
SMA Magic Sworld, Pukul 06.30 pagi
POV Sean
"Kenapa akhir akhir ini aku sangat malas ke sekolah? Haruskah aku bolos lagi?" Ucapku di depan gerbang utama sekolah. Gerbang ini sangat berbahaya, begitu aku masuk aku akan dituntut untuk menguasai elemen spesial yang aku punya. Apa mereka pikir aku tidak merasa terbebani?
"Tidak bisa begini, aku perlu healing time." Healing time atau proses penyembuhan yang biasanya aku lakukan adalah dengan berkelahi. Dengan berkelahi aku merasa semua bebanku terangkat. Dengan merasakan memukul dan dipukul aku bisa mendapatkan kembali kesadaranku, menjadi Sean yang tenang dan damai. Aku merasa tidak bisa menahan diri akhir akhir ini, sikap emosional dan egoisku mulai meluap.
Apa lagi jika mengingat kejadian kemarin. Itu membuatku gila, aku ingin melupakan bahwa aku mengatakan 'aku akan bertunangan'. Tapi beruntungnya setelah kejadian itu Ibu memberikanku waktu seminggu untuk bersiap siap akan pertunangan itu.
Jadi selama seminggu ini, siapa saja yang membuat masalah denganku, bersiaplah untuk mati. Aku akan menikmati Healing time ini.
kelas 1, pukul 06.45 pagi
Aku duduk di bangku paling belakang dan berdekatan dengan jendela. Itu adalah tempat favoritku, cahaya matahari dan angin selalu menyempurnakan bangku itu, membuatku betah disana walau pelajaran berlangsung seharian. Apa lagi aku tidak punya teman sebangku, itu sangat menyenangkan. Bukankah menyenangkan jika sendirian?
Tapi saat aku datang, ada perempuan yang tidak asing duduk disana, sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Dia meletakkan buku bukunya di bangku itu, seakan tempat itu miliknya. Aku langsung mendatanginya dan bertanya.
"Ini tempat dudukku, kenapa kau duduk disini?" Ucapku sedikit judes, aku tidak suka ada orang yang duduk dibangkuku.
Gadis itu seketika menatapku karena merasa aku berbicara dengannya , dan dia menunjukkan wajah sedikit terkejut saat melihatku. Aku juga sedikit terkejut saat melihatnya. Ternyata ia adalah gadis pengguna elemen air yang kemarin aku temui, kalau tidak salah namanya adalah Dara.
"Ah! Bocah rasis yang kemarin, kau bicara denganku? Bisa kau mengulanginya, aku tidak dengar yang kau bicarakan." Ucapnya sambil mengeluatkan airpods dari telinganya, pantas saja dia tidak mendengarku.
"Kenapa kau duduk di tempatku? Bereskan barang barangmu." Ucapku menegaskan ulang yang aku katakan tadi.
"Aku duduk disini duluan, aku tidak akan pergi. Jika kau mau duduk saja di sebelahku."
"Kau tidak ingin pergi? Kau tidak tau bangku ini tempatku?"
"Aku tau, makannya bangku sebelahku kosong dari tadi. Banyak pria yang ingin duduk di sebelahku, aku mengosongkannya karena tau ini bangku milikmu. Lagian kau duduk sendirian, apa aku tidak boleh jadi teman sebangkumu?"
"Hmm, aku tidak ingin punya teman sebangku. Jadi pergilah."
"Sean!" Teriak seseorang dari belakangku, ternyata itu adalah ketua kelas namanya Lily, dia adalah orang terwaras di kelas ini yang aku kenal, tapi aku tetap tidak menyukainya. Lagian aku tidak menyukai siapapun di dunia ini selain Ibuku.
"Kenapa?" Jawabku sambil melihat Lily yang terengah engah karena berlari kearahku.
"Sean, perkenalkan dia Dara anak baru. Kemarin kau tidak berangkat jadi guru menyuruhnya untuk duduk di bangkumu. Tidak bisakah kau berbagi tempat dengannya." Ucap Lily, dia seperti takut padaku. Kata kata yang dia ucapkan terdengar seperti perintah, tapi jika melihat ekspresinya dia seperti memohon padaku.
"Lily, apa tidak ada tempat lain untuk dia tempati?" Tanyaku, dan Lily menjawabnya dengan menggeleng gelengkan kepalanya, pertanda bahwa tidak ada bangku lain.
"Lihat, aku duduk disini juga terpaksa. Lagian kenapa kau sampai segitunya, aku juga bukan musuhmu." Ucap Dara.
"Siapa bilang kau bukan musuhku?" Jika aku terus terpancing emosi, akan buang buang waktu saja. Lebih baik aku mengalah.
"huffff..." Aku menghela nafas panjang dan duduk di sebelah Dara.
"Terimakasih Sean, semoga kau bisa akrab dengan Dara." Ucap Lily yang kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
"Wah, aku menyukainya, bisakah aku berteman dengannya. Dia sangat lugu dan imut." Ucap Dara sembari melihat Lily yang berjalan menjauh.
"Diamlah, jika kau berisik aku akan benar benar mengusirmu."
"Kau dingin sekali, padahal kau pengendali elemen api. Apa itu masuk akal?" Ucapnya meledekku, tapi aku hanya diam saja dan mengabaikannya dengan bermain game poker yang sudah aku kuasai.
5 menit kemudian
BRAK!
Segerombolan senior yang sering membuatku emosi datang. Mereka adalah penyebab aku sering kerumah sakit dan dimarahi kakak karena babak belur.
Mereka selalu berlagak hebat didepan semua orang, padahal mereka ini hanyalah segerombolan serangga yang sering menggangguku. Mereka iri denganku karena aku kaya, tampan dan memiliki kekuatan api istimewa sedangkan mereka hanya pengguna elemen api biasa. Jadi mereka sering cari masalah.
"Sean, siapa dia?" Ucap Dara, dia pasti terkejut melihat ini.
"OH, kau sudah punya pacar rupanya. Baru kali ini aku melihat ada orang yang bicara denganmu. Dia cantik juga, siapa namamu cantik?" Ucap si senior bodoh itu.
Dara diam saja, tapi matanya seperti mengeluarkan laser ketika menatap para senior. Seperti tatapan kebencian.
"Sean, apa si bodoh ini juga musuhmu? Sama sepertiku?" Ucap Dara.
"Si bodoh katamu!" Teriak senior itu.
"Sean, dia lebih berisik dariku. Kau pasti sangat membencinya."
"Kau cantik, tapi mulutmu sangat tidak sopan."
"Kau pikir kau bersikap sopan, kenapa kau pakai memukul meja segala. Kau tidak keren sama sekali, kau hanya terlihat seperti preman."
"Wanita ini!" Kepalan senior itu hampir mendarat ke wajah Dara. Dan aku menangkis pukulanya.
"Apa lukamu sudah sembuh? Kuingat kemarin kalian semua terkapar di tanah." Ucapku mengejek mereka, kupikir itu akan mengalihkan perhatiannya dari Dara.
"Keluar, hari ini aku akan membunuhmu." Ucap senior itu yang emosi karena perkataanku. Aku hanya menjawabnya dengan wajah tersenyum, pas sekali dia datang hari ini, aku sudah tidak sabar memukulinya untuk menghilangkan stresku.
Saat aku hendak keluar, Tangan Dara meraihku dan seketika aku melihatnya.
"Apa yang kau lakukan?" Ucapku dengan wajah datar.
"Kau akan bertengkar dengan mereka? Bukankah kau orang yang rasis? Kenapa kau juga berkelahi dengan sesama pengguna api?" Ucapnya bingung.
Gadis ini senang sekali memanggilku rasis. "Jika kau mengataiku rasis lagi, aku tidak akan diam saja." Ucapku dengan tatapan membunuh.
"Baiklah rasis, aku tidak akan memanggilmu rasis lagi."
"HYA!" Aku berteriak di depannya.
"Namaku Dara bukan 'Hya'."
Meskipun begitu dia masih belum melepaskan tanganku padahal emosiku sudah mencapai ubun ubun. Apa dia tidak bisa membaca ekspresi seseorang?
"Galak sekali, aku hanya khawatir kau mati. Bagaimana bisa kau melawan orang sebanyak itu, berapa jumlahnya tadi? Apa 7 orang? Pokoknya bagaimana bisa kau melawan mereka. Kau mau mati muda?!"
Mungkin ini pertama kalinya dia melihatku berkelahi karena dia anak baru. Padahal berkelahi adalah kegiatan rutinku, setiap aku sembuh mesti akan babak belur lagi.
"Lepaskan tanganku."
"AH. Aku lupa kalau tadi meraih tanganmu. Pergilah brengshik kalau kau kalah aku akan tertawa paling kencang."
"Tapi jika aku menang, kau harus pergi dari bangku ku mengerti?"
"Kau menyebalkan, pasti tidak ada yang mau berteman denganmu. Lagian jika kau bertengkar apa kau tidak akan kena hukuman?! Kau pasti gila."
"Tata barang barangmu, kau harus pergi saat aku kembali nanti. Karena aku yang akan menang."
Dengan berkelahi aku tidak akan kena hukuman karena aku berkelahi dengan kemampuan bela diriku, dan tidak menggunakan kekuatan elemen. Jadi itu tidak melanggar peraturan sekolah. Perkelahian yang dilarang disekolah ini adalah pertarungan elemen, murid tidak diijinkan mengeluarkan kekuatan elemennya kecuali untuk latihan saja.
"HYA Sean! Kau tidak ingin bertarung!" Teriak senior itu di depan kelas.
"Semoga beruntung, aku akan mendoakanmu kalah berulang kali."