
4 Tahun Kemudian....
Sebuah pintu mewah terbuka lebar dan menampilkan seorang gadis kecil yang cantik berlari kedalam rumah dengan tas yang masih di gendong nya. Dia mengenakan seragam sekolah dengan Rambut nya di kuncir dua, gadis kecil tersebut tidak lain ialah Nancy.
Yang kini sudah berusia 5 tahun, dan sedang antusias karena telah bersekolah. Dia nampak berlari seraya mencari seseorang.
"Oma... Oma.. Nancy pulang.. Oma dimana?" Gadis kecil itu pun menuju kearah dapur saat tidak mendapati orang yang dia cari tak kunjung bertemu.
"Nancy.. Oma di dapur kemari lah sayang"
Sejak dulu Irene selalu di panggil "Oma" yang berarti "nenek". Dia berperan besar dalam masa pertumbuhan Nancy karena Alex sedikit acuh pada anak nya tunggal nya tersebut.
Hal itu berawal dari peristiwa kecelakaan dulu, Alex yang menyadari dia tidak bisa berjalan dengan normal akhirnya bersikap dingin dan tertutup dengan orang lain termasuk anak nya sendiri.
Meskipun saat ini Alex sudah bisa berjalan dengan menggunakan satu tongkat untuk membantu nya berjalan. Tetapi dia masih saja tidak mau membuka diri pada dunia seperti dahulu.
Ditambah kepergian Elica yang tidak kunjung ditemukan membuat Alex terpuruk sangat dalam. Dan berakibat pada si cantik Nancy yang tidak mendapatkan kasih sayang apapun oleh kedua orang tua kandungnya.
Dengan langkah lincah nya Nancy pun menghampiri Irene yang sedang membuat jus. Dia langsung memeluk pinggang Irene dari belakang.
"Hai sayang kenapa?"
Irene yang merasa ada sesuatu yang aneh pada Nancy saat ini, namun gadis kecil itu hanya menggeleng pelan.
Irene pun berjongkok untuk mensejajarkan posisinya dengan tinggi Nancy.
Dia melihat mata Nancy yang sedang menahan untuk menangis.
"Ceritakan pada Oma yang terjadi sayang?"
"Disekolah akan mengadakan hari ibu. Dan menyuruh ibu untuk datang, tapi tadi Tania bilang jika aku tidak punya ibu" ujar Nancy seraya menangis.
Irene yang mendengar hal itu terhenyak merasakan apa yang Nancy rasakan. Meskipun dia masih sangat kecil namun Nancy sudah mendapatkan kesedihan karena tidak ada sosok ibu yang menemani nya.
"Kata siapa Nancy tidak punya, Nancy punya ibu kok. Hanya saja ibu kamu sedang bekerja, maka dari itu dia belum bisa pulang bertemu dengan kamu sayang" itulah alasan yang sering kali Irene ungkapkan untuk menenangkan Nancy.
Entah sampai kapan dia akan memberikan jawaban yang sama pada Nancy, namun pada akhirnya lambat laun Nancy pun akan mengetahui kebenaran yang terjadi.
"Daddy juga bekerja, Oma. Tapi Daddy selalu pulang setiap hari. Lalu kenapa ibu ku tidak? Apa ibu tidak sayang Nancy, Oma? Apa dulu Nancy selalu nakal hingga ibu tidak mau bertemu dengan Nancy?"
Dengan cepat Irene langsung memeluk Nancy. Air mata nya tidak bisa dia bendung lagi ketika mendengar penuturan yang baru saja dia dengar. Kenyataan nya, Irene sudah tidak bisa memiliki kebohongan lagi yang harus dia ungkapkan setiap hari.
"Nanti Oma yang akan datang untuk merayakan hari ibu, okay" gadis kecil itu pun hanya bisa mengangguk pasrah.
***
Malam ini Elica sedang berada di apartemen Ren. Pria itu terlihat sangat sibuk menyiapkan lensa kamera nya yang akan si gunakan untuk pemotretan.
Dan lebih menyebalkan bagi Elica saat ini ialah dia seperti tidak dianggap keberadaan nya, padahal Ren sendiri yang memintanya datang untuk membawakan nya sebuah makan malam.
"Aku pulang saja. Melihat mu sibuk sendiri membuat ku merasa seperti patung yang tidak terlihat"
"Besok Weekend, tidak masalah bukan jika kau menemaniku mempersiapkan peralatan kerja ku" Ujar Ren yang meminta Elica tinggal.
Elica terlihat memutar matanya jengah. Memang benar jika besok dia tidak memiliki kegiatan apapun karena libur bekerja.
Dan sekarang Elica sudah menjadi seorang psikolog yang bekerja di departemen kesehatan yang menangani masalah mental orang-orang. Dia berhasil menyelesaikan kuliah nya dan keluar dari kesulitan dulu. Walaupun demikian, Elica sampai saat ini masih mengirimkan uang pada kantor Alex. Seperti biasa tanpa nama dan alamat pengirim.
Jepang merupakan tempat Elica berubah sepenuhnya menjadi wanita yang tangguh dan gigih. Bisa dikatakan dia sudah berhasil menggapai semua impian nya dulu, dan meninggalkan masa lalu kelam nya.
"Garry akan mengadakan pameran arsitektur di New York pekan depan. Dia meminta ku sebagai Fotografer untuk ikon proyek terbaru nya. Tidak kah kau ingin ikut? Aku akan mengenal kan mu pada nya" kata Ren yang berniat mengajak Elica bertemu dengan kekasih pria nya.
"Aku tidak memiliki kepentingan apapun disana Ren, lagi pula jadwal ku padat"
Suasana terlihat hening sesaat. Elica mengalihkan perhatian nya pada salah satu kamera Ren yang berada diatas meja.
"Kau tidak merindukan anak mu, Anami? Setidaknya lihat lah keadaan nya sesekali tanpa sepengetahuan pria itu. Dia sudah besar pasti nya dan aku yakin dia selalu menanyakan mu. Aku memiliki dua tiket ke pameran itu, kau bisa menggunakan nya sebagai alasan kesana"
"Cukup Ren, aku tidak ingin membahas apapun lagi tentang masa lalu. Aku yakin dia baik-baik saja, dan aku tidak akan kesana"
Elica beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ke dapur milik Ren. Dia sengaja menghindari pembicaraan tentang anak nya atau pun hal lain nya.
Elica kembali ke sofa dan duduk kembali dengan sekaleng soda yang ada di tangan nya. Dia menenggak minuman itu dengan cepat seperti melampiaskan perasaan nya saat ini.
"you are a very stubborn woman" ujar Ren ketus dan berhasil di dengar oleh perempuan yang ada di hadapannya.
Elica yang mendengar ucapan Ren hanya tersenyum sinis karena sindiran pria itu.
"Yes, i am" jawab Elica.
***
Wanita itu menoleh kearah Alex yang sangat kacau. Bahkan dia bisa melihat jenggot tipis yang mulai tumbuh di dagu Alex menandakan jika pria itu tidak mengurus dirinya dengan baik.
"Kau sudah pulang. Mandilah dan makan malam terlebih dahulu. Tante sudah menyiapkan makanan untuk mu"
"Nancy?"
"Dia sudah tidur sejak sore. Pulang sekolah dia menangis karena guru nya menyuruh ibu murid untuk datang di hari ibu"
Mendengar penuturan dari sang Tante Alex hanya bisa mengusap wajah nya kasar. Dia mendudukkan dirinya di samping Irene.
Terdengar helaan nafas berat dari pria itu. Tanpa disangka, Alex membaringkan kepalanya di pangkuan sang Tante.
Irene terkejut bukan main saat mengetahui perilaku Alex yang tiba-tiba seperti ini. Ditambah terdengar suara isakan dari pria itu yang membuat Irene tampak khawatir.
"Alex...kau menangis? Kenapa sayang? Ada masalah?" Tanya Irene pelan seraya mengelus rambut Alex.
"Aku merindukan nya Tante" itulah kalimat yang barusaja Irene dengar dan membuat nya terenyuh. Dia tahu betul yang dimaksud oleh Alex adalah Elica.
"Lima tahun aku mencari nya tapi tidak kunjung bertemu. Aku lelah dan sangat bersalah. Entah itu pada dia atau pun pada Nancy, karena aku memisahkan mereka berdua. Apalagi pada Nancy, aku selalu meninggalkan nya pagi hari saat dia belum terbangun dan selalu pulang saat dia sudah tertidur. Dia tidak mendapatkan apapun dari ku, apa yang Elica katakan dulu benar. Aku tidak bisa membahagiakan anak ku, apalagi sekarang aku cacat" ujar Alex yang membuat Irene juga ikut tersedu.
"Jangan berkata demikian Alex, kau pasti akan menemukan Elica. Hanya saja Tuhan belum mengizinkan nya untuk sekarang" Irene mencoba menasehati Alex yang kini sedang rapuh.
Pria yang dulu sangat di segani dan berwibawa kini berubah menjadi pria yang tertutup.
"Dulu saat aku menjalin hubungan dengan Evelyn, aku mengetahui semua tentang nya. Bahkan ukuran bra nya saja aku tahu, Tante. Tapi Elica, yang menjadi ibu dari anak ku. Sekaligus wanita yang aku cintai, aku tidak mengetahui apapun tentang nya. Aku tidak tau makanan kesukaan nya, apa warna favorit nya pun aku tidak tau, Padahal dulu kami sangat dekat. Orang macam apa aku ini Tante, yang memisahkan ibu dari anak nya. Aku adalah pria yang sangat buruk kan Tante. Untuk tau sekarang dia ada di mana pun aku tidak tau. Seperti nya hukum karma sedang membalas perbuatan ku dulu"
Irene tidak kuat mendengar keluh kesah Alex. Dada yang sangat sesak dia hanya bisa mengigit bibir bawah nya untuk menahan tangisanya. Dia akui apa yang dulu Alex lakukan pada semua orang memanglah sangat kejam. Tapi melihat keadaan Alex saat ini membuat Irene sangat tidak tega melihat kehancuran Alex. Dunia seakan bersorak gembira karena penderitaan Alex saat ini, namun pria itu masih berusaha bertahan dengan sedikit harapan ditangannya.
Irene yakin jika suatu saat Alex dan Elica akan menemukan kebahagiaan nya. Dan dia berharap tidak ada keegoisan lagi pada keduanya yang mengorbankan kebahagiaan Nancy nanti nya.
"Jangan menyerah Alex, tetap lah mencari nya. Tante akan selalu ada di belakang mu"
***
Pagi ini Elica sedang sarapan dengan sang ayah. Elica sesekali melihat kearah ponsel nya untuk membaca jadwal nya besok hari.
Albert mengambil air putih yang ada di gelas, kemudian dia berdehem membuat Elica menatap kearah nya.
"Nak.. ada yang ingin Daddy bicarakan" ujar Albert berhasil membuat Elica penasaran.
"Ada apa Dad?"
Albert tidak langsung mengutarakan pemikiran. Dia berfikir sejenak dengan menatap Elica dalam diam.
"Dad?"
"Sebenarnya.. Daddy ingin mengunjungi makam ibu mu sayang"
Elica pun terdiam tidak bisa menjawab apapun.
"Sudah lama kita tidak melihat makam nya. Dan Daddy juga merasakan rindu pada rumah kita dulu"
"Jadwal ku padat Dad. Dan cuti ku masih lama"
Mendengar ucapan Elica, Albert hanya bisa menghela nafas pasrah. Dan Elica menyadari jika perkataan nya tadi membuat sang ayah kecewa.
"Ren akan ke New York pekan depan. Jika Dad mau, aku bisa mengatakan pada Ren agar Daddy ikut. Bagaimana?"
Albert pun menggeleng tidak mau atas usulan Elica. Setelah pembicaraan tersebut sang ayah pun langsung beranjak meninggalkan meja makan.
Jujur sebenarnya Elica Merasa sangat bersalah karena tidak bisa memenuhi permintaan ayah nya.
Keesokan harinya, Elica sudah berada di ruangan kerja nya. Dia sedikit terganggu karena pembicaraan dengan sang ayah kemarin. Sehingga Elica tidak bisa konsentrasi saat bekerja.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke bagian HRD untuk menyerahkan formulir pengajuan cuti kerja. Meskipun Elica tau kemungkinan nya sedikit dia akan mendapatkan acc, namun dia akan mencoba demi sang ayah.
Tidak lama ponsel miliknya berdering, dan ternyata Elica langsung di telpon oleh pimpinan nya yang tidak lain adalah temannya sendiri.
Pimpinan nya langsung menanyakan alasan Elica meminta cuti di waktu yang mendadak, dan dengan sedikit sandiwara yang Elica katakan, tanpa di duga dia bisa dengan cepat mendapatkan izin untuk cuti. Mengingat selam ini Elica belum mengambil jatah cuti nya dulu.
TBC.
****
Ditunggu komentarnya....
Dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan..
Follow IG Author : @akiokokoru_69