Playing With Fire

Playing With Fire
Part 31



Seorang pria yang mengenakan baju berjas putih memasuki sebuah kamar di rumah sakit. Pria tersebut terlihat menatap tajam kearah seorang wanita paruh baya yang sedang tertidur di atas ranjang nya. Dengan gerakan perlahan tanpa suara, pria itu menyuntikkan sesuatu ke dalam infus pasien wanita tersebut.


Setelah selesai, pria yang berpakaian ala dokter itu langsung keluar meninggalkan kamar tersebut. Dan tiada yang menduga jika pria itu adalah seseorang suruhan Alex yang sengaja ditugaskan untuk mencelakai Hilda yang kini sedang dirawat dirumah sakit.


Entah apa yang di masukan dalam jarum suntik tadi, namun karena kelalaian seseorang yang tidak menjaga Hilda, wanita itu kini sedang dalam bahaya.


***


Di apartemen Bella.


Elica sedang membereskan pakaian nya kedalam koper. Dia berniat akan pergi ke Seattle hari ini, mengingat kejadian semalam yang dilakukan Devan pada nya, membuat dia harus segera pergi dari tempat ini. Dan lagi Elica tidak ingin jika Bella tau dengan kejadian tadi malam.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Bella yang tiba-tiba sudah diambang pintu kamar Elica.


"Aku akan ke pergi hari ini"


"Hari ini? Tapi Bryan tidak mengatakan apapun padaku jika kau akan pergi"


"Tidak penting apa yang Bryan katakan, tapi aku harus pergi" Elica pun berdiri menghampiri Bella. "Terimakasih karena sudah memberikan ku tempat tinggal, Bella" ujar Elica lagi sambil tersenyum hangat.


Bella masih terdiam tidak mengerti, dan mencoba mencerna ucapan Elica lagi. Karena setahu nya, apa yang akan Elica lakukan akan diberitahu terlebih dahulu oleh Bryan pada nya.


"Tunggu Elica... Aku akan menelpon Bryan dulu untuk memastikan" ucap Bella mencoba menghubungi Bryan, namun baru dia mengambil ponsel nya, Elica langsung merebut ponsel milik Bella.


"Aku akan memberi tahu nya sendiri." Ujar Elica.


"Tapi..."


"Taksi ku sudah di depan, terimakasih untuk semuanya Bella"


Bella yang tidak tau harus berbuat apa hanya bisa mengangguk pasrah dengan kepergian Elica yang sangat mendadak ini. Dia merasa ada sesuatu yang sedang ditutupi oleh Elica, namun dia tidak tau hal tersebut.


Bella pun mengantar Elica sampai di depan apartemen, dan membantu Elica memasukkan koper nya kedalam mobil. Sebelum pergi Elica pun memeluk Bella dan kembali mengucapkan terimakasih.


Karena Elica masih merasa bersalah tentang kejadian tadi malam yang dilakukan Devan pada nya. Dan Elica tidak mau lagi merusak hubungan seseorang hanya karena dirinya. Lebih baik jika dia pergi sesegera mungkin dari orang-orang yang tidak ingin dia lukai.


Taksi yang ditumpangi Elica pun berjalan meninggalkan tempat Bella. Terlihat seulas senyuman kecil dari bibir Elica, karena dia sudah berhasil menghindari masalah yang belum sempat terjadi.


***


"Tidak... Benda-benda itu menertawai ku. Kalian harus percaya. Mereka meledek ku, tolong singkirkan"


Ujar seorang wanita yang sedari tadi berteriak tidak jelas setelah dia terbangun dari tidurnya. Wanita itu adalah Hilda.


Dokter dan para suster yang datang ke kamar nya pun diteriaki oleh Hilda. Karena wanita itu beranggapan jika benda yang ada di kamar semua nya hidup dan tertawa kearah nya.


"Nyonya Hilda, tolong tenang lah. Jangan terus berteriak anda akan mengganggu pasien yang lain" ucap sang dokter.


"Tapi Dok, lihat kursi itu. Dia..dia tertawa pada ku. Dia bahkan memiliki mata dan mulut" Hilda mengucapkan hal-hal yang tidak masuk masuk akal dan membuat orang disana tidak mempercayai nya.


"Nyonya Hilda, itu tidak mungkin. Lebih baik anda minum obat dulu setelah itu kembali beristirahat. Jika anda terus berteriak maka kami akan memindahkan anda ke rumah sakit jiwa"


"Aku tidak mau minum obat, dan aku tidak gila. Mengerti. Hubungi Mia, suruh dia kesini untuk menjemput ku. Cepat!!" Teriak Hilda marah.


Akhirnya dokter pun memutuskan untuk menyuruh dua perawat memegangi Hilda, dan menyuntikkan obat penenang agar Hilda kembali tertidur.


Tidak butuh waktu lama, Hilda pun sudah memejamkan matanya. Dan tak lupa, Dokter pun menyusulkan agar tangan Hilda diikat pada sisi ranjang agar tidak terus memberontak.


Siapa yang menduga hal yang terjadi pada Hilda merupakan tindakan Alex. Benar, pria itu membayar seorang dokter di rumah sakit tersebut untuk menyuntikkan sesuatu agar wanita itu mengalami halusinasi berat, hingga seperti orang gila.


Dan tujuan Alex memanglah memasukkan Hilda ke rumah sakit jiwa. Pria itu tidak berpikir panjang saat amarah menghinggapi hati nya. Hal ini dia lakukan juga karena Elica yang tidak mau mendengar kan nya, bahkan wanita itu tidak menghiraukan semua ancaman nya.


Jika saja, Elica mau menuruti kemauan nya mungkin kali ini ibu nya tidak akan menjadi korban karena tindakan Elica.


Ditempat lain, Mia yang sedang keluar dengan suaminya mendapatkan sebuah telepon dari rumah sakit dimana Aunty nya dirawat. Dan pihak rumah sakit meminta agar Mia segera datang karena ada masalah penting.


Mia yang khawatir langsung memberitahu hal ini pada suami nya. Kemudian mereka bergegas menuju ke rumah sakit.


Setelah sampai Mia dan Zico berjalan menuju keruangan Dokter untuk membicarakan masalah yang tadi di beritahukan pada nya.


Mereka duduk dihadapan sang Dokter yang menangani Hilda.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Aunty saya dok?" Tanya Mia cemas.


"Begini, beberapa jam yang lalu saat nyonya Hilda bangun dari tidur nya tiba-tiba dia menangis. Dan kemudian tidak lama dia mulai berteriak tidak jelas, dan berusaha menyakiti perawat yang akan memeriksa nya" jelas Dokter tersebut.


"Bagaimana bisa? Maksudnya menyakiti itu bagaimana Dokter?"


"Dia melempar benda yang ada dikamar rawat, dan berbicara jika semua benda yang ada di dalam menertawakan nya. Jujur saja saya cemas, takutnya kejiwaan nyonya Hilda mulai terganggu"


Mia yang tidak percaya itu hanya tertegun. Tidak mungkin jika Aunty nya begitu.


"Kenapa tidak diberikan obat Dok?" Kini Zico, suami Mia pun membuka suara.


"Saya sudah memberikan nya obat penenang tuan. Dan kini nyonya sudah tertidur. Tapi maaf, kami terpaksa mengikat tangan nya agar dia tidak memberontak lagi saat bangun"


"Omong kosong apa itu. Anda pikir Aunty saya apa? Dia tidak gila dokter. Kenapa mengikat nya. Saya membawa nya kesini karena dia Demam dan lemah, dia hanya butuh obat. Kenapa bisa sampai begini" Mia yang mulai emosi karena semua ini tidak masuk akal baginya pun berteriak kearah sang dokter.


Zico dengan sigap langsung menahan Mia agar istrinya tidak berbuat hal yang berlebihan.


"Mia tenanglah. Kita dengar dulu penjelasan dokter" Akhir nya Zico pun berhasil mendudukkan Mia lagi setelah wanita itu berdiri.


"Maaf, saya hanya bisa memberitahukan jika saat nyonya Hilda datang kesini kondisi nya sudah memprihatinkan. Dia sudah dikatakan mengalami depresi saat itu. Ditambah kondisi tubuh nya yang tidak mau memakan apapun mengakibatkan dia mudah mengalami halusinasi. Jika hal ini terus memburuk, dengan sangat terpaksa kami akan memindahkan nyonya Hilda ke rumah sakit jiwa agar tidak menganggu pasien yang lain"


Mendengar penjelasan sang dokter, Mia pun langsung menangi dan Zico pun memeluk istrinya itu. Ingin sekali dia menepis pernyataan tersebut, namun semua itu adalah kebenaran. Dan mungkin juga benar jika sang Aunty sudah mengalami depresi karena pernikahan nya. Mia pun kini bingung harus melakukan hal apa. Dia tidak tega jika Aunty nya di masukkan kedalam rumah sakit jiwa. Apa yang harus dia katakan nanti pada paman dan Elica karena dia gagal menjaga Aunty nya.


***


Sore hari Alex terlihat berada di dalam mobil nya untuk pulang ke rumah setelah pekerjaan nya selesai. Pria itu terlihat memejamkan matanya di kursi belakang supir, dasi di lehernya pun sudah dia lepas karena terasa mencekik leher nya.


Entah mengapa hari ini, pria itu terlihat sangat kelelahan. Dan Alex pun berniat untuk merilekskan dirinya berendam air hangat saat tiba nanti di rumah mewah nya.


Terlihat ponsel miliknya bergetar tanda ada panggilan masuk. Alex membuka matanya dan mengambil ponsel yang ada di sebelah duduk nya. Tanpa menunggu lama dia pun mengangkat panggilan tersebut.


"Ada kabar apa?" Ujar Alex sekena nya.


("Besok Nyonya Hilda akan dipindahkan ke rumah sakit jiwa, Tuan")


Ucap seseorang di sebrang sana. Tanpa sadar seulas senyum terlihat dari bibir Alex. Rasa kantuknya yang tadi menghampiri pria itu, dengan sekejap langsung hilang begitu saja setelah mendengar kabar itu.


"Kerja bagus. Kau tunggu bonus mu nanti malam"


("Terimakasih tuan, senang berkerja sama dengan anda")


"Ya"


Alex pun langsung memutuskan panggilan tersebut.


"Tunggu giliran mu, Elica sayang" gumam Alex dengan senyum miring nya.


TBC.


Update setiap Minggu ya ges ya..


Jangan lupa komen...