
Maaf kalo ada Typo, Semoga suka sama ceritanya....
"Ya. Aku memang tidak pernah di didik dalam hal tersebut" ucap Alex terkesan dingin
"Tidak heran jika sifat mu seperti iblis"
Alex terlihat menyunggingkan senyuman saat mendengar perkataan Elica. Dia menatap wanita itu dengan sikap tenang nya. Padahal jika orang lain yang mengatakan hal tersebut, mungkin Alex sudah melenyapkan nya saat ini juga. Tapi karena wanita yang dihadapannya adalah Elica, Alex menganggap hal itu sebagai pujian.
"Dan jangan lupa sayang, kau juga sedang mengandung anak iblis yang ada dihadapan mu sekarang" desis Alex di telinga Elica yang berhasil membuat bulu kuduk Elica berdiri.
Kenyataan nya memang benar bukan. Elica sedang mengandung benih dari Alex, meskipun jika mengingat kejadian menjijikkan itu membuat Elica seperti di tertawakan oleh takdir, seolah dia wanita lemah saat bersama pria itu. Namun Elica tetap menutupi kelemahan nya dengan sikap arogan nya. Karena dia tau, pria seperti Alex lebih baik di lawan, agar diri nya tidak selalu di rendahkan. Walaupun semua itu tidak akan membuat keadaan berubah.
"Buka pintu nya, aku ingin pulang" ujar Elica
"Ini masih pagi sayang. Apa kau tidak sabar ingin segera tidur bersama ku? Tenang saja malam nanti aku bisa membuat mu puas"
"Kau gila? Maksud ku, aku ingin pulang ke rumah ku" pekik Elica yang mulai kesal dengan pikiran Alex yang sangat mesum.
"Aku kan sudah bilang, hari ini kau menginap di Mansion ku"
"Aku tidak mau. Bisakah sehari saja kau tidak membuat ku kesal?"
Elica menunjuk nunjuk Alex dengan jari telunjuk nya, dan nafas yang mulai terengah karena berusaha menahan emosi nya. Kenyataan nya memang benar, jika dia bertemu dengan Alex bahkan satu ruangan bersama, pria itu selalu membuatnya marah karena ucapan konyol pria itu.
Dan tanpa di sangka, Alex justru menarik jari Elica yang ada di depan wajah kemudian mencium tangan Elica. Sontak Elica pun langsung menarik tangan nya digenggaman Alex.
"Kau sedang hamil Elica. Kau harus ingat itu. Tidak baik selalu marah-marah begini. Lebih baik kau kekamar pribadi ku disana" ujar Alex menunjukkan sebuah pintu yang pasti nya didalam ruangan tersebut adalah kamar yang dia maksudkan "kau istirahat disana, sambil menunggu ku menyelesaikan Semua pekerjaan ku hari ini. Oke" ucap Alex lagi sembari mengelus rambut Elica seperti anak kecil.
"Dasar psikopat. Ini namanya kau mengurung ku di ruangan mu"
"Anggap saja begitu. Aku tidak masalah dengan semua umpatan mu, yang jelas kau tidak bisa keluar dari ruangan ini tanpa seizin ku"
Dengan langkah yang sengaja di hentak-hentakan, akhirnya Elica memilih masuk ke kamar tersebut daripada terus beradu argumen dengan Alex.
Sedangkan Alex yang melihat tingkah Elica hanya tersenyum puas melihat wanita itu bersama nya saat ini, meskipun emosi Elica saat ini sangat buruk.
****
Tidak terasa hari pun sudah menjelang sore, Alex pun telah menyelesaikan Semua pekerjaannya. Sekarang dia masuk ke kamar pribadi yang ada di ruangan kerja nya, memperlihatkan Elica yang masih tertidur pulas meringkuk seperti bayi. Padahal saat siang Alex memberikan makan pada Elica, ternyata Elica hanya memakan nya sebagian saja. Tidak lama Elica pun menggeliat pelan saat merasakan ada sesuatu yang sedang menyentuh bibirnya. Saat dia membuka kedua matanya, terlihat Alex kini sedang ******* bibir nya pelan, dengan cepat Elica pun terbelalak setelah kesadaran nya terkumpul dan mendorong Alex hingga pria itu menjauh dari nya.
"Sialan, apa yang kau lakukan?" Pekik Elica.
"Tentu saja mencium mu. Dan kebetulan sekali kau malah bangun, ayo kita pulang" sahut Alex.
"Aku tidak mau, aku akan pulang ke rumah ku"
"Rumah kita" tanpa menunggu lama, Alex pun menarik Elica untuk bangun dan keluar dari ruangan tersebut menuju ke luar.
Elica terlihat terseok-seok karena mengindangi langkah Alex yang lebar, di tambah tangan nya digenggam erat oleh pria tersebut. Mengakibatkan tanda merah di tangan nya. Mereka menuju ke lift untuk turun bersama.
Ternyata ada seorang wanita yang sedari tadi melihat tingkah kedua nya. Wanita tersebut adalah Evelyn, yang awalnya berniat menemui Alex. Namun ternyata dia melihat sesuatu yang sangat tidak terduga. Dan membuat Evelyn sekarang yakin, jika kedua orang tersebut memiliki hubungan yang tidak biasa.
Evelyn pun berjalan menuju meja sekretaris Alex yang masih belum pulang.
"Permisi, aku ingin bertemu dengan Mr. Dawson. Apakah dia ada?"
Tanya Evelyn pura-pura tidak tahu jika Alex tidak ada diruangan nya.
"Maaf nona. Mr. Dawson sudah pulang baru saja."
"Ah begitu. Apa tadi yang aku lihat benar dia yah lift. Apa dia keluar dengan seorang wanita?"
"Betul Nona."
"Siapa wanita itu?"
"Saya tidak tau nona. Karena dia sudah dibawa oleh Mr. Dawson dari beliau berangkat tadi pagi"
"Oke baiklah. Terimakasih."
***
Alex dan Elica pun sudah sampai di kediaman Alex.
Keduanya memasuki Mansion tersebut bersama, sedangkan Alex masih saja menggandeng tangan Elica, takut jika wanita itu tiba-tiba lari. Padahal hal tersebut sangat lah mustahil, karena didepan banyak pengawal yang berjaga.
Alex langsung meminta pelayan menyiapkan makanan untuk dirinya dan Elica makan. Kemudian dia membawa Elica naik ke kamarnya.
"Bisa kau lepaskan genggaman mu? Aku tidak akan lari" ujar Elica. Tak menunggu lama Alex pun melepaskan nya.
"Aku akan mandi dulu. Kau tunggu dan jangan mencoba pergi tanpa izin ku. Mengerti"
"Ya ya ya. Dasar cerewet, sudah sana mandi"
Cup...
Dengan cepat Alex langsung mengecup bibir Elica, hingga wanita itu terkejut.
"Kau___"
Alex pun tertawa melihat Elica yang kesal dibuatnya. Dia lari menuju kekamar mandi saat melihat Elica yang akan melempar bantal kearah nya.
Menunggu Alex mandi, Elica pun berniat keluar kamar. Saat dia akan membuka pintu ternyata terkunci.
"Benar-benar pria gila" gerutu Elica. Akhirnya dia pun mengurungkan niatnya untuk keluar dan memilih keluar menuju balkon kamar.
Dapat dilihat, jika balkon kamar milik Alex menghadap kearah halaman yang memiliki banyak sekali tanaman indah. Halaman yang sering dulu ibu Elica rawat saat masih menjadi istri Alex. Hal itu mengingatkan Elica pada kenyataan yang saat ini terjadi. Dulu ibunya tinggal disini bagai seorang ratu oleh Alex. Dipuja dan diberi apapun yang ibu nya mau. Namun sekarang Alex dan ibu nya telah bercerai bahkan Elica pun tidak tau keberadaan nya sama sekali. Dan pria itu bahkan sudah tidak perduli pada ibu Elica, seolah dulu dia tidak memiliki hubungan apapun.
Elica tenggelam dalam lamunan nya dan tanpa sadar Alex sudah berada di belakang nya setelah pria itu selesai mandi. Dia hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya, dan memperlihatkan otot perut nya yang sangat padat.
"Sedang memikirkan sesuatu?" Tanya Alex kemudian memeluk Elica dari belakang. Elica merasakan tetesan air dari ujung rambut Alex yang menetes ke pundak nya.
"Pakai baju mu, kau membuat baju ku basah" ujar Elica mencoba melepaskan pelukan Alex.
"Aku tidak keberatan jika mandi dua kali"
Ucapan Alex sangat menganggu telinga Elica. Dengan cepat Elica pun langsung mencubit perut Alex dengan kuat, hingga pria itu sedikit meringis dan melepaskan pelukan nya.
"Ternyata mandi pun tidak bisa membersihkan otak kotor mu"
Alex tertawa mendengar nya, hari ini mood nya sangat bagus. Mungkin karena ucapan Elica yang menurutnya lucu.
"Bagaimana tidak senang, kau mengunci semua pintu. Kau kira aku peliharaan mu, yang harus selalu disamping mu" ucap Elica sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kau bukan peliharaan ku Elica. Tapi kau adalah ibu dari anak ku sekaligus wanita yang aku cinta"
Ucap Alex dengan menyelipkan rambut Elica di belakang telinga.
Mendengar hal itu Elica pun tertegun, namun sesaat dia pun seperti di ingatkan kembali oleh kenyataan jika dia tidak boleh luluh oleh perkataan Alex yang selalu bermakna manis. Karena dia tidak ingin seperti ibu nya, termakan oleh janji Alex yang sangat indah, namun setelah nya dia pun akan di buang begitu saja.
Elica menepis tangan Alex yang berniat menyentuh bibir nya, dia tidak ingin pria itu melakukan hal lebih pada dirinya. Cukup kebodohan nya dulu yang pernah dia lakukan membuat nya menjadi menderita.
"Buka pintu nya, aku ingin keluar. Dan pakai baju mu"
"Baiklah"
Alex mengalah menuju pintu untuk membuka nya. Dia membiarkan Elica keluar dari kamar nya.
Setelah beberapa saat, Alex turun dari kamarnya menuju ke ruang makan. Namun dia tidak mendapati Wajah Elica disana, dia pun menuju dapur. Dan benar saja, Elica berada disana dengan beberapa pelayan sedang menyiapkan makanan.
"Apa yang kau lakukan Elica?" Ujar Alex terkesan dingin dan membuat semua orang di dapur menoleh dan langsung ketakutan, namun tidak dengan Elica.
"Kau buta? Tentu saja aku sedang memasak"
"Biarkan mereka saja yang melakukan nya. Kau tidak seharusnya disini, ayo ikut aku ke ruang makan"
Alex menghampiri Elica dan menarik lengan Elica untuk mengikuti nya. Namun dengan cepat Elica langsung menolaknya dan membuat Alex menatap nya tajam.
"Aku tidak mau. Aku ingin disini" ujar Elica tegas.
"Jangan membuat kesabaran ku habis Elica"
"Ku bilang tidak mau ya tidak mau, Brengsek"
"Ini bukan tempat mu Elica, biarkan para pelayan saja yang memasak. Kau tinggal menunggu saja dengan ku. Bisakah sehari saja kau tidak memberontak, ******" bentak Alex keras.
Plakk..
Suara tamparan Elica yang diberikan pada Alex sangat lah keras. Hingga wajah pria itu pun kesamping
"Kau kira aku harus selalu menuruti ucapan mu? Aku bosan sialan, dari pagi kau terus mengunci ku agar terus bersama mu. Dan lagi kau tak memperbolehkan aku pulang. Kau pikir kau siapa hah?" Pekik Elica didepan wajah Alex dengan mata yang berkaca-kaca.
Hati nya merasa sakit saat Alex menyebut nya "******" didepan para pelayan disana. Pria itu selalu saja merendahkan nya, padahal Elica hanya melakukan hal kecil. Dan itu justru membuat Elica semakin membenci pria yang ada dihadapannya itu.
Hal itu berhasil membuat pelayan yang ada disana terdiam. Apalagi melihat raut wajah Alex yang sudah berubah tajam. Menandakan pria itu sudah marah saat ini.
"Kalian pergi" desis Alex pada pelayan disana. "Ku bilang pergi, apa kalian tuli hah? Tinggalkan kami berdua" teriakan Alex membuat pelayan nya pun terbirit-birit meninggalkan dapur.
Alex menatap Elica dengan tatapan mengintimidasi. Tapi Elica seakan tidak takut sama sekali dengan hal itu.
"Aku membenci mu" ucap Elica kemudian dia berniat pergi juga meninggalkan pria itu. Dengan cepat Alex langsung menahan tangan Elica.
"Kita belum selesai bicara"
"Lepas.Tidak ada yang ingin aku bicarakan dengan mu. Berdekatan dengan mu saja sudah membuatku mual. Aku ingin pulang, jika kau terus menahan ku disini aku akan melakukan hal yang nekad"
"Kau akan apa sayang, kabur?"
"Cihh kau lihat saja nanti apa yang akan terjadi"
Ujar Elica kemudian dia pun pergi meninggalkan Alex menuju kamar. Tidak lupa dia pun mengunci nya dari dalam agar pria itu tidak bisa masuk ke kamar.
Tanpa sadar Elica pun menangis dalam diam ketika mengingat perlakuan Alex yang selalu semena-mena pada nya.
Tidak lama suara ketukan pun berbunyi dari luar pintu. Namun Elica tidak berniat membuka nya sama sekali. Dia memilih beranjak ke ranjang takut jika Alex benar-benar mendobrak nya.
"Elica buka, sialan. Apa yang kau lakukan. Buka pintu nya" ujar Alex di depan pintu.
Tiba-tiba ponsel Elica pun berbunyi dan dia pun langsung mengangkat nya saat mengetahui sambungan tersebut dari Bryan.
("Halo, Elica kau berada dimana?") Tanya Bryan pada panggilan tersebut
"Bryan aku ada di kamar nya. Dia sepertinya marah karena aku mengunci pintu nya"
("Kau tenang saja Elica, aku sudah membawa polisi untuk mengeluarkan mu dari sana")
"Ya Bryan, aku harap jangan terlalu lama. Aku tutup telepon nya"
"Oke Elica"
Sebelumnya Elica memang menghubungi Bryan untuk membantu nya keluar dari Mansion Alex. Karena Elica tahu betul jika Alex tidak akan melepaskan nya begitu saja dengan mudah. Walaupun pria itu sudah berjanji akan mengantarkan nya pulang besok, namun Elica tidak mempercayai hal itu.
"**** you, Elica. Kau menghubungi polisi ternyata. Wanita tidak bisa di untung, buka pintu nya, *****" Elica mendengar teriakkan Alex yang sudah sangat marah. Mungkin Bryan dan polisi sudah sampai di sini, pikir Elica.
Setelah tidak lagi mendengar umpatan Alex di luar, Elica pun membuka pintu nya dan beranjak keluar. Benar saja, disana sudah ada polisi dan Bryan yang sedang berbicara dengan Alex. Elica pun langsung menghampiri Bryan.
"Bryan.." sahut Elica saat dia berlari kearah Bryan, dan Bryan pun langsung memposisikan Elica di belakang tubuhnya. Alex yang melihat itu menatap nya tajam kearah Bryan dan Elica.
"Elica... Kemarilah" ucap Alex
"Tidak, Elica akan pulang dengan ku. Jika kau masih mau menahan Elica di rumah mu, maka polisi tidak akan segan untuk membawa mu Alex" ujar Bryan
"Jadi ini yang kau maksud Elica?" Tanya Alex namun Elica tidak menjawab nya.
"Ku rasa semua ini sudah cukup. Masalah ini sudah selesai. Ayo Elica kita pulang" ajak Bryan.
Tidak lupa dia pun berterima kasih pada polisi yang membantu nya.
Sepeninggalan Elica dan Bryan dari tempat itu, Alex melihat mobil yang di tumpangi kedua dengan tatapan mata nya yang menyalang marah.
Biarlah hari ini dia mengalah, dan membiarkan wanita nya dibawa pergi. namun dia pasti akan membalas nya dengan berkali-kali lipat.
TBC.
Hai teman-teman, maaf ya jadi slow Update. Semoga Author kedepannya bisa punya waktu luang untuk selalu update. Terimakasih sudah menunggu.
Jangan lupa untuk vote dan tinggalkan komentar setelah membaca..
Kritik dan saran nya ditunggu...