Playing With Fire

Playing With Fire
Part 38



Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Irene terbangun dari tidurnya karena tenggorokan nya terasa kering, dia pun memilih untuk beranjak mengambil air yang berada di atas nakas kecil di sudut kamar. Namun sayangnya gelas tersebut sudah kosong, dan membuat dirinya harus turun ke dapur untuk mengisi air lagi.


Seluruh ruangan terlihat gelap saat Irene menuruni tangga, pikir nya mungkin semua orang sudah tertidur. Setelah selesai mengisi air pada gelas kembali, Irene langsung naik lagi ke lantai dua kamar nya berada. Namun dia melihat sedikit cahaya dari ruangan kerja Alex karena pintu tidak tertutup dengan sempurna.


Menandakan jika Alex belum tidur. Irene dengan membawakan gelas yang ada di tangan nya pun berjalan menuju ruang kerja Alex. Langkah pelan nya tidak menimbulkan suara sedikit pun. Tetapi sesampainya dia di depan ruangan tersebut, Irene mendengar Alex sedang berbicara. Dan pikir nya mungkin Alex sedang menerima telepon. Akhirnya Irene memutuskan untuk berbalik meninggalkan tempat itu.


Namun langkah nya terhenti karena mendengar suara Alex yang terdengar marah. Irene pun memutuskan menunda kembali ke kamar nya.


"Apa kau bodoh. Wanita itu sudah sekarat tapi kenapa kau terus memberikan nya obat. Hah"


Ujar Alex yang berhasil di dengar oleh Irene. Dan menambah rasa penasaran Irene semakin besar dengan apa yang di ucapkan Alex.


"Aku tidak mau tau, kematian Hilda jangan sampai terlihat mencurigakan. Dan aku akan melenyapkan mu jika kau membuka mulut jika semua ini ada campur tangan dari ku. Mengerti"


Irene yang berada di depan pintu menutup mulutnya agar tidak menimbulkan suara Karena keterkejutan nya dengan yang baru saja dia dengar.


"Bayaran mu akan ku kirim besok. Setelah itu kau harus sejauh mungkin dari kota Itu. Dan jangan sampai Elica tau apapun, atau reputasi mu sebagai Dokter akan hancur dalam sekejap" kecam Alex pada seseorang yang ada di luar sana.


"ALEX!!"


ujar Irene yang tiba-tiba masuk membuka pintu.


Alex pun menoleh dan sangat terkejut mendapati tante nya yang terlihat sangat marah. Seketika dia pun langsung memutuskan panggilan tersebut begitu saja.


Dengan cepat Irene berjalan kearah Alex, dan tanpa disangka Irene melayangkan tamparan keras pada pipi Alex.


Mata Irene sudah berkaca-kaca saat melihat wajah Alex.


Emosi dan sedih menyelimuti hati wanita itu, karena dia seperti gagal mendidik Alex saat ini. Irene pun menarik kerah baju Alex dan memukuli dada bidang Alex bertubi-tubi.


"Apa yang kau lakukan Alex? Apa yang baru saja aku dengar? Kenapa kau jadi seperti ini. Kau membunuh ibu nya Elica? Benar begitu? Jawab tante, Alex. JAWAB"


ucap Irene yang meninggikan suaranya karena sudah di puncak kemarahan nya.


Bagai patung, Alex tetap diam dan pasrah saat sang tante terus memukuli nya.


"Jawab aku, Alex. Apa benar kau melakukan itu?"


"Itu bukan urusan Tante" jawab Alex singkat.


Plak...


Kedua kali Irene menampar lagi pipi Alex dengan keras.


"Apa kau bilang, Bukan urusan ku? Astaga Alex, siapa sebenarnya kau sekarang? Kau bukan seperti Alex yang aku kenal. Kenapa kau begitu kejam sekali, bagaimana jika Elica tau kau yang ada di balik semua ini"


Ujar Irene di iringi tangisan yang sangat menyayat hatinya.


"Aku tidak melakukan apapun. Dia overdosis, dan bukan aku yang melakukan nya. Dan jangan bicara apapun pada Elica tentang yang tante dengar tadi. Atau bisa saja aku berbuat nekad melakukan apapun"


Irene menatap Alex dengan tatapan nanar. Dia tidak tau apa yang sudah terjadi pada Alex sebenarnya saat dia tidak ada di sisi nya.


Irene menyesali perbuatan Alex, karena dia sudah berjanji pada mendiang kakak nya yaitu ayah Alex. Jika Irene akan menjaga Alex seperti anak nya sendiri, namun semua nya salah. Alex memiliki sifat brutal dan tak terkendali.


Kaki Irene terasa lemas, dia pun berjalan menuju kursi yang ada di ruangan itu untuk duduk, sedangkan Alex masih berdiri mematung di tempatnya.


Dua orang itu sama-sama diam, dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Tante mohon Alex, hentikan semua ini sebelum kau menyesal. Jika pun harus, mungkin tante akan memberitahu Elica tentang kebenaran nya. Jangan menyiksa Elica lagi Alex, karena semua cara yang kau lakukan ini salah." Ucap Irene berusaha menasehati Alex lagi.


Irene melihat Alex tidak menjawab yang baru saja dia ucapkan. Setelah merasa tenang, Irene pun kembali berdiri dan menghampiri Alex lagi.


"Jangan membawa dendam masa lalu mu pada orang lain Alex. Ingat mendiang ibu mu, pasti dia sangat kecewa saat ini"


"Ini sudah malam. Lebih baik tante keluar dan kembali tidur" sahut Alex yang mengusir Irene dengan halus.


Akhirnya Irene pun memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.


***


Keesokan harinya Elica bangun pagi, dia membuka ponselnya dan melihat banyak sekali panggilan masuk dari Bryan yang tidak terjawab, karena ponsel  nya memang sengaja Elica Silent.


Dan terdapat beberapa pesan masuk juga, Elica pun membuka nya.


Raut wajah nya tiba-tiba memucat setelah membaca kabar yang di kirimkan oleh Bryan.


"Tidak. Itu tidak mungkin" gumam nya mencoba mencerna apa yang baru saja dia baca.


Tidak lama pintu kamar nya pun terbuka dan menampakkan Irene yang masuk dan mendapati Elica dalam kondisi yang kalut.


"Astaga Elica" Irene langsung menghampiri Elica yang sudah terduduk di lantai.


"Mommy.. tidak mungkin. Tante, Mommy ku tante. Dia sudah tiada. Mom.." pekik Elica yang menangis tidak bisa membendung kesedihan nya.


Irene yang sudah mengetahui hal itu merasa iba pada Elica. Dengan segera Irene pun memanggil Alex dan meminta nya untuk mengantarkan Elica pulang ke kediaman nya di New York.


Meskipun selalu ada drama dari Bianca yang tiba-tiba juga ingin ikut dengan Alex dan Elica. Tetapi dengan kesal Irene melarang Bianca untuk pergi, karena Irene tau betul jika perempuan itu hanya beralasan agar tetap bersama Alex kemana pun dia pergi. 


Bahkan kehadiran Bianca akan menjadi pengganggu dalam hubungan itu.


***


Saat ini Elica dan Alex sedang di perjalanan menuju ke rumah Elica. Mereka menggunakan pesawat untuk cepat sampai di sana. Tangisan tak henti Elica keluar kan, dia masih syok sekaligus tidak percaya akan semua ini.


Sedangkan Alex terus menatap kearah Elica, sesekali pria itu mengelap air mata yang keluar dari mata Elica yang jatuh ke pipi. Tangan Alex pun tak lepas menggenggam tangan Elica dengan lembut.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, keduanya pun sampai di New York. Sesampainya mereka di rumah Elica, sudah banyak orang yang ada disana.


Langkah Elica sangat lemas hingga Alex pun memapah nya.


Albert yang mengetahui kedatangan Elica langsung berjalan kearah nya dan memeluk Elica. Tangisan yang sedari tadi tidak bisa di bendung oleh Elica kini pecah, sesaat setelah Elica juga melihat peti jenazah milik ibunya. Ayah Elica sengaja membawa jenazah Hilda ke rumah mereka dulu, meskipun kedua nya sudah bercerai


"Daddy, ini tidak mungkin kan. Mom tidak mungkin meninggal, dia hanya tidur kan Daddy" ucap Elica di pelukan sang Ayah.


"Tenangkan dirimu sayang, ikhlaskan Mommy mu pergi." Jawab Albert


"Tidak Daddy. Suruh Mom bangun Daddy, ku mohon." Perkataan Elica terdengar memilukan.


Dan membuat orang yang melihat di sana tidak tega. Terlihat juga ada Bryan dan Leo yang datang menyaksikan kesedihan Elica.


Tanpa di duga kesadaran Elica pun hilang, dia pingsan setelah berdiri disamping peti sang ibu. Untung nya di sebelah Elica ada Zico, yaitu suami dari Mia yang juga ada disana.


Zico langsung membopong Elica ke kamar. Sedangkan Alex yang melihat Elica pingsan sangat terkejut apalagi dia melihat seorang pria yang baru dia lihat membawa Elica. Namun Alex masih tau diri jika dia harus menahan rasa penasaran nya karena di situasi ini dia bukan siapa-siapa.


***


Hilda sudah di makamkan, dan Elica pun menyaksikan pemakaman itu dengan duka yang sangat mendalam. Meskipun dia harus memaksakan kondisi tubuh nya yang sangat lemah, namun dia ingin mengantar ibu nya ke peristirahatan terakhir.


Saat ini Elica sudah pulang ke rumahnya, dan memilih beristirahat di kamar. Namun Elica terlihat menjadi pendiam setelah pulang dari pemakaman. Dia bahkan tidak menghiraukan siapapun yang mengajak nya bicara. Sedangkan sang ayah masih menemui beberapa tamu yang datang untuk berbelasungkawa.


Saat Elica sedang membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya, tiba-tiba pintu kamarnya pun terbuka. Elica yang menyadari hak itu langsung menatap kearah pintu, dan menampakkan Alex lah yang masuk.


Pria itu berjalan kearah Elica membawa sepiring makanan dan air minum di gelas. Alex pun duduk di pinggiran ranjang dan meletakkan nasi itu di meja rias milik Elica.


"Bangunlah dulu, kau belum makan dari pagi" ucap Alex terdengar berbeda, biasanya pria itu terlihat dingin namun berbeda sekarang. Dia terkesan lembut pada Elica.


"Keluar aku ingin sendiri" jawab Elica singkat tanpa menatap Alex


"Kau harus makan, jangan Egois. Pikiran juga pada kandungan mu, kau bahkan belum minum apapun"


Elica tidak menjawab ucapan Alex, dirinya hanya diam dan melihat kearah lain. Tanpa di duga Alex pun mengulurkan tangannya di hadapan Elica untuk membantu nya bangun.


"Jangan membatah ku Elica, bangunlah dan makan."


Elica akhir nya mengalah dan bangun. Dia duduk bersandar pada kepala ranjang. Alex pun menyuapkan makanan ke mulut Elica.


Mendapatkan perlakuan lembut seperti ini membuat Elica sedikit merasa lebih baik, karena di pun tidak menyangka jika pria ini masih disini. Pikirnya Alex sudah pulang sedari tadi.


"Aku ingin disini untuk beberapa hari, jadi aku tidak bisa pulang dengan mu" kata Elica menjelaskan pada Alex jika dirinya masih mau tinggal bersama ayahnya.


"Baiklah. Kali ini aku mengizinkan, jika kau sudah merasa lebih baik aku akan menjemputmu" jawab Alex sambil menyuapkan lagi makanan pada Elica.


Tadinya Elica pikir Alex akan melarang nya tetap tinggal, mengingat betapa keras kepala pria ini pada dirinya. Tapi siapa sangka hari ini Alex bisa diajak udah berkompromi. Dan hal itu membuat Elica bersyukur bisa menemani sang ayah untuk beberapa waktu..


Walaupun Elica hanya memakan beberapa suap saja setidaknya hal itu membuat Alex tenang. Karena calon anak nya yang ada di perut Elica sudah menerima makanan. Setelah selesai Elica memilih membaringkan lagi tubuh nya dan tiba-tiba Alex pun ikut berbaring di sebelah Elica sambil memeluk nya dari belakang. Elica sontak terkejut namun dia hanya diam dan tidak menolak, entah mengapa berada di dekat Alex membuat nya lebih baik.


"Pejamkan mata mu dan istirahat lah. Aku mencintai mu Elica" ucap Alex.


Tanpa di sadari oleh Alex, Elica menangis dalam diam. Kini Dia merasa bersalah pada ibunya, karena Elica berhasil merebut pria yang di cintai nya.


"Maafkan aku Mom" kata Elica dalam hati dan dia pun memejamkan matanya.


TBC.