Playing With Fire

Playing With Fire
Part 19



Jangan lupa vote dan tinggalkan komentar setelah membaca...


Pergi.


Itulah kata yang ingin di lakukan oleh Elica sekarang. Jika ada yang dia pengecut, maka Elica tidak akan menampiknya. Nyata nya dia terjebak dalam permainan nya sendiri. Ralat, balas dendam yang menjadikan dia menderita.


Jika saja waktu bisa di putar, mungkin dulu Elica akan lebih memilih hidup dengan ayah nya saja. Dan tidak memperdulikan kehidupan ibu nya kemudian menyebabkan diri nya untuk melakukan hal bodoh tentang balas dendam konyol itu.


Jujur saja, Elica dari kemarin masih saja terngiang ucapan Alex


"Pergilah sejauh mungkin kau bisa, kali ini aku akan melepaskan mu. Tapi jika nanti aku kembali menemukan mu, jangan berharap kau bisa lari lagi. Karena di saat itu kau hanya punya dua pilihan Elica. Pergi atau mati"


Elica tidak tau apa maksud perkataan tersebut, tapi yang dia cemaskan kini adalah jika dia nekat pergi, dia takut Alex akan melakukan hal tak terduga dan mungkin bisa menyakiti orang lain.


Dan Elica tidak mau jika sampai ada seseorang yang terluka nanti nya.


Meskipun dia tahu kini dia dan ibu nya masih aman di tempat Leo, tapi Elica masih tidak tenang dengan apa yang dia pikirkan saat ini.


"Kau sedang memikirkan apa Elica" tanya Leo yang melihat Elica sedang melamun di teras rumahnya.


Hari ini Leo memang belum berangkat ke kantor nya. Dengan alasan dia masih ingin di rumah.


"Aku tidak memikirkan apapun Leo. Kenapa kau belum berangkat? Ini sudah siang"


"Tidak apa-apa Elica. Sekalipun aku terlambat, tidak ada yang berani memarahi ku. Aku kan bos nya, kau lupa." Ujar Leo sambil tersenyum.


"Kau ini, jangan memberikan contoh tidak baik pada karyawan mu"


"Tenang saja Elica, aku ini masih menjadi bos teladan. Sebenarnya hari ini aku akan mengurus dokumen untuk kita pergi ke Jerman Minggu depan"


"Ah.. begitu yah. Jadi kita berangkat Minggu depan?"


"Ya. Apa terlalu cepat?" Tanya Leo.


"Aku pikir lusa kita bisa berangkat" jawab Elica dan di balas Leo dengan tertawa kecil.


"Tenang Elica, aku janji akan membawa mu pergi dari sini."


"Ya"


"Kalau begitu aku akan bersiap untuk berangkat dulu. Mungkin nanti malam aku akan pulang terlambat, karena aku harus ke Club ku dulu. Anak buah ku bilang ada masalah kecil di sana"


"Baiklah. Hati-hati dijalan"


Leo menjawab dengan anggukan kepala nya, sembari mengacak-acak rambut Elica yang membuat nya gemas.


*********************


Di tempat lain, Alex terlihat sangat kacau.  Meski matahari sudah sangat terik, namun lelaki itu masih belum bangun dari kasur nya. Hal itu dikarenakan tadi malam dia minum alkohol sangat banyak yang mengakibatkan dia mabuk berat.


Sebenarnya Alex bukanlah termasuk orang yang tidak kuat minum, hanya saja masalah yang dia alami saat ini membuat nya melampiaskan semua pada minuman keras.


Jika saja tadi malam dia tidak pergi ke Club dikawal oleh pengawal nya, mungkin saja dia akan tertidur di jalanan. Mengingat untuk membuka matanya nya saja begitu sulit.


Dengan sangat terpaksa Alex pun bangun dari tidur nya, meskipun kepalanya sangat sakit akibat dari sisa Alkohol semalam namun dia harus berangkat bekerja. Karena dia ingat sore nanti ada pertemuan dengan kolega bisnis nya dari Turki.


Alex berjalan menuju ke kamar mandi dengan langkah gontai sambil memegangi kepalanya. Dia memilih untuk mandi agar dirinya lebih segar.


Setelah beberapa menit membersihkan diri, Alex pun langsung bergegas berangkat ke kantor nya siang itu. Dia memilih berangkat menggunakan supir yang di setir langsung oleh pengawal nya.


"Cari restoran, aku ingin makan dulu sebelum kekantor" ujar Alex pada pengawal nya.


"Baik tuan"


"Kerjakan pekerjaan mu malam ini. Aku tidak ingin ada satu kesalahan pun nanti. Jika tidak, aku akan langsung menendang mu pergi" ucap Alex pada pria yang sedang menyetir itu dengan nada dingin nya.


"Baik tuan, saya akan berusaha agar tidak gagal"


"Bagus"


Mobil itu pun sampai di sebuah restoran mewah. Tempat ini biasanya Alex pakai juga untuk menjamu kolega nya saat makan siang atau makan malam. Mengingat tadi pagi dia juga belum makan apapun, akhirnya dia memutuskan ke tempat tersebut.


Sebenarnya nya restoran tersebut harus melakukan reservasi sebelum memesan. Benar, tempat tersebut adalah restoran yang dulu Leo mengajak Elica ke sana. Dan tanpa sepengetahuan Alex, Elica melihat pria itu. Namun karena Alex adalah tamu VVIP, jadi dia bebas datang kapan pun tanpa harus memesan tempat terlebih dahulu.


Alex pun memesan Steak daging dan sebotol Sampanye mahal yang terdapat di restoran itu. Hanya untuk makan siang mengeluarkan ratusan dollar bukan hal yang besar bagi Alex.


Dia pun memakan hidangan tersebut dengan tenang. Dan tiba-tiba ada seorang wanita mendatangi nya.


"Alex" sapa wanita itu dan Alex pun langsung menatap kearah wanita tersebut dengan tertegun.


"Evelyn" gumam Alex hampir tidak terdengar suara nya. Dia pun langsung menghentikan makannya.


Wanita yang sudah dia lupakan, meskipun dulu Alex sangat mencintai wanita yang ada di hadapannya sekarang. Dan tiba-tiba saja dia datang begitu saja, menunjukkan senyuman yang mengingatkan Alex pada masa lalu dulu.


"Apa kabar? Apa boleh aku duduk disini?" Tanya Evelyn.


"Ya" jawab Alex singkat


"Tidak ku sangka kita bertemu disini. Kau sendirian atau sedang menunggu seseorang?" tanya Wanita itu.


"Seperti yang kau lihat, hanya sendiri. Dan kau, kapan kau kembali kesini?"


"Hm... Aku sudah kembali dua Minggu yang lalu. Setelah perceraian ku, aku memutuskan untuk kembali" jawab Evelyn. Bahkan Alex pun baru tahu jika wanita itu telah bercerai.


"Kau bercerai?" Tanya Alex


"Iya. Kau tampak berbeda Alex"


"Aku masih sama seperti dulu, ku rasa"


"Ku dengar kau sudah menikah?"


"Aku juga akan bercerai" jawab Alex


"Oh maaf, aku tidak tau. Seingat ku, pernikahan mu belum satu bulan?"


"Tidak cocok. Jika kau ingin tahu alasan nya"


"Hati seseorang memang cepat berubah, benar kan Alex?"


"Begitulah"


"Mungkin perkataanmu dulu benar, jika dia bukan lelaki yang baik. Kau tau, aku menyesal telah memilih keputusan yang salah" ucap Evelyn dengan menatap dalam mata Alex.


"Tapi itu keputusan mu" jawab Alex kemudian dia melanjutkan memakan hidangan nya.


"Kau benar. Andai saja waktu bisa di putar, mungkin aku akan memilih lelaki baik seperti mu"


"Jangan melihat buku dari sampulnya Evelyn. Ku rasa kau harus lebih teliti lagi jika berurusan dengan seorang lelaki. Karena lelaki, memiliki ekspresi berbeda saat bertemu dengan wanita yang berbeda" ujar Alex


"Maksudmu?"


"Lupakan. Aku sudah selesai makan, dan akan pergi. Kau masih mau disini?"


"Baiklah. Tapi... Boleh aku minta kontak mu?" Pinta Evelyn.


Alex pun terlihat mengangkat sebelah alisnya. Dulu dia ingat betul, jika Evelyn lah yang menghapus kontak nya. Namun saat ini dia sendiri yang memintanya kembali. Alex pun membalas dengan senyuman seringai nya, menandakan dia terhibur dengan tingkah wanita yang ada dihadapannya saat ini.


"Tentu. Ini kartu nama ku, kau bisa menghubungi ku lewat nomor itu" ujar Alex memberikan kartu nama nya.


"Terimakasih, sampai bertemu lagi Alex" Alex pun berdiri dan membalas nya dengan Anggukan singkat. Dia pun pergi keluar dari restoran tersebut.


********************


Hari pun sudah malam, dan Leo terlihat memasuki Club miliknya. Kondisi disana cukup ramai, mengingat besok adalah weekend dan banyak orang yang ingin melepaskan penat nya di tempat tersebut.


Leo menghampiri seorang pria yang tak lain adalah teman nya yang menjadi kepercayaan nya mengatur keadaan Club itu.


"Ada apa, Vin?" Tanya Leo pada pria dengan rambut berwarna coklat yang ada dihadapannya.


"Kita bicarakan di ruangan mu saja Leo"


"Baiklah, ayo"


Mereka berdua pun berjalan ke ruangan Leo yang ada di Club itu. Tempat dimana Leo membawa Elica kesana juga.


"Apa yang terjadi?" Tanya Leo saat mereka duduk berhadapan.


"Begini, dari kemarin ada beberapa orang yang mengawasi tempat ini. Aku tau mereka bukan pengunjung, tapi terlihat seperti orang suruhan. Apa saat ini kau punya musuh?"


"Tidak ada"


"Baguslah kalau begitu. Aku hanya minta agar kau lebih berhati-hati saat ini. Karena aku pun tidak tau mereka mengincar siapa"


"Kau tenang saja, Vincent. Aku akan baik-baik saja. Dan aku titipkan dulu tempat ini dengan mu, karena Minggu depan aku akan membawa Elica ke Jerman"


"Tidak perlu cemas, aku akan menjaga tempat ini saat kau pergi"


"Terimakasih Vin"


"Iya sama-sama"


Setelah pertemuan nya dengan Vincent, Leo pun langsung memutuskan untuk pulang ke rumah nya. Saat melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 12 malam, mungkin Elica pun sudah tertidur.


Leo pun buru-buru melajukan mobilnya di jalanan yang sudah terlihat sepi. Memang rumah yang kini di tempati Elica dan ibu nya harus melewati pepohonan yang cukup menakutkan. Tapi tidak dengan Leo, karena di tempat itu adalah tempat tinggal nya saat dia kecil, jadi Leo sudah terbiasa dengan hal itu.


Untuk memecahkan keheningan dalam mobilnya, Leo pun menyalakan radio agar suasana tidak terlalu sunyi. Dia pun kembali fokus pada jalanan, dan tanpa dia duga ada cahaya mobil yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan. Dan semakin mendekat mobil tersebut semakin kencang, dengan cepat Leo pun membanting setir mobil nya ke kanan. Karena kecepatan mobil Leo juga tinggi mengakibatkan Leo juga harus mengerem mendadak, namun sayang nya rem mobil nya tidak berfungsi sama sekali meskipun sudah di injak dengan kuat.


Leo yang tidak bisa mengendalikan mobil nya akhirnya hanya bisa berusaha melepaskan sabuk pengaman nya, karena melihat jika mobil nya akan terperosok menuju jurang. Namun dia terlambat ketika mobil itu sudah masuk ke jurang dan terhempas ke dasar sangat keras. Leo tidak sempat menyelamatkan dirinya, dia pun langsung tidak sadarkan diri dengan kondisi tubuhnya yang berlumuran darah.


********************


Alex tengah berendam air panas di Bathtub dalam kamar mandinya, di sebelahnya ada segelas wine yang menemani malam syahdunya.


Tiba-tiba ponsel berdering yang ada disamping gelas wine tersebut. Alex pun mengangkat panggilan tersebut.


("Tugas sudah selesai tuan") ujar seseorang dalam panggilan tersebut.


"Bagus" jawab Alex singkat kemudian langsung memutuskan panggilan itu.


Alex memperhatikan senyum senang nya malam ini. Benar, kecelakaan yang dialami Leo adalah ulahnya. Bukankah Alex sudah memperingatkan pria itu, agar tidak berurusan dengannya. Namun ucapan Alex di hari itu hanya dianggap gurauan semata oleh Leo. Hingga Alex pun melakukan hal mengerikan ini, mengingat jika Leo sudah berani menyembunyikan Elica dari nya.


Sedangkan di rumah, Elica masih menunggu kepulangan Leo. Dia tidak tau jika maksud Leo pulang terlambat akan selarut ini. Apalagi jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.


Tiba-tiba seorang kepala pelayan rumah itu datang menghampiri Elica yang sedang duduk di ruang tengah.


"Permisi nona, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan" ujar pria kepala pelayan tersebut.


"Ada apa?"


"Saya mendapat kabar, jika tuan Leo mengalami kecelakaan tadi"


"Apa!" Ucap Elica sedikit teriak.


"Iya nona, dan saat ini tuan Leo sudah di bawa ke rumah sakit"


"Lalu bagaimana kondisi nya?"


"Mengenai hal itu saya tidak tau nona. Saya mendapat telepon dari teman tuan yang bernama Vincent"


"Kalo begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang" pinta Elica tidak sabaran.


"Elica ada apa?" Tanya Hilda yang mendatangi putri nya. Dia memang berada di kamar, namun mendengar suara Elica di ruang tamu akhirnya menghampiri nya.


"Mom, Leo mengalami kecelakaan dia sudah dibawa ke rumah sakit sekarang"


Ujar Elica


"Astaga. Ya sudah kita ke rumah sakit saja sekarang"


"Iya Mom".


Keduanya pun lalu bergegas pergi menuju ke rumah sakit dengan supir pribadi Leo. Wajah Elica terlihat sangat cemas, dia takut terjadi apa-apa dengan Leo.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi sampai di rumah sakit. Dengan Cepat Elica dan ibu nya langsung mencari keberadaan Leo. Dan perawat disana mengatakan jika Leo masih dalam penanganan Dokter, karena kondisi Leo sangat kritis. Hal itu pun membuat Elica makin lemas.


Dengan segera Hilda pun mendudukkan putri nya di kursi agar tidak jatuh. Mereka berdua sama-sama cemas dan tidak tau harus berbuat apa. Apalagi Elica juga tidak mengetahui tentang keluarga Leo. Jadi dia tidak bisa menghubungi siapa pun keluarga Leo untuk di beritahu tentang keadaan nya sekarang.


Hilda memeluk putri dan berusaha menenangkan nya. Meskipun dia juga diliputi rasa panik saat ini.


"Mom bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pads Leo?"


"Tenang Elica. Leo pasti akan sembuh, dia pasti bisa melewati masa kritisnya. Kita berdoa saja agar dia baik-baik saja"


Ujar Hilda sambil menepuk pundak putri nya.


TBC.


Ngga tau deh kelanjutannya gimana. Acu bingung soalnya.


Vote aja sama komentar aja lah. Minta saran juga enak nya gimana😌😌