Playing With Fire

Playing With Fire
Part 17



Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar setelah membaca.


***************************


Sudah 4 jam Elica tertidur dan dia pun masih di rumah Sakit. Dia sudah ditemani Leo saat ini, karena beberapa jam yang lalu saat Elica sudah sadar dia langsung menelepon Leo agar menemani nya. Sedangkan Alex dengan setia masih menunggu Elica di ruang depan kamar rawat Elica, karena Elica belum mau menemuinya.


Leo sudah mengetahui kejadian siang tadi, hingga akhirnya dia langsung meninggalkan pekerjaan nya dikantor begitu saja. Elica pun terlihat mulai mengerjapkan mata nya, yang membuat Leo langsung berdiri dari duduknya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Leo dibalas anggukan oleh Elica.


"Minumlah dulu" Leo memberikan Elica segelas air putih dan Elica pun meminum nya walaupun hanya sedikit.


"Sudah lebih baik?" Tanya nya lagi


"Iya"


"Ibu mu pulang tadi, dan di depan masih ada Alex. Perlu kah aku memanggilnya?"


"Jangan. Aku tidak mau menemuinya" jawab Elica pelan.


"Baiklah"


"Leo jangan tinggalkan aku sendirian disini"


"Tentu Elica. Aku akan selalu disamping mu."


"Kapan kau membawa ku pergi, Leo? Aku ingin cepat pergi dari kota ini" Tanya Elica penuh harap


"Tenang Elica, kita selesaikan masalah ini dulu. Aku akan membantu ibu mu dulu untuk mengurus perceraian nya dengan Alex"


"Tidak perlu Leo, biarkan itu jadi urusan mereka saja."


"Tapi ibu mu lah yang tadi meminta ku membantu nya Elica. Dan aku tidak bisa menolak nya. Aku janji setelah surat gugatan nya keluar, aku akan langsung membawa mu pergi ke Jerman"


Ucap Leo meyakinkan Elica.


Leo pun segera memanggil Dokter lewat tombol yang ada disamping ranjang Elica, dan tak lama Dokter pun masuk ke ruangan tersebut di ikuti Alex di belakang nya yang ikut masuk juga.


Elica yang melihat Alex masuk langsung menampilkan wajah tida suka nya. Tapi Dokter pun langsung memeriksa kondisi nya.


"Bagaimana keadaan nya dok, apa boleh pulang hari ini?" Tanya Leo pada Dokter


"Kondisi sudah baik. Nona Elica hanya butuh istirahat saja yang cukup dan hari ini boleh pulang" ujar dokter itu


"Apa kandungan nya tidak apa-apa, dok?" Sekarang giliran Alex yang membuka suara, dan berhasil membuat Leo dan Elica menatap nya.


"Kandungan nya baik-baik saja. Kalo begitu saya permisi dulu"


"Terimakasih dok"


Dokter pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menyisakan tiga orang yang saling terdiam.


"Kau pulang denganku ke rumah hari ini" ujar Alex tanpa basa-basi.


"Tidak. Aku pulang dengan Leo" jawab Elica tanpa menatap kearah Alex yang kini sedang menatap nya.


"Baiklah, biar aku membantu mu berdiri" ucap Leo yang kini berjalan kearah Elica, namun tiba-tiba Alex menahan pundak Leo. Yang sontak Leo pun mengantikan langkah nya dan menoleh kearah Alex.


"Jangan menyentuh nya, biar aku saja yang membantu Elica" desis Alex tajam pada Leo. Dengan cepat Leo pun langsung menepis tangan Alex yang ada di pundak nya.


"Kau tidak dengar? Elica ingin pulang dengan ku. Pergilah kau hanya mengganggu saja disini" ucap Leo


"Kau pikir kau siapa mengusir ku dari sini. Elica sedang mengandung anak ku, jadi kau tidak berhak mengatur ku untuk terus disamping nya" balas Alex dengan nada yang tidak senang.


Elica yang melihat tingkah kedua nya pun hanya bisa memutar matanya, sungguh sikap Alex sangat kekanakan.


Bahkan Alex dengan sangat tidak malu nya mengatakan hal itu.


"Cukup. Ini rumah sakit, kalian berdua jangan buat keributan. Dan kau Alex, aku harap kau masih punya pendengaran jika tadi aku bilang aku pulang dengan Leo. Pergilah jangan menganggu ku lagi. Ayo Leo kita pulang"


Elica pun akhirnya angkat bicara dengan sikap Alex dan Leo.


Dan dengan cepat Leo pun langsung membopong Elica tiba-tiba. Membuat Alex terkejut, namun Leo memilih langsung keluar dari kamar rawat itu. Dan meninggalkan Alex disana.


"Terimakasih" ujar Elica saat Leo sudah mendudukkan nya di kursi mobil.


"Sama-sama." Leo pun menjawabnya dengan senyum manisnya.


********************


Malam hari Alex pun pulang kerumahnya dengan keadaan yang berantakan. Bahkan rambutnya yang selalu dia sisir rapi dia biarkan begitu saja.


Dia memasuki rumah nya yang terlihat sepi. Tapi saat dia masuk ke kamar nya, dia melihat Hilda yang sedang menangis sambil melihat foto pernikahan mereka yang terpajang besar di dinding kamar mereka.


Hilda pun langsung menoleh saat menyadari keadaan Alex yang sudah berantakan. Dia mengusap air mata nya saat Alex menghampiri nya dengan wajah datar nya.


"Kenapa kau melakukan ini padaku dan pada Elica, Alex?" Ucap Hilda dengan pelan. Namun Alex masih memilih diam tidak menjawab nya.


Hilda kembali menatap figuran foto mereka yang terlihat sedang tersenyum bahagia.


"Setelah semua nya aku berikan pada mu, kau justru malah merusak putri ku. Ku kira kau pria yang berbeda Alex. Sejak awal aku bertemu dengan mu, ku kira kau adalah pria yang tulus dan bisa menerima ku. Bahkan aku rela berpisah dengan suami ku dulu karena kau menjanjikan cinta yang begitu indah. Tapi apa ini Alex? Kau malah menghianati ku dari belakang, bahkan dengan putri ku sendiri. Yang kemarin kau sebut dia sebagai anak mu juga."


Ucap Hilda yang dibarengi dengan tangisan yang terdengar memilukan.


"Aku kira lebih baik kita berhenti sampai disini saja Hilda. Maafkan aku, ini salah ku. Masalah perceraian kita, aku akan meminta pengacara ku yang mengurus nya"


"Kau jahat Alex"


"Tapi kau tenang saja, masalah harta kau akan tetap memberikan nya pada mu juga" ujar Alex membuat Hilda tersinggung.


"Aku sedang tidak membicarakan harta, Brengsek. Apa kau kira dengan kau memberi ku harta, kau bisa mengembalikan putri ku seperti dulu? Apa kau kira hati ku juga akan baik-baik saja seperti dulu? Setelah semua kepercayaan yang kuberikan semua nya pada mu kau hancurkan begitu saja.  Kau pikir aku akan baik-baik saja? Tidak Alex. Kau memang pria Brengsek. Aku tidak akan merestui mu dengan anakku"


"LALU AKU HARUS APA!!? KAU MAU AKU HARUS BAGAIMANA HILDA!!? MEMBIARKAN WANITA YANG AKU CINTA YANG SEDANG MENGANDUNG ANAK KU BERSAMA PRIA LAIN? MEMBIARKAN MEREKA MENIKAH, BAGITU? SUDAH KU BILANG, AKU MENCINTAI ELICA. DAN AKU INGIN DIA BERSAMA KU. KAU HARUS TAU HILDA, MENCINTAI SESEORANG BUKAN LAH SEBUAH KEJAHATAN. JADI BERHENTILAH MENGANGGAP KU SEBAGAI PENJAHAT"


Alex yang sudah tersulut emosi akhirnya berteriak depan Hilda. Dan wanita itu pun sangat kaget atas apa yang di katakan oleh Alex. Jantung nya berdetak sangat kencang saat pria yang menjadi suaminya berteriak di depan nya.


Jadi inikah sifat Alex yang sebenarnya, pikir Hilda. Sungguh jika dikatakan menyesal, dia sangat menyesal. Bahkan suami nya dulu tidak pernah membentak nya sampai seperti ini dan berhasil membuat Hilda takut.


Dengan segera Hilda pun langsung buru-buru pergi keluar dari kamar tersebut. Kamar yang menurut nya saat ini menjadi neraka bagi nya.


Sedangkan Alex masih berdiri dengan tatapan kosong nya. Mungkin yang di katakan Hilda ada benarnya. Jika dia tidak membutuhkan seorang istri, melainkan seorang wanita yang bisa mengerti diri nya.


Flashback on.


Dan tidak banyak orang tau, bahwa masa lalu Alex begitu kelam. Dimana saat dia berusia 10 tahun dulu, ibu nya bunuh diri karena ayah nya berselingkuh dengan sekretaris nya. Dan sepeninggalan ibu nya, Alex tinggal dengan ayah nya. Yang setiap malam selalu membawa wanita yang berbeda-beda.


Dimana saat itu dia tengah menunggu ayah nya pulang di malam hari sendirian. Dan betapa terkejutnya dia, saat ayah nya membawa pulang wanita dengan keadaan mabuk.


Lebih parahnya mereka bercinta di ruang tengah yang saat itu masih ada Alex disana. Mereka bercinta tanpa rasa malu sedikit pun.


Dan Alex melihat saat wanita itu dengan sengaja tersenyum kearah nya saat tubuh wanita itu berada di bawah ayah nya yang tengah melakukan hal menjijikkan itu.


Bahkan dulu dia berjanji tidak akan menikah sepanjang usianya. Hingga saat ayah nya meninggal dan mewariskan Semua harta nya pada Alex, membuat diri nya menjadi pria yang kejam dan dingin pada wanita.


Tapi Alex masih menjadi pria normal, karena bagaimanapun dia seorang pria yang butuh melampiaskan ***** nya.


Hingga Alex pun memilih mencoba menjalin hubungan dengan perempuan bernama Evelyn. Namun sayang nya perempuan itu meninggalkan Alex begitu saja, dan memilih menikah dengan pria lain. Hal tersebut membuat Alex makin muak dengan seorang wanita.


Sampai akhirnya dia bertemu Hilda, wanita yang dia temui di malam itu. Saat itu salju begitu tebal menutupi jalan, hingga Alex yang yang sedang menyetir pun mengalami kecelakaan di tengah jalan yang sepi. Dia yang terluka di dahi nya keluar banyak darah hanya bisa pasrah. Tak lama ada seorang wanita yang membantu nya keluar dari mobil itu dan wanita itu adalah Hilda. Yang baru saja pulang setelah menemani suami nya sebagai pengerajin kayu hutan. Wajar saja saat itu suami Hilda memiliki sebuah rumah kecil di tengah hutan tempat dimana dia mengerjakan pekerjaan nya disana.


Entah apa yang ada di pikiran Alex saat itu saat dia melihat kebaikan Hilda hatinya tiba-tiba menghangat. Hilda membawa Alex ke rumah nya untuk mengobati luka di dahi nya. Dia juga membuatkan Alex sup hangat untuk dimakan.


Setelah kejadian itu Alex pun sering mengunjungi Hilda. Entah itu di rumah saat suami nya dan Elica tidak ada. Bahkan ketika Hilda di supermarket pun Alex datang menghampiri nya dengan berbagai alasan. Dan membuat Alex nekad ingin menjadikan Hilda sebagai istri nya meskipun wanita itu sudah memiliki suami dan anak. Dan begitu pun dengan Hilda, wanita itu pun merasakan sesuatu di hati nya. Yang akhirnya membuat nya berpaling dan memilih bercerai dengan suaminya. Semua itu pun tak lepas dari kata-kata dan perlakuan manis  Alex pada Hilda.


Namun sayang nya takdir berkata lain, hati Alex sekarang justru mencintai Elica. Yang notabenenya adalah anak Hilda. Sungguh hal yang benar-benar tidak ada di benak nya dulu. Kedatangan Elica yang tak disangka membuat hati Alex menjadi berubah. Dan perempuan itulah yang berhasil mengalihkan semua pikiran Alex pada Elica.


Flashback off.


************************


"Tidurlah di kamar ini dengan ku Leo. Aku tidak enak jika kau sebagai tuan rumah selalu tidur di sofa luar"


Ujar Elica.


"Baiklah"


Leo saat ini memang tengah menemani Elica di kamar untuk istirahat. Namun sudah larut malam Elica belum juga mengantuk. Dan mau tidak mau Leo pun masih menemani Elica dikamar, karena sedari mereka sampai setelah dari rumah sakit, Elica tidak mau di tinggal.


Leo pun beranjak naik ke atas ranjang yang sama dengan Elica. Mereka berbaring dan saling berhadapan. Dari sini Leo dapat melihat wajah Elica yang begitu cantik. Lama Leo menatapi wajah Elica da berhasil membuat Elica tersipu malu.


"Pipi mu merah Elica. Kenapa?" ledek Leo dan berhasil membuat Elica malu.


"Tidak" Elica pun menutup pipi nya dengan tangannya.


"Iya benar, seperti kepiting rebus."


"Hentikan Leo. Tidak lucu"


"Tapi kau terlihat lucu Elica. Kau malu yah dengan ku"


"Tidak. Siapa bilang, memang malu kenapa"


"Kau malu karena aku menatap wajah mu terus"


"Leo hentikan. Kau menyebalkan"


"Ya sudah, aku akan keluar kalau begitu"


Leo pun berniat untuk beranjak, namun Elica langsung menahan ujung baju Leo.


"Di sini saja" ucap Elica malu-malu.


"Kau bilang aku menyebalkan tadi"


"Tidak. Aku hanya bercanda maafkan aku" Elica pun memasang wajah sedihnya dan berhasil membuat Leo langsung berbaring lagi.


"Calon istri ku tidak perlu minta maaf pada ku. Karena dalam cinta itu tidak ada kata maaf" ucap Leo


"Kenapa begitu?"


"Karena jika seseorang saling mencintai, apapun kesalahan yang mereka perbuat akan selalu di maafkan tanpa harus meminta maaf" jawab Leo.


"Termasuk penghianatan?"


Leo pun diam tak menjawab nya.


"Apa kau benar-benar akan menerima ku sebagai istri mu Leo? Padahal kau tau sendiri jika aku telah menjadi penghianat dalam pernikahan ibu ku sendiri" tanya Elica lagi


"Tidak Elica, kau bukan penghianat atau pun penghancur. Kau hanya berontak pada keadaan mu saat ini. Namun kau salah mengambil keputusan dan bagi ku itu masih bisa di maafkan"


Ucap Leo sambil mengelus pipi Elica.


"Kenapa kau mencintaiku Leo?"


"Aku tidak tau Elica. Tapi yang jelas bagiku, cinta tidak butuh alasan. Begitu pun saat aku mencintaimu"


"Terimakasih untuk semua Leo" ujar Elica dan dibalas anggukan kepala oleh Leo sambil tersenyum.


"Elica, bolehkah aku mencium mu?"


Tanya Leo meminta izin pada Elica dengan lembut.


"Tentu"


Mendengar hal itu Leo kembali tersenyum, dan dengan cepat Leo pun langsung mendekati Elica untuk menyatukan bibir mereka.


Manis. Itulah yang dirasakan Leo saat menyesap bibir Elica.


Dan tanpa di duga, Elica pun langsung mengalungkan tangannya di leher Leo sambil membalas ciuman lembut memabukkan itu.


TBC.


Pasti beda yakan, ciuman nya Alex sama Leo. Enak banget jadi Elica wkwkwk