
Malam ini Alex mengemudikan sendiri mobil nya dengan kecepatan tinggi. Dia memang sudah bisa dikatakan sembuh dan mampu berjalan tanpa menggunakan tongkat lagi, namun untuk berjaga-jaga dia memilih membawa alat bantu tersebut kemanapun terkecuali malam ini.
Dia tidak memikirkan lagi tentang kaki nya, karena sejak mendengar jika Elica sudah kembali seluruh pikiran nya hanya tertuju pada wanita itu.
Tanpa sadar juga jika mata nya mulai berkaca-kaca karena tidak sabar bertemu dengan orang yang sangat dia rindukan. Antara perasaan senang dan haru tidak bisa dia gambarkan untuk sekarang, dia hanya melampiaskan perasaan tersebut dengan mencengkeram erat setir nya.
Alex berharap jika malam ini Tuhan memberikan nya kesempatan kedua untuk tidak ditinggalkan lagi oleh Elica.
Karena bukan hanya dia yang membutuhkan nya, namun Nancy juga amat sangat merindukan sosok ibu yang setiap hari ditanyakan oleh gadis kecil itu.
Selang beberapa menit, mobil Alex pun sampai di halaman gedung yang sangat mewah. Dan ternyata Damian sudah menunggu Alex di pintu masuk. Keduanya pun bertemu, Damian terlihat sangat tenang sedangkan Alex bagaikan seseorang yang tengah terburu-buru.
"Dimana dia? Apa di dalam?"
"Tenang bro. Dia tidak ada disini, dia sudah pergi 30 menit yang lalu" cegah Damian menahan pundak Alex.
Mendengar ucapan Damian, Alex melihat pria itu dengan tatapan nanar.
"Kau gila. Kau membiarkan dia pergi begitu saja?"
"Hei tenang lah. Kau justru akan membuatnya terkejut jika datang tiba-tiba seperti ini"
"Jangan mengujiku Damian, aku bukan orang yang senang membuang waktu" suasana makin terasa tegang saat Alex menarik kerah kemeja Damian.
Orang-orang yang berada disana pun mulai melihat keduanya sebagai pusat perhatian. Namun Damian justru terlihat santai dan tersenyum menatap Alex, dia pun langsung melepaskan tangan Alex pada kerah bajunya.
"Ini. Kau bisa mencari informasi nama tersebut terlebih dahulu sebelum bertemu dengan nya. Dan jangan terburu-buru Alex, kau sangat menyebalkan saat itu juga. Good luck bro"
"Apa ini?"
"Kau pikir aku bodoh membiarkan nya pergi begitu saja, itu kartu namanya yang berhasil aku dapatkan"
"Yua Anami?" Kata Alex mengernyitkan keningnya saat membaca Nama yang tertera pada kertas kecil berwarna hitam ditangan nya.
"Itu nama yang sekarang dia pakai, suruh anak buah mu menyelidiki nya. Karena aku melihat dia begitu akrab dengan pria yang bernama Renzo Hitomi. Putra tunggal tuan Hitomi yang tinggal di Jepang."
Alex teringat jika dalam foto yang telah Damian kirim, memang menampilkan Elica yang sedang bersama dengan seorang pria. Namun dia mencoba tidak memperdulikan hal itu, karena tujuan utama nya yaitu bertemu dengan Elica secepatnya.
Dia pun segera menghubungi anak buah nya untuk mencari semua informasi yang telah diberikan oleh Damian.
***
Cahaya matahari telah menampakkan pancaran sinar nya. Wanita yang tengah tertidur pun mengerjapkan mata nya karena mendengar ponselnya berbunyi.
"Halo Dad"
...
"Aku tidur di hotel semalam Dad, aku terlalu lelah dan memilih memesan hotel."
...
"Maafkan aku membuat mu khawatir, Dad. Nanti siang aku pulang"
...
"Baiklah"
Elica pun mengakhiri panggilan dari sang ayah yang mencemaskan nya karena tidak pulang ke rumah nya yang lama. Dia pun melihat jam pada ponsel nya yang rupanya sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Tidak selang lama, ponselnya pun kembali berbunyi. Dan ternyata Ren juga menelpon nya.
"Halo Ada apa Ren?"
"Kau dimana, masih di hotel? Apa hari ini sibuk?"
"Aku masih di Hotel, kenapa?"
"Garry mengundang mu makan siang bersama. Dia menyesal karena tidak melihat mu saat tadi malam kau pulang"
"Hm Baiklah aku akan datang. Aku akan bersiap sekarang, karena aku pun baru saja bangun"
"Oke"
Elica pun beranjak dari ranjang yang dia tempati untuk bersiap mandi.
Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam, akhirnya Elica sudah siap untuk menemui Ren dan juga Garry. Rupanya keduanya pria itu mengundang nya datang ke sebuah restoran mewah bintang Lima. Dan untungnya Ren sangat pengertian jika dia mengirim orang untuk mengantarkan baju ganti pada Elica, hingga dia tidak mengenakan baju yang sama seperti tadi malam. Dia memakai kemeja berwarna pastel dengan celana jeans, tidak lup rambutnya di kuncir kuda.
Elica pun berjalan menuju lift untuk turun kelantai dasar, mengingat kamar yang dia tempati berada di lantai paling atas. Dia menunggu pintu lift terbuka seraya memainkan ponselnya.
Ting...
Pintu lift tersebut pun berhenti dan bergeser terbuka.
Namun Elica terlihat tidak bergeming saat mendapati seseorang yang berada di dalam lift itu. Entah mengapa kaki nya terasa lemas dan tubuh nya kaku. Seseorang yang sudah lima tahun sangat dia hindari tidak disangka kini berada dihadapan nya, dan mengunci pandangan kedua nya hingga tanpa sadar ponsel yang berada di tangan Elica pun terjatuh.
Elica masih tertegun belum sepenuhnya tersadar dengan apa yang sedang terjadi. Hingga orang yang berada di dalam lift itu berjalan kearah Elica dan mengambil ponsel milik nya yang terjatuh, pria tersebut tidak lain ialah Alex.
Dia memberikan ponsel tersebut pada Elica yang masih saja terdiam.
"Lama tidak bertemu, ini ponsel mu"
Elica pun mengambil nya, rupanya pintu lift pun akan tertutup. Dan dengan cepat Alex menahan nya untuk Elica masuk.
Tidak ada pilihan lain akhirnya Elica pun memutuskan untuk masuk. Dan sangat kebetulan juga tidak ada orang lain di dalam nya. Hingga saat pintu tertutup, keduanya hanya diselimuti keheningan.
Baik Elica atau pun Alex terlihat sibuk dengan pikirannya masing-masing. Dan suasana terasa asing karena Alex merasa Elica sedikit berbeda.
"Bisakah kita berbicara sebentar?" Tanya Alex yang pertama membuka pembicaraan.
"Tidak ada lagi yang perlu di bicarakan, kita sudah tidak memiliki persoalan apapun" Jawab Elica dingin.
Alex yang mendengar nya hanya bisa tersenyum getir.
"Maafkan aku" ujar Alex pelan dengan kepala nya yang menunduk. Sebenarnya pria itu sangat menyesalkan dengan perilaku Elica yang berubah drastis.
Semua ekspetasi nya tentang wanita yang ada disampingnya tiba-tiba hilang begitu saja. Namun dia berusaha untuk tidak hilang kendali, karena bagaimanapun juga bukan hanya ego nya saja yang diutamakan, tapi dia harus mengingat tentang putri kecilnya yang sedang menunggu sang ibu untuk pulang.
Ting..
Pintu Lift pun terbuka menandakan jika mereka sudah berada di lantai dasar. Tanpa melihat kearah Alex, Elica pun bergegas segera keluar.
Dengan cepat Alex pun juga mengejar Elica dengan langkah cepat nya. Dia pun langsung menarik tangan Elica untuk mengikuti nya masuk ke dalam mobil.
"Apa yang kau lakukan. Lepaskan." Elica mencoba memberontak ketika tangan nya di cengkraman erat oleh Alex.
Namun Alex tidak mengindahkan nya dan memaksa Elica untuk masuk ke dalam mobil.
"Masuk"
"Tidak. Lepaskan atau aku akan teriak"
"Kalau begitu teriak saja"
Dengan sekali tarikan Alex pun berhasil membawa masuk Elica ke mobil.
Alex segera menyuruh supir nya untuk melajukan mobil tersebut sedangkan dia dan Elica berada di kursi belakang.
"Kau akan membawa ku kemana? Bukankah semua urusan kita sudah berkahir sejak lama?" Pekik Elica dan berhasil melepaskan cengkraman Alex yang membuat tangan nya meninggalkan tanda merah.
Alex berusaha tidak menjawab semua perkataan wanita yang ada disampingnya itu, meskipun berbagai umpatan di dengar karena Elica sangat kesal dengan perlakuan yang dia dapatkan.
"Hentikan mobil nya sekarang. Hentikan" pekik Elica keras hingga supir yang sedang menyetir pun kebingungan haruskah dia menghentikan nya.
"Terus jalan" kata Alex santai
"Hentikan mobil nya atau akan.... Emphh" belum sempat Elica menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Alex sudah membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman. Seketika mata Elica terbelalak sangking terkejut nya, dengan cepat dia langsung mendorong dada Alex dengan keras agar pautan mereka terlepas.
Dia mengelap bibirnya berkali-kali, sedangkan Alex yang menyaksikan hal itu langsung tertawa.
"Jangan kurang ajar, aku bisa menuntut mu karena hal ini" kata Elica kesal.
"Benarkah? Aku tidak takut" jawab Alex terdengar mengejek.
Plak..
Elica yang sudah tersulut emosi karena perlakuan Alex, langsung melayangkan tamparan pada pria itu karena telah bersikap tidak pantas.
Alex menyentuh pipi nya setelah mendapat sebuah tamparan dan membuat bekas merah disana.
"Untuk pertemuan pertama kita setelah lima tahun, aku cukup senang mendapatkan nya"
Elica pun memutar matanya karena kesal, dia membuang wajah kearah lain karena tersadar jika pria itu terus saja memperhatikan nya.
Melihat rambut Elica yang sedikit berantakan, Alex pun menyampirkan rambut nya ke belakang telinga wanita itu. Dan membuat Elica sedikit tidak nyaman.
"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan mu. Kau cukup diam saja, atau aku akan mencium bibir mu lagi, Elica"
"Kau gila. Dan nama ku bukan Elica" Alex membalas nya dengan tersenyum.
"Aku tau. Nama palsu mu Yua Anami, seorang psikolog bekerja di rumah sakit anak-anak. Dan kau bersahabat dengan pria bernama Renzo Hitomi dia seorang gay dan kebenaran nya lagi dia putra tunggal tuan Mario Hitomi yang sangat terkenal. Apalagi yang ingin kau dengar, aku mengetahui semuanya. Karena bagi ku kau selamanya Elica, ibu dari anak ku dan bukan orang lain"
Elica sedikit tercekat mendengar ucapan Alex.
"Jangan membawa nama Ren, dia tidak tau apapun"
"Tergantung sikap mu, jika kau terus memberontak maka aku akan memberitahu seluruh dunia jika dia seorang Gay. Begitu pun sebaliknya, kau menurut maka semua nya aman"
"Kau mengancam ku menggunakan dia?"
"Itu bukan ancaman Elica, tapi negosiasi"
Terdengar helaan nafas kasar dari Elica, dia mencoba tidak terpancing dengan Alex. Dan memilih diam untuk mengalah.
Akhirnya mereka sampai di Mansion milik Alex. Sebenarnya Elica sedikit terkejut mengetahui jika Alex membawa nya kemari, karena setahu nya dulu pria itu tinggal di rumah besar.
Alex pun memasuki Mansion nya di ikuti Elica di belakang nya. Tidak banyak yang berubah pada ruangan yang di lalui Elica, karena dia merasa semuanya terlihat sama seperti dulu.
"Daddy.." pekik Nancy yang mendapati jika Alex pulang lebih awal.
"Hei Princess.."
Gadis kecil itu pun berlari kearah sang ayah dan Alex pun langsung menggendong nya.
"Daddy sudah pulang atau hanya ingin mengambil sesuatu?"
"Tentu saja Daddy pulang karena merindukan mu sayang"
Tanpa mereka sadari Elica melihat semua perlakuan yang Alex berikan pada anak kecil di gendongan nya. Dan Elica tau betul siapa gadis kecil itu.
Dia hanya bisa berdiri tidak jauh dari ayah dan anak itu. Meskipun mata nya sudah terasa panas ingin mengeluarkan air mata nya.
Tiba-tiba Irene pun datang menghampiri mereka yang sedang diruang tengah. Dia sangat kaget dengan seorang wanita yang kini berdiri melihat Alex dan Nancy.
"Elica..." Panggil Irene yang membuat Elica menoleh.
"Tante Irene" sahut Elica lirih
Dengan cepat Irene pun menghampiri Elica dan langsung memeluk nya. Terdengar isakan dari Irene yang mengetahui Elica sudah kembali.
"Kau kemana saja Elica, Tante merindukan mu"
"Maafkan aku Tante"
"Jangan pergi lagi, tidak kah kau lihat putri mu sudah tumbuh besar"
Elica pun melepaskan pelukan itu dan mengusap air mata wanita paruh baya yang ada di hadapannya itu.
"Jangan menangis Tante"
Irene tidak bisa menahan luapan perasaan nya, dia menggenggam tangan Elica layaknya seorang ibu yang sudah lama tidak bertemu dengan nya.
Dan hari ini dia sangat senang karena bisa bertemu dengan Elica lagi. Irene pun menatap pada Nancy yang kini di gendong Alex dan menyaksikan hal tersebut. Tanpa menunggu lama Alex pun menghampiri kedua wanita itu bersama dengan Nancy.
Mata Elica tidak lepas menatap anak kecil yang sedang memperhatikan nya.
"Nancy, kamu selalu bilang rindu Mami kan?" Tanya Irene pada gadis kecil itu dan dibalas anggukan oleh nya.
"Ingin bertemu dengan nya?"
"Iya Oma"
"Lihat lah, ini Mami kamu sayang. Dia sudah pulang" ujar Irene lagi, menjelaskan.
Kala itu juga air mata Elica tidak bisa terbendung saat mendapati manik dari putrinya menatap kearah nya. Namun Elica tidak berani sekedar untuk menyapa karena dia takut jika anak nya sudah membenci dirinya.
"Daddy.." rupanya Nancy masih ragu dan belum bisa menerima kenyataan jika wanita yang ada di hadapannya adalah sang ibu yang selalu dia tunggu.
Hingga gadis kecil itu memilih mengeratkan tangannya di leher Alex dan membuang wajah kearah belakang.
"Sayang, hei. Lihat lah itu Mami kamu. Bukankah Nancy selalu berkata jika rindu Mami. Ayo sapa Mami kamu sayang" kata Alex berbisik di telinga putri nya untuk memberi pengertian.
Namun Nancy menggelengkan kepalanya.
Elica yang melihat nya pun merasa sedikit kecewa. Tapi dia tidak menyalahkan sikap Nancy pada nya, wajar jika putri nya masih terasa asing padanya. Karena sudah lama mereka tidak bertemu sekalipun.
Irene bisa melihat raut muka Elica yang terlihat sedih, mungkin Nancy juga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dengan semuanya. Irene pun menyuruh Alex untuk membawa Nancy kekamar nya, karena sudah waktunya juga untuk Nancy tidur siang.
Irene menyuruh Elica untuk duduk dan berbicara bersama nya, kemudian Elica pin mengiyakan ajakan Irene.
"Bagaimana kabar mu dan ayah mu Elica?" Tanya Irene membuka pembicaraan.
"Kami baik Tante"
Sejenak Irene terdiam dan menatap Elica dalam.
"Alex sudah mengatakan semua nya pada tante. Jangan pergi lagi sayang, kau lihat kan Nancy. Dia anak mu yang lama kau tinggalkan, setiap hari dia menanyakan mu, dan setiap hari juga dia menunggu mu Elica. Siapa pun kau saat ini, jangan pernah lupakan tentang jati diri mu yang dulu. Karena pergi bukanlah sesuatu yang dapat menyelesaikan masalah"
"Dia terlihat baik-baik saja Tante" kata Elica mencoba terdengar tegar.
Irene langsung membalas nya dengan gelelengan kepalanya, menandakan dia tidak membenarkan ucapan Elica.
"Tidak Elica. Semua nya tidak baik. Entah itu Alex maupun anak mu. Meskipun Alex bisa memberikan nya apapun, tapi Nancy sangat membutuhkan mu sebagai ibu nya. Kau harus tau Elica, semua wanita bisa menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak nya. Tapi tidak semua pria bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk anaknya. Mereka berdua membutuhkan mu, tolong jangan pergi lagi. Karena aku pun tidak mau melihat Nancy seperti Alex, yang kurang kasih sayang dari orang tua nya"
Elica mengelap air mata nya yang tanpa sadar turun ke pipi. Seketika ponsel milik nya berbunyi dan menandakan ada pesan masuk, dia membaca layar pipih tersebut dengan serius. Setelah selesai Elica pun kembali memasukkan ponselnya kedalam tas.
Dia menatap Irene dengan tersenyum lembut dan menggenggam tangan wanita paruh baya itu yang masih terlihat cantik seperti dulu.
"Terimakasih Tante sudah menjaga Nancy. Maafkan aku jika aku membuat mu kesusahan karena hal itu.
Tapi... Ini pilihan ku Tante, aku akan kembali ke Jepang lusa"
TBC.
Hayo jangan Emosi ya Gaes ya.. apalagi Emosi sama Author yang Update nya lambat bgt wkwk... Ini udah 2
Mau minta izin nih sama kalian, Boleh ngga kalo aku tunda Update an yg selanjutnya sampe Ramadhan nya selesai. Soalnya kemungkinan banyak adegan Dewasa nya, dan yang aku tau kalo lagi puasa ngga boleh berpikir yang jorok ya? 😂
Nanti malah Author yang dapet dosa dari kalian kn kaga lucu ya...
Yaudah lah gausah kebanyakan omong, btw semoga suka sama ceritanya dan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan🙏
Follow IG Author @akiokokoru_69