Playing With Fire

Playing With Fire
Part 22



Vote dan like tinggalkan komentar setelah membaca...


"Kau siapa?" Tanya Wanita itu pada Elica.


"Kau sendiri siapa?" Tanya Elica balik.


"Aku Evelyn, kenapa kau ada disini. Siapa kau sebenarnya. Dan dimana Alex?"


Manik itu melihat Elica dengan wajah bingung nya, dan kedua nya pun sama-sama saling bertatapan seolah pikiran mereka bisa terbaca lewat tatapan mata. Hal yang sangat Elica kejutkan karena bertemu dengan wanita yang misterius ini.


"Aku... Anak tiri Alex"


Dapat Elica lihat wanita itu lebih terkejut setelah dirinya mengatakan hal tersebut.


"Anak tiri? Jadi kau, anak dari mantan istri Alex?"


"Ya"


"Bukankah mereka sudah pisah rumah, kenapa kau bisa di sini?" Tanya Evelyn penasaran.


"Alex yang meminta ku kesini" jawan Elica jelas, dan berhasil membuat Evelyn lebih ingin tahu ada apa dengan hubungan keduanya.


"Apa ibu mu juga disini?"


"Tidak"


"Kau menginap disini? Kalian hanya berdua?"


Seolah mulai jengah dengan pertanyaan wanita itu, Elica pun sengaja memutar mata nya di depan Evelyn. Dan berhasil membuat wanita itu mengernyitkan dahi melihat ekspresi wajah Elica.


"Sebenarnya kau kemari ingin bertemu Alex, atau hanya ingin mewawancarai ku?. Jika kau ingin bertemu Alex, dia ada di kamar nya sedang demam" ujar Elica.


"Astaga. Alex sakit? Mungkinkah dia demam karena menjemput ku semalam?" Ucap Evelyn dengan nada cemas.


"Semalam?" Tanya Elica.


"Yah, dia menjemput ku karena mobil ku mogok. Dan semalam kami kehujanan"


Dugaan Elica benar. Kini Elica pun tau alasan semalam Alex pergi meninggalkan nya untuk menemui wanita ini. Dan entah mengapa ada sedikit rasa nyeri yang datang di hati nya.


Elica pun tersenyum kecut, dia mulai menyadarkan diri agar tidak membiarkan rasa itu muncul lebih dalam lagi. Karena Alex adalah pria Brengsek yang selalu mempermainkan wanita. Termasuk dia dan ibu nya.


"Kau bisa keatas untuk menemui nya, dan ada bubur hangat di dapur. Kau juga bisa sekalian membawakan nya" ucap Elica


"Baiklah, aku akan ke kamar nya sekarang" Dengan cepat Evelyn pun pergi menuju dapur dan membawakan bubur yang masih hangat ke kamar Alex. Dia pun tidak tau jika bubur tersebut adalah buatan Elica, namun wanita itu membawanya begitu saja menuju kamar Alex diatas.


Elica melihat Evelyn yang menaiki tangga sambil membawa mangkuk bubur di tangannya. Sesaat dia pun hanya bisa diam, kemudian Elica pun memutuskan untuk pergi keluar dari rumah itu.


Elica berjalan menyusuri pinggiran jalan dengan pakaian yang sama seperti yang kemarin dia pakai. Bahkan dia belum membersihkan dirinya, hanya mencuci wajah dan menggosok gigi saat di rumah Alex tadi.


Setelah beberapa menit dia berjalan, dia pun berhenti di depan minimarket. Perut nya keroncongan karena dia baru sadar jika dirinya belum sarapan. Elica pun masuk ke minimarket tersebut untuk membeli sebuah roti dan kopi instan. Saat dirinya akan ke kasir untuk membayar nya, Elica berhenti di depan rak yang berisi box susu ibu hamil. Dia ingat jika sekarang dalam perut nya juga ada makhluk hidup yang butuh nutrisi.


Elica kembali menatap kopi instan yang ada di tangan nya, dia terlihat berpikir. Kemudian Elica langsung menaruh kembali kopi tersebut pada tempatnya, lalu mengambil box susu ibu hamil dan air mineral. Dia memutuskan mengganjal perutnya dengan roti dan air mineral, sedangkan dia juga perlu meminum susu tersebut untuk kesehatan janin di dalam perutnya yang masih terlihat rata itu. Elica pun membayar belanjaan nya ke kasir, dan dia menunggu antrian sambil mengelus perutnya, tanpa sadar bibir nya pun tersenyum kecil. Karena jauh di lubuk hati nya, Elica juga sudah mulai menyayangi kehadiran janin tersebut.


Meskipun terkadang dia di jatuhkan lagi oleh kenyataan, jika ayah dari janin ini adalah orang yang paling dia benci. Namun tidak ada alasan bagi Elica untuk membenci darah daging nya kini yang masih di dalam perut.


Setelah selesai, Elica pun keluar dari minimarket itu dan menghentikan taksi untuk pulang ke rumah Leo. Dia tau pasti ibu nya tengah mengkhawatirkan diri nya saat ini. Didalam taksi Elica membuka roti yang di beli nya tadi dan memakannya, tangan seraya mengelus kembali perut nya sendiri.


"Aku janji akan menjaga mu, sehatlah didalam sini" ucap Elica lirih, bisa di bilang hanya dirinya sendiri yang mendengar suara nya. Dia mencoba menguatkan hatinya sendiri untuk kemungkinan kesakitan yang akan dia alami nanti. Mengingat jika Alex juga sudah bersama dengan wanita di masa lalu nya, jadi Elica bertekad akan merawat anak ini dengan tangan nya sendiri. Tanpa terasa air matanya pun keluar begitu saja, namun dengan cepat dia menyeka nya. Dia tidak boleh lemah, dan tidak boleh menangis. Demi anak nya, Elica akan mencoba bertahan sampai akhir. Itulah kini Elica tanamkan di hati nya, karena sekarang dia tidak akan bergantung lagi dengan orang lain.


*****************


"Alex kau sakit?" Ujar Evelyn saat dia sudah masuk ke kamar Alex. Pria itu masih memejamkan matanya, dan Evelyn pun mengambil kompresan yang ada di dahi Alex untuk di celupkan ke air dingin yang ada di baskom.


Saat Evelyn meletakkan kembali saputangan basah itu ke dahi Alex, tiba-tiba pria itu terbangun dan mengerjapkan mata nya.


"Elica" ucap Alex lirih saat matanya masih belum terbuka semua nya.


"Alex kau sudah bangun, ini aku Evelyn. Kau demam saat ini"


"Kenapa kau ada disini? Dimana dia?"


"Siapa? Maksud mu anak tiri mu? Dia ada di bawah. Kau istirahat dulu Alex, aku membawakan bubur. Biar aku menyuapi mu dulu ya"


Alex menghiraukan ucapan Evelyn, dia pun mendudukkan tubuhnya dan bersandar di kepala ranjang.


Dia terlihat mengatur nafasnya setelah semua nyawanya terkumpul, kemudian menatap kearah Evelyn.


"Kenapa kau masuk ke kamar ku?" Tanya Alex dengan wajah yang tidak suka.


"Aku kesini untuk berterima kasih pada mu dan membawa jaket mu yang kau pinjamkan pada ku. Tapi tadi anak itu memberitahu ku jika kau sedang sakit. Jadi aku kemari, aku tidak enak pasti semua ini karena kau menolong ku semalam. Aku membuatkan bubur untuk mu, makan ya agar ku cepat sembuh." jawab Evelyn dengan nada khawatir, namun Alex masih diam.


Dengan inisiatif nya Evelyn pun menyuapkan sesendok bubur itu ke mulut Alex, dan tanpa di duga Alex malah memalingkan wajahnya. Tanda dia menolak suapan dari Evelyn itu.


"Keluarlah. Aku bukan anak kecil, aku bisa melakukan nya sendiri. Dan panggilkan Elica agar kemari"


"Jadi namanya Elica. Untuk apa kau menyuruh nya kemari? Bukankah kau dan ibu nya akan bercerai?"


Tanya Evelyn dan mendapatkan tatapan tidak suka dari Alex.


"Kau tidak perlu ikut campur Evelyn dengan urusan ku. Jika hanya untuk mengembalikan jaket, kau sudah bisa pergi sekarang" jawab Alex dingin.


"Tapi Alex___"


"Ku bilang pergilah Evelyn, kau punya telinga bukan?" Evelyn pun kesal dengan sikap Alex dan memutuskan untuk pergi.


"Baiklah aku akan pergi. Aku tidak percaya kau sekarang malah mengusirku dari sini. Semoga cepat sembuh Alex, aku pergi"


Wanita itu pun keluar dari kamar Alex, dia menuruti ucapan Alex untuk memberitahu Elica agar gadis itu menemui Alex. Namun Evelyn tidak menemukan keberadaan Elica dirumah ini. Akhirnya dia pun menyuruh pelayan untuk memberitahu Alex, jika Elica pergi keluar.


Tanpa berpikir lama Evelyn pun juga pergi meninggalkan rumah Alex yang mewah itu. Sesaat dia pun memikirkan hubungan Alex dan gadis tadi, mungkinkah keduanya memiliki sesuatu yang sedang disembunyikan.


****************


Di tempat lain, Elica sudah sampai di rumah Leo. Dia masuk dan bertemu dengan ibu nya yang sedang duduk di depan televisi.


"Elica kau dari mana saja semalam?" Tanya Hilda begitu melihat Elica datang.


"Aku di rumah temanku, Mom"


"Kau sudah sarapan?"


"Sudah"


"Kau tidak ke rumah sakit menjenguk Leo?"


"Aku akan membersihkan diri dulu Mom, baru aku akan kesana"


"Baiklah. Mommy tunggu kamu, kita menjenguk Leo bersama"


"Ya"


Elica pun masuk ke kamar dan bersiap untuk mandi. Setelah beberapa menit kemudian di selesai mandi, dia pun sudah terlihat lebih segar dan rapi. Dia turun dan menemui ibunya untuk pergi bersama ke rumah sakit.


Sesampainya di sana, ternyata Leo sudah di pindahkan ke kamar rawat. Karena setelah operasi nya kemarin, kondisi Leo sudah membaik meskipun masih belum sadar. Tapi untungnya masa kritis Leo sudah berakhir.


"Kalian sudah di sini dari kapan?" Tanya Elica kepada Vincent dan istrinya.


"Aku dari kemarin disini, dan istri ku baru tadi pagi kesini untuk membawakan ku pakaian ganti dan makanan" jawab Vincent.


"Oh begitu. Perkenalkan nama ku Elica dan ini ibu ku" ujar Elica pada istri Vincent dengan mengulurkan tangannya.


"Nama ku Meghan. Senang bertemu dengan kalian" wanita bernama Meghan itu pun membalas uluran tangan Elica dengan tersenyum. Dan tersenyum juga kearah Hilda.


"Terimakasih sudah mau menemani Leo"


"Tidak masalah, Elica"


"Apakah keluarga Leo tidak ada yang diberitahu tentang kondisi Leo saat ini?"


Tanya Hilda tiba-tiba.


"Keluarga Leo berada di luar negeri. Tapi aku sudah menghubungi adik perempuan nya, jadi dia akan sampai kesini kemungkinan besok" jawab Vincent.


"Jadi Leo punya adik?"


"Iya Elica. Kalau tidak salah seumuran dengan mu"


"Ah aku baru tau. Ngomong-ngomong, Apa kau tidak ingin pulang dulu Vincent? Kau sudah disini dari kemarin, kau bisa istirahat dulu dirumah. Biar aku dan ibu ku menjaganya disini"


"Tidak perlu Elica. Aku akan menemani Leo sampai dia sadar, lagipula aku tidak keberatan disini" ujar Vincent. Dia hanya tidak ingin jika dia pergi meninggalkan sahabatnya itu, tiba-tiba datang seorang yang akan mencelakai Leo lagi. Itulah yang di khawatirkan Vincent saat ini.


Padahal Elica tidak enak hati jika Vincent dan istrinya terus disini. Tapi mau bagaimana lagi, itu kemauan mereka sendiri. Akhirnya Vincent dan istrinya pamit sebentar untuk keluar dengan alasan ingin membeli buah. Dan membiarkan Elica dengan ibunya duduk di dalam kursi yang ada di kamar rawat Leo.


Elica pun berdiri dan berjalan menghampiri ranjang tidur Leo. Dia duduk di kursi samping ranjang itu. Elica melihat wajah Leo yang sebagian besar bengkak dan penuh luka, mungkin akibat berbenturan dengan sesuatu saat dia jatuh ke jurang. Dan untungnya nyawa Leo masih bisa diselamatkan, mengingat jika Elica telah tau orang yang melakukan semua ini adalah Alex.


Elica merasa menyesal dan bersalah sekali dengan Leo, pria baik ini menjadi korban akibat menolongnya. Tangan Elica menyentuh tangan Leo, dia pun terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Leo.


"Cepat sadar lah Leo. Maafkan aku, karena aku kau menjadi seperti ini. Ku harap setelah ini kau tidak membenci ku"


Hilda dapat melihat jika putrinya tengah menangis saat membisikkan sesuatu pada Leo. Dia pun menjadi sedih mengingat Leo juga menolongnya dan Elica di saat seperti ini. Tapi Hilda juga tidak menyangka jika Leo akan mengalami hal ini.


******************


"Hari ini aku akan pergi ke rumah Daddy Mom. Apa Mommy mau ikut?" Tanya Elica saat kedua nya berjalan keluar dari rumah sakit.


Karena setelah Vincent dan istrinya kembali ke kamar Alex, Elica dan ibu nya pun berpamitan untuk pulang. Mengingat di ruangan rawat Alex juga tidak memperbolehkan terlalu banyak orang yang menjaga nya. Hingga Elica dan Hilda pun memutuskan untuk pulang.


"Mommy belum siap Elica"


"Tidak apa-apa Mom. Kita jelaskan masalah ini pada Daddy baik-baik, bagaimana pun juga Daddy harus tau. Kita juga tidak mungkin selama nya tinggal di rumah Leo"


Hilda terlihat berpikir saat mendengar ucapan Elica. Ada benarnya juga jika dia harus membicarakan masalah Elica pada mantan suaminya itu. Dia tidak berniat untuk kembali rujuk pada ayah Elica, hanya saja melihat keadaan Elica yang sedang hamil mungkin saja mantan suami nya itu mau menerima Elica lagi tinggal bersama nya. Masalah dirinya sendiri, biar nanti Hilda pikirkan untuk tinggal di mana.


"Baiklah Mommy ikut dengan mu"


"Kita kesana hari ini Mom"


Hilda membalas nya dengan Anggukan kepala. Mereka pun menghentikan taksi untuk pergi ke rumah ayah Elica.


Sore hari mereka sampai di rumah itu. Pintunya terlihat tertutup, namun Elica dan Hilda berjalan memasuki rumah mereka yang dulu. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari rumah tersebut. Meskipun sudah beberapa bulan di tinggalkan oleh Hilda dan Elica.


Hilda memilih berdiri di ruang tamu, sedangkan Elica masuk kedalam rumah untuk mencari keberadaan sang ayah tercinta. Dan benar saja, jika ayah nya ada di halaman belakang sedang membereskan kayu sisa pekerjaan nya.


"Daddy" panggil Elica dan membuat ayah nya menoleh.


"Elica, kau kemari sayang?" Sang ayah pun langsung menghampiri putri nya dan memeluk Elica.


"Iya Dad. Aku merindukan mu"


"Daddy juga merindukan mu"


Mereka berpelukan cukup lama, Hingga akhirnya pelukan mereka terlepas.


"Dad, ada Mommy di depan. Kau mau kan menemui nya?" Ujar Elica berhati-hati.


"Kau kesini dengan Mommy mu?"


"Iya Dad. Dan ada sesuatu yang ingin Mommy bicarakan dengan mu"


"Baiklah, Daddy akan menemui nya. Ayo kedepan"


"Oke kapten" ujar Elica kemudian menggandeng tangan ayahnya dengan manja. Terlihat sekali kedekatan antara ayah dan anak itu, namun ayah Elica pun tidak tau jika saat ini Elica tengah hamil.


Mereka pun sampai di ruang tamu, dan menampakkan Hilda yang sedang berdiri mematung menatap Elica dan mantan suaminya. Mereka saling bertatapan beberapa saat, dan melihat kecanggungan itu Elica pun langsung memecahkan keheningan itu dengan menyuruh kedua orangtuanya duduk.


Elica duduk disamping ayah nya di hadapan Hilda. Wanita itu belum membuka suara sedikit pun.


"Elica bilang ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" Ujar Ayah Elica.


"Iya" ucap Hilda dengan menundukkan kepalanya.


"Katakan, aku akan mendengar nya"


Hilda pun mengangguk dan mengangkat wajahnya kearah mantan suami itu.


"Sebelumnya aku ingin meminta maaf pada mu, atas semua sikap ku. Maafkan aku karena aku menelantarkan kalian berdua saat itu dan memilih pria lain. Tapi sekarang aku akan bercerai dengan Alex, jadi aku harap kau mau menerima Elica agar dia kembali tinggal dengan mu" ujar Hilda berhasil membuat Elica dan ayah nya terkejut.


Pasalnya Elica tidak tau jika ibu nya akan meminta ayahnya agar menerima kembali diri nya.


"Mom, apa yang kau bicarakan?"


"Iya Elica, Mommy ingin agar kau kembali tinggal dengan ayah mu. Mommy tidak mau kau terseret dalam masalah ini. Dan maafkan aku juga, sebenarnya Elica sedang hamil"


Ucap Hilda pada mantan suami nya.


Ayah Elica pun kaget mendengar penuturan Hilda. Begitu juga dengan Elica, dia tidak percaya jika ibunya akan mengatakan hal itu sekarang. Padahal dia berniat akan mengatakan nya nanti dengan mulutnya sendiri pada ayah nya.


"Apa kau bilang!!" Bentak ayah Elica pada Hilda ekspresi wajah nya berubah sangat marah. Dia pun berdiri dari duduknya dan menghampiri mantan istrinya itu. Dia langsung menarik Hila agar berdiri.


"Katakan yang jelas Hilda, apa maksud perkataan mu?" Ujar nya menuntut penjelasan pada Hilda, dan wanita itu pun sudah menangis"


"Elica... Hamil anak Alex. Maafkan aku, aku tidak bisa menjaganya" ungkap Hilda disela tangisan nya.


Bagai disambar petir disiang bolong, ayah Elica langsung mematung mendengar nya.


Plakkk...


Tanpa di duga, ayah Elica menampar pipi Hilda dengan sangat keras. Hingga mengakibatkan darah keluar dari sudut bibirnya mantan istrinya itu.


"Daddy, apa yang Daddy lakukan" teriak Elica berdiri dari duduknya dan berusaha menjauhkan ayah nya dari hadapan ibu nya.


TBC.


Penasaran ngga kelanjutan nya??


Vote like dan tinggalkan komentar nya ya.....