nya aku tidak sekuat itu. Dan aku juga terus dihantui rasa bersalah ku pada Mommy. Andai saja aku dulu membiarkan Mommy pergi dengan kehidupan yang dipilih nya, dan aku tidak melakukan hal buruk sejauh ini. Pasti semua nya tidak akan seperti ini, dan mungkin Mommy masih hidup. Benarkan Dad, semua ini salah ku"
Albert menggelengkan kepalanya saat Elica mengatakan hal itu.
"Tidak Elica, jangan pernah berpikir begitu lagi. Semua ini bukan sepenuhnya salah mu, dan Mommy mu meninggalkan itu karena sudah menjadi takdir. Dengar nak, sekarang kau sudah dewasa. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu, jadi apapun keputusan mu jangan menyalahkan diri mu atau siapapun lagi. Ikuti saja apa kata hati mu, karena disana kau akan mendapatkan jawaban yang kau inginkan. Mengerti?"
Elica pun memeluk sang ayah, setelah mendapat nasehat itu hati dan pikiran nya terbuka. Benar apa yang ayah nya katakan, semua keputusan ada di tangan nya.
"Iya Dad aku mengerti. Terimakasih karena selalu ada saat aku terpuruk. Aku menyayangimu Dad"
"Daddy juga menyayangi mu sayang"
****
Keesokan harinya...
Alex terlihat datang lagi ke rumah Tuan Albert untuk menjemput Elica menuju ke rumah besar.
Keduanya pun berangkat menggunakan pesawat untuk mempersingkat waktu perjalanan mereka. Saat di perjalanan pun tidak ada obrolan dari kedua orang itu. Antara Alex dan Elica memilih diam dengan pikirannya masing-masing.
Begitu lah hubungan mereka berdua, saling berdekatan namun terasa jauh. Seakan ada tembok raksasa yang menghalangi jarak Alex dan Elica.
Sore hari, Akhirnya mereka sampai dirumah besar. Elica langsung disambut senang oleh Irene, wanita itu pun menyuruh Elica untuk segera istirahat. Padahal saat di perjalanan pun Elica tertidur sangat lama.
Saat memasuki ruang tengah, terlihat juga Bianca yang sedang duduk seraya memainkan ponselnya. Dia yang menyadari kedatangan Alex dan Elica, langsung merapikan posisi duduk nya.
"Alex.. kau sudah pulang?" Sapa Bianca namun tidak di jawab apapun oleh pria itu. Dan justru Bianca dihiraukan begitu saja oleh Alex dan Irene yang malah menggandeng Elica ke kamar nya.
"Brengsek" gerutu Bianca.
Irene yang kini berada di kamar Elica, juga ikut meletakkan barang-barang yang di bawa Elica dari rumah nya. Terlebih barang yang dibawa Elica sebagian besar adalah pakaian bayi yang menggemaskan. Membuat Irene tersenyum melihatnya.
"Bagaimana kabar ayah mu Elica?" Tanya Irene sambil memasukkan pakaian bayi ke dalam lemari.
"Daddy baik-baik saja Tante"
"Iya. Terimakasih Tante"
"Istirahat lah. Saat makan malam nanti Tante akan memanggil mu"
"Iya"
Irene pun keluar dari kamar tersebut meninggalkan Elica sendirian.
****
Satu Minggu kemudian....
Hari terus berganti, ada sedikit rasa tidak sabar dari benak Elica ingin segera bertemu dengan anak yang di kandung nya kini.
Meskipun setiap hari dia harus mengalami tekanan di rumah ini. Seperti melihat Bianca yang terus saja menempel di samping Alex. Cemburu, mungkin saja muncul di hati Elica. Namun tidak banyak yang dia bisa perbuat, karena dia juga belajar untuk tidak lagi menaruh perasaan pada pria itu.
Meskipun Elica terkadang heran dengan sikap Alex yang memperbolehkan wanita itu terus mendekati nya. Dan di sisi lain, Elica mempunyai alasan untuk tidak mempercayai segala yang di katakan Alex pada nya.
Malam ini Elica belum bisa memejamkan matanya. Entah mengapa perasaan nya sangat tidak menentu.
Tiba-tiba terdengar ponsel nya yang berdering. Saat melihat nomer yang tidak diketahui, Elica mengernyitkan keningnya ragu untuk mengangkat panggilan tersebut.
Dan akhirnya dia menerima panggilan tersebut yang sedari tadi terus berbunyi.
"Halo, siapa ini?" Tanya Elica
("Elica ini aku, Bibi Dorothy. Aku ingin memberitahu jika ayah mu di larikan ke rumah sakit. Dia pingsan hingga kini belum sadarkan diri")
Ujar wanita bernama Dorothy itu terdengar sangat panik. Elica yang mendapat kabar tersebut terasa tercekat.
"A-apa yang terjadi bibi? Lalu bagaimana kondisi Daddy saat ini?" Ucap Elica dengan susah payah saking terkejutnya.
("Dokter bilang jantung nya bermasalah dan harus segera dioperasi secepatnya. Bagaimana ini Elica, aku sangat bingung tidak ada siapapun disini") ungkap Dorothy yang sangat panik.
"Bibi tolong tenang lah. Jaga ayah ku dulu disana, aku akan mencari biaya untuk operasi nya."
("Baiklah Elica, tapi jangan terlalu lama. Oh Tuhan, andai aku mempunyai banyak uang mungkin aku akan membayar biaya terlebih dahulu daripada menelpon mu")
"Bibi tolong jangan panik, aku pastikan aku akan mendapatkan uang nya malam ini"
(" Baiklah Elica. Bibi tunggu, jaga di diri mu juga nak")
Elica pun memutuskan panggilan tersebut, dia sangat bingung sekarang. Bagaimana caranya dia mendapat uang untuk membayar biaya operasi ayah nya itu. Dia tidak tau harus meminta bantuan pada siapa. Tadi nya dia berpikir untuk menelpon Bryan agar membantu nya, tapi Elica tidak ingin mengganggu waktu Bryan dengan keluarga nya saat ini.
Sedangkan saudara yang dia miliki hanya ada Mia dan Zico, yang kini sedang berada di luar Negeri. Elica mengusap wajah kasar, rasa panik membuat bagian bawah perut nya terasa nyeri. Namun dia menyamping kan rasa sakit nya itu dan fokus pada sang ayah.
Terlintas dipikiran Elica nama Alex. Ya, mungkin yang kini bisa membantu nya adalah pria itu. Meskipun sedikit ragu, tetapi Elica menyingkirkan ego nya untuk meminta bantuan Alex.
Elica pun keluar dari kamarnya menuju ke kamar Alex, dia mengantuk pintu kamar tersebut namun tidak ads sahutan dari pria itu. Sangat tidak mungkin jika malam ini Alex sudah tertidur, melihat jam yang menunjukkan pikirane setengah dua belas malam.
Elica pun teringat untuk menuju ke ruang baca pria itu yang berada di sudut rumah. Dan ternyata benar, ruangan tersebut menampakkan sedikit cahaya lampu yang keluar dari pintu yang tidak tertutup sempurna. Tanpa pikir panjang Elica pun berjalan kearah sana.
Dia mengetuk pintu itu, tidak lama terdengar suara Alex yang memperbolehkan Elica masuk.
Saat Elica masuk, terlihat Alex yang tengah berbaring di sofa dengan posisi tangan yang berada diatas wajah nya dan menutupi kedua matanya.
"Ada apa?" Tanya Alex masih dalam posisi yang sama.
Sebenarnya Elica tidak tau harus memulai perkataan nya dari mana. Karena takut jika Alex tidak bersedia membantu nya.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan" jawab Elica. Terlihat Alex yang bangun dari sofa dan memposisikan dirinya untuk duduk menghadap Elica yang sedang berdiri.
"Katakan"
Elica pun menarik nafas ya sebelum memulai pembicaraan.
"Ayah ku sakit, dan baru saja aku mendapat kabar jika dia dilarikan ke rumah sakit. Dia belum sadarkan diri, Dokter bilang bahwa ayah harus melakukan operasi jantung secepatnya" ujar Elica menjelaskan.
"Lalu tujuan mu kemari untuk ?" Tanya Alex menggantung kan pertanyaan nya.
"Aku tidak tahu lagi harus meminta bantuan siapa malam-malam begini. Jadi aku butuh bantuan mu, agar meminjamkan ku uang untuk biaya operasi ayah" ucap Elica dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Alex yang mendengar hal itu tampak berpikir sejenak. "Berapa banyak?" Tanya Alex.
"Aku belum tahu pasti, tapi ayah harus melakukan operasi Cangkok Jantung. Itu sangat banyak" ungkap Elica pelan.
"Bagaimana jika aku tidak bisa membantu mu?"
Mendengar ucapan Alex, Elica pun menggeleng dengan air matanya yang sudah keluar. Dia tidak bisa membayangkan jika dia gagal mendapatkan uang sebesar itu.
"Ku mohon Alex, bantu aku. Aku tidak mau hal buruk terjadi pada ayah"
Sahut Elica yang terdengar putus asa.
Karena dia tahu, operasi itu membutuhkan biaya yang tidak kecil, dan bisa dipastikan untuk nominal nya bisa mencapai milyaran.
"Lalu apa imbalan untuk ku?" Kata Alex tiba-tiba, membuat Elica sedikit bingung.
"Imbalan? Tentu saja aku akan membayar hutang ku pada mu setelah semuanya selesai, Alex."
"Hutang ya hutang. Imbalan itu berbeda, suatu yang kau berikan pada ku jika aku bisa membantu mu" jawab Alex.
"Apa maksud mu sebenarnya Alex? Imbalan apa yang kau maksud?" Tanya Elica yang masih tidak mengerti maksud dari Alex.
Alex justru tertawa saat mendengar pertanyaan Elica.
Setelah nya pria itu pun langsung menampilkan ekspresi wajah nya yang sulit diartikan.
"Aku ingin.. hak asuh anak yang dikandung oleh mu, menjadi milik ku Elica. Dengan kata lain, aku menginginkan anak itu" kata Alex yang membuat Elica sangat terkejut.
"Apa?"
TBC
Please Follow Instagram : akiokokoru_69