Playing With Fire

Playing With Fire
Part 46



Elica terlihat berusaha membuka mata nya, dia sedikit tidak terbiasa dengan cahaya yang masuk ke netra nya.


Dia menyadari jika kini berada di ruangan asing serba putih, terdengar juga suara tetesan air yang rupanya berasal dari cairan infus.


Elica sadar jika kini dirinya berada di rumah sakit, dia merasa kelapa nya sedikit pusing saat mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi.


"Kau sudah sadar?" Terdengar suara bariton yang membuat Elica menoleh, rupanya suara Alex.


Pria itu menghampiri Elica dari duduknya.


"Bagaimana keadaan mu? Apa masih ada yang sakit?" Tanya Alex di jawab gelelengan kepala oleh Elica.


Tangan Elica meraba perut nya yang terasa berbeda. Dia langsung menatap kearah Alex meminta penjelasan.


"Bayi nya?" Tanya Elica menggantung, justru Alex tersenyum.


Pria itu mengelus rambut Elica dengan pelan.


"Kau tenang saja. Dia selamat, dia baik-baik saja. Bayi nya perempuan" jawab Alex terdengar lembut.


Elica memejamkan matanya dan menghela nafas nya karena lega. Akhirnya anak nya juga selamat.


Tidak disangka Alex tiba-tiba mencium kening Elica.


"Kau ingin bertemu dengan nya?"


"Ya"


"Tunggu sebentar, Tante Irene sedang menjemput nya di ruang inkubasi. Sebentar lagi akan di bawa ke sini" tutur Alex, dan Elica pun mengangguk.


"Terimakasih kau sudah bertahan" ujar Alex terdengar haru namun Elica masih belum mengerti maksud dari perkataan pria itu.


Selang beberapa menit pintu kamar tersebut pun terbuka. Menampilkan seorang dokter dan Irene yang mendorong Box bayi.


Sebenarnya Elica tidak sabaran ingin melihat wajah anaknya.


"Elica sayang kau sudah sadar" ujar Irene melihat Elica yang sudah membuka matanya.


Dan Elica pun tersenyum saat Irene menghampiri nya. Wanita itu menanyakan segala kondisi nya, namun Elica hanya bisa menjawab dengan anggukan kepala atau senyuman.


Karena untuk berbicara panjang saja Elica rasa nya masih belum memiliki tenaga.


"Nona Elica apakah perut anda masih merasakan sakit?" Tanya Dokter yang sedang memeriksa kondisinya.


Elica menjawab nya dengan gelelengan kepala.


"Syukurlah. Jika sudah tidak sakit, dalam waktu 2 sampai 3 hari kemungkinan bisa pulang dan menjalani perawatan di rumah saja" ujar sang Dokter.


Setelah Dokter tersebut selesai memeriksa Elica, Irene yang sedang menggendong bayi itu kemudian mendekatkan nya pada Elica.


"Kau ingin melihatnya, dia cantik sekali seperti dirimu"


"Iya Tante" Irene pun meletakkan bayi yang sedang tertidur itu di samping Elica. Kini Elica sudah dapat melihat wajah anak nya.


Benar, dia sangat cantik. Pipi nya chubby, hidung nya mancung, bibir nya mungil membuat Elica gemas melihat anak nya sendiri. Mata Elica sudah berkaca-kaca karena bisa melihat anak nya selamat.


Tanpa di sadari Irene dan Alex pun tersenyum saat melihat Elica tidak lepas menatap anak itu.


"Kau tau Elica, dua hari kau tidak sadarkan diri setelah operasi, Alex seperti seekor singa. Siapa pun Dokter atau perawat yang masuk ke ruangan ini seperti di ajak berkelahi oleh nya karena melihat kau tidak kunjung bangun"


Tutur Irene yang menceritakan perilaku Alex, yang membuat Elica juga tertawa.


Sedangkan yang orang di bicarakan pura-pura tidak mendengarkan karena malu. Irene yang selesai membicarakan tingkah Alex, kemudian memutuskan untuk pulang ke rumah dengan alasan mengambil barang keperluan milik Elica.


Dan kini Alex dan Elica yang tersisa di ruangan itu beserta dengan anak mereka. Tidak ada niatan Elica berbincang dengan pria yang kini menatap kearah nya. Elica justru mengalihkan pandangannya pada sang anak.


"Nanti saat kau pulang, kamar mu pindah ke kamar ku. Aku juga ingin tidur bersama dengan nya. Dan masalah Bianca, dia sudah keluar dari rumah besar. Dia kabur, tapi kau tenang saja. Aku pasti akan menemukannya dan menjebloskan nya ke penjara karena perlakuan nya pada mu" ucap Alex namun tidak di tanggapi apapun oleh Elica.


***


Hari berikutnya Alex sudah kembali lagi ke aktivitas nya. Dia sangat sibuk di kantor hari ini, apalagi ada beberapa rapat penting yang akan dia hadiri. Padahal dia ingin terus berada di rumah sakit menjaga Elica dan melihat anak nya.


Hal itu justru membuat konsentrasi Alex pada pekerjaan sedikit terganggu. Sesekali Alex melihat layar ponselnya dan melihat foto anak nya bersama Elica sedang tidur yang beberapa hari lalu dia ambil secara diam-diam. Membuat Alex yang melihat nya terkadang tersenyum sendiri. Entahlah, sejak kehadiran anak nya hidup Alex terasa berbeda.


Kini dia merasakan harus menjadi seorang ayah yang baik untuk buah hati nya itu. Dan perasaan nya pada Elica juga bertambah besar, rasa nya dia ingin selalu bersama dan melindungi perempuan yang kinii menjadi ibu dari anak nya.


Alex teringat satu hal, jika dia belum memberikan nama untuk anak nya. Mungkin setelah pulang dari kerja, Alex akan membiarkan Elica saja yang menamai anak mereka. Walau bagaimanapun juga Elica lah yang berhak melakukan nya, mengingat dia yang sudah berjuang mati-matian melahirkan.


Mungkin setelah ini Alex akan meminta maaf pada Elica dengan tulus karena perlakuan tidak baik nya. Membuat awal hubungan mereka yang baik kedepannya. Dan demi anak nya juga, Alex akan mengajak Elica menikah secepatnya.Yah, setelah pulang kerja Alex akan mengatakan nya.


Di rumah sakit.


Elica sedang menimang anak nya, ia terlihat sudah membaik. Dan baru saja Dokter mengatakan jika besok dirinya sudah di perbolehkan untuk pulang. Karena terhitung sudah 5 hari dia rumah sakit setelah kejadian malam itu.


Dan sore ini dia di temani oleh paman Jo yang sedang duduk seraya melihat layar Tv, karena Tante Irene baru saja pulang untuk istirahat dan meminta paman Jo menggantikan nya.


Elica pun duduk di ranjang karena merasa lelah lama berdiri menggendong anak nya yang sudah tidur. Dia mengambil ponsel dan memfoto wajah anak nya.


"Cantik sekali kamu sayang, cepat lah tumbuh menjadi anak yang pintar dan baik" kata Elica mencium pipi anak nya, paman Jo yang mendengar nya juga tersenyum bahagia.


"Tuan Alex pasti sangat menyayangi mu dan anak mu Elica" ujar paman Jo dibalas senyuman juga oleh Elica. Apa yang paman Jo katakan benar. Tetapi Alex hanya menyayangi anak ini saja, bukan dirinya. Kadang mengingat perlakukan nya dulu membuat Elica merasakan nyeri pada hati nya.


Andai saja Alex tidak seburuk itu, mungkin dia akan sangat bahagia karena memiliki kehidupan yang lengkap. Dirinya, anaknya, dan suaminya. Hanya akan menjadi khayalan yang seterusnya berada di benak Elica. Dia hanya berharap agar segera lepas dari semua ini dan mendapatkan kebahagiaan nya kembali.


"Paman aku haus ingin minum, tapi mulut ku terasa pahit sekali jika minum air putih"


Paman Jo pun langsung berdiri dari duduknya.


"Kau ingin minum sesuatu? Biar paman Belikan" ucap paman Jo menawarkan.


"Aku ingin minum jus. Bisakah aku meminta tolong paman membeli kan nya?"


"Tentu, kau ingin jus rasa apa?"


"Jus jambu"


"Terimakasih paman Jo"


Paman Jo pun keluar dari ruangan tersebut menyisakan Elica dan anak nya.


Elica terlihat menatap wajah anaknya cukup lama, seolah merekam semua yang di lihat nya kini. Benar, Elica memutuskan untuk pergi meninggalkan anak nya bersama Alex.


Dia sudah lelah, dan sudah tidak kuat jika harus mengalami tekanan yang pernah dia lalui bersama pria itu. Mungkin pergi adalah jalan terbaik bagi nya. Tidak terasa air mata Elica pun keluar, sebenarnya dia sangat tidak tega untuk meninggalkan anak nya. Tapi jika dia pergi membawa anak nya juga, Alex pasti tidak akan tinggal diam dan terus mengganggu kehidupan nya kembali.


Biarlah Elica terlihat menjadi ibu yang jahat meninggalkan anak nya. Dia ingat apa yang dikatakan Alex memang benar, jika anak ini ikut dengan nya maka tidak menjamin hidup anak nya lebih baik. Tatapi jika dia bersama Alex, Elica yakin pria itu pasti bisa memberikan segalanya tanpa kekurangan. Ditambah ada Tante Irene yang pasti akan menyayangi nya dengan kasih sayang.


"Maafkan Mami sayang, Mami tidak bisa menemanimu tumbuh. Meskipun Mami tidak bisa melihat mu, tapi Mami akan mengingat wajah cantik mu. Meskipun mami tidak bersama mu tapi mami akan mengingat tangisan mu. Mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi tapi percayalah, kamu selalu ada di hati mami. Baik-baik lah bersama ayah mu, jangan biarkan dia kesepian. Jangan membuat nya kesusahan karena mami yakin kamu anak yang baik. Ayah mu pasti akan memberikan semua nya untuk mu, tapi jika kau dengan mami itu semua tidak akan terjadi. Kamu boleh menganggap mami jahat dan egois tapi kelak mami harap kamu tidak membenci mami. Mami sangat mencintai mu dan sangat menyayangi mu nak, selamat tinggal"


Ucap Elica pada anak nya dengan air mata yang keluar membasahi pipi. Dia pun mencium kembali anak nya untuk terakhir kali nya, kemudian meletakkan anak nya box bayi samping ranjang rawat nya.


Elica mengambil ponsel miliknya nya yang berada di nakas, dan menghubungi seseorang.


"Halo kak Zico, aku akan keluar sekarang. Jemput aku di Halaman belakang"


Setelah selesai memutuskan panggilan tersebut Elica pun langsung keluar dari ruangan tersebut, dia menoleh lagi kearah anak nya dan menutup pintu tersebut kemudian pergi.


***


Alex berjalan sangat buru-buru di koridor rumah sakit tidak sabar ingin bertemu dengan anak nya dan juga Elica. Dia sudah yakin ingin mengungkapkan perasaan nya pada Elica untuk mengajak nya menikah dan memberitahu yang sebenarnya tentang kematian Hilda.


Dia membawa sebuah buket bunga mawar sebuah cincin yang sudah dia siapkan untuk melamar Elica.


Di koridor, dia berpapasan dengan paman Jo yang membawa sesuatu di tangan nya.


"Paman Jo, kenapa kau disini? Siapa yang menemani Elica?" Tanya Alex


"Nona Elica tadi meminta saya membelikan jus untuk minum Tuan. Karena dia bilang mulut nya pahit jika minum air putih" jawab Paman Jo.


"Oh begitu. Berikan jus nya pada ku, biar aku saja yang membawakan nya" paman Jo pun memberikan jus tersebut pada Alex.


Mereka pun sampai di ruangan tersebut dan masuk. Namun saat masuk, Alex merasa ada sesuatu yang aneh. Ruangan tersebut terasa sepi, dia mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan namun tidak melihat keberadaan Elica. Dia hanya melihat anak nya yang sedang tertidur di box bayi sendirian.


"Dimana Elica?" Tanya Alex dia pun menghampiri kearah putri nya. Dia menemukan sesuatu di sebelah anak nya, yang ternyata sebuah surat.


Dengan cepat Alex pun membaca nya.


Untuk Alex.


Mungkin saat kau melihat surat ini, aku sudah tidak ada disana. Yah, aku sudah pergi. Maafkan aku karena memilih pergi dengan cara seperti ini. Aku memutuskan meninggalkan anak itu dengan mu, seperti yang kau mau. Aku sadar jika dia dengan ku, dia tidak bisa mendapatkan apapun yang dia mau. Tolong jaga dan sayangi dia Alex, jangan mencari ku dan jangan mencari tau tentang ku lagi. Aku anggap semua ini selesai seperti perjanjian awal kita. Dan untuk uang mu, aku berjanji akan mengembalikan nya secepatnya. Terimakasih atas bantuan mu, sampaikan salam ku juga pada Tante Irene.


Elica.


Alex membaca kata demi kata dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Semuanya keluar dari rencana nya, padahal tinggal sedikit lagi. Alex meremas surat tersebut dengan sekali genggaman, dia marah dan Emosi.


"Paman Jo, cari Elica sekarang. Aku tidak mau tau, kau harus menemukan nya" gertak Alex dengan tatapan tajam.


"Kemana Tuan?" Paman Jo pun tidak tau harus mencari nya kemana.


"Kemana saja. Aku yakin dia belum jauh. Hubungi polisi jika perlu, cepat" pekik Alex pada pria tua itu.


"Baik Tuan"


*****


Elica tengah berdiri di samping jalan, tidak lam datang lah sebuah mobil yang berhenti di hadapan nya. Kaca mobil itu pun terbuka otomatis dan menampilkan Zico yang tersenyum pada Elica.


"Masuk lah Elica" ujar Zico, segera Elica pun masuk ke mobil tersebut.


Kemudian Zico melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Bagaimana keadaan mu dan anak mu?"


"Aku baik, dan dia pun juga baik kak Zico"


"Syukurlah. Kau yakin dengan keputusan mu ini?"


"Iya"


Zico pun memberi Elica sebuah tas kecil yang di bawa oleh nya.


Beberapa waktu Elica memang sudah mempersiapkan kepergian nya sebelum melahirkan. Dia meminta Mia dan suaminya agar membantu nya pergi dari jangkauan Alex.


Setelah Elica menjelaskan semuanya pada mereka, akhirnya Zico membantu nya dengan cara membuat identitas baru untuk Elica dan ayah nya. Dia membuat rencana jika Elica sudah meninggal dunia, untuk memudahkan menghapus identitas lama Elica.


"Semuanya sudah aku urus. Kita akan berangkat nanti malam pukul 8 malam. Paspor mu dan ayah mu sudah menggunakan identitas baru kalian. Kau tidak perlu khawatir jika Alex akan bisa melacak mu"


Ujar Zico yang masih fokus menyetir sambil melihat kearah jalanan.


"Terimakasih kak Zico dan kak Mia sudah membantu ku"


"Kita masih keluarga Elica. Jangan sungkan meminta bantuan pada kami"


"Aku harap setelah sampai di Jepang nanti, aku dan ayah bisa memulai kehidupan baru yang lebih baik" ujar Elica dengan tatapan mata nya lurus kedepan bak menerawang masa depan.


"Itu pasti Elica. Lupakan kesakitan mu di masa lalu, jangan pikirkan anak mu. Dia pasti baik-baik saja dengan ayah nya"


"Yah kak Zico benar. Hidup baru dan identitas baru. Kebahagiaan pasti akan aku dapatkan"


"Semangat Elica" seru Zico menyemangati Elica. Elica pun membalasnya dengan anggukan kepala mantap.


TBC


Komentar dong, jangan diem-diem bae gaes...


Author update lagi Minggu depan, oke.


Follow IG : akiokokoru_shan