
Hari ini terlihat cerah. Cahaya matahari pun masuk ke celah jendela kamar Elica. Dia menggeliat pelan dari tidurnya yang terasa nyaman, perlahan Elica pun membuka matanya. Rupanya hari sudah pagi, Namun raut wajahnya seketika itu terlihat berubah. Sesaat setelah semua nyawanya terkumpul karena tidur nyenyak nya dan teringat kembali jika kejadian kemarin yang dia alami bukanlah mimpi. Elica tersadar jika sekarang dia sudah tidak memiliki sosok ibu lagi.
Mata sembab dan lingkaran hitam di bawah mata nya adalah bukti jelas bahwa kemarin dia tidak hentinya menangis mengiringi kepergian sang ibu. Dan hari ini dia kembali menangis, entah sampai kapan duka di hati nya hilang.
Elica pun memutuskan untuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Dan setelah menghabiskan 30 menit, akhirnya Elica keluar dari kamar nya berjalan kearah dapur. Dia melihat ayah nya sedang membuat sesuatu disana.
"Dad.."
Albert menoleh setelah mendengar suara Elica.
"Morning sayang, kau sudah bangun ternyata. Tunggu sebentar,. Daddy sedang membuat roti isi untuk sarapan" kata Albert terlihat sibuk dengan pisau yang ada di tangan nya.
"Baiklah." Elica pun memilih duduk di meja makan sembari melihat ayah nya yang sedang berkutik membuat sarapan.
Tiba-tiba Elica teringat, jika semalam Alex juga tidur dengan nya di kamar. Dia lupa saat bangun tidak menemukan pria itu dan kini penasaran dimanakah pria itu sekarang.
"Daddy, apa dia sudah pergi?" Tanya Elica pada sang ayah
"Alex?"
"Iya. Dimana dia sekarang?"
"Dia pergi sejak semalam, kemungkinan sesudah kau tidur"
"Ah begitu"
Albert pun terlihat selesai membuat makanan, dan membawa piring yang ada di tangannya menuju ke meja makan.
Elica menerima piring yang di berikan sang ayah dengan senyuman.
"Thank you" ujar Elica.
"Makan lah sayang. Jaga kesehatan dan kandungan juga"
"Tentu Dad."
Elica dan Ayah nya pun melahap sarapan dengan cepat. Karena sejak kemarin keduanya memang tidak memikirkan tentang makan. Karena terlalu sibuk mengurus persiapan pemakaman Hilda.
"Dad..." Ucap Elica
"Ada apa sayang?"
"Are you Oke?"
"Tentu."
"Tapi wajah mu terlihat mengatakan hal lain Dad. Apa ini karena kepergian Mommy? Daddy tidak tidur semalam?"
"Jangan di bahas sayang. Daddy baik-baik saja." Ujar Albert dengan lembut agar putri nya tidak tersinggung.
"Baiklah. Aku minta maaf Dad."
"It's okay sayang. Habiskan makanan mu"
Elica mengangguk mengiyakan, kemudian dia memberitahu pada sang ayah jika dirinya akan tinggal untuk beberapa hari. Dan Albert pun terlihat sangat senang mendengar nya, jika Elica tidak pergi. Setidaknya untuk beberapa waktu dia tidak akan kesepian dan larut dalam kesedihannya.
***
5 hari kemudian...
Siang ini Alex juga memilih menyelesaikan pekerjaan nya di kantor dari pada pulang kembali ke Rumah besar. Karena dia juga harus mengawasi Elica agar tidak terjadi apapun pada wanita itu.
Sebenarnya sedari tadi Alex merasa jengah karena mendengar banyak sekali panggilan masuk dari Bianca yang terus saja menelpon nya. Tapi tidak sedikitpun terbesit di benak nya untuk mengangkat panggilan tersebut. Dan dia memilih fokus pada berkas yang ada di hadapannya.
Sedangkan di lain tempat, Bianca terlihat sangat murung di rumah besar. Karena Alex tidak mau menerima telpon darinya dan tidak ada satu pun pesan dari Alex yang di kirimkan untuk wanita itu.
Bianca terlihat menuruni tangga dan berniat mencari keberadaan Irene. Pasalnya sejak Alex dan Elica pergi, dua orang itu sama sekali tidak saling bicara. Bahkan untuk makan, Bianca memilih makan di kamar dari pada makan bersama Irene. Tapi kali ini Bianca membutuhkan Irene untuk mencari tau kapan Alex akan pulang kemari.
Tidak lama, Bianca pun menemukan Irene yang sedang duduk di sofa dengan melihat ponsel yang ada di tangannya.
"Tante.." panggil Bianca. Dan Irene pun mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangan nya pada sumber suara.
"Apa" jawab nya singkat.
"Apa Tante tau, kapan Alex pulang?"
"Kenapa tanya padaku. Kau bisa tanyakan sendiri pada nya, apa kau tidak mengenal apa itu handphone?" Ujar Irene terdengar menyindir Bianca.
Mendapatkan jawaban Irene yang menyinggung perasaan nya, Bianca pun terlihat kesal karena perlakuan Irene.
Bianca merasa jika Irene sangat mengucilkan dirinya meskipun dia sendiri tidak tahu apa yang membuat Irene membencinya sejak awal.
"Tante, bisakah setiap kali berbicara dengan ku menggunakan kata yang sopan?" Ujar Bianca yang tidak bisa membendung kekesalan nya lagi.
Irene yang tadi nya mencoba mengacuhkan lawan bicara itu dengan melihat ponsel kembali, akhirnya mulai tersulut emosi atas ucapan Bianca.
Ditambah lagi Bianca terlihat melipat tangannya di depan dada seolah sedang berkuasa disini.
"Apa kau bilang? Kau ingin aku menghormati mu begitu?" Tanya Irene
"Ya"
Irene pun berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Bianca. Keduanya pun saling bertatapan tajam dengan wajah yang sama dingin nya.
"Jadi begini sifat asli mu jika tidak di depan Alex?"
"Tante tidak perlu mengurusi tingkah ku. Sejak awal aku sudah mencoba menghormati Tante. Tapi Tante selalu saja menggunjing ku bahkan itu pun di depan Alex. Jangan salahkan jika aku berbuat tidak sopan pada Tante"
Irene tersenyum sinis mendengar ucapan Bianca.
"Nona muda, perlu kau tau. Ada kalimat "jika kau mau di hargai, maka hargai lah orang lain terlebih dahulu" ku harap kau masih memiliki otak yang cerdas untuk mencerna kalimat tersebut. Mengingat kau adalah putri dari pengusaha sukses, pasti kau di didik dengan baik. Ah, dan soal awal kita bertemu yah, entah mengapa aku sudah tidak suka melihat mu Bianca. Bukan tanpa alasan, lebih tepatnya melihat kau yang bersikap tidak tau malu membuat ku enggan melihat keberadaan mu di rumah ini. Kau paham kan maksudnya, Bianca"
Ujar Irene terlihat tenang namun dengan jelas menyindir Bianca secara gamblang.
"Kau bukan ibu dari Alex. Kau juga sama dengan ku disini yaitu sama-sama menumpang, Tante. Jadi jangan bertingkah seolah kau nyonya rumah yang sebenarnya" ucap Bianca dengan telak dan berhasil membuat Irene membelalakkan matanya.
"Apa kau bilang. Berani sekali kau berkata seperti itu pada ku"
"Kenapa? Aku tidak salah bukan. Lagi pula satu hal yang perlu Tante tau. Aku.akan.menikah.dengan.Alex"
Kata Bianca sengaja mengeja ucapan pada kalimat terakhir nya.
Irene justru membalas nya dengan senyuman remeh. Hari ini dia telah mengetahui sifat dari wanita licik yang ada di depan nya. Dan feeling ternyata benar dari awal, jika Bianca akan menjadi perusak hubungan Alex dan Elica nantinya.
"Jangan terlalu jauh bermimpi Bianca. Karena jatuh dari ketinggian itu sangat menyakitkan, aku khawatir jika kau bisa menjadi wanita muda yang gila karena berhalusinasi"
"Lihat saja nanti Tante. Karena semua itu akan terjadi"
"Itu tidak akan terjadi sampai kapanpun. Aku tau Alex tidak akan pernah melakukan nya. Dan dia akan menjadi seorang ayah, karena Elica sedang hamil anak nya"
"Aku tidak perduli dengan wanita itu. Yang jelas saat aku menikah dengan Alex nanti, aku lah yang akan mengusir wanita itu dari rumah ini"
Plakkk
Karena hilang kendali, Ireng pun tanpa di duga menampar pipi Bianca dengan keras. Dan wanita itu langsung memegangi pipinya yang merah dan menatap marah kearah Irene.
"Arrrgggg sialan." Pekik Bianca marah.
****
Malam ini Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia berniat untuk melihat keadaan Elica di rumahnya, karena entah mengapa Alex ingin sekali mengelus perut Elica yang sudah membesar itu.
Hari ini bertepatan juga dengan kandungan Elica yang memasuki bulan kedelapan. Itu artinya bulan depan anak nya akan lahir ke dunia, dan hal itu membuat perasaan Alex sangat gembira karena tidak sabar melihat buah hatinya.
Alex juga berniat mengajak Elica pulang kembali ke rumah besar, setidaknya jika Elica berada di sana cukup membuat Alex tenang.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya Alex pun tiba di kediaman rumah ayah Elica.
Bel pun Alex bunyikan, dan tidak lama terlihat tuan Albert membukakan pintu dan mempersilahkan Alex masuk.
Tidak lama Elica pun menampakkan diri nya untuk bertemu dengan Alex. Bohong jika Elica sebenarnya tidak merindukan Alex. Karena kenyataannya beberapa hari ini Elica terlihat tidak bisa tidur karena memikirkan Alex. Ditambah dengan kepergian ibu nya, membuat Elica menjadi sulit tidur dan hanya bisa terlelap 2-3 Jam saja.
"Hai" sapa Alex kemudian berdiri dari duduknya setelah Elica datang menghampiri nya.
"Ya"
"Bagaimana keadaan mu dan kandungan mu?" Tanya Alex
"Aku baik, dia pun baik"
Alex dan Elica pun duduk berdampingan di sofa. Sebenarnya Elica terlihat tidak nyaman saat Alex terus saja menatap kearah nya.
"Ada apa kau kemari?" Tanya Elica mencoba mengalihkan rasa gugupnya.
"Hanya ingin melihat mu dan dia" jawab Alex seraya mengusap lembut perut Elica.
"Kita baik. Bukankah sudah ku bilang tadi"
"Ya benar. Tapi mata mu mengatakan hal lain. Apa kau jarang tidur? Mata panda mu tidak bisa menyembunyikan semua nya"
"Seperti yang kau lihat."
Alex dan Elica pun berbincang cukup lama. Meskipun suasana terlihat kaku dan canggung, namun interaksi keduanya cukup membuktikan jika hubungan mereka sudah membaik.
Akhirnya Alex mengutarakan maksud nya datang yaitu untuk mengajak Elica kembali lagi ke rumah besar pada lusa mendatang. Namun Elica menolak nya karena masih tidak tega meninggalkan ayahnya sendirian dalam kondisi yang masih berkabung.
Alex pun mencoba mengerti apa yang di inginkan Elica. Akhirnya dia memutuskan untuk memberikan Elica kelonggaran beberapa hari lagi untuk tetap tinggal. Dan Elica pun menyetujui nya.
Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba terdengar suara ponsel milik Alex berbunyi. Dia pun mengambil ponselnya yang berada di dalam saku nya kemudian mengangkat panggilan tersebut.
"Halo. Ada apa?" Ucap Alex sambil matanya masih menatap Elica
Tadi nya Elica berniat untuk pergi meninggalkan Alex agar tidak menggangu Alex saat bertelepon. Namun pria itu menahan tangan Elica agar dia tetap duduk disana dan Elica pun hanya bisa mengikuti nya.
"Kenapa bisa terjadi. Baiklah aku akan kesana besok." Kata Alex pada si penelpon kemudian dia menutup sambungan tersebut.
"Ada apa?" Tanya Elica saat melihat raut wajah Alex berubah.
"Bianca menelpon, dia menangis danĀ bilang tante menampar nya kemudian memarahinya tanpa alasan" terang Alex
"Astaga. Tante Irene tidak mungkin melakukan hal itu"
"Iya. Maka dari itu aku akan pulang ke sana besok untuk mengecek nya."
"Sampaikan salam ku pada Tante Irene"
"Baiklah. Mungkin aku akan menyuruh anak buah ku untuk menjemput mu beberapa hari lagi"
Elica tidak memberikan jawaban apapun atas ucapan Alex tersebut. Karena sebenarnya dia masih ingin menemani ayah nya lebih lama lagi. Tetapi apa boleh dikata, pria ini pasti akan bertindak semau nya sendiri.
****
Esok hari nya...
Alex sudah tiba di rumah besar, ketika dia masuk orang pertama yang pertama dicari nya adalah Tante Irene. Wanita itu rupanya tengah duduk sambil menata bunga kedalam guci kecil sebagai hiasan.
Irene yang sadar dengan kedatangan Alex pun menatap nya saat pria itu berjalan kearah nya.
"Kau sudah pulang Alex. Mana Elica?" Tanya Irene karena tidak mendapati sosok Elica.
"Dia masih ingin tinggal beberapa hari lagi"
"Begitu ya."
Jawab Irene kemudian kembali melanjutkan aktivitas nya. Alex merasa Irene sedikit berubah sikap padanya. Dan Alex tau betul alasan Irene sedikit acuh karena Irene mengetahui perbuatan buruk Alex pada Hilda.
"Apa yang terjadi kemarin? Benarkah Tante menampar Bianca?" Tanya Alex tanpa basa-basi.
Irene pun spontan langsung menghentikan lagi kegiatan nya dan melihat kearah Alex.
"Apa saja yang dia katakan padamu?" Bukanya menjawab, Irene justru melempar pertanyaan pada Alex.
Mereka beradu pandang sesaat, akhir nya Alex memilih untuk diam. Karena Alex tidak ingin berdebat dengan Tante itu.
"Baiklah, aku anggap ini hanya kesalahan pahaman antara Tante dan Bianca. Ku harap tidak ada lagi kejadian seperti ini lagi kedepannya."
"Ke depan? Kau masih membiarkan wanita itu tetap tinggal disini sampai kapan? Alasan dia disini saja sangat tidak masuk akal Alex. Dia punya keluarga dan ayah nya juga orang kaya, tidak sulit bukan jika dia harus tinggal di apartemen?"
"Ku mohon Tante jangan memulai lagi masalah ini. Kita sudah membicarakan hal ini dari awal" ujar Alex yang masih bersabar.
"Kau memang susah diajak bicara Alex" Irene pun memutuskan beranjak dari duduk nya dan pergi meninggalkan Alex di ruangan itu.
Alex yang sebenarnya merasa kesal hanya bisa menahan emosi sendiri. Entah bagaimana pun sikap Irene, dia tetap keluarga Alex satu-satunya.
Pria itu mengusap kasar wajah nya, kemudian mengambil rokok dari Celana nya dan memilih duduk di sofa.
Tidak lama sosok Bianca datang menghampiri Alex.
"Alex.." panggil Bianca kemudian Alex pun melihat Bianca yang berjalan kearah nya dengan mata yang sembab.
Wanita itu pun juga memilih duduk di samping Alex, dan tiba-tiba kembali menangis dihadapan Alex.
"Aku tidak tau kenapa Tante melakukan ini. Dia menamparku sangat keras" ucap Bianca kemudian mengusap-usap pipi nya.
Alex terlihat menghiraukan apa yang diucapkan Bianca, dan kembali menyesap rokok yang ada di tangan nya.
"Kemarin aku bertemu ayah mu. Aku sudah mengatakan padanya jika aku tidak bisa membantu mu mempelajari Bisnis. Dan ayah mu tidak keberatan jika kau melakukan nya tidak dengan ku, jadi kau bisa pergi kapan pun kau mau"
"Jadi kau tidak mau membantu ku?" Bianca terkejut dan terlihat kesal dibuatnya.
"Alasan mu ada disini hanya itu selebihnya tidak ada. Kau juga tidak cocok tinggal bersama Tante ku"
"Tidak. Aku masih mau disini, walaupun kau sibuk aku akan menunggu mu mengajari ku tentang bisnis. Nanti aku akan bilang pada ayah ku"
Ujar Bianca seraya mengusap air matanya. Tadi nya wanita itu berniat mencari muka didepan Alex, tapi ternyata hal tidak terduga terjadi.
"Apakah kau masih belum mengerti jika aku mengusir mu Bianca?" Ujar Alex to the poin.
TBC