Playing With Fire

Playing With Fire
Part 25



Alex dan Elica tenggelam dalam ciuman penuh rindu itu. Seakan keduanya sama-sama merasakan rasa yang tengah ada di dalam hati mereka. Beda nya kali ini, Alex memperlakukan Elica dengan sangat lembut dan penuh perasaan, detik berikutnya Elica merasakan sesuatu yang asin pada bibi nya yang ternyata berasal dari air mata Alex. Pria itu menangis, untuk pertama kalinya Elica melihat sisi lain dari seorang Alexander Dawson.


Keduanya pun melepaskan pautan bibir tersebut, dan Alex menempelkan kening nya pada kening Elica. Dapat Elica lihat pria itu menangis dengan mata yang terpejam. Sebenarnya Elica tidak percaya apakah yang ada di depan nya benar-benar Alex yang selama ini dia kenal?


"Kau menangis??" Tanya Elica pelan sambil mengusap pipi Alex. Pria itu pun terlihat mengangguk.


"Ku mohon jangan pergi Elica. Bahkan aku akan menemui ayah mu untuk merestui hubungan kita. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya"


Hubungan, sesuatu yang terasa asing dalam telinga Elica. Bahkan jika dia tetap memaksakan berada di sisi Alex, tidak menjamin semua nya akan baik-baik saja. Elica juga masih punya hati, akan perasaan yang akan di rasakan ibunya. Mengingat Alex adalah mantan suami ibu nya dan akan sangat tidak pantas jika ada berita tentang hubungan nya dengan mantan ayah tiri nya itu.


Elica belum siap untuk menerima semua perkataan buruk tentang anak nya juga. Cukup dia saja yang paling bersalah dalam hal ini, tapi tidak dengan calon anaknya juga. Meskipun tidak menampik Alex adalah ayah kandung dari anak nya. Namun Elica butuh waktu, untuk mengobati luka di hati nya dan juga dia perlu waktu untuk memaafkan dirinya sendiri.


"Sudah aku bilang Alex aku tidak bisa. Dan jika pun aku bisa, aku tidak akan melakukan nya sekarang. Kau ingat bukan jika dulu aku selalu berkata jika aku membenci mu. Dan sekarang aku masih sangat benci pada mu, meskipun secara bersamaan aku juga mencintai mu."


Elica pun berusaha mendorong Alex agar menjauh dari nya. Karena dia sangat tidak kuat lagi untuk mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan pada pria yang ada di hadapannya kini.


Bukanya menjauh dari Elica, Alex justru memeluk wanita itu lagi dengan erat.


Seperti tidak memperbolehkan Elica pergi sedikit pun dari sampingnya.


"Kau boleh menjauhi ku Elica, asalkan kau tidak pergi. Jika kau butuh waktu untuk menenangkan diri, aku tidak akan mengganggu mu. Asalkan kau dan anak kita masih dalam pengawasan ku"


Ujar Alex dengan penuh harapan pada Elica.


Namun Elica seakan kekeh pada pendiriannya, dia menggeleng kepala nya tanda dia tidak bisa melakukan apa yang Alex katakan. Kedua nya pun saling bertatapan dengan diiringi air mata. Elica akhirnya membalikkan badannya saat merasa pegangan Alex pada tangan nya mulai mengendur. Terlalu lama berada di sana membuat dia takut akan kalah dengan perasaannya. Dia pun memutuskan untuk segera pergi keluar dari tempat itu. Toh apa yang ingin dia katakan pada pria itu sudah dia ungkapkan semua nya.


Alex melihat Elica yang berjalan kearah pintu. Dia sudah tidak bisa menahan wanita itu lagi sekarang. Bahkan dia sudah memohon pun Elica tetap pergi.


"Kau ingin aku menjadi orang jahat untuk kedua kalinya, Elica?"


Ucap Alex tiba-tiba, dan berhasil membuat Elica mengehentikan langkah nya sebelum membuka pintu kamar Alex.


"Jika kau pergi, mungkin aku akan melakukan hal lebih buruk pada orang yang kau sayangi. Leo, Bryan, bahkan ibu mu. Aku bersumpah akan melakukan nya jika kau tetap pergi. Dan kau tidak ingin kan, jika aku melampiaskan kemarahan ku pada mereka semua. Kau pasti masih ingat seperti apa aku mencelakai Leo. Apakah kau ingin hal itu terulang lagi pada yang lain?"


Desis Alex terdengar mengancam Elica.


Menerima hal itu, tubuh Elica langsung menegang. Dan Alex terlihat berjalan mendekati Elica yang sudah memegang gagang pintu. Pria itu memeluk tubuh Elica dari belakang yang membuat Elica tersentak kaget.


"Kau memang pria Bajingan Alex. Kau selalu saja mengancam ku"


"Salah sendiri kau datang kemari sayang. Aku tidak akan melakukan nya jika kau menurut pada ku. Pikirkan lagi apa yang aku tadi katakan, jangan egois Elica. Karena aku tidak pernah bermain-main"


Tidak disangka Alex justru meletakkan tangan nya di gagang pintu, kemudian dia membukakan pintu tersebut untuk Elica. Seakan mengusir halus Elica secara tidak langsung, dan tentunya Elica pun langsung pergi keluar dari tempat tersebut.


****


Jika ada sesuatu yang sangat ditakuti Elica saat ini, tentunya hal tersebut adalah ancaman Alex. Pria yang menjadi mantan ayah tiri nya itu telah berubah sangat drastis. Elica merasa sangat salah telah menilai pria itu.


Tadi nya dia memang merasakan rindu mendalam pada Alex, tapi ternyata semua perasaan rindu itu tiba-tiba hilang dan digantikan dengan kecemasan dalam hatinya.


Padahal Elica hanya butuh waktu untuk menenangkan hatinya, dan tentunya dia tidak ingin kandungan nya mengalami masalah karena dia harus berhadapan dengan hal seperti ini. Satu hal yang harus Elica ingat dalam pikirannya, jika Alex adalah pria yang berbahaya.


Tidak menyangka permainan yang dibuat Elica ternyata membuat dirinya makin terjebak dan dilema. Niat nya dulu hanya ingin mempermainkan hati Alex agar goyah, ternyata pria itu justru menganggap serius permainan Elica. Dan buruknya, Alex tidak mau melepaskan Elica apalagi kini Elica tengah hamil dari benih Alex.


Kini Elica sudah sampai dirumah, sedari dia sampai beberapa jam yang lalu, dia hanya menenggelamkan dirinya di kamar. Padahal ayahnya terus mengetuk pintu kamar nya agar mereka makan malam bersama.


Elica mengambil ponsel nya yang ada dalam nakas dekat ranjang nya. Dia menelpon seseorang yang ternyata adalah Bryan. Elica memang menyuruh Bryan untuk bermain ke rumah nya, dan ternyata Bryan pun menyetujui nya. Tak butuh waktu lama, Bryan pun sudah sampai didepan rumah Elica, mengingat rumah Bryan dan Elica tidak terlalu jauh, Karena mereka bertetangga sejak lama.


Ayah Elica pun membuka pintu tersebut dan mempersilahkan Bryan masuk, terlihat Elica pun datang menghampiri Bryan yang berada di ruang tamu bersama ayahnya. Mengetahui Putri nya sudah turun, Ayah Elica pun meninggalkan Elica dan Bryan berdua di ruang tamu. Sepeninggalan ayah nya, Elica pun langsung berbicara pada Bryan. Dia mengungkapkan semua nya pada sahabatnya itu. Tentang perasaan nya pada Alex, keniatan nya untuk pergi, dan juga ancaman Alex pada nya.


Bryan mendengar kan semua nya apa yang di ucapkan Elica. Dan dapat dia Lihat jika Elica pun bercerita sambil menangis. Di situ Bryan sudah menyimpulkan, jika Elica sudah mencintai Alex. Tapi Elica selalu menepisnya dan beralasan semua perasaan nya adalah bawaan dari anak yang dikandung nya. Namun mata Elica tidak bisa berbohong, buktinya dia dihadapan Bryan saja masih tidak bisa menyembunyikan kenyataan itu.


"Kau sudah mencintai pria itu Elica. Lebih baik kau pikirkan lagi keputusan mu" itulah kalimat yang diucapkan Bryan, karena di satu sisi dirinya juga tau ancaman yang dikatakan Alex pada Elica. Bryan mendekati Elica dan langsung memeluk wanita itu yang terlihat lelah ditambah dirinya kini tengah berbadan dua.


Tanpa mereka sadari, Ayah Elica sudah mendengarkan apa yang dikatakan Putri nya tadi pada Bryan.


Tidak di sangka Alex akan melakukan hal sekeji itu untuk mengancam Elica. Yang justru membuat Tuan Albert naik pitam.


***


"Aunty makan lah, kau belum mengisi perut mu dari kemarin" ujar Mia yang membawakan makanan pada Hilda dengan nampan di tangan nya.


Saat ini Hilda sedang sakit dan tidak ***** makan. Melihat hal itu Mia pun merasa iba pada Aunty nya itu, dia ingin sekali memberitahu Elica tentang keadaan ibu nya itu. Namun Hilda selalu melarang Mia agar tidak menghubungi Elica ataupun Ayah Elica.


"Taruh saja di meja, nanti akan ku makan" kata Hilda dengan pelan.


Mia pun duduk di ranjang tempat Hilda sedang berbaring. Wanita itu terlihat pucat dan sedikit kurus.


"Aunty selalu bilang begitu, tapi tidak pernah menyentuh makanan nya. Kondisi mu makin buruk, Aunty. Kita ke rumah sakit saja yah"


Hilda pun menggeleng kan kepalanya tanda dia menolak tidak mau di bawa Mia ke rumah sakit. Bukan tanpa alasan Mia sangat khawatir, namun yang di takuti nya adalah bagaimana jika Aunty nya kini juga tengah hamil anak Alex. Mengingat Hilda mantan istri pria itu, tidak menutup kemungkinan juga jika dulu mereka pasti melakukan hubungan intim layaknya suami istri.


Namun Mia tidak berani mengatakan pemikiran nya itu langsung pada Aunty nya. Takut jika keadaan nya makin buruk, meskinya Aunty nya itu tidak merasakan mual-mual seperti wanita hamil.


Setelah gagal membujuk Hilda untuk makan, Mia pun memilih keluar dari kamar yang di tempati Aunty nya itu. Dia tidak merasakan keberatan sedikit pun dengan kehadiran Hilda di rumah nya, mengingat suami nya selalu keluar kota dalam waktu beberapa hari.


***


Baik tuan Albert dan Elica sangat terkejut dengan kedatangan pria itu, pasal nya saja mereka tengah membereskan barang-barang yang akan dibawa saat mereka akan pergi besok.


"Mau apa kau kesini?" Ujar Elica saat melihat Alex sudah berdiri di tengah pintu masuk.


"Boleh aku masuk dulu?" Tanya Alex


"Tidak. Pergilah, kau ditolak dirumah ini" jawab Elica dingin.


"Elica... biarkan dia masuk" kata tuan Albert saat melihat putri nya mengusir pria itu. "Tapi Daddy..." Sela Elica tidak setuju.


"Silahkan masuk" Elica sangat tidak percaya dengan apa yang di ucapkan Ayah nya itu. Padahal dia sudah tidak mau lagi bertemu dengan Alex.


Sedangkan Alex terlihat mengangguk setelah mendengar ucapan ayah Elica.


Ketiga orang itu sama-sama diam tidak ada satu pun yang membuka pembicaraan, dan menambah suasana menjadi canggung.


"Ada apa kau kemari?" Tanya ayah Elica tiba-tiba.


Alex pun menatap tuan Albert dengan dengan ekspresi serius nya. Kemudian berganti menatap kearah Elica yang membuang wajah nya tidak mau melihat kearah Alex.


"Aku kesini bertujuan mengungkapkan perasaan ku. Aku mencintai Elica, dan aku ingin menikahi nya karena dia sedang mengandung anak ku" ujar Alex terdengar mantap, dan seketika Elica langsung menatap pria itu dengan cepat.


Ayah Elica masih terdiam belum menjawab apa yang dikatakan Alex tadi.


Dia pun menghela napas nya panjang, dan menatap kearah putri nya.


"Setelah semua nya terjadi? Dan sekarang kau meminta putri ku?" Ujar Tuan Albert.


"Ya"


"Elica akan pergi dengan ku besok, dia sudah mengatakan akan melupakan semua ini termasuk kau dan ibu nya. Apakah sampai disini kau paham ucapan ku?"


Ucap Tuan Albert pada Alex.


"Tapi aku tidak akan membiarkan nya, apalagi dia akan membawa calon anak ku" jawab Alex.


"Apa kau tidak malu mengatakan hal itu? Kau sudah mengambil istri ku dulu, dan kini kau akan mengambil putri ku juga?"


"Beri aku kesempatan satu lagi, kali ini aku berjanji akan membahagiakan Elica" ucap Alex.


"Lalu bagaimana dengan Hilda? Setelah kau mendapatkan nya justru kini kau malah membuang nya bukan. Tidak ada jaminan jika kau akan melakukan hal yang sama pada Elica. Aku selama ini diam bukan karena aku takut dengan mu Tuan Alex. Aku hanya ingin membiarkan mereka bahagia, tapi kau malah menyakiti keduanya secara bersamaan. Apakah sekarang pantas jika kau meminta restu dari ku? Dan meminta putri ku?"


Seakan semua yang mengganjal di hati ayah Elica diluapkan pada Alex saat ini juga. Dan berhasil membuat Alex terdiam sesaat, memikirkan jawaban yang tepat untuk ucapan ayah Elica.


Bagi ayah Elica, jika saja Alex meminta putri nya itu dulu dengan cara yang dia lakukan seperti sekarang, mungkin tanpa ragu ayah Elica akan langsung merestui nya. Tanpa Alex mengambil Hilda dari hidup nya, selayaknya seorang pria yang melamar seorang wanita. Tapi semuanya terlambat, dan tidak bisa di putar kembali. Dan bagi Elica, kini Alex hanya pria Brengsek egois yang memikirkan perasaan nya saja.


"Aku pastikan itu tidak terjadi, karena Elica adalah wanita yang aku cinta dan aku janji akan membahagiakan nya. Bahkan jika anda tidak percaya, anda bisa tanyakan pada Elica, jika dia juga mencintaiku" jawab Alex tegas.


"Cukup Alex. Sudah cukup kau bicara dengan kata-kata konyol mu, Daddy tolong usir dia Daddy. Aku sudah muak mendengar kan omong kosong nya"


Pekik Elica yang sudah tidak tahan dengan apa yang Alex katakan.


Pria itu sengaja memberitahu ayah Elica dengan ucapan nya yang sangat berlebihan menurut Elica. "Kau lucu Elica, apa kau sudah lupa? Jika kemarin kau datang ke rumah ku dan menyatakan perasaan mu yang sebenarnya?" Ujar Alex.


Sedangkan ayah Elica masih diam mencerna ucapan Alex. Dia pun menatap kearah putri nya itu yang sudah-sudah berkaca-kaca, karena merasa ketahuan oleh sang ayah.


"Benar kau menemui nya Elica?"


Tanya tuan Albert menatap Elica meminta penjelasan. Seingat nya kemarin, Elica meminta izin untuk menjenguk Leo, tapi ternyata Elica pergi ke tempat pria itu. Elica pun tidak bisa menjawab nya dan hanya bisa menangis dalam diam.


Ayah Elica mengusap wajah seperti menahan kekecewaan di raut wajah nya. Akhirnya dia pun meminta Alex untuk segera. "Kau pergi lah jika sudah selesai" ujar tuan Albert pada Alex.


Sejenak Alex menatap mata Elica yang sedang menangis, tidak lama dia pun memilih pergi keluar dari rumah tersebut.


Sepeninggalan Alex, ayah Elica langsung menanyai Elica tentang ucapan Alex tadi. "Kau menemui nya?" Elica menjawab nya dengan anggukan kepala dan mata yang masih mengeluarkan air mata.


"Apakah selama ini kau menangisi pria itu setiap malam?"


"Daddy.."


"Benar?"


Elica masih terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa pada ayah nya.


"Apa kau benar-benar mencintai nya, Elica?"


TBC.


Vote like dan komentar...