
Sesudah sarapan tadi, Bianca lebih memilih untuk menahan emosi dan rasa ingin tahu nya. Mungkin nanti dia akan langsung bertanya pada Alex empat mata tentang hal yang diungkapkan Irene tadi. Bianca sudah paham betul jika Tante dari Alex tersebut tidak menyukai dirinya, namun hal itu tidak memupuskan keinginan Bianca untuk mendapatkan Alex.
Dan entah mengapa, Bianca pun kini sangat tidak menyukai perempuan bernama Elica itu. Jika dilihat, sepertinya usia Elica masih di bawah Bianca. Hal itu malam membuat Bianca semakin bersemangat untuk tidak kalah dari Elica si anak kecil.
Karena Bianca yakin, perempuan itu tidak lebih dari seorang pelacur seperti hal nya perempuan di luar sana yang gila harta.
Sedangkan Irene dan Alex terlihat sedang duduk bersama di ruang tv, melihat acara yang sebenarnya sangat membosankan.
"Tante akan mengajak Elica keluar hari ini" ucap Irene membuka suara namun dengan mata nya yang masih fokus ke layar tv.
"Kemana?" Tanya Alex
"Keluar, jalan-jalan tentunya. Kasihan dia terus terkurung di dalam rumah. Kandungan nya juga butuh udara segar"
Mengerti maksud dari sang Tante, Alex pun diam pura-pura melihat ke arah ponsel nya.
"Kau tidak mengizinkan nya Alex?" Ujar Irene bertanya
"Di belakang juga ada danau, tante bisa mengajak nya ke sana tidak perlu harus keluar" jawab Alex tidak setuju.
"Kau kira apa yang bisa dilihat dari danau, melihat air yang menggenang? Tante tidak mau tau kau mengizinkan atau tidak, Tante akan mengajak Elica jalan-jalan. Lagi pula besok malam natal, jadi sekalian tante ingin membeli keperluan natal"
"Dia sedang hamil tante, nanti kelelahan. Ajak saja Bianca"
"Tante tidak mau pergi dengan wanita plastik itu. Melihat wajah nya saja membuat tante jengkel"
Setelah sedikit berdebat dengan Alex, akhir nya Irene pun beranjak dari tempat duduknya kemudian pergi meninggalkan Alex begitu saja.
Irene langsung mencari keberadaan Elica untuk menemani nya keluar. Tidak lama dia pun menemukan Elica sedang memberi makan anjing peliharaan yang ada di rumah tersebut yang berada di halaman belakang.
Irene pun melihat Elica yang sedang berjongkok memberi makanan pada anjing tersebut.
"Hei kau lucu sekali, siapa nama mu " ucap Elica pelan, layaknyaanjing tersebut dapat berbicara dan Elica mengusap kepala anjing yang ada di hadapannya.
Irene tersenyum sendiri saat melihat tingkah Elica yang menggemaskan. karena bagi Irene, Elica adalah orang yang baik dan penuh perhatian termasuk kepada binatang.
Dengan langkah pelan Irene pun menghampiri Elica dan duduk dihadapan sambil mengikuti mengelus bulu anjing berwarna coklat tersebut.
"Tidak ada yang tau nama anjing ini selain Alex. Karena anjing ini sudah dipelihara oleh Alex saat usia dia 7 tahun. Dan Alex akan memanggil anjing ini cukup dengan siulan saja, maka dia akan menghampiri nya, kemudian Alex akan menyebutkan namanya dengan suara yang sangat pelan"
Ujar Irene memberitahu pada Elica.
"Ah begitu, manis sekali" jawab Elica yang mengetahui sedikit sisi lain dari Alex yang ternyata menyukai binatang.
"Anjing ini biasanya akan galak pada orang yang baru ditemui nya. Kenapa dia bisa jinak dengan mu Elica?" Tanya Irene
"Tadi aku sedang membawa piring untuk di cuci ke dapur. Tiba-tiba dia datang dan menjilati kaki ku, dan ku pikir dia lapar. Ternyata benar dia memakan makanan yang aku berikan, setelah nya dia mulai jinak pada ku" ujar Elica sambil tersenyum menatap anjing itu.
"Begitu saja? Wah kau hebat Elica, bahkan dirumah ini tidak ada yang berani memberikan dia makan secara langsung"
"Iya Tante. Itu lah sifat dasar binatang, dia akan berterima kasih pada orang yang telah memberi nya makanan" mendengar perkataan Elica itu, Irene pun merasakan ada arti dalam kalimat tersebut.
"Elica, Tante ingin pergi jalan-jalan keluar sekaligus membeli perlengkapan natal. Kau ikut yah" ajak Irene.
"Tapi aku harus izin pada.."
"Alex kan. Tenang saja Elica, Tante sudah mengatakan nya tadi pada Alex dan dia mengizinkan nya"
"Benarkah?"
"Tentu. Sekarang kau bersiap-siap, tante tunggu di halaman depan"
"Baiklah Tante"
Sebenarnya Elica sangat senang mengetahui dia akan keluar bersama Irene. Karena sejujurnya dia sudah sangat bosan dirumah ini, karena Irene pun melarangnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah.
***
Bianca yang sedari pagi tadi dibuat kesal oleh Irene memilih mengurung diri di kamar tamu. Dan saat hari sudah siang baru dia terlihat keluar dari kamarnya mencari Alex. Dia mendengar suara mobil di teras depan kemudian berjalan kesana. Dan benar, Alex sedang bersiap-siap pergi menggunakan mobil Mercedes berwarna hitam miliknya.
"Alex kau mau kemana?" Panggil Bianca berjalan cepat saat melihat Alex sudah memasuki mobil.
"Aku ada urusan di luar" jawab Alex
"Boleh aku ikut? Aku sangat bosan di sini. Dan juga di dalam rumah Tante mu dan wanita itu terus memojokkan ku"
Ujar Bianca di buat sedih
"Mereka tidak ada di dalam. Tante Irene sedang mengajak Elica keluar"
"Apa kau mau menyusul mereka?"
"Iya"
"Baiklah aku ikut saja" ucap Bianca yang menginginkan terus ikut dengan Alex
"Kau di sini saja."
"Tapi.."
Belum sempat Bianca meneruskan ucapannya, Alex sudah menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya pergi.
"Brengsek" gerutu Bianca kesal dengan perlakuan Alex yang terus saja mengacuhkan nya. Dan semua karena Elica, perempuan yang menurut Bianca sangat menjijikkan itu.
***
Irene dan Elica sedang asyik berbelanja di sebuah mall. Berbagai macam ornamen natal yang sudah di beli oleh Irene cuma-cuma. Karena wanita itu sangat senang bisa pergi berbelanja di temani oleh seseorang yakni Elica.
Ucap Irene dengan sangat gembira menarik Elica ke toko perlengkapan bayi. Elica pun tidak bisa menolak nya karena Irene terlihat senang dan dia khawatir jika Irene akan kecewa apabila Elica menolak pemberian Irene.
Di toko yang di tuju pun Irene sibuk memilihkan segala kebutuhan calon bayi Elica. Mulai dari baju, sepatu, dan hal-hal kecil lain nya pun tidak Irene tinggalkan untuk di beli.
Setelah hampir menghabiskan dua jam hanya untuk memilih baju bayi, keduanya pun pergi ke sebuah restoran untuk mengisi perut nya yang sudah mulai kelaparan. Apalagi Elica, sejujurnya dia sudah sangat lelah tapi tidak sampai hati mengatakan nya pada Irene.
Setelah makanan pesanan mereka sampai, Elica dan Irene pun menyantapnya dengan lahap karena sudah kelaparan.
"Kau tau Elica, Tante seeeeeenang sekali bisa berbelanja dengan mu. Tadi nya tante ingin mengajak mu ke pantai, tapi rasanya jiwa berbelanja tante sudah tidak bisa tertahan apalagi membeli perlengkapan bayi. Oh aku seperti akan menyambut cucu ku sendiri"
Celoteh Irene seraya melahap makanan nya, dan di balas senyuman oleh Elica.
"Terimakasih tante sudah memperhatikan calon anak ku." Ucap Elica
"Tentu sayang. Saat ini kau seperti ku anggap selayaknya putri juga. Dan Tante senang bisa keluar di temani oleh mu, baru kali ini tante berbelanja di temani Seseorang"
"Benarkah? Tidak pernah sama sekali?" Tanya Elica yang sedikit tidak percaya
"Benar Elica. Kau tau sendiri kan, anak tante laki-laki dan dia sibuk dengan urusan nya sendiri. Dan teman tante di luar negeri semua nya golongan orang-orang Elite, dimana saat mereka akan berbelanja lebih memilih memesan private room untuk diri nya sendiri sehingga lebih leluasa dan sangat dijaga khusus. Benar-benar membosankan, itulah kenapa tante ingin sekali anak perempuan tapi Damian menolak memiliki adik. Dan bersyukur nya tante bisa bertemu dengan mu Elica" ucap Irene panjang lebar
"Kalau begitu aku harap anak ku juga perempuan, supaya kemanapun aku pergi dia selalu menemani ku. Begitu kan tante?" Tanya Elica sambil mengelus perutnya penuh harap.
"Laki-laki perempuan sama saja Elica asalkan dia sehat. Dan dia bisa mendapatkan kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tuanya" ujar Irene sekaligus mengingatkan Elica pada hubungan nya kini dengan Alex yang mulai terasa asing. Elica membalas ucapan Irene hanya dengan anggukan kepala dan senyuman saja.
Karena pada kenyataannya, setelah anak ini lahir Elica ingin mengakhiri masalah nya dengan Alex. Dimana dia berharap bisa melanjutkan hidup dengan buah hatinya dengan kehidupan yang lebih baik. Meskipun kadang terbesit sedikit rasa sakit hati ketika melihat Alex dan Bianca. Namun Elica menampik nya jika itu bukan dari perasaan nya, melainkan bawaan dari kandungan nya.
Walaupun kini hati Elica sudah mulai kecewa dengan Alex yang dengan mudahnya selalu berubah. Dulu dia bilang mencintai Elica, tapi sekarang membawa wanita baru. Yang justru membuat Elica bingung dengan perasaan benci dan cinta nya pada Alex.
***
Malam hari.
Irene dan Elica sudah pulang sejak sore tadi, sebenarnya kepulangan mereka membuat Bianca sedikit bingung. Pasal nya siang tadi Alex akan menjemput mereka, namun justru hingga kini Alex belum pulang. Namun Bianca terlihat enggan untuk berbicara pada semua orang dan memilih sibuk dengan ponselnya.
Irene dan Elica terlihat sedang sibuk menghias pohon natal yang ada di ruang tengah, tidak lupa dibantu juga oleh paman Jo dan bibi Christin.
Beberapa menit kemudian Alex pun pulang dengan raut wajah nya yang datarnya, meskipun dia melihat nuansa natal sudah terpasang menyambut nya. Irene melihat kepulangan Alex pun menyuruh nya untuk membersihkan diri karena sebentar lagi mereka akan makan malam.
Setelah nya, keempat orang itu pun sudah duduk berkumpul di ruang makan dan melahap makanan yang sudah di siapkan.
"Kau tau Alex, siang tadi tante dan Elica membeli banyak sekali pakaian bayi. Semuanya sangat menggemaskan, kau harus lihat nanti" ujar Irene terdengar enang memecahkan keheningan, namun Alex hanya diam dan memilih fokus pada makanan nya.
"Tadi siang Alex bilang akan menjemput Tante dan Elica tapi kenapa kalian tidak pulang bersama?" Kata Bianca tiba-tiba, dan mendengar penuturan Bianca Irene pun mengernyitkan dahi nya.
"Benarkah itu Alex? Kenapa tidak memberitahu tante" tanya Irene
"Aku ada urusan lain" jawab Alex seadanya
"Ah begitu. Kau tenang saja Alex, saat Elica bersama Tante dia pasti akan baik-baik saja. Dan tadi siang pasti kau juga mengkhawatirkan Elica kan, mengaku lah" ucap Irene malah memanas-manasi Bianca.
Dan sekali lagi, Bianca mencoba tidak terpancing dengan perlakuan menyebalkan Irene terhadap dirinya
"Oh iya Alex, apakah nanti kita akan melakukan bertukar kado?" Tanya Bianca yang pura-pura tidak merespon ucapan Irene tadi.
"Hei Bianca, lusa itu hari Natal. Apa kau juga masih mau disini? Tidak mau pulang?" Ucap Irene yang mulai emosi
"Maaf ya tante, bukankah aku sudah bilang. Jika aku akan belajar dengan Alex untuk beberapa waktu, dan Natal itu bukan masalah bagi ku jika aku berada di lain tempat termasuk disini. Bukankah Alex saja tidak keberatan aku disini?" Balas Bianca yang mulai berani menjawab ucapan Irene.
Karena sejujurnya Bianca pun sudah berusaha menghiraukan ucapan Irene, dan kenyataan dia terus saja di sisihkan oleh Irene.
"Oh begitu. Kalau begitu Alex, sepertinya tante harus bertanya langsung pada mu. Sejak kapan kau menjadi kan rumah besar menjadi tempat penampungan?
Apalagi menampung Bianca yang mulai tidak tahu diri" sindiran pedas Irene yang sudah terang-terangan pada Bianca membuat wanita itu makin marah.
"Tante ku mohon jangan memulainya" ujar Alex yang berusaha masih tenang
Mulut Bianca yang sudah mulai gatal ingin membalas perkataan Irene pun tidak terbendung lagi.
"Maaf tante. Perlu ku ingat kan, apa tante lupa jika di rumah ini ada juga Elica? Jadi di mana letak kesalahannya jika aku tinggal disini?" Ucap Bianca menentang Irene.
Irene pun meletakkan sendok dan garpu makan nya disamping piring dengan kesal. Suasana di meja makan sudah mulai memanas, dan bagi Elica sendiri kejadian saat ini suatu tontonan menarik baginya.
Karena dia melihat sisi asli dari Bianca yang beberapa hari ditutupi oleh perempuan itu.
"Jangan membandingkan dirimu dengan Elica. Hei Bianca perlu kah aku ingatkan juga, Elica itu sedang mengandung anak Alex tentu wajar jika dia tinggal disini. Dan kau siapa? Berani sekali kau menentang ku?" Ucap Irene.
"Aku sudah..." Kata Bianca yang kemudian terpotong oleh suara Alex
"Hentikan. Bisakah kalian berdua diam? Hal tidak penting apa yang sebenarnya kalian ributkan? Kalian itu seperti anak kecil, bahkan di meja makan kalian selalu bertengkar." Pekik Alex seraya menggebrak meja makan.
Dan berhasil membuat Irene dan Bianca sama-sama terdiam karena kemarahan Alex dan juga pria itu kini menatapnya dengan sorot mata yang sangat tajam.
Tidak lama ponsel milik Alex yang berada di saku nya pun berbunyi. Alex mengambil nya dan melihat jika anak buah nya lah yang kini menelpon.
Dengan segera Alex pun mengangkat nya.
"Ada apa?" Tanya Alex singkat.
("Tuan saya ingin memberitahukan jika nyonya Hilda ditemukan tidak bernyawa karena overdosis sore tadi")
Mendengar hal itu Alex sangat syok dan terkejut, tubuhnya tiba-tiba menegang. Namun dengan cepat dia menormalkan kembali raut wajahnya seolah semua nya tidak ada hal yang terjadi. Melihat ketiga wanita yang ada di meja makan sedang menatap kearah nya.
"Baiklah aku mengerti." Jawab Alex dengan tenang kemudian memutuskan panggilan tersebut. Dan dia memilih pergi begitu saja dengan diam pada makan malam hari ini. Tanpa menimbulkan rasa curiga sedikitpun pada ketiga wanita yang tertinggal di ruang makan tersebut.