Playing With Fire

Playing With Fire
PERTEMUAN (PROLOG)




Magic school - Kebun bunga sakura, pukul 08.00 pagi


Bunga sakura terus berjatuhan, melengkapi pertemuan indah antara Sean dengan gadis yang berada di atas pohon itu. Sean terus menatap gadis itu dengan mendongak, karena gadis itu berada jauh tinggi di atas pohon. Entah kenapa dia bisa sampai terjebak di atas sana.


'Kenapa dia terus memandangiku seperti itu?' Batin Adara melihat wajah Sean yang sedang menikmati apa yang dia lihat.


"Bisakah kau membantuku dulu, aku sedang kesulitan" Tanya Adara, yang tengah kerepotan memeluk kucing di pangkuannya.


Rupanya dia naik ke atas pohon untuk menyelamatkan seekor kucing yang tidak bisa turun dari atas sana. Tapi pada akhirnya mereka terjebak disana. Sebenarnya Adara bukan orang yang sebaik itu, dia ingin menurunkan kucing itu karena terus mengeong dan itu sangat berisik.


'Bagaimana caraku menolongnya? Jika aku sama sama naik ke atas itu adalah hal yang bodoh.' Batin Sean.


"Kau mau aku menolongmu dengan cara apa?" Tanya Sean karena benar benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Bisakah kau carikan tangga? Kucing ini sangat ketakutan dia terus memberontak dan ingin kabur" Ucap Adara. Sebenarnya posisinya sangat rentan ingin jatuh, tapi dia memeluk erat kucing itu dengan kedua tangannya, tanpa berpegangan apapun.


"Kita dikebun sekarang, mana ada tangga disini."


"Aish"


Meong!!! Meong !!!


Kucing itu terus memberontak saat dia berada di pelukan Adara. Jika Adara melepaskan kucing itu sekarang, dia pikir kucing itu mungkin akan patah tulang karena mereka berada di ketinggian sepuluh kaki dari tanah. atau sekitar tiga meter.


Rawrr!!


"AGH! Dia mengigitku." Teriak Adara kesakitan, hal itu membuat dia gagal fokus akan posisinya dan kehilangan keseimbangan. Tapi untungnya tangannya dengan sigap langsung memegang ranting di sebelahnya dan masih tetap megang erat kucing itu dengan satu tangan.


"Hampir saja" Ucap Adara sambil menghembuskan nafas lega.


"Hya kenapa kau masih memegang kucing itu, lepaskan kucing itu dan turunlah"


"Aku naik kesini untuk menyelamatkannya, bagaimana bisa aku melepaskannya dari ketinggian ini"


"Lepaskan saja, jika kucing itu terus memberontak kau akan jatuh."


"Tapi..."


Meong meong!


Kucing itu semakin lama semakin bertingkah, dia terus menggigit dan mencakar orang yang ingin menyelamatkannya.


"Baiklah jika kau tidak ingin menerima kebaikanku" Ucap Adara pada kucing itu, dia akhirnya melepaskan kucing itu dan menjatuhkannya.


AND BOOM! 💥


Ternyata kucing itu mendarat dengan selamat menggunakan empat kakinya. Tidak ada tanda tanda luka atau pincang pada kucing itu padahal ia baru saja terjun dari ketinggian tiga meter.


"OH! Bagaimana bisa kucing itu tidak terluka?! Apa dia kucing sakti? AH! Aku baru ingat kalau kucing punya 9 nyawa. Benar bukan?" Ucap Adara dengan menatap Sean yang berada di bawahnya.


'Kucing sakti dia bilang? Apa dia tidak belajar biologi?' Batin Sean, dia tidak mengira masih ada orang yang berpikiran seperti Adara.


"Sewaktu kucing jatuh, kucing dapat melakukan gerakan refleks yang efisien untuk mendarat dengan keempat kakinya. Di mana, kaki kucing memiliki fungsi sebagai peredam sehingga kucing tidak kesakitan." Sean menjelaskan pada Adara yang masih terduduk di atas pohon.


"Apa katamu?" Tanya Adara yang termangu mendengar penjelasan Sean.


"Kesimpulannya kucing dewasa bisa selamat kalau jatuh dari ketinggian 3 - 4 meter jika dia mendarat dengan benar. Apa kau bodoh? Kenapa kau tidak mengetahui pengetahuan umum seperti itu?"


"Sejak kapan hal itu adalah pengetahuan umum!" Adara segera menuruni pohon itu, dan mendekat ke arah Sean. Dia ingin berdebat soal kucing itu, tetapi pemikirannya teralihkan karena tiba tiba dia merasakan aura yang berbeda pada Sean. Hal itu membuatnya penasaran.


"Pengguna elemen api rupanya, siapa namamu?" Tanya Adara pada pria didepannya.


"Bagaimana kau bisa tau aku pengguna elemen api?"


Air adalah elemen yang rentan dan sangat peka, pengguna elemen air cenderung bisa merasakan aura yang dikeluarkan seseorang.


"Kau mengeluarkan suhu panas, tapi aneh sekali. Ini baru pertama kalinya aku menemui pengguna elemen api dengan suhu setinggi ini."


"Namaku Sean, senang bertemu denganmu." Sean mengulurkan tangannya dengan niat berjabat tangan dengan Adara. Uluran tangan merupakan bentuk kesopanan serta hormat seseorang ketika pertama kali bertemu.


'Namanya Sean, tapi kenapa dia berelemen api? WAH, ternyata ada orang yang sama sepertiku. Namaku Adara yang artinya api, tapi aku adalah pengguna elemen air.'


Adara membalas jabat tangan Sean dan memperkenalkan diri. "Aku juga senang bertemu denganmu, namaku..."


Sebelum selesai memperkenalkan diri, Sean melepaskan tangan Adara karena kaget. Saat mereka berjabat tangan, tangan mereka mengeluarkan asap. Persis seperti pertemuan air dan api. Hal itu adalah hal yang tidak biasanya terjadi walaupun perbedaan elemen. Entah apa yang membuat hal seperti itu terjadi pada mereka.


"Kau pengguna elemen air?"


"Hmm, namaku Adara. Kau bisa memanggilku Dara."


"Lupakan saja, lagian aku tidak akan memanggilmu." Sean pergi begitu saja meninggalkan Dara.


"Dia bersikap baik padaku sejak awal, kenapa dia seketika berubah saat mengetahui elemenku? Apa di membenci elemen air? Rasis sekali" Gumam Dara.


Dara segera membereskan seragamnya yang lumayan kusut sehabis naik turun pohon dan kembali menuju ke ruang guru. Sebenarnya ini adalah hari pertama dia masuk ke SMA magic sword, dia berencana akan memasuki kelas di pagi hari saat jam pertama di mulai, tetapi dia malah terjebak di atas pohon sampai siang tiba.


Gadis dengan nama panjang Adara Hoover adalah murid berbakat yang direkrut sendiri oleh Magic Sword. Dia direkrut karena Dara sudah bisa mengeluarkan kekuatan elemennya tanpa pelatihan dari siapapun. Itu adalah hal yang langka, karena kekuatan mengeluarkan elemen mustahil dikendalikan tanpa pelatihan dari sekolah khusus sihir. Dia sudah di cap sebagai murid khusus dan siswa berbakat.


******


Kelas 1, pelajaran ke dua - Pukul 09.00


Plok plok plok 👏👏👏 Suara tepukan terdengar dari depan kelas. Tepukan tiga kali merupakan sinyal bahwa akan adanya pengumuman.


"Suara itu? Siapa yang memiliki pengumuman?" Ucap salah satu murid kelas satu.


Suasana yang tadinya gaduh seketika menjadi hening karena mata mereka semua sibuk mencari siapa yang akan memberikan pengumuman. Dan ternyata yang membunyikan sinyal itu adalah kepala sekolah, dia sudah berdiri di depan kelas tanpa murid murid sadari.


"Kenapa kepala sekolah kesini? Jika ada pengumuman kenapa dia yang turun langsung mengumumkannya?" Semua kelas satu bertanya tanya, kenapa kepala sekolah sampai ingin mengumumkannya sendiri, seberapa pentingkah pengumuman itu.


"Kalian terlihat terkejut melihatku disini, ini bukan pengumuman yang penting tapi kalian harus mendengarkannya. Kita kedatangan murid spesial, dia adalah pengendali elemen air. Dara silahkan masuk."


tab tab tab...


Dara memasuki kelas saat dirinya di panggil, langkah demi langkah menuju ke dalam kelas dia disambut baik oleh angin sepoi sepoi yang membuat rambut panjangnya terurai ke belakang, hal itu menambah kesan anggunya gadis ini. Dia membuat melongo semua siswa dengan kecantikannya.


"Halo, Senang bertemu kalian"