Playing With Fire

Playing With Fire
Part 14



Vote jangan lupa.


Makin Banyak Vote dan komentar, maka Author akan semakin cepat Update nya


Mereka berdua akhirnya sampai, ternyata Alex membawa Elica ke apartemen milik nya. Dulu sebelum Alex bertemu dengan Hilda, dia lebih memilih tinggal di apartemen mewah tersebut. Karena sekarang ada Hilda dan Elica, jadi dia memutuskan untuk pindah ke rumah besar nya.


Alex langsung menyuruh Elica untuk turun, mau tidak mau Elica pun menuruti nya. Dengan cepat Alex pun langsung menggandeng tangan Elica, agar wanita itu tidak lari. Mengingat tadi di mobil Elica memberontak ingin turun.


Dan Elica mengernyitkan dahinya, ketika tau Alex membawa nya kesebuah apartemen. Mereka memasuki Lift dan tangan Elica pun masih di genggaman oleh Alex. Tak lama mereka pun sampai di pantai 25, Alex langsung menekan tombol kode pintu apartemen. Setelah pintu terbuka Elica masih berdiri dan menolak untuk masuk ke ruangan tersebut meskipun Alex mencoba menarik tangan nya.


"Kenapa kau membawa ku kesini?" Tanya Elica.


"Masuk dulu, kau akan tau nanti"


"Tidak mau. Aku tidak sudi masuk bersama mu. Aku tau yang ada di otak mesum mu itu"


"Good Girl, kau memang selalu tau apa yang aku inginkan. Kalau begitu ayo masuk" jawab Alex dengan senyum miring nya, masih mencoba menarik Elica agar mau masuk.


"Sudah ku bilang aku tidak mau. Kau gila hah. Bahkan ini masih pagi sialan, kenapa kau tidak cari wanita lain saja untuk memuaskan ***** mu" tolak Elica yang masih melawan.


"Apa kau lupa sayang, kau itu sudah menjadi wanita ku. Jadi itu kewajiban mu untuk melakukannya. Jangan banyak bicara ayo masuk" sentak Alex yang menarik tangan Elica kuat.


Akhirnya Elica pun masuk ke ruangan tersebut karena paksaan Alex. Seketika pintu pun langsung terkunci otomatis.


Memasuki ruangan apartemen itu, sejenak membuat Elica kagum. Ruangan tersebut sangat rapi dan Elegan. Cat dinding yang bernuansa putih membuat suasana lebih indah. Untuk ukuran orang yang hanya tinggal sendiri ditempat ini, sangat lah besar. Dan Elica yakin harga apartemen ini berkisar milyaran, nominal yang kecil bagi Alex karena dia orang yang sangat kaya.


"Bagaimana? Kau mengagumi nya?" Ujar Alex saat mengetahui Elica terperangah melihat suasana dalam apartemen nya.


Alex pun membuka jas nya, dan menyisakan kemeja putih nya saja. Dia memang menggunakan setelah jas, karena tadi dia beralasan ke kantor kepada Hilda istrinya.


"Biasa saja" jawab Elica acuh, namun dibalas tawaan oleh Alex.


"Benarkah? Padahal rencana nya aku akan memberikan apartemen ini untuk mu"


"Aku tidak meminta nya"


"Benar kau tidak meminta nya. Tapi entah kenapa, aku lebih suka jika kau meminta sesuatu padaku. Seperti saat kau meminta mobil dari ku. Aku suka saat itu kau merayu ku dengan secangkir kopi. Kau ingat?" Ucap Alex mengingatkan Elica.


Alex terlihat memilih duduk di sofa empuk milik nya menghadap ke Elica yang masih berdiri dihadapannya.


"Jadi, kau membawa ku kesini hanya untuk memamerkan harta mu?"


"Tidak sayang. Tadi nya aku ingin memberikan mu hukuman. Tapi aku terpikirkan oleh sesuatu yang lebih menarik. Bagaimana jika kau melepaskan semua pakaian mu, dihadapan ku saat ini juga. Dan aku pastikan apartemen ini untuk mu. Menarik bukan, daripada aku harus menghukum mu"


Elica masih diam belum menjawab ucapan pria gila yang ada di depan nya itu. Bisa-bisa Alex berfikir jika Elica akan melakukan nya.


"Apa ibu ku semalam tidak memuaskan mu? Sampai-sampai kau meminta kepuasan kepada ku? Meskipun di pagi hari begini? Dan kau pikir aku akan mau melakukan nya?" Ujar Elica dengan nada sinis nya.


"Hahahaha.. kau tau Elica, kau adalah wanita yang sangat menarik di mata ku. Kau satu-satunya wanita yang menolak pemberian ku yang tulus ini, sekaligus kau adalah wanita yang berani menolak ku. Aku mengagumi nya"


"Berhentilah membuang waktu ku Alex, aku ada kuliah pagi ini. Dan kau berjanji akan mengantarkan ku"


"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya bilang kau akan pergi bersama ku." Jawab Alex dengan enteng nya.


"Baiklah. Sepertinya aku yang bodoh meladeni orang gila seperti mu" ujar Elica.


Dan Elica pun memutuskan untuk berbalik dan berjalan kearah pintu. Dia memilih untuk pergi keluar sebelum Alex melakukan sesuatu kepada.


Belum sempat Elica memegang kenop pintu, Alex sudah menarik lengan nya dan membalikkan tubuhnya Elica kemudian memojokkan nya di dinding.


Pria itu menghimpit Elica dengan tubuh kekar nya, dan detik berikutnya bibir Alex sudah mencium bibir Elica . Elica yang kaget langsung membulatkan matanya. Namun tak lama kesadaran Elica segera kembali dan mencoba mendorong lelaki itu.


Namun sayangnya tenaga Elica sangat kalah jauh dengan tenaga Alex.


Elica pun mencoba memiringkan kepalanya ke kanan kiri agar menghindari bibir Alex. Dan dengan cepat Alex langsung menahan tengkuk Elica dengan kuat agar Elica diam.


Ciuman itu pun turun ke leher nya. Dan Alex sengaja menyesapnya sangat kuat hingga meninggalkan beberapa bekas merah disana.


Elica yang mendapat cumbuan itu, hanya bisa menggigit bibir bawah nya. Dia berusaha agar mulut nya tidak mengeluarkan *******.


"Jangan ditahan, mendesah lah. Aku tau kau menikmati nya" ujar Alex yang masih membuat tanda merah di leher Elica.


"Tidak akan"


"Baiklah kita lihat sejauh apa kau bertahan"


Dengan cepat Alex membopong Elica ke kamar dan langsung menghempaskan nya. Pinggul Elica terasa nyeri saat Alex melempar nya ke ranjang dengan keras.


Dan detik berikutnya Alex langsung membuka baju nya, kemudian dia langsung menyerang Elica.


Mereka bercinta berkali-kali. Elica kalah lagi kali ini, karena Alex langsung menghancurkan pertahanan nya dengan sangat kasar. Padahal Elica sudah memohon agar mereka berhenti tapi Alex terus saja menghujam tubuh nya.


Setelah beberapa jam mereka bercinta Akhirnya Alex menghentikan kegilaan nya. Melihat Elica yang sudah tidak berdaya membuat Alex tersenyum puas.


"Aku harap hari ini kau bisa mengingat sampai kapan pun. Jika semua nya yang ada pada dirimu itu milik ku. Dan aku berhak mendapatkan nya kapan pun aku mau." Bisik Alex di telinga Elica yang sudah sangat kelelahan.


"Malam ini tidur lah disini. Sesuai janji ku, apartemen ini menjadi milik mu sayang. Tapi untuk hari ini aku akan mengunci nya dari luar sebagai hukuman karena kemarin kau membuat kesalahan. Aku akan bicarakan keberadaan pada ibumu, kau tenang saja. Istirahat lah disini aku akan pergi sekarang"


Ucap Alex lagi, dia berdiri dan memakai lagi pakaian nya yang berserakan di lantai. Sebelum pergi dia mencium bibir Elica lagi. Namun Elica tak membalas nya lagi.


Alex pun pergi meninggalkan Elica di apartemen itu. Setelah mendapat kepuasan dia meninggalkan perempuan itu begitu saja. Tanpa sadar air mata Elica keluar begitu saja, dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri. Ketidakberdayaan nya membuat nya menjadi lemah Sekarang. Hingga untuk membalas dendam pun rasa nya sangat mustahil.


Dengan rasa sakit di hati dan tubuh nya, Elica pun memutuskan untuk mandi.


Membersihkan sisa kegiatan nya tadi bersama Alex.


Setelah selesai Elica mengecek pintunya, ternyata benar-benar dikunci dari luar. Dan sial nya lagi Alex diam-diam membawa ponsel miliknya juga. Elica pun menghela nafas nya panjang agar dia bisa lebih sabar dengan keadaan saat ini.


Elica memutuskan untuk kembali berbaring di ranjang, karena tubuh nya juga masih lelah dan butuh istirahat.


***************************


Sore hari Alex pulang ke rumah nya. Dia langsung disambut istrinya yaitu Hilda. Alex terlihat membawa beberapa berkas karena tadi pagi dia memang beralasan untuk mengambil berkas di kantor nya. Dan Hilda pun tidak curiga sama sekali.


"Kau tidak pulang dengan Elica?" Tanya Hilda saat mereka berdua sudah masuk kedalam kamar.


"Ah anak itu, tadi aku menjemput nya di kampus. Tapi dia bilang akan menginap di rumah teman nya. Jadi dia meminta izin pada ku untuk pergi" bohong Alex sambil melepaskan pakaian nya.


"Kenapa kau langsung mengizinkan nya, dia itu anak gadis. Harus nya kau tanya dulu kemana dia pergi"


"Ku tenang saja sayang. Aku sudah menyuruh pengawal untuk mengawasi Elica dan teman nya. Lagi pula, mungkin Elica sengaja melakukan itu untuk memberi kita waktu berduaan di rumah"


Goda Alex yang berhasil membuat Hilda tersipu malu.


"Kau ini, bisa saja" Hilda memukul pelan lengan Alex.


"Aku kan mandi dulu, setelah itu aku akan pergi lagi. Jangan tidur dulu nanti malam, tunggu aku. Oke" ucap Alex.


Dan Hila pun mengangguk mengiyakan.


Setelah selesai mandi, Alex langsung pergi lagi. Dan dia mendapati istrinya tangah menyiram tanaman hias di teras rumahnya. Alex pun berjalan kearah Hilda dan langsung mencium kening wanita itu.


"Kau akan kemana lagi Alex?"


"Aku ada urusan sebentar. Tidak sampai larut malam"


"Jam berapa kau pulang?"


"Secepatnya sayang. Aku pergi dulu ya"


"Baiklah. Hati-hati dijalan"


Alex memasuki mobil BMW milik nya, dia pun langsung melajukan kendaraannya menuju apartemen yang ada Elica di sana.


Mengingat hari sudah sore, pasti Elica melewatkan makan siangnya.


Setelah selesai Alex pun kembali membelah jalanan menuju ke apartemen.


Tak lama dia pun sampai disana. Dia membuka pintunya, dan saat masuk suasana didalam ruangan sangat gelap. Alex mencoba mencari saklar lampu untuk menyalakan nya.


Dan benar saja, Elica masih tidur sambil meringkuk di ranjang itu.


"Sayang, bangun lah" ucap Alex dengan lembut membangunkan Elica.


"Bangun Elica, aku membawa makanan untuk mu. Bangunlah kau harus makan"


Tak lama Elica pun membuka matanya, nyawanya belum sepenuhnya terkumpul membuat nya mengeluarkan ekspresi yang sangat menggemaskan bagi Alex.


"Ini dimana?" Tanya Elica yang masih setengah sadar.


"Ini di apartemen mu sayang, bangunlah kita makan bersama di luar. Aku membawakan makanan untuk mu"


"Bajingan, kenapa kau membawa ponsel ku juga" ucap Elica langsung mengatakan hal tersebut saat kesadaran nya sudah terkumpul. Alex pun tersenyum mendengar nya.


"Ini, aku mengembalikan nya. Ayo keruang tengah kita maka dulu"


"Jam berapa ini?" Tanya Elica


"Jam 7 malam, apa setelah tidur kau jadiĀ amnesia?"


"Tidak bodoh. Aku tertidur dari siang, kau sendiri juga gila. Tidak ada makanan apapun di dapur selain air. Kau ingin mencoba membunuh ku ternyata"


"Anggap saja itu bagian dari hukuman mu sayang"


Alex dan Elica akhirnya menuju ruang tengah, dan benar saja. Alex membawa banyak makanan untuk Elica.


Elica yang sudah kelaparan menyingkirkan rasa gengsinya, rasa nya ingin pingsan saat merasakan perutnya yang keroncongan dari tadi siang.


Namun Alex tidak ikut makan, dia lebih memperhatikan Elica yang sedang makan sambil tersenyum.


"Makan pelan-pelan Elica, kau bisa tersedak nanti"


"Diam lah. Lebih baik kau pergi dari sini."


"Aku memang akan pulang, lagi pula ibumu sekarang tidak bisa berlama-lama jauh dari ku" ucap Alex.


"Lalu kapan aku pulang? Ibu ku pasti khawatir"


"Tenang saja sayang. Aku sudah memberikan alasan yang tepat pada ibu mu. Dan dia percaya apa yang aku katakan"


Elica pun membalasnya dengan senyuman kecut.


"Bisa aku minta bantuan mu? tolong ambilkan air untuk aku minum di dapur" ujar Elica menyuruh Alex.


"Baiklah. Tunggu sebentar" Alex pun beranjak dari duduknya menuju ke dapur.


Tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Elica langsung berdiri dan lari menuju pintu untuk dia kabur dari apartemen tersebut.


Alex yang menyadari jika dirinya telah di yg tipu oleh Elica, dia langsung mengejar wanita itu.


Untungnya saat Elica akan turun ke lantai bawah dengan Lift, Alex tidak sempat menangkap nya. Bahkan Elica tidak memakai sandal untuk melindungi kaki nya. Tapi dia tidak perduli, tujuan nya saat ini adalah kabur dari laki-laki gila itu.


Elica sampai di lantai bawah. Dia pun langsung keluar dan menghentikan taksi yang ada di pinggiran jalan. Dengan cepat Elica masuk ke taksi tersebut dan menyuruh sang supir melaju dengan kecepatan tinggi.


Alex pun benar-benar kehilangan Elica. Salah nya karena dia tidak menggunakan Lift, namun memilih menggunakan tangga darurat. Hingga Elica berhasil kabur.


Di dalam taksi detak jantung Elica masih berdetak kencang. Antara panik dan takut dia rasakan saat ini. Bahkan dia tidak membawa uang sepeser pun karena tas nya tertinggal di apartemen itu. Namun dia tidak mempermasalahkan hal itu. Yang penting bagi nya dia membawa ponsel saat ini.


Elica langsung menghubungi Leo, untuk meminta bantuan. Dan untungnya Leo langsung menyuruh Elica datang ke apartemen nya saja, karena malam ini Leo pun sudah pulang dari pekerjaan nya.


Selang beberapa menit akhirnya taksi yang ditumpangi Elica sampai di apartemen Leo. Dan Leo sendiri ternyata sudah menunggu Elica di luar. Elica turun dan menghampiri Leo, dan Leo pun sudah tau apa yang dimaksud Elica. Dia langsung menyodorkan uang untuk membayar taksi tersebut kemudian membawa Elica ke dalam apartemen nya.


Leo mendudukkan Elica di sofa, dan dia pun memberikan Elica minuman agar wanita itu lebih baik. Karena wajah Elica terlihat sangat panik.


Elica pun meminum minuman tersebut.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Leo


"Iya"


"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau sampai seperti ini?"


Elica tidak menjawab pertanyaan Leo, dia memilih menghela nafasnya panjang.


"Tidak apa-apa jika tidak di jawab. Jangan paksakan" ucap Leo lagi.


"Maaf Leo. Tapi semua nya begitu rumit saat ini" jawab Elica.


"Apa ini semua gara-gara Alex?" Tebak Leo dengan nada berhati-hati.


"Iya"


"Apa yang dia lakukan kepada mu Elica? Kau bisa berbagi dengan ku. Aku janji akan membantu mu"


"Leo... Sebenarnya aku bukanlah perempuan baik-baik."


"Maksud mu?" Tanya Leo


"Aku.... Perempuan kotor Leo. Aku bahkan sudah membuat kesalahan besar. Aku sudah tidak suci lagi"


Ucap Elica dengan suara Lirih.


"Oke. Aku yakin kau pasti punya alasan akan hal itu. Dan aku pikir wajar jika sekarang banyak gadis yang sudah tidak suci lagi. Tapi aku ingin tau Elica, siapa yang melakukan hal itu pada mu?" Leo menjawab dengan nada setenang mungkin agar Elica lebih nyaman mencurahkan isi hati nya.


"Alex"


Sejenak Leo pun tertegun dengan jawaban Elica.


"Maksud mu kau menjalin hubungan terlarang dengan nya? Ayah tiri mu?"


"Iya. Awal nya aku ingin membuat hubungan mereka hancur. Aku menyerahkan diri ku agar dia mau membatalkan pernikahan itu, tapi ternyata dia menipu ku. Dia masih saja melanjutkan pernikahan dengan ibu ku. Dan sekarang dia justru mengklaim jika aku adalah milik nya juga."


Ujar Elica dengan mata yang berkaca-kaca. Dia sudah kalah sekarang.


"Apa ibu mu tau?"


Elica membalas pertanyaan Leo dengan gelelengan kepala yang lemah.


"Kau tau Leo apa yang aku takutkan saat ini? Kemungkinan aku sedang hamil anak pria itu sekarang"


Tangis Elica pecah saat mengatakan hal itu. Dengan cepat Leo pun langsung memeluk Elica dengan lembut.


"Tenang lah Elica. Aku jamin semua nya akan baik-baik saja"


"Aku takut jika ayah dan ibu ku tau, dia pasti akan sangat kecewa. Haruskah aku mengugurkan nya saja?"


"Tidak Elica. Demi tuhan dia tidak bersalah. Dia layak lahir ke dunia ini, jangan berpikir gegabah begitu. Aku janji akan selalu disamping mu Elica. Bahkan jika perlu, aku akan menikahi mu dan menganggap nya sebagai anak ku sendiri, Elica"


Mendengar ucapan Leo tangis Elica makin menjadi. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Cukup Leo membantu nya saja Elica sangat bersyukur. Tapi Elica tidak akan membiarkan Leo ikut terseret dalam masalah ini.


TBC.


Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar setelah membaca.