
Bryan dan Elica pergi ke sebuah Klinik untuk mengobati luka yang ada di dahi Elica. Meskipun hanya sedikit tergores tetapi Bryan melihat akibat benturan tadi menjadikan dahi Elica membiru.
Setelah selesai diobati, Bryan pun langsung mengantarkan Elica pulang. Namun Elica bilang jika dia ingin bertemu terlebih dahulu dengan sang ayah. Karena sudah dua bulan dia tidak melihat nya. Dan Bryan pun hanya menuruti saja.
Didalam mobil Elica tampak melamun dan hanya melihat kearah luar jendela. Sepertinya dia masih sedikit syok dengan apa yang terjadi pada ibu nya. Tidak ada sedikit pun dibenak Elica jika ibu nya akan gila. Dan lebih parah nya dia sudah tidak mengenali Elica lagi. Air mata Elica tiba-tiba menetes, karena dia merindukan sosok sang ibu yang selalu menyayangi nya.
"Hei.. kau menangis?" Tanya Bryan saat mendengar Elica yang sesenggukan.
Dan Elica membalas dengan gelengan kepala. Dia dengan cepat mengelap air mata di pipinya.
"Lebih baik kau tenang kan dirimu dulu Elica. Kau tidak bisa menemui ayah mu dengan keadaan seperti ini. Dia pasti akan mengkhawatirkan mu" ucap Bryan.
"Kau benar. Daddy pasti akan cemas"
"Aku akan membawa mu ke suatu tempat. Kau pasti akan lebih baik"
"Kemana?"
"Nanti kau juga pasti akan tau"
Bryan melajukan mobilnya ke sebuah taman hiburan. Mereka sampai disana, dan Elica terlihat mengernyitkan dahi nya.
"Kenapa membawa ku kesini Bryan?"
"Biasanya anak kecil jika sedang bersedih akan kembali senang jika dia dibawa kemari"
"Kau pikir aku anak kecil?"
"Itu kenyataan nya. Ayo kita mulai bersenang-senang"
Bryan dengan semangat menarik Elica untuk mencoba wahana yang ada di disana.
Dan benar saja, sejenak Elica bisa kembali tersenyum menghilangkan kesedihannya hari ini.
Mereka berdua menghabiskan waktu hingga malam. Dan terakhir kedua nya memilih menaiki Bianglala raksasa dengan ditemani memakan Es krim untuk menikmati suasana malam melihat pemandangan lalu lintas kota.
"Bagaimana perasaan mu, Lebih baik?" Tanya Bryan
"Iya kurasa begitu"
Keduanya terdiam sejenak.
"Aku punya sesuatu untuk mu Elica, bisa kau tutup matamu?"
Mendengar hal itu Elica sedikit bingung, namun kemudian dia hanya mengangguk dan menutup matanya.
Bryan tersenyum melihat Elica yang langsung menurut begitu saja.
Kemudian Bryan mengambil sesuatu dari kantung jaket milik nya yaitu sebuah kotak kecil.
"Sekarang buka mata mu Elica"
Ujar Bryan.
Dengan cepat Elica langsung membuka matanya. Dan obyek pertama yang dia lihat adalah benda kecil yang ada dihadapannya.
"Selamat Ulang tahun Elica" ucap Bryan
Sesaat Elica tertegun, dia baru ingat jika hari ini adalah hari ulang tahun nya. Bahkan dia pun lupa dengan hal itu, karena banyak nya masalah yang dia hadapi.
"Bryan.. kau ingat ulang tahun ku? Aku bahkan lupa ini hari apa" Ucap Elica dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tentu saja, usia mu sudah 21 tahun dan kau sudah aku anggap seperti adik ku sendiri. Mana mungkin aku lupa. Ini untuk mu, buka lah"
Elica pun tersenyum melihat perlakuan Bryan yang selalu hangat pada nya. Dia pun mengambil kotak kecil itu dari tangan Bryan dan membuka nya. Elica kembali tersenyum saat melihat sebuah kalung cantik didalam nya.
"Indah sekali" gumam Elica
"Kau suka?"
"Tentu Bryan. Terimakasih aku menyukai hadiah mu"
"Mau ku bantu memakai nya?"
"Iya"
Setelah memakaikan kalung tersebut pada leher Elica, Bryan dapat melihat Elica yang kembali meneteskan air mata nya.
Dengan cepat Bryan menyeka air mata Elica dengan lembut.
"Kenapa menangis lagi?" Tanya Bryan lembut. Namun tangisan Elica makin menjadi seolah suara nya tercekak di tenggorokan nya.
Bryan akhirnya memeluk Elica dengan hangat. Dan tepat di pelukan Bryan, Elica menumpahkan segala kesedihan nya.
Elica tidak tau lagi jika Bryan tidak ada, mungkin dia sudah menyerah dari awal. Karena pria inilah yang selalu membantu Elica kapanpun dan di mana pun, Bryan selalu tulus melakukan nya.
"Terimakasih Bryan. Kau satu-satunya orang yang selalu ada saat dunia menjatuhkan aku." Ucap Elica pelan masih diperlukan Bryan.
"Aku tidak akan meninggalkan mu Elica, aku akan menemani mu menyelesaikan Semua masalah ini. Aku janji" jawab Bryan. Dan dibalas anggukan oleh Elica.
***
Di kantor Alex
Malam ini Alex sedang bersiap-siap untuk pulang dari pekerjaan nya. Pria itu membereskan semua berkas yang ada di meja kerja nya. Dan sesaat kemudian ponsel nya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Dengan cepat Alex pun langsung mengangkat nya.
"Ada kabar apa?" Ujar Alex pada seseorang diseberang sana
("Tuan, tadi siang nona Elica datang menemui ibunya di rumah sakit jiwa. Dia datang ditemani oleh Bryan")
"Apa yang terjadi?" Tanya Alex dingin
"Sialan. Berani sekali dia menyakiti wanita ku. Kau tau apa yang harus kau lakukan pada Hilda, beri wanita itu pelajaran"
("Baik tuan saya akan melakukan nya")
Setelah panggilan telepon tersebut terputus, emosi Alex semakin menjadi. Mendengar jika Elica terluka membuat nya khawatir. Ada rasa kesal yang terbesit dalam benak Alex pada Bryan. Kenapa pria itu tidak bisa menjaga Elica dari serangan Hilda.
Padahal Bryan ada satu-satunya pria yang Alex biarkan untuk selalu berada di samping Elica, dengan tujuan agar pria itu bisa menjaga Elica. Namun jika kejadian seperti ini terulang lagi, kemungkinan Alex akan membuat pelajaran pada Bryan juga nanti nya.
Beberapa hari kemudian, setelah Elica menjenguk ibu nya dia pun memilih langsung kembali ke Seattle untuk bekerja. Karena Elica tidak bisa terlalu lama mengambil libur. Mengingat nantinya dia akan meminta cuti melahirkan saat kandungan nya sudah mendekati hari kelahiran bayi nya.
Elica membersihkan setiap ruangan hotel dengan semangat. Meskipun dia dalam keadaan berbadan dua, Elica tidak pernah mengeluh apapun.
Karena Elica sangat tau, biaya melahirkan tidaklah sedikit. Dan lagi keperluan untuk anak nya nanti sangat lah besar.
Membuat Elica selalu rela melakukan pekerjaan apapun asalkan bisa menghasilkan uang.
Walaupun terkadang Elica sedikit khawatir saat dia harus membersihkan bagian kamar mandi. Karena tempat itu biasanya sangat licin membuat Elica harus hati-hati agar tidak terpeleset.
Hari ini Elica ditugaskan untuk membersihkan kamar nomor 74, karena atasan nya mengatakan jika sang penghuni kamar hotel meminta kebersihan extra. Dan Elica pun mematuhinya tentu saja.
Elica memasuki kamar hotel tersebut dengan kunci cadangan yang diberikan atasnya. Karena menurut informasi jika penghuni nya sedang keluar dan meminta agar kamar itu dibersihkan saat dia sedang pergi.
Dengan segera Elica langsung mengerjakannya dengan cepat dan rapi. Mulai dari menyapu kemudian mengepel lantai nya. Dan ketika Elica sedang sibuk melaksanakan pekerjaan nya tiba-tiba pintu kamar terdengar terbuka.
Mengetahui ada yang masuk, Elica langsung menoleh. Dan betapa terkejutnya Elica saat mengetahui siapa orang tersebut, yang ternyata adalah Alex.
"Alex?" Gumam Elica hampir tidak terdengar
Hal yang Elica lihat dari mata nya adalah raut wajah Alex yang sangat dingin. Pria itu berdiri di ambang pintu yang sudah tertutup dengan kedua tangan nya yang dimasukkan kedalam saku.
Dengan langkah perlahan Alex berjalan kearah Elica. Tepat dihadapan Elica, Alex melihat wanita yang ada dihadapannya menatap dari arah bawah kemudian menuju keatas seperti menilai penampilan Elica. Seringai meremehkan tampak terlihat dari wajah Alex.
"Jadi.. inikah kehidupan yang kau inginkan. Menjadi tukang bersih-bersih, Elica?" Sindir Alex
Elica berusaha meredam emosi nya agar tidak terpancing oleh perkataan Alex.
"Padahal aku menawarkan mu hidup bak ratu, tapi ternyata inilah yang kau pilih. Ngomong-ngonong soal bersih-bersih, di Mansion aku juga sedang membutuhkan seorang pembantu. Apakah kau berminat Elica?" Ujar Alex lagi.
Merasa Alex kini sedang memprovokasi nya Elica hanya menghela nafasnya. Dia masih mencoba bersabar menghadapi Alex.
"Saya sudah selesai membersihkan kamar ini, Tuan. Jika tidak ada lagi hal yang penting, saya permisi"
Ujar Elica, kemudian mengambil alat-alat kebersihan nya untuk dibawa pergi.
Dengan cepat, Alex merebut alat-alat tersebut dari tangan Elica dan melemparkan nya sembarangan. Seketika Elica terkejut saat Alex melakukan hal itu.
"Apa yang kau lakukan?" Ujar Elica kesal, namun dibalas senyum oleh Alex
"Ikut pulang dengan ku, sekarang" ucap Alex.
"Kau pikir aku akan mau melakukan nya. Jangan berharap, dan jangan ganggu kehidupan ku lagi"
"Kehidupan mu? Kau lupa, jika didalam perut mu itu ada anak ku. Dan kau kira aku akan diam saja melihat kau bekerja yang beresiko mempertaruhkan keselamatan anak ku?" Pekik Alex didepan wajah Elica.
Elica pun membalasnya dengan berdecih. " Aku bisa menjaganya, jika kau mau tau. Buktinya sampai sekarang kami baik-baik saja"
Alex yang sudah mulai kesal dengan arah pembicaraan ini akhirnya sedikit mengalah. Karena pria itu tau, jika pembicaraan ini diteruskan hanya akan berujung pada pertengkaran.
"Dengar Elica, aku ingin membawa mu ikut dengan ku pulang ke Mansion ku. Dan aku harap kali ini kau jangan egois. Pekerjaan mu ini bisa membahayakan keselamatan dirimu dan juga anak ku. Aku janji tidak akan membatasi kebebasan mu lagi nanti nya" ucap Alex
"Aku tetap tidak mau kembali kesana" tegas Elica
"Kenapa kau begitu keras kepala Elica?" Kata Alex dengan suara yang meninggi.
"Kau pikir setelah semua ini terjadi, aku mau tinggal ditempat sialan itu lagi Alex. Aku tidak mau"
Alex mencoba mengatur emosi nya agar tidak meledak lagi dan Elica tidak lebih membenci nya. Dia pun menghela nafasnya perlahan.
"Baiklah. Aku tidak akan membawa mu kesana, tetapi kau akan tinggal di rumah mendiang orang tua ku dulu. Bagaimana? Izinkan aku mengawasi perkembangan anak ku. Setidaknya sampai dia lahir..." Ujar Alex terdengar tulus.
Elica pun berfikir sejenak. Alex adalah orang pemaksa. Meskipun Elica menolak pasti pria itu akan melakukan berbagai cara agar Elica tetap tinggal disana. "Tapi kau harus berjanji akan melepaskan aku setelah aku melahirkan" tawar Elica.
Alex terlihat mendengus tidak suka mendengar Elica mengatakan hal itu. Yang artinya jika Alex membiarkan Elica pergi begitu saja dengan anak nya. "Elica... Harusnya kau mengerti maksud aku mengatakan hal itu. Aku ingin bertanggung jawab dengan anak itu, dan jika bisa aku ingin kita menikah." Jelas Alex.
"Aku tidak mau menikah dengan mu. Dengar Alex, bertanggung jawab bukan berarti kau harus menikahi ku. Ada banyak hal yang bisa di lakukan tapi tidak dengan menikah"
"Tapi aku ayah Biologis nya Elica.."
"Aku tau Alex, aku tau. Kau ayah Biologis nya, tapi kau tidak bisa memaksa kehendak mu dengan kemauan ku. Sudah aku katakan, kau bisa bertanggung jawab atas anak ini. Tapi tidak perlu dengan ku. Dan aku tidak mau menikah dengan mu.."
"Berikan aku alasan nya" Serka Alex pada ucapan Elica.
"Aku tidak bisa mengatakan nya"
"Alasan nya Elica, aku butuh alasan. Kenapa kau tidak mau menikah dengan ku" cecar Alex.
Elica terlihat sulit menjawab pertanyaan Alex tersebut. Namun pria itu masih menatap tajam kearah Elica dan masih menunggu jawaban dari Elica.
Alex pun berjalan mendekati Elica dan meraih pundak Elica. "Katakan Elica.. aku butuh alasan mu" ucap Alex lagi dan mulai tidak sabaran, hingga tanpa sadar kedua tangan Alex pun meremas pundak Elica, dan membuat wanita itu meringis.
"Alex sakit.." ujar Elica mencoba melepaskan tangan Alex dari tubuh nya.
"Tidak sebelum kau menjawab nya" desis Alex, namun Elica tak kunjung menjawab nya.
"katakan!" Bentak Alex di depan wajah Elica karena kesabaran nya sudah diambang batas.
"KARENA AKU TIDAK MAU MENIKAH DENGAN MANTAN AYAH TIRI KU SENDIRI. KAU PUAS!!" Jawab Elica dengan berteriak pada Alex.
Tbc