
Setelah pembicaraan antara Irene dan Elica semalam, keesokan harinya keduanya pun terlihat lebih akrab.
Tadi nya Elica mengira jika Irene adalah wanita yang pelit bicara tapi hal itu ternyata salah. Irene justru lebih menampakkan sosok keibuan nya pada Elica dan membuat Elica menjadi nyaman walaupun keduanya baru saja kenal. Bahkan Irene pun menyuruh Elica memanggil nya dengan sebutan "Tante" sama seperti Alex memanggil Irene.
"Ini untuk mu Elica" ujar Irene pada Elica dengan memberikan sebuah krim
"Ini apa?" Tanya Elica bingung saat menerima benda tersebut.
"Itu krim yang bisa di pakai untuk perut ataupun di bagian tubuh mu yang lain. Bisa menghilangkan Stretch Mark karena kehamilan juga, kau itu masih sangat muda jadi sangat sayang jika perut mu memiliki banyak bekas setelah kehamilan."
"Baiklah terima kasih Tante Irene"
"Sama-sama Elica"
Keduanya pun kembali berbincang bersama, bercerita tentang banyak hal.
"Apa Tante Irene selalu pulang kemari?"
Tanya Elica disela-sela pembicaraan.
"Tidak. Aku pulang jika saat akan natal saja, karena anak ku berada di California jadi aku memilih pulang ke sini. Padahal aku berniat merayakan natal dengan Alex tapi dia selalu sibuk dan jarang ke mari"
"Memangnya berapa usia anak tante?"
"Usia nya 25 tahun, dia hampir sama dengan Alex, gila kerja." Elica pun tersenyum melihat Irene yang mengekspresikan wajah kesalnya.
"Suami tante?"
"Dia sudah tiada sejak 3 tahun yang lalu, itu mengapa putra ku menjadi tidak ada waktu karena tanggung jawab suami ku beralih pada Damian"
"Namanya Damian?"
"Iya Elica. Aku selalu kesepian di rumah karena tidak ada siapapun yang menemani ku"
"Tapi dia pasti sangat menyayangi tante"
"Benar Elica. Aku pun juga berharap bisa menjadi ibu yang baik bagi Damian dan Alex. Kau tau sendiri bukan, jika orang tua Alex sudah lama meninggal dunia "
"Iya aku tau itu"
"Dari dulu aku selalu berharap memiliki anak perempuan, tapi Damian bilang dia tidak ingin memiliki adik. Karena dia berpikir memiliki adik adalah hal yang sangat merepotkan. Dan setelah aku kesini mengetahui ada dirimu Elica, sepertinya aku tidak akan kesepian lagi. Kau perempuan yang sangat menyenangkan."
"Terimakasih Tante Irene, aku juga senang berbincang dengan anda."
****
Di lain tempat, Alex dan Bianca sedang bersiap untuk menuju ke rumah besar. Karena kemarin Alex mendapatkan kabar dari paman Jo, jika tante nya telah datang ke sana.
Awal nya Alex berniat hanya akan pulang sendiri saja. Namun Bianca terus meminta untuk ikut dengan Alex. Karena wanita itu beralasan jika di New York dia tidak memiliki siapa pun yang dia kenal. Dan akhirnya Alex pun juga membawa Bianca bersama nya.
Mereka berdua memilih penerbangan pada siang hari. Dan akan sampai pada sore hari.
Bianca sangat senang karena dia mengetahui jika dirinya akan bertemu dengan tante Alex. Rencananya Bianca akan mendekati tante dari Alex untuk mendapatkan dukungan pada hubungan nya dengan Alex untuk kedepan. Karena Alex berkata jika tante nya itu sudah dia anggap sebagai ibu pengganti, meskipun pada kenyataannya tante Alex hanya lah adik dari mendiang ayah Alex.
Keduanya pun berangkat menuju bandara menggunakan mobil.
"Alex entah mengapa sedari tadi aku merasa gugup. Apakah karena aku akan bertemu dengan Tante mu hingga aku jadi seperti ini?"
Ucap Bianca membuka pembicaraan dengan bersemangat.
"Untuk apa kau membicarakan dia? Lagi pula kau dan tante ku tidak ada sangkut pautnya" jawab Alex dengan ketus
"Bukan begitu, maksudnya aku tidak sabar mengenal keluarga mu"
Mendengar ucapan Bianca, Alex lebih memilih diam dan tidak menjawab nya. Karena dia sebenarnya sangat malas jika harus bicara panjang lebar dengan wanita yang ada disampingnya tersebut.
Dan benar, tepat pada sore hari Alex pun telah sampai di kediaman rumah besar setelah paman Jo menjemput nya di bandara.
Alex dan Bianca pun turun dari mobil berjalan menuju kedalam rumah.
Sesampainya di ruang tengah, Alex melihat Irene dan Elica sedang duduk bersama, dan belum menyadari kedatangan nya bersama Bianca yang ada di samping nya.
"Tante.." panggil Alex dengan suara Bariton nya.
Seketika Irene dan Elica pun menoleh kearah sumber suara secara bersamaan.
"Alex. Akhir nya kamu pulang" sahut Irene dengan wajah gembira nya. Dia pun berdiri dan menghampiri Alex, kemudian keduanya langsung berpelukan.
"Tante sangat merindukan mu" ujar Irene setelah pelukan itu terlepas.
"Kapan tante datang? Kenapa tidak memberitahu ku?" Tanya Alex
"Tante datang kemarin. Tentu saja Tante ingin memberi kejutan, tapi kamu tidak disini"
"Aku sibuk Tante"
"Ya ya ya... Kau itu sama seperti Damian, tidak pernah punya waktu untuk tante. Sangat menyebalkan"
"Dia tidak ikut pulang?"
"Tentu saja tidak. Dia seperti robot yang bekerja tidak ingat waktu."
Kehebohan Irene rupanya bisa membuat suasana menjadi lebih hangat. Meskipun Alex tidak terlalu menanggapi semua pembicaraan Irene, setidaknya hal itu membuat Elica pun tidak merasa tegang. Apalagi dia melihat jika Alex membawa seorang wanita bersama nya.
"Oh iya Alex, siapa yang perempuan yang kemari bersama mu?" Tanya Irene menunjuk pada Bianca. Sedangkan Bianca yang mengetahui jika dirinya sedang di bicarakan akhirnya buka suara.
"Halo Tante, perkenalkan aku Bianca, teman Alex. Saat ini aku ikut dengan Alex karena aku ingin belajar bisnis dengan nya" ujar Bianca dengan hangat
"Oh" jawab Irene singkat menanggapi ucapan Bianca tadi. Bisa dilihat jika Irene sudah mulai tidak menyukai Bianca, karena entah mengapa melihatnya cara berpakaian Bianca yang sedikit terbuka membuat Irene berpikir negatif pada perempuan tersebut saat pertemuan pertama mereka.
"Alex sejak kapan kamu beralih profesi menjadi seorang guru?" Ucap Irene dengan nada menyindir.
"Aku tidak mengerti maksud Tante?" Jawab Alex.
"Bukankah tadi Bianca bilang jika dia ingin belajar bisnis dengan mu. Setahu Tante belajar bisnis pun ada sekolah khusus nya. Karena dulu Damian juga melakukan nya setelah ayah nya meninggal" ucapan Irene tersebut ternyata menyinggung Bianca.
"Maaf Tante aku menyanggah pendapat mu itu. Aku pikir akan lebih baik jika aku belajar langsung dengan ahlinya. Mengingat jika Alex juga sudah berpengalaman di dunia bisnis, tidak ada salahnya bukan. Itulah mengapa ayah ku lebih mempercayai Alex untuk menjadi mentor ku" Jawab Bianca membela diri.
"Cukup. Aku lelah ingin istirahat" hardik Alex tiba-tiba.
Akhirnya Irene dan Bianca pun langsung terdiam saat mendengar suara Alex yang cukup lantang.
Tidak disangka pertemuan pertama Bianca dan Irene di awali dengan perbedaan pendapat yang sama-sama dominan. Hingga terjadi sedikit pertikaian yang terjadi, sedangkan Elica hanya bisa diam melihat kedua orang tersebut saling berargumen.
Alex pun memilih untuk beristirahat di kamar nya. Dia meninggalkan ruangan tersebut begitu saja, namun sempat menatap kearah Elica sesaat sebelum naik ke tangga.
***
Malam hari Elica sedang berada di dapur dengan Bibi Christin. Dia sedang menghangatkan air di kompor untuk membuat susu yang akan di minum nya.
Tadi nya Elica berniat membantu bibi Christin menyiapkan makan malam, namun bibi Christin menolaknya dan menyuruh Elica duduk saja.
Setelah makanan yang dibuat selesai, bibi Christin pun mengantar nya ke ruangan makan. Tidak lama Alex, Bianca dan Irene pun berkumpul di ruang tersebut untuk makan.
Irene pun terlihat mencari Elica karena perempuan itu tidak ikut hadir di ruang makan.
"Dimana Elica, bibi?" Tanya Irene
"Dia sedang di dapur nyonya, sedang membuat susu itu diminum nya"
"Panggil dia ke sini, suruh untuk makan malam bersama"
"Baik nyonya"
Alex yang melihat Tante sudah terlihat memperhatikan Elica memilih untuk bungkam. Dia lebih memilih langsung menyantap makan malam yang ada di hadapannya tersebut.
Tidak lama bibi Christin pun datang kembali dengan membawa buah, sekaligus mengatakan pada Irene jika Elica menolak untuk makan malam bersama. Irene pun yang mengetahui itu membalas nya dengan Anggukan saja.
"Alex setelah makan malam, Tante ingin berbicara berdua dengan mu" ujar Irene.
"Kenapa tidak sekarang saja" jawab Alex
"Di sini ada orang asing, Tante tidak nyaman mengatakan nya" sahut Irene yang menyindir pada Bianca. Namun wanita itu mencoba tidak terpancing dengan Irene yang kembali memprovokasi. Dan melanjutkan makan nya.
Setelah makan malam itu selesai, akhir nya Alex menemui Irene di balkon ruang atas. Sedangkan Bianca memilih masuk kembali ke kamar tamu.
"Ada hal apa yang ingin Tante bicarakan?" Tanya Alex tanpa basa-basi.
"Kamu tidak mau menjelaskan tentang Elica pada Tante?"
"Tidak ada hal yang perlu dijelaskan, lagi pula tante juga sudah mengetahui semuanya bukan." Kata Alex
"Kamu tidak mau mempertanggung jawabkan nya pada Elica?" Ucap Irene masih mencoba tidak emosi pada ponakannya tersebut.
Alex pun justru tertawa pelan saat mendengar pertanyaan Irene itu.
"Tante bisa tanyakan itu pada Elica langsung. Aku sudah menawarkan untuk menikahi nya namun dia terus saja menolaknya. Setidaknya membawa dia ke rumah ini, itu termasuk usaha ku untuk mengawasi kehamilan nya"
"Tentu saja Elica menolak menikah dengan mu. Sedangkan kau dan ibu nya belum genap satu tahun bercerai, belum lagi yang telah kau lakukan pada keluarga hingga menjadi hancur akan membuat Elica dengan mudah menerima mu, ditambah gunjingan dari orang lain saat mengetahui hal ini. Apa kau tidak berpikir kesana Alex?"
"Lalu aku harus apa lagi Tante? Tidak tau kah tante berbagai cara aku mendekati nya untuk bertanggung jawab pada anak ku. Tapi dia terus saja menolaknya" ujar Alex yang mulai tersulut emosi karena merasa jika Irene menyudutkan nya.
"Kau salah Alex. Seharusnya kau mengambil hati Elica secara perlahan bukan memaksakan kehendaknya. Ditambah lagi kau malah membawa wanita lain ke rumah ini, justru akan membuat hubungan mu dan Elica menjadi lebih buruk"
Irene pun menasehati Alex layaknya seorang ibu. Berharap semoga Alex tidak akan menyesali perbuatannya di waktu yang akan datang karena keegoisan nya.
***
Keesokan hari, akhirnya Irene berhasil membujuk Elica untuk sarapan bersama dengan Alex dan Bianca juga.
Irene sengaja bersikap lebih hangat pada Elica untuk membuat Bianca cemburu. Karena sejak pagi-pagi sekali Bianca terlihat menempel terus dengan Alex bahkan mereka pun joging bersama, dan membuat Irene tidak suka.
"Elica makan yang banyak supaya kandungan mu sehat" ucap Irene dengan memberikan sayuran pada Elica.
"Terimakasih tante" balas Elica
"Sama-sama Elica"
Sedangkan Bianca terlihat tidak bernafsu makan karena banyak sekali menu sayuran pagi ini.
"Alex apa kau mau sayur yang ada di mangkuk ku? Karena aku tidak suka makan sayur, dan akan sayang jika di buang" ucap Bianca dengan wajah yang dibuat memelas.
"Baiklah berikan pada ku" jawab Alex, kemudian Bianca pun memberi makanan milik nya pada Alex.
"Elica kau suka sayur kan?" Ujar Irene setelah merasa jengah melihat Bianca
"Iya Tante saya suka semua sayuran" jawab Elica.
"Baguslah Elica. Tidak baik menjadi orang yang pemilih makanan. Selain tidak bagus bagi kesehatan dan juga banyak orang di luar sana yang membutuhkan makan" ucap Irene lagi-lagi menyindir Bianca terang-terangan.
"Iya Tante" jawab Elica
Bianca pun terlihat memutar matanya karena di juga sudah mulai tidak suka dengan perlakuan Irene, dan lagi Alex pun tidak membela nya malah fokus pada makanan nya.
Keempat nya pun melanjutkan sarapan dengan diam.
"Ngomong-ngomong sudah berapa lama kau bekerja di sini Elica? Terlihat sangat akrab dengan orang disini"
ucap Bianca tiba-tiba dan berhasil membuat Semuanya terkejut karena Bianca menganggap Elica adalah pelayan.
"Jaga bicaramu Bianca, Elica bukan pelayan disini" Kata Irene tidak suka
"Maaf kan aku, aku tidak tau ku kira dia pelayan disini" jawan Bianca merasa bersalah namun tentu saja hanya berpura-pura.
"Maka dari itu jangan suka sembarangan berbicara. Lagi pula Elica itu perempuan spesial di sini, karena dia juga sedang mengandung anak Alex, jika kau belum tau" ujar Irene terlihat senang karena melihat ekspresi wajah Bianca yang sangat kaget.
"Apa?"
TBC.
Udah ya Double Update. Selanjutnya liat komentar kalian, kalau banyak yang komen nanti langsung aku Up lagi.