
Malam ini Elica sudah sampai di Seattle. Dia sampai di sebuah rumah yang terlihat sudah lama tidak berpenghuni. Tadi nya dia pikir rumah ini akan terlihat menakutkan, tetapi walaupun tidak ada penghuni didalam rumah tersebut masih terlihat rapi. Hanya lampu dihalaman saja yang menyala, itu berarti Elica harus mencari saklar lampu didalam. Sedikit ada rasa takut di benak Elica, tapi sebisa mungkin dia menepis pikiran negatif nya tentang hantu. Konyol jika dia masih mempercayai hal mistis tersebut.
Setelah masuk melangkah menuju pintu rumah tersebut, tangan nya menggenggam erat koper yang dibawakan nya. Sedangkan tangan satunya dia gunakan untuk menyalakan lampu flash dari ponsel nya mencari saklar lampu.
Semua lampu diruangan tersebut menyala. Dan rumah itu ternyata masih terawat dengan baik, hanya perlu dibersihkan debu nya saja, pikir Elica.
Elica memilih langsung beristirahat dikamar. Dia meletakan koper nya disudut kamar tersebut.
Akhirnya Elica pun merasa lega, untuk sementara waktu dia bisa menjauh dari hingar bingar masalah nya. Meskipun dia tau, lari dari masalah bukanlah hal yang benar. Namun setidaknya dia butuh menenangkan hati dan pikiran nya terlebih dahulu.
Elica mengelus perutnya, seulas senyuman tercipta dari bibir nya.
"Kau baik-baik didalam sana ya sayang. Ibu akan melakukan apapun untuk membuat mu aman" ujar Elica seakan sedang berbicara dengan anak yang ada dikandungnya.
***
Dua bulan kemudian....
Di kediaman nya, Alex terlihat sedang berolahraga. Dia memang memiliki sebuah ruangan khusus yang berisi alat gym yang selalu dia pakai. Alex bukanlah seorang yang menyukai keramaian, maka dari itu dia mempersiapkan kebutuhan nya sendiri di rumah nya.
Keringat yang keluar dan membasahi badan nya, menambah pesona pria itu. Tidak diragukan lagi jika Alex memang memiliki tubuh yang bagus. Membuat wanita mana pun akan cepat jatuh kedalam pesona nya. Tapi pengecualian untuk Elica, karena wanita itu adalah salah satu orang yang paling sulit Alex miliki. Namun jangan sebut dia Alex jika dia tidak bisa mendapatkan Elica.
Tidak lama, seorang pelayan pun datang menghampiri Alex.
"Permisi tuan muda, maaf saya menganggu. Didepan ada orang yang ingin menemui anda" ucap si pelayan pria itu.
"Siapa?" Tanya Alex dengan suara bariton nya.
"Tuan Andrew Smith"
"Suruh dia masuk, aku akan berganti pakaian dulu"
"Baik tuan"
Tidak butuh waktu lama, Alex pun berjalan ke ruang tamu. Dia melihat seorang pria paruh baya sedang duduk sambil fokus pada ponsel di tangan nya.
"Tuan Andrew?" Sapa Alex, seketika pria tersebut langsung menatap kearah Alex.
"Hai Alex, maaf aku bertamu tidak memberitahu mu terlebih dahulu" Alex pun duduk juga di ruang tamu tersebut.
"Tidak apa Tuan Andrew. Ada kepentingan apa sampai anda kemari" tanya Alex tanpa basa-basi.
"Hanya kebetulan lewat, dan aku teringat rumah teman kecil putri ku. Dan beruntung sekali kau ada di rumah"
"Ya. Ini weekend, jadi aku sedang berolahraga di belakang" ucap Alex.
"Jadi aku mengganggu mu Alex?" Tanya Tuan Andrew
"Bisa dibilang begitu" jawab Alex namun dibalas tawaan dari pria tua tersebut.
"Sebenarnya aku kemari ingin memberitahu mu, jika minggu lalu Bianca sudah pulang. Dia berniat mengundang mu makan malam untuk merayakan hari ulang tahun nya"
Sebenarnya Alex sangat malas mendengar ucapan pria tua yang ada di hadapannya itu. Apalagi membahas masalah hal tidak penting seperti ini.
"Saya tidak tau, saya bisa datang atau tidak tuan Andrew karena akhir-akhir saya sedang sibuk dikantor"
Ucap Alex beralasan.
"Acara juga weekend. Dan nyatanya kau juga sedang lenggang hari ini."
"Akan ku usahakan"
"Baiklah Alex. Satu lagi, kau pasti akan terkejut melihat Bianca yang menjadi sangat cantik." Ucap tuan Andrew yang membanggakan putri nya.
Namun Alex hanya membalas nya dengan senyuman yang dipaksakan.
***
Pagi-pagi sekali Elica sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri. Meskipun ini hari Minggu tapi sore nanti dia harus tetap bekerja.
Sudah terhitung satu bulan dia bekerja sebagai Office Girl disalah satu hotel. Meskipun dulu pernah berkuliah, nyata nya ijazah yang bisa dia gunakan hanya ijazah sekolah menengah nya saja. Mengingat Elica tidak menyelesaikan kuliah nya, jadi mendapatkan pekerjaan seperti ini saja dia sudah sangat bersyukur.
Meskipun terkadang dia sedikit kesulitan bekerja dalam kondisi nya yang tengah mengandung. Tapi Elica tidak pernah mengeluh sedikitpun. Karena dia menyukai kehidupan nya yang sekarang.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, Elica pun langsung berjalan untuk melihat siapa yang datang sepagi ini. Betapa terkejutnya Elica saat Bryan lah yang datang.
"Hai Elica" sapa Bryan hangat.
"Bryan..." Elica pun langsung memeluk sahabat nya itu. Karena sudah dua bulan mereka tidak bertemu.
Elica pun mempersilahkan Bryan untuk masuk kedalam. Elica memberikan Bryan minuman setelah itu keduanya pun duduk di ruang depan.
"Maaf aku baru datang Elica, kau baik-baik saja" tanya Bryan.
"Aku baik Bry. Oh iya bagaimana keadaan ayah ku?"
"Dia juga baik. Setiap hari Sabtu kami pergi ke bar untuk minum bir dan mengobrol. Dan juga kemarin ayah mu mendapatkan pesanan sangat banyak" ujar Bryan.
"Benarkah? Apa itu" tanya Elica antusias
"Dia mendapatkan pesanan untuk membuat kursi taman sebanyak dua puluh unit"
"Banyak sekali. Ayah ku pasti akan lelah"
"Tenang saja, dia dibantu beberapa teman nya dan tentunya aku"
"Syukur lah. Terimakasih Bryan jika tidak ada kau aku tidak tau lagi. Dan apa ada kabar mengenai ibu ku?"
Seketika raut wajah Bryan berubah saat Elica bertanya mengenai ibu nya. Elica yang menyadari sikap Bryan pun semakin penasaran.
"Bryan, kenapa diam? Kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ku?" Tanya Elica.
"Tidak Elica. Hanya saja aku.." Bryan menggantung kan ucapan nya.
Bryan pun menarik nafas nya sebelum dia mengatakan yang sebenarnya pada Elica. Kemudian Bryan menatap Elica dengan tatapan yang serius.
"Elica... Ibu mu sekarang berada di rumah sakit jiwa" ucap Bryan berhati-hati. Seketika Elica pun menutup mulut dengan kedua tangan karena sangking terkejut nya.
"Apa. Itu... Itu tidak mungkin Bryan" ucap Elica yang syok mendengar berita mengejutkan tersebut
"Tenang lah Elica. Aku minta maaf tidak memberitahu hal ini sebelumnya, karena ayahmu yang melarang nya. Tapi aku tidak jika kau tidak mengetahui hal ini."
"Mommy.. tidak mungkin gila, Bryan. Aku ingin menemui nya sekarang Bryan" tangis Elica yang sudah tidak bisa menahan kesedihannya.
"Baiklah aku akan mengantarkan mu kesana, Elica."
Bryan dan Elica pun langsung menuju ke rumah sakit jiwa dimana Hilda berada. Butuh beberapa jam mereka sampai disana, mengingat mereka tidak di kota yang sama. Didalam mobil Elica hanya terdiam dan terlihat sesekali air matanya kembali turun.
Bryan pun tidak berani membuka pembicaraan karena dia tau suasana hati Elica sedang sangat buruk.
"Sudah berapa lama ibu ku disana Bryan?" Ujar Elica tiba-tiba.
"Ayah mu bilang sudah dua bulan. Dia mengalami depresi kemudian keadaan nya menjadi memburuk karena sering berteriak-teriak."
"Astaga" keluh Elica kemudian mengusap wajah nya kasar. Dia masih tidak percaya akan hal itu.
"Siapa yang membawa ibuku kesana?"
"Aku lupa namanya. Tapi kalau tidak salah Mia?" Ucap Bryan
"Kak Mia? Jadi selama ini Ibuku tinggal dengan nya"
"Seperti nya begitu Elica"
Mendengar hal itu Elica sangat menyesal karena dia lupa menghubungi Mia. Padahal waktu itu Mia pernah memberikan kartu namanya pada Elica, tapi Elica lupa menghubungi Mia saudara nya itu. Hingga tidak salah jika Mia tidak memberitahu nya tentang sang ibu.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Mereka pun sampai di rumah sakit. Dengan tergesa-gesa Elica menghampiri meja resepsionis dan meminta data tentang ruangan ibunya berada.
Kemudian Elica langsung menuju ke tempat Ibu nya dirawat. Melihat ruangan itu saja hati Elica terasa nyeri. Bagaimanapun tidak, tangan ibunya diikat. Dan kondisinya sekarang sangat memprihatikan, wanita yang dulu di mata Elica sangat cantik, kini sangat kotor dan berantakan. Rambut nya sudah tidak terbentuk lagi, dan kulitnya pun kusam
Ibunya selalu tertawa sendiri dan sesekali berteriak. Membuat air mata Elica tidak terbendung karena nya.
"Aku ingin masuk" gumam Elica
Bryan yang mendengar ucapan Elica langsung menggeleng kan kepalanya.
"Tidak Elica. Itu berbahaya, ibu mu dalam kondisi tidak stabil. Dia bisa berbuat tidak terduga padamu"
"Mustahil. Dia ibu ku Bryan. Dia tidak akan menyakiti ku, aku tau ibu ku tidak akan melakukan nya"
Di luar ruangan Hilda, Elica dan Bryan beradu argumen. Hingga akhirnya Bryan mengalah dan menyetujui jika Elica mendekati Ibu nya.
Setelah memanggil dokter dan menyampaikan apa yang Elica inginkan, Dokter pun tidak memperbolehkan nya. Karena saat ini mental Hilda sedang down dan berbahaya bagi orang yang mendekati nya. Namun Elica tetap bersikukuh untuk masuk dan meyakinkan orang yang ada disana jika ibu nya tidak berbahaya.
Akhirnya, setelah lama mereka meminta persetujuan sang dokter, Elica pun diizinkan untuk masuk ke ruangan ibu nya, dan tidak lupa didampingi oleh dokter dan satu perawat.
Elica yang melihat tangan ibunya membiru akibat ikatan tersebut, meminta dokter untuk melepaskan nya sebentar karena dia tidak tega. Dokter pun melakukan nya.
Sedangkan Bryan menunggu di luar ruangan.
"Mom.. kenapa kau menjadi seperti ini" ucap Elica terdengar sangat pilu.
Namun Hilda hanya tersenyum tidak jelas dan mata nya terlihat kosong.
"Maafkan Elica Mom, Elica berharap Mommy bisa sembuh. Karena sebentar lagi Mommy akan jadi nenek. Dan kita kembali lagi seperti dulu lagi Mom" sesekali Elica mengelap cepat air mata nya yang turun ke pipi nya.
"Kembali lah seperti dulu Mom. Aku, Mommy, dan Daddy. Menjadi keluarga yang hangat lagi"
Raut wajah Hilda tiba-tiba berubah saat Elica mengucapkan kata "keluarga"
"Keluarga?" Ujar Hilda
"Iya Mom keluarga. Kita keluarga" jawab Elica.
"Keluarga..!! Keluarga..!! Aku benci. Mereka jahat. Aku benci. Keluarga. Jahat. Dokter itu jahat" Hilda tiba-tiba berteriak hingga Elica sangat terkejut. Dia pun langsung mendekati ibunya berusaha untuk menenangkan nya.
"Mom tenang lah. Ini aku Elica, anak mu. Tenang lah, Elica tidak akan berbuat jahat pada Mommy." Ucap Elica dengan menggenggam tangan ibunya.
"Bohong..!!! Jahat!!! Kalian semua jahat! Pergi!!" Teriak Hila mengusir Elica dan dokter yang ada disana.
Namun Elica tetap tidak mau menuruti nya begitu saja. Dia masih mencoba membuat sang ibu lebih tenang.
"Mom Elica mohon jangan begini. Tenanglah sebentar akhhh...."
Tiba-tiba Hilda menjambak rambut Elica dan membentur kan Elica ke tembok. Dan mengakibatkan dahi Elica berdarah.
Bryan dan dokter disana terkejut dan langsung memisahkan Hilda agar melepaskan cengkraman tangan di rambut Elica.
Dokter pun kembali mengikat tangan Hilda karena wanita itu kembali berteriak tidak jelas. Elica sangat terpukul atas kejadian tadi, dia merasa sosok ibunya dulu sudah hilang. Dan Elica hanya bisa menangisi nya.
"Kau tidak apa-apa? Dahi mu terluka Elica" ujar Bryan khawatir.
"Bryan.. Mommy?" Ucap Elica lemah.
"Sudah jangan ditangisi. Biarkan dia disini. Sekarang kau sudah tau bukan, jika sekarang ibu mu berbahaya. Dia bisa menyerang siapa pun termasuk kau, biarkan dia disini" Bryan mencoba menasehati Elica
"Dia bisa sembuh kan Bryan?"
"Dia pasti sembuh Elica.. sekarang kita obati dulu luka mu"
Elica pun mengangguk pasrah kemudian meninggalkan tempat tersebut dengan sangat berat hati.
TBC.