
Curang itu adalah salah satu cara dari permainan, yang terpenting adalah menang.
Permainan ini sangat lah melelahkan. Bukan hanya diri ku tapi hati ku juga merasakan hal yang sama. Perasaan ku bagi mu seolah hanyalah sebuah tali, yang kadang kau tarik dan kadang kau ulur kembali.
Jika kehadiran ku hanya untuk melihat sandiwara, harus nya kau juga bisa bersandiwara untuk tidak mengetahui keberadaan ku.
********
"apa?"
Elica menggelengkan kepalanya tegas, tentu saja dia sangat menolak hal tersebut.
"Tidak. Dia anak ku Alex, kau tidak bisa mengambil nya."
Alex terlihat berdiri dari duduknya. Pria itu menghampiri Elica yang kini terlihat berantakan dan lagi bekas air mata di pipi nya yang masih belum menghilangkan sempurna. Menggambarkan jika perempuan itu sedang panik.
"Aku akan memberi mu pilihan. Tinggalkan anak itu dengan ku.. atau aku tidak akan memberikan bantuan untuk ayah mu"
Entah mengapa tiba-tiba saja air mata Elica keluar. Mendengar ucapan Alex barusan membuat hati nya sakit. Sepertinya dia salah meminta bantuan pada pria yang ada di hadapannya kini.
"Kau selalu saja seperti ini. Mengambil keuntungan dari kesulitan orang lain" ujar Elica.
"Aku belajar dari mu Elica. Bukankah dulu kau yang memulai nya"
Elica hanya tertawa sinis saat Alex menyinggung nya. Memang Elica akui jika dulu dia pernah melakukan nya. Dan jika di ingat lagi hal itu tentang dirinya yang membuatnya kan kopi untuk Alex dengan bayaran sebuah mobil.
Tapi bukankah sekarang berbeda. Karena nyawa ayah nya sedang dalam bahaya. Haruskah Alex meminta hal konyol seperti tadi, dan tentunya Elica akan menolaknya dengan keras.
"Lupakan jika aku meminta bantuan dari mu. Aku akan meminta bantuan pada orang lain saja" ucap Elica menghapus air mata nya dengan cepat dan berbalik meninggalkan tempat tersebut.
"Pada siapa? Tante Irene? Malam-malam seperti ini kau akan membangunkan nya dari tidur, lalu meminta uang dengan jumlah yang besar? Dan menolak aku yang jelas-jelas bersedia melakukan nya. Apa kau pikir kau sudah sedekat itu dengan Tante Irene dan meminjam uang"
ujar Alex yang berhasil menghentikan langkah Elica.
"Setidaknya aku akan mencobanya." Jawab Elica.
"Masalah seperti ini saja kau mengandalkan orang lain. Apalagi kau harus merawat anak itu. Kau pikir membesarkan anak tidak membutuhkan biaya besar? Kau tidak akan bisa membelikan apapun yang kelak dia mau. Tapi.. jika dia hidup dengan ku, dia akan mendapatkan apapun yang di inginkan nya. Mainan, kemewahan, dan tentunya masa depan yang cerah. Tidak seperti mu yang berakhir bekerja sebagai office Girl." Ucap Alex panjang lebar.
"Aku bisa melakukan nya. Aku bisa Alex. Aku bisa membesarkan nya" pekik Elica yang sudah sangat sakit hati dengan perkataan Alex yang sangat merendahkan diri nya.
"Dengan cara apa?" Teriak Alex yang juga sudah terbawa emosi.
"Aku akan membesarnya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Meskipun dia hidup dengan kekurangan, aku akan melakukan apapun untuk nya" tangis Elica sudah tidak terbendung lagi.
Dia melihat kilatan amarah yang terpancar dari mata Alex yang menatap dirinya dengan tajam. Elica terkadang bingung dengan pria ini, kadang dia lembut dan kadang dia sangat keras kepala.
"Aku tidak akan membiarkan anak ku menjadi seperti mu Elica. Tidak akan" desis Alex pada Elica yang kini sedang menangis di hadapan nya.
"Bagi ku kau adalah orang jahat yang pernah ku temui" ujar Elica dengan sesenggukan. Perempuan itu juga memukul-mukul dada nya sendiri yang terasa sesak dengan semua penghinaan yang baru saja dia terima.
Seperti nya takdir sangat senang melihat nya menderita. Berkali-kali dia disakiti oleh pria yang sama namun tidak pernah ada satu kesempatan pun untuk nya pergi. Dan Elica tidak bisa mengelak apa yang di katakan Alex barusan adalah kebenaran. Bahkan untuk membela dirinya saja Elica tidak memiliki cela.
Dan Elica sadar, mungkin dia dilahirkan dengan penuh kesialan.
Dengan cepat Alex berbalik menuju ke meja kerja nya kemudian mengambil ponselnya.
Alex pun berjalan mendekati Elica dengan cepat.
"Tulis berapa pun yang kau mau" kata Alex menyodorkan ponsel tersebut pada Elica untuk mentransfer biaya operasi Albert. Namun Elica hanya diam belum merespon apapun.
"Jangan terlalu lama berpikir. Kau tau aku bukan orang yang sabar. Pikirkan tentang nyawa ayah mu terlebih dahulu, masalah tadi biar kita bicarakan nanti"
Pada akhirnya Alex tidak tega melihat Elica yang tidak bisa apa-apa di depan nya. Alex menyadari jika ucapannya tadi sudah keterlaluan dan melukai perempuan itu. Namun jika Elica bisa mengerti, maksud dari Alex adalah agar dirinya tidak pergi saat bayi itu lahir.
Pada kenyataannya Alex adalah orang yang memiliki gengsi yang sangat tinggi. Hingga dia tidak bisa mengatakan nya secara gamblang.
Tanpa di sangka Elica pun mengambil ponsel milik Alex dan mengisi jumlah dana yang akan di bantu oleh Alex.
Setelah selesai, Elica pun mengembalikan lagi ponsel tersebut pada Alex. Dia memejamkan matanya sejenak, berharap apa yang dia lakukan saat ini tidak salah.
"Aku akan menganggap ini sebuah hutang, kau tenang saja aku pasti aku pasti membayar nya. Tapi jangan berharap kau bisa mengambil anak ku" ucap Elica pada Alex kemudian memutuskan untuk pergi keluar dari ruangan tersebut.
Alex menatap ponsel yang ada di tangan nya. Terlihat notifikasi jika dirinya berhasil mengirimkan uang pada rekening Elica senilai 20 Milyar. Meskipun bagi Alex uang tersebut tidak ternilai apapun Dimata nya. Namun hanya dengan cara licik seperti ini, dia bisa menahan Elica tetap di sisi nya.
"Aku harap kau tidak akan bisa membayar nya Elica" ucap Alex dengan pelan.
***
Pagi hari Irene terlihat sudah segar. Wanita itu menuruni tangga dan berjalan menuju ke dapur. Di sana sudah ada bibi Christin yang sedang menyiapkan sarapan, namun anehnya tidak ada Elica. Padahal setahu Irene, Elica selalu bangun pagi dan sudah berada di dapur.
"Elica belum bangun?" Tanya Irene pada bibi Christin
"Sepertinya belum nyonya."
Tanpa berpikir panjang Irene pun memutuskan menghampiri kamar Elica.
Setelah sampai dia mengetuk pintu kamar tersebut dan tak lama menampilkan Elica yang terlihat berbeda.
"Kau sakit?" Tanya Irene lagi dan hanya di balas gelelengan kepalanya oleh Elica. Irene yang nampak cemas dengan kondisi Elica terkejut, saat tiba-tiba Elica memeluk nya.
Dan terdengar suara tangisan kecil dari Elica yang di dengar oleh Irene.
"Tante..."
"Ya Elica. Kau kenapa sayang, kau bisa beritahu Tante apapun. Katakan ada apa?" Kata Irene menenangkan Elica.
"Ayah ku.. semalam dia masuk ke rumah sakit"
"Apa" dengan cepat Irene melepaskan pelukan nya dengan Elica dan meminta penjelasan dari Elica.
"Apa yang terjadi Elica?"
"Aku tidak tahu Tante. Tapi semalam tetangga ku menelpon jika ayah tidak sadarkan diri. Dan dia harus melakukan operasi hari ini" jelas Elica
"Lalu bagaimana kondisi nya sekarang? Apa kau sudah mengetahui nya"
"Belum. Tapi satu jam lagi ayah akan menjalani operasi, dan aku tidak bisa menemani nya. Aku ingin kesana tante"
Ujar Elica dengan menangis.
"Tidak bisa Elica. Kandungan mu sudah besar, kau pasti tidak di perbolehkan untuk menjalani perjalanan udara. Sangat bahaya"
"Tapi aku harus bagaimana Tante?"
"Tenangkan dirimu Elica. Dengar, Tante akan menyuruh orang Tante untuk mengawasi kondisi ayah mu. Tapi kau harus berjanji kau tidak boleh tertekan atau memikirkan apapun. Ingat kandungan mu sayang"
Akhirnya Elica pun merasa sedikit tenang atas apa yang di katakan Irene
Irene pun menyuruh Elica untuk membersihkan diri dan bersiap sarapan bersama di ruang makan.
Sedangkan di sisi lain Alex terlihat sangat buru-buru. Dia keluar dari kamar dan terkejut saat mendapati Bianca yang sudah ada di depan pintu kamar nya.
"Pagi Alex" sapa Bianca dengan wajah berbinar yang di tunjukkan pada Alex.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Tanya Alex ketus.
"Tadi ayah ku menelpon jika hari ini dia akan bertemu dengan mu. Apakah itu benar?"
"Tidak ada hubungannya dengan mu"
Mendapatkan perlakuan dingin dari Alex rupanya tidak membuat Bianca pesimis. Kenyataan nya wanita itu justru malah menampilkan senyum menawan nya pada Alex.
"Sebenarnya aku juga merindukan ayah ku. Aku ingin menemui nya juga. Bolehkah aku ikut dengan mu Alex?"
Ternyata Alex mulai jengah dengan keberadaan Bianca yang mengganggu pagi nya. Bahkan pertemuannya dengan Andrew yakni ayah Bianca, sama sekali tidak ada hubungannya dengan wanita ini.
"Bianca, aku ingin membicarakan masalah bisnis dengan ayah mu. Tidak ada sangkut pautnya dengan diri mu"
"Tapi aku ada. Bagaimana pun juga aku harus memberitahu ayah ku tentang kejadian yang kita alami kemarin"
Alex terlihat mendengus kasar, jika bukan karena suatu hal penting yang harus dia dapatkan, mungkin dia sudah menyingkirkan Bianca dari awal. Karena wanita ini sangatlah merepotkan bagi Alex.
"Baiklah kau bisa ikut. Aku justru berharap ayahmu akan marah dengan ku dan menyuruh mu segera keluar meninggalkan tempat ini"
Seketika senyum Bianca hilang dari wajah nya. Mendengar apa yang dikatakan Alex memang ada benarnya, namun sejujurnya Bianca masih tidak mau meninggalkan rumah ini apalagi meninggalkan Alex dan Elica.
"Oke oke aku tidak jadi ikut. Tapi kau harus berjanji untuk bertanggung jawab pada ku Alex" kata Bianca mengingatkan Alex.
"Kau tenang saja. Aku akan bertanggung jawab dan menjelaskan hal itu pada ayah mu dengan cara seorang pria" Jawab Alex dan membuat Bianca merasa senang.
"Terimakasih Alex kau adalah pria yang pemberani. Aku mencintai mu" kata Bianca dan tiba-tiba menarik Alex kemudian mencium leher pria itu cukup lama. Dan sejujur nya Alex juga terkejut dengan sikap agresif Bianca yang sangat mendadak.
Tanpa mereka sadari Elica melihat keduanya dari bawah. Posisi Alex dan Bianca membuat siapapun yang melihat nya akan salah paham. Dan Alex yang menyadari Elica yang sedang melihat kearah nya dengan tatapan sendu nya. Namum dengan cepat Elica mengubah ekspresi wajah nya biasa saja, seolah tidak ada apapun yang pernah dia lihat.
Dengan cepat Alex melepaskan Bianca, membuat wanita itu tersentak sedikit tidak senang.
"Jaga batasan mu Bianca"
TBC.
Thor kok banyak banget biaya ayah Elica sampe 20 Milyar?
Ya suka-suka Author dong sayang, kan yang buat cerita Author.
Thor kok update nya lama?
Sebenarnya ceritanya udah tamat, cuma masih di kepala saya. Tapi karena saya kadang cape dan males ngetik jadi lama. Karena nunggu tuhan memberikan keniatan mengetik.
Btw besok update lagi kok. Jangan lupa komen